Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 107

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 107

"Kami di sini mencari peruntungan, bukan mencari musuh," ujar Mahesa Amping dengan wajah ramah dan penuh senyum.

"Pekan depan kami akan datang kembali," kata orang itu kepada Mahesa Amping sambil memberi tanda kepada kawannya untuk berlalu meninggalkan tempat pandai besi tersebut.

"Untungnya bukan aku yang menghadapi orang itu," ucap Wantilan kepada Mahesa Amping ketika kedua orang itu sudah pergi.

Ternyata keberadaan pandai besi yang baru di ujung pasar cukup menarik perhatian. Banyak orang yang berbelanja mampir ke tempat itu, baik hanya sekadar melihat-lihat maupun yang langsung membeli barang dagangan mereka. Sepekan kemudian, dagangan mereka laris manis. Mungkin dari mulut ke mulut, barang dagangan mereka telah diakui sebagai karya yang sangat halus dan bermutu.

Hingga pada suatu hari pasaran, saat yang mereka nantikan akhirnya tiba.

"Di sinikah kamu mendapatkan dua buah golok besar itu?" tanya seseorang yang berpakaian perlente layaknya bangsawan kepada salah satu anak buahnya, yang ternyata merupakan orang yang dulu pernah diberi hadiah dua buah golok besar oleh Mahesa Amping.

"Benar, di sinilah aku mendapatkannya," jawab anak buahnya sambil menganggukkan kepala.

Seperti biasa, Sembaga sedang asyik menempa besi, sementara Wantilan terlihat tengah menghaluskan sebuah pedang yang tampak hampir jadi.

"Silakan Tuan melihat-lihat barang dagangan kami," sapa Mahesa Amping mendekati orang itu yang terlihat sangat disegani oleh lima pengawalnya, termasuk orang yang sudah dikenal Mahesa Amping.

Orang itu tampak angkuh. Tanpa berkata apa pun, ia langsung memeriksa sebuah pedang panjang dan mencobanya dalam beberapa gerakan.

"Tuan dapat menguji ketajaman pedang buatan kami," kata Mahesa Amping sambil mengeluarkan sebatang bambu yang panjangnya kurang lebih sedepa. "Silakan tebas bambu ini," lanjutnya sambil menjulurkan bambu itu di hadapan orang tersebut.

Tanpa banyak cakap, orang itu mengambil ancang-ancang untuk mengayunkan pedang di tangannya. Luar biasa, bambu di tangan Mahesa Amping terpotong dengan halus dalam sekali tebasan.

"Pedang yang bagus," puji orang itu.

"Buatan kami berasal dari besi pilihan," sahut Mahesa Amping sambil membungkukkan badan penuh kerendahan hati layaknya seorang pedagang kepada bangsawan yang royal.

"Aku pesan seratus pedang, seratus golok panjang, dan seratus mata tombak," perintah orang itu.

"Bila pesanan Tuan telah selesai, ke mana kami dapat mengantarkannya?" tanya Mahesa Amping.

"Bawalah ke Gunung Jati. Setiap orang di sini tahu di mana aku tinggal," jawab orang itu.

"Dapatkah aku mengetahui nama Tuan agar mudah mencari tempat tinggal Tuan?"

"Ternyata kamu orang baru di sini. Namaku Mahesa Rangga," ucapnya.

"Secepatnya kami akan menyelesaikan pesanan Tuan," kata Mahesa Amping penuh gembira, meski orang itu dan anak buahnya mengartikan kegembiraan Mahesa Amping dengan cara berbeda. Tanpa kata-kata lagi, ia berbalik badan bersama anak buahnya meninggalkan tempat itu.

"Kita perlu bahan yang cukup untuk melayani pesanan mereka," kata Wantilan kepada Mahesa Amping setelah diam-diam mencuri dengar pembicaraan mereka.

"Besok Saudagar Kimung akan berangkat berdagang ke arah timur. Kita bisa menitipkan pesan agar dibawakan pesanan dari Padepokan Bajra Seta," jawab Mahesa Amping.

"Otakmu encer. Kita tidak perlu banyak bekerja karena barang sudah siap jadi," ujar Wantilan sambil menepuk pundak Mahesa Amping.

"Kita tidak perlu memberikan semua pesanan itu kepada mereka," tutur Mahesa Amping.

Wantilan mengerutkan dahi, "Tidak memberikan semua pesanan? Apa maksudmu?"

"Ssst! Ada pembeli datang," bisik Mahesa Amping memberi tanda.

Maka, Mahesa Amping melayani orang-orang yang datang, sesekali memamerkan senjata dan alat pertanian dagangannya. Ketika para pembeli pergi, Wantilan kembali menagih penjelasan.

"Nanti malam akan kujelaskan semuanya," jawab Mahesa Amping.

Malam harinya, Mahesa Amping menjelaskan rencananya. "Jadi, kita membuat senjata campuran?" tanya Wantilan.

"Benar. Kekuatan senjata itu akan lemah. Jika beradu dengan senjata kita, mereka akan mudah patah," jelas Mahesa Amping tersenyum.

"Kamu memang anak nakal," sahut Wantilan setuju.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Wantilan menemui Saudagar Kimung untuk menitipkan pesan rahasia yang akan disampaikan kepada Mahesa Murti di Padepokan Bajra Seta. Pada hari-hari berikutnya, Mahesa Amping, Wantilan, dan Sembaga bekerja sangat sibuk hingga larut malam untuk menciptakan senjata-senjata yang dirancang agar mudah patah tanpa terlihat secara kasatmata.

Sepekan kemudian, tiga orang cantrik dari Padepokan Bajra Seta datang membawa pesanan. Setelah seratus pedang, seratus golok panjang, dan seratus mata tombak terkumpul, salah satu cantrik menyampaikan berita, "Tiga ratus prajurit dari Bandar Cangu secara bertahap akan datang memenuhi tempat ini. Raden Wijaya dan Lawe ikut dalam pasukan itu sebagai pimpinan."

Gunung Jati adalah kawasan perbukitan berhutan lebat. Dahulu, penduduk sekitar biasa mengambil kayu jati untuk membangun rumah dan berburu binatang liar. Namun, setelah hutan itu dikuasai gerombolan Mahesa Rangga, penduduk tidak berani lagi datang.

Gerombolan itu semakin merajalela, bahkan mulai berani memungut upeti di kademangan sekitar saat panen raya dan mengganggu para gadis maupun wanita bersuami. Para bebahu Kademangan tidak berani melapor dan lebih memilih aman dengan memberikan upeti.

Dari penduduk Kademangan Padang Bulan, Mahesa Amping mengetahui bahwa gerombolan itu umumnya adalah bekas perampok dan perusuh yang merasa tersingkir oleh kekuasaan prajurit Singasari di jalur perdagangan. Sayangnya, jumlah prajurit Singasari masih kurang untuk mengawasi seluruh tanah yang luas.

Pagi itu, Mahesa Amping, Sembaga, dan Wantilan menuntun tiga ekor kuda yang bermuatan senjata menuju Gunung Jati. Setelah berjalan setengah hari, mereka sampai di sebuah tanah datar. Di sana berdiri gubuk-gubuk liar, namun di tengahnya terdapat bangunan megah dari kayu jati yang diukir apik.

Seorang lelaki berwajah garang yang sering meminta kutipan di pasar menghampiri mereka. "Ternyata kau si pandai besi yang baik hati," sapanya.

"Aku membawa barang pesanan Tuanmu," kata Mahesa Amping.

Lelaki itu menggiring mereka menuju rumah jati tempat Mahesa Rangga tinggal. "Kalian tunggu di sini," ujarnya. Tidak lama berselang, ia kembali dan berkata, "Sang Ketua malas menemui kalian. Letakkan saja barang-barang itu di sana."

Mahesa Amping dan kawan-kawannya segera membongkar muatan. Lelaki itu menyerahkan sekampit pembayaran. Mahesa Amping membukanya dan berkata dengan gembira, "Tuanmu ternyata sangat baik hati, pembayaran ini lebih dari cukup. Terimalah ini sebagai balas jasa karena telah mengantar," ujarnya sambil memberikan sebagian uang kepada lelaki itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment