Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 72

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 72

"Ragasuci tidak salah pilih," ujar Darmamula dalam hati sambil terus berusaha memberikan tekanan.

"Aji Braja Geni!" teriak Mahesa Amping sambil melenting menghindari kilatan api yang berasal dari telapak tangan kiri Raden Darmamula.

"Pengetahuanmu ternyata sangat luas, anak muda," ucap Raden Darmamula sambil tertawa. Ia kembali mengeluarkan ilmu simpanannya, Aji Braja Geni, yang menyambar tubuh Mahesa Amping di udara.

Mahesa Amping harus kembali menghindar dari serangan kilatan api tersebut. Sasaran serangan itu meleset dan nyaris menghantam sebuah pohon besar yang langsung terbakar. Beberapa penonton yang menyaksikan pertempuran itu berlarian menjauh karena takut terkena dampak ilmu Braja Geni milik Raden Darmamula yang begitu mengerikan.

Mahesa Amping berada dalam posisi tertekan dan terancam karena sambaran kilat itu terus mengejarnya. Namun, tidak terlihat kecemasan sedikit pun di wajahnya. Mahesa Amping tetap tenang menghadapi setiap serangan hingga akhirnya terpaksa mengeluarkan ilmu andalannya. Ia mengungkap kekuatan yang bersembunyi di balik sorot matanya.

Sambil melenting menghindari kilatan cahaya yang menyambar ke arahnya, tiba-tiba keluar kilatan cahaya dari sorot mata Mahesa Amping. Pancaran itu terkendali oleh naluri tajam yang diliputi sifat Maha Kasih dan kelembutan jiwa. Cahaya tersebut menyambar dengan cepat ke arah tempurung kaki Raden Darmamula. Sinar yang melesat itu begitu cepat hingga Raden Darmamula tidak sempat mengelak.

Raden Darmamula terjatuh karena tidak kuat menahan rasa sakit pada tempurung kakinya yang hangus terbakar. Kaki kirinya terasa lumpuh. Pertempuran terhenti; semua mata tertuju pada Raden Darmamula yang terduduk tak berdaya. Mahesa Amping perlahan mendekatinya.

"Maaf, aku terpaksa melakukannya," ujar Mahesa Amping saat melihat Raden Darmamula merintih menahan sakit.

"Mengapa kau tidak langsung menyerang jantungku?" tanya Darmamula yang mengakui kedahsyatan kekuatan sorot mata Mahesa Amping.

"Aku bukan seorang pembunuh," jawab Mahesa Amping sambil memandang Raden Darmamula dengan sorot mata penuh kasih, seakan di depannya bukan lagi seorang lawan.

Sorot mata itu terasa seperti air dingin yang menyentuh jiwa Raden Darmamula. "Jiwamu begitu bersih, jiwamu penuh kasih," gumam Raden Darmamula. Ia merasa seolah ditelanjangi oleh tatapan Mahesa Amping yang tenang. Raden Darmamula tidak tahan menatap mata itu; ia menunduk, seolah melihat kekotoran dirinya yang penuh kecongkakan dan keangkuhan.

"Masih ada hari lain untuk berbuat kebaikan," bisik Mahesa Amping sambil berjongkok dan memberikan obat penawar. "Telanlah obat ini, mudah-mudahan bisa mengurangi rasa sakit Paman."

Raden Darmamula kembali menatap wajah Mahesa Amping. Rasa malu bergejolak di dalam hatinya. Entah mengapa, sorot mata itu tampak begitu jujur, sehingga ia tidak menolak pemberian obat tersebut. Setelah menelannya, rasa sakit di kakinya memang memudar, namun ia tidak dapat lagi menggerakkan kaki kirinya yang telah lumpuh.

"Terima kasih, anak muda. Kamu telah menyisakan satu kaki untukku, juga sisa umur yang mungkin bisa kuisi dengan sikap dan suasana baru," ujar Raden Darmamula dengan senyum tulus. "Sekarang terserah Baginda Raja, aku pasrah atas hukuman apa pun yang diberikan kepadaku."

"Aku tidak akan memberikan hukuman apa pun, Pamanda. Aku memaafkan Pamanda. Bukankah Pamanda satu-satunya adik ibuku yang masih ada?" ujar Ragasuci, bukan sebagai seorang raja, melainkan sebagai seorang keponakan.

Raden Darmamula menatap Ragasuci dengan haru. Ia teringat masa kecil Ragasuci yang sering bermain kuda-kudaan di atas punggungnya. Raden Darmamula merasa menemukan dirinya kembali. Tangis haru kebahagiaan pecah saat paman dan keponakan itu saling berpelukan. Rasa permusuhan yang lama memisahkan mereka kini hilang, digantikan oleh rasa kasih sebagai keluarga.

"Di mana Patih Manohara?" tanya Ragasuci sambil mengedarkan pandangan. Namun, Patih Manohara tidak ditemukan. Ternyata, patih itu diam-diam telah melarikan diri karena takut akan hukuman atas pengkhianatan rencananya untuk melenyapkan Ragasuci.

Angin semilir bertiup di sekitar halaman rumah singgah. Rombongan Ragasuci bersiap meninggalkan tepi hutan Kranggan dikawal pasukan berkuda. Tidak lama kemudian, Bango Samparan beserta anak buahnya pun ikut pergi, meninggalkan rumah singgah yang kembali sunyi.

Malam telah larut ketika Ragasuci dan rombongannya sampai di gerbang istana.

"Terima kasih, kamu sudah melaksanakan tugasmu dengan baik," ujar Ragasuci kepada Ki Lurah Gembleh yang menyambut di pintu gerbang.

"Tugas yang kami lakukan sangat ringan dibandingkan kecemasan yang kami rasakan," jawab Ki Lurah Gembleh, mengungkapkan kekecewaannya karena tidak disertakan ke hutan Kranggan.

"Istana tanpa raja bukan suatu kekhawatiran dibandingkan istana tanpa penjaga," jelas Ragasuci. Ki Lurah Gembleh mengangguk paham.

Malam semakin dalam menyelimuti Istana Saunggaluh. Suara angin beradu dengan dedaunan mengisi kesunyian. Para pengawal istana berkeliling memastikan keamanan tetap terkendali. Sementara itu, Mahesa Amping, Lawe, dan Raden Wijaya yang ditempatkan di pesanggrahan tamu agung sudah terlelap.

Pagi itu, pasar di Kotaraja Kawali sangat ramai. Dara Jingga dan Dara Petak asyik berkeliling melihat-lihat kain dan perhiasan.

"Kalian belum membeli apa pun?" tanya Dara Jingga kepada Lawe, Mahesa Amping, dan Raden Wijaya.

"Aku belum mendapatkan apa yang kubutuhkan," jawab Lawe.

"Apa yang kau butuhkan?" tanya Dara Jingga.

"Itulah yang belum aku pikirkan," jawab Lawe sekenanya, membuat Mahesa Amping dan Raden Wijaya tersenyum. Mereka pun mengakui hal yang sama; tidak ada yang benar-benar mereka butuhkan.

Matahari terus naik dan suasana pasar semakin ramai. "Minuman dawet itu sepertinya enak sekali," ujar Dara Petak saat mereka melewati seorang pedagang dawet tua.

"Paman, kami pesan lima minuman," ujar Lawe. Orang tua itu segera menyiapkan pesanan mereka. Namun, saat mereka sedang menikmati dawet, seorang pria berwajah beringas menghampiri pedagang tersebut.

"Hari ini aku tidak mau lagi makan janji," bentak orang itu.

"Sepekan ini hujan tidak pernah surut, daganganku tidak banyak laku," jawab si pedagang memelas.

"Pekan lalu encokmu sering kumat, sekarang kau salahkan hujan," sahut orang itu kasar.

"Seperti itulah kenyataannya, aku tidak berbohong."

"Bohong! Jangan bersembunyi di balik wajah memelasmu itu," seru orang itu sambil mencengkeram leher pedagang tua tersebut.

"Maaf, Kisanak, berapa utang Paman ini?" tanya Raden Wijaya yang tidak tega melihat tindakan kasar itu.

Pria itu melepaskan cengkeramannya dan memandang Raden Wijaya dari atas sampai bawah. "Ternyata ada tuan muda yang ingin menjadi pahlawan penolong," ejeknya.

"Aku hanya bertanya, berapa utang Paman ini," tegas Raden Wijaya.

"Sebulan lalu utangnya tiga karung jagung. Apakah kau ingin melunasinya?"

Raden Wijaya memberikan sekeping emas kepada pria itu. "Sekeping emas ini berharga lebih dari tiga karung jagung. Ambil dan berikan sisa karung jagungnya untuk Paman ini."

Orang itu menyeringai dan menerima emas tersebut. "Utangmu lunas. Kelebihannya akan kuantar dalam bentuk beberapa karung jagung," ucapnya sebelum beranjak pergi.

"Aku tidak perlu kelebihan apa pun, aku hanya ingin membawa putriku kembali ke rumah," gumam pedagang tua itu. Orang beringas tadi berbalik dan pergi.

"Terima kasih, anak muda. Sekarang aku yang berutang budi padamu," ucap pedagang tua itu.

"Paman tidak perlu merasa berutang. Anggap saja ini hadiah dariku," ujar Raden Wijaya.

"Bolehkah aku mengetahui nama Tuan Muda?"

"Namaku Sanggrama," jawab Raden Wijaya sambil tersenyum.

"Sanggrama putra Dyah Lembu Tal, cucu Paduka Gurusuci Darmasiksa?" tanya pedagang itu kemudian.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment