Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 17

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 17

"Di kampung nelayan ini, aku cukup bahagia membantu para nelayan sebagai pawang ikan," kata Kebo Arema kepada Kertanegara, bercerita tentang dirinya di perkampungan nelayan kecil itu.

"Aku belum pernah mendengar tugas dari seorang pawang ikan," tanya Kertanegara kepada Kebo Arema.

Kebo Arema tersenyum mendengar pertanyaan Kertanegara. Ia memaklumi, karena sebagai orang daratan, Kertanegara tidak banyak mengetahui kehidupan seorang nelayan.

"Tugas seorang pawang ikan adalah membaca bintang, membawa nelayan ke tempat di mana ikan kakap merah berkumpul, di mana ikan rengge bermain."

Itulah sebagian dari keahlianku.

Sementara itu, para nelayan di sini tidak mengetahui lebih jauh lagi tentang diriku yang sebenarnya.

Mereka tidak akan mengetahui bahwa aku dapat membawa mereka lebih jauh ke Tidore, tempat begitu banyak mutiara, atau berkelana di sepanjang Selat Malaka.

"Hanya dengan membaca bintang di langit," kata Kebo Arema menjawab pertanyaan Kertanegara.

"Paman telah berkelana di banyak tempat," kata Kertanegara kepada Kebo Arema yang banyak bercerita tentang beberapa daerah yang pernah disinggahi, mulai dari pesisir Tanah Jawa sampai di beberapa nagari di sepanjang Selat Malaka.

"Tapi akhirnya berhenti di tepian Sungai Porong," kata Kebo Arema yang disambut gelak tawa oleh Kertanegara.

"Aku akan mengajak Paman kembali berkelana, membacakan bintang di langit untukku," kata Kertanegara kepada Kebo Arema.

"Kupersembahkan diriku ini untuk Pangeran," kata Kebo Arema sambil menjura penuh hormat kepada Kertanegara.

Seorang Putra Fajar yang sudah lama ditunggunya.

Sang fajar kembali muncul di ujung laut biru.

Berduyun-duyun deburan ombak membelai pantai pasir putih.

Beberapa wanita berkemben mencari lindung laut di pantai, ditingkahi beberapa bocah kecil telanjang bermain berlari di atas pasir putih.

Sebagai orang daratan, Kertanegara menikmati pemandangan di depan matanya sebagai anugerah pagi dari Tuhan Yang Maha Pencipta.

"Saat ini masih musim angin barat, para nelayan tidak berani turun ke laut," kata Kebo Arema kepada Kertanegara.

"Gusti Yang Maha Agung telah menganugerahkan alam yang indah untuk dinikmati," kata Kertanegara kepada Kebo Arema.

Sementara pandangan matanya masih terpana memandang matahari yang sudah bulat penuh di ujung cakrawala laut biru.

Seorang wanita tua berjalan menghampiri mereka dengan setumpuk lindung laut.

"Terima kasih Nyi Parmi, sekalian aku titip gubukku ini. Mungkin dalam waktu yang sangat lama aku dapat kembali," kata Kebo Arema kepada wanita tua itu yang memberikannya setumpuk lindung laut.

Kebo Arema pun telah membuat perapian, membakar lindung laut dalam bentuk tusukan sate panjang.

Kertanegara pun ikut membantu membakar lindung laut itu.

"Sarapan pagi yang nikmat," katanya sambil mengangkat seekor lindung laut yang sudah masak.

Aroma harumnya membuat Kertanegara langsung ingin mengambil dua bakar yang sangat menggoda.

Sementara itu, wajah bulat matahari sudah mulai naik.

Suara ombak sudah sedikit mereda.

"Saatnya kita berangkat," kata Kebo Arema kepada Kertanegara.

Dan sebuah perahu telah meluncur meninggalkan tepian pantai pasir putih dalam sinaran cahaya lembut matahari pagi.

"Di musim angin barat ini, kita tidak bisa langsung menembus Madura dari sisi timur.

Kita mendarat dari sisi barat Madura," kata Kebo Arema kepada Kertanegara.

Perahu masih terus melaju membelah ombak laut.

Dikayuh oleh dua orang sakti yang bertenaga seperti dua puluh banteng yang disatukan, perahu itu seperti terbang di atas air laut.

"Itulah Pulau Madura," kata Kebo Arema kepada Kertanegara.

Sebuah daratan hitam di sebelah kanan mereka memang sudah terlihat.

Pulau Madura seperti raksasa hitam yang membujur tengah tertidur.

"Kita sudah setengah perjalanan," kata Kebo Arema kepada Kertanegara, memintanya untuk mengayuh perahu ke pantai.

Perahu telah ditarik jauh di atas pasir pantai putih.

Matahari sudah hampir di atas puncak cakrawala.

Panas cahaya matahari terpantul pasir putih seperti menyengat.

"Ada air tawar yang selalu menetes di bawah gua karang itu," kata Kebo Arema kepada Kertanegara sambil menunjuk sebuah gua karang.

Di depan mereka memang berdiri bukit karang yang tinggi menjulang.

Di bawah bukit karang itu, ada sebuah lekukan yang dalam, mungkin terkikis oleh pukulan ombak yang terus-menerus dan membentuknya seperti gua bermulut panjang.

Dari sebuah lubang langit-langit gua itu, menetes air.

"Air tawar," kata Kertanegara kepada Kebo Arema yang hanya tersenyum melihatnya mengumpulkan tetesan air di gua itu dengan dua telapak tangannya.

"Pangeran, beristirahatlah. Aku ada urusan dengan seekor kura-kura," kata Kebo Arema kepada Kertanegara.

"Urusan apa dengan kura-kura?" tanya Kertanegara, tidak mengerti apa maksud Kebo Arema.

"Aku akan meminjam beberapa telurnya untuk urusan perut kita," kata Kebo Arema kepada Kertanegara sambil tersenyum dan kembali ke tepi pantai.

Tidak lama kemudian, Kebo Arema sudah muncul kembali dengan membawa beberapa butir telur kura-kura.

Dengan sigap Kebo Arema menimbun telur-telur itu ke dalam pasir.

Di atas pasir itu, Kebo Arema membuat sebuah perapian.

"Urusan telur kura-kura telah dibayar tunai," kata Kebo Arema sambil duduk memandang perapiannya yang sudah menyala besar.

Asapnya membumbung ke atas, terbang hilang ditiup angin yang berdesir kencang.

Kita tinggalkan dulu Kebo Arema dan Kertanegara yang tengah beristirahat. Mari kita kembali ke Benteng Cangu.

Seperti yang telah diceritakan sebelumnya, lima ksatria Padepokan Bajra Seta tengah diantar oleh Dadulengit menemui Mahesa Pukat di pendapa utama.

Bukan main senangnya Mahesa Pukat mendapat kunjungan dari orang-orang Bajra Seta.

Tampak hadir bersama mereka Gedemantra dan Putumantra.

Mereka semua adalah bagian dari para budak yang ikut ke Benteng Cangu, mengabdikan diri sebagai prajurit Singasari.

Setelah bercerita tentang keselamatan masing-masing, Wantilan mewakili saudara-saudaranya dari Bajra Seta bercerita tentang tugasnya untuk mencari keberadaan Putra Mahkota.

"Beberapa petugas sandi telah berhasil menemui seorang penumpang kapal kayu yang berangkat bersama Pangeran Kertanegara dari Bandar Cangu.

Dari penumpang itu didapatkan berita bahwa Pangeran Kertanegara, dalam keadaan pingsan, dibawa oleh seorang yang disebut para perompak dengan nama Nelayan Bercaping ke arah Sungai Porong," kata Wantilan menjelaskan berita terakhir keberadaan Pangeran Kertanegara kepada Mahesa Pukat.

"Yang sangat dikhawatirkan, saat ini ada sekelompok orang yang berencana membunuh Pangeran Kertanegara," lanjut Wantilan.

"Kita tidak mengetahui siapa dan di mana tempat tinggal seorang yang bernama Nelayan Bercaping itu," kata Mahesa Pukat memberikan pandangannya.

"Bagaimana bila kita menganggap Pangeran Kertanegara sudah diselamatkan oleh Nelayan Bercaping itu, dan saat ini tengah dalam perjalanannya ke Madura?" kata Mahesa Amping tiba-tiba memberikan pendapatnya, yang sebenarnya adalah tangkapan sekilas panggraitanya.

Mahesa Pukat menatap tajam Mahesa Amping, teringat kembali ke masa silam.

Mahesa Pukat merasa bahwa Mahesa Amping telah berhasil dan mengenal lebih tajam getar panggraitanya.

"Itukah yang kau tangkap dari panggraitamu?" tanya Mahesa Pukat langsung kepada Mahesa Amping.

Kaget Mahesa Amping mendengar pertanyaan Mahesa Pukat, sebenarnya apa yang dikatakannya adalah gambaran sekilas yang muncul secara tiba-tiba di dalam pandangan batinnya.

"Tiba-tiba saja aku melihat gambaran seperti itu," kata Mahesa Amping kepada Mahesa Pukat.

"Secepatnya kita menemui Pangeran Kertanegara sebelum didahului sekelompok orang yang akan membunuhnya," kata Mahesa Semu ikut memberikan pandangannya.

"Kita harus bergerak cepat," kata Putumantra.

"Panggraita Mahesa Amping dapat diterima oleh akal," kata Mahesa Pukat memberikan pendapatnya.

"Aku ada usul," kata Dadulengit tiba-tiba.

Semua mata tertuju kepadanya.

"Usulku adalah bagaimana bila kita lanjutkan pembicaraan ini setelah menikmati hidangan yang sudah tersedia di depan kita," kata Dadulengit sambil tersenyum.

"Aku sependapat," kata Sembaga yang perutnya sudah lama berbunyi melihat hidangan yang telah tersedia.

Dan malam pun terus berlalu, menyelimuti Benteng Cangu dalam gelap tanpa bintang di langit biru.

Akhirnya semua sepakat, diputuskan untuk segera melanjutkan perjalanan ke Madura.

"Panggraita Mahesa Amping diterima juga oleh akal sehat. Bila Pangeran tidak selamat di tangan Nelayan Bercaping, tunailah tugas kalian.

Tapi bila ada kemungkinan bahwa Pangeran selamat dan sedang dalam perjalanan ke Madura, langkah kalian harus cepat, mendahului siapa pun yang akan berbuat tidak baik bagi keselamatan Putra Mahkota," kata Mahesa Pukat memberikan pendapatnya dan langsung disepakati oleh semua yang hadir.

Matahari pagi di atas Bandar Cangu sudah tampak begitu tinggi di ujung timur cakrawala.

Seorang pemilik kapal kayu kenalan Mahesa Pukat bersedia membawa lima orang ksatria dari Padepokan Bajra Seta.

Dengan kapal kayu itulah mereka berangkat ke Surabaya.

Kapal kayu pun telah meluncur membelah Sungai Brantas.

Dari atas geladak, di sepanjang jalan terlihat persawahan yang luas. Berbungalah mata yang memandangnya.

Kedamaian menghampiri petak demi petak sawah bagai permadani hijau terhampar luas.

Aliran Sungai Brantas menjadi karunia, membasahi sawah ladang petani di sepanjang jalan.

Tapi ketika kapal kayu melaju di tepi hutan yang sepi, hati menjadi kecut.

Sepertinya puluhan mata di balik kerindangan hutan tengah mengawasi, menyergap mereka dengan tiba-tiba.

Kehadiran perompak memang masih menjadi hantu yang menakutkan bagi para pedagang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment