Chapter 121
"Aku berkeyakinan bahwa pelakunya pasti bukan orang Kademangan ini," kata Empu Dangka memberikan pandangannya.
"Benar, warga Kademangan ini begitu rukun dan saling menyayangi. Mereka tidak mungkin sampai hati mencelakai keluarga dan kerabatnya sendiri," ujar Ki Demang membenarkan pandangan Empu Dangka.
"Kalau begitu, kita harus melakukan penyelidikan secara tersembunyi. Siapa tahu kita dapat menangkap basah perbuatannya itu," ucap Mahesa Amping.
Demikianlah, malam itu Mahesa Amping dan Empu Dangka bermalam di rumah Ki Demang. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali terlihat tiga orang lelaki keluar dari pintu halaman rumah Ki Demang. Mereka adalah Empu Dangka, Mahesa Amping, dan Ki Jagaraga yang pagi itu telah dihubungi Ki Demang untuk menemani Empu Dangka memeriksa keadaan sungai.
Sungai itu ternyata tidak begitu jauh mengalir membelah Kademangan Rendang, yang airnya berasal dari beberapa mata air di Gunung Agung. Sungai itu begitu jernih dan berbatu. Empu Dangka, Mahesa Amping, dan Ki Jagaraga terlihat berjalan menyusuri sungai tersebut. Kadang mereka harus melompat dari batu ke batu. Belum jauh berjalan, di sebuah tikungan sungai, mereka menemukan tiga tangkai daun pulus yang dibenamkan di dalam air di bawah sebuah batu.
"Dari sinilah orang itu telah menyebarkan bulu daun pulus itu," kata Empu Dangka sambil mengambil tiga tangkai daun pulus yang terbenam di dalam sungai.
"Apakah mungkin orang itu akan kembali melakukan kejahatannya?" tanya Mahesa Amping.
"Orang itu mungkin masih ada di sekitar Kademangan ini, memasang telinga dan menghitung jumlah korban," jawab Empu Dangka.
"Mudah-mudahan orang itu belum puas melihat baru tiga orang yang menjadi korbannya," ujar Ki Jagaraga.
"Kita berharap yang sama," kata Empu Dangka.
"Sekarang apa yang harus kita perbuat?" tanya Ki Jagaraga.
"Bersembunyi di sekitar sungai ini, menunggu kedatangannya," jawab Mahesa Amping.
Maka akhirnya mereka sepakat untuk bersembunyi di tempat yang tersembunyi dan tidak mudah terlihat. Untuk memberi kesan bahwa perbuatannya belum diketahui, Empu Dangka mengembalikan tiga tangkai daun pulus ke tempatnya semula. Mereka bertiga kemudian mencari pohon yang tinggi dan dirasa cocok sebagai tempat pengintaian.
"Menunggu di atas pohon sampai sore hari sungguh melelahkan. Kita perlu berjaga secara bergilir," kata Empu Dangka.
"Aku setuju. Biarlah aku yang mendapat giliran kedua. Aku akan datang di siang hari menggantikan kalian," sahut Mahesa Amping.
Sesuai kesepakatan, Mahesa Amping kembali ke Kademangan, sementara Empu Dangka dan Ki Jagaraga mendapat giliran pertama untuk naik ke atas pohon. Namun, Mahesa Amping tidak menyusuri sungai sebagaimana saat berangkat; ia sengaja berjalan masuk ke hutan di pinggir sungai. Ternyata, alasan berjaga secara bergilir hanyalah siasat Mahesa Amping agar ia bisa bergerak leluasa melindungi Ki Jagaraga. Ia sebenarnya telah menemukan sebuah jejak langkah.
Dengan perlahan, Mahesa Amping terus mengikuti jejak tersebut yang ternyata menuju ke arah hutan dalam. Sebagai seorang pengembara yang ahli membaca jejak dan arah, Mahesa Amping dapat membaca bahwa jejak kaki itu baru berusia satu hari, terlihat dari dahan semak kecil yang patah dan sudah tidak bergetah. Perlahan tapi pasti, ia terus menguntit hingga akhirnya ia berhenti.
Tidak jauh dari tempatnya berdiri, terhalang semak dan batang pohon besar, Mahesa Amping melihat seorang lelaki yang tidak lagi muda namun belum dapat dikatakan tua sedang bersandar di sebuah batu besar. Wajah dan pakaian orang itu begitu lusuh dan kotor. "Orang ini sangat cocok dengan gambaran jejak yang kuikuti, berbadan kokoh dan tinggi besar," batin Mahesa Amping.
Mahesa Amping sengaja mengotori wajah dan pakaiannya, lalu mengambil pisau belatinya dan melompat ke arah orang itu.
"Kamu pasti orang Kademangan Rendang! Kamulah orang pertama yang kubunuh hari ini!" teriak Mahesa Amping sambil menunjuk wajah lelaki itu dengan belatinya.
"Setan alas, orang gila! Baru datang sudah marah-marah tidak karuan," sahut lelaki itu sambil berdiri tanpa rasa takut sedikit pun.
"Hari ini kamulah orang Kademangan Rendang yang pertama kubunuh," seru Mahesa Amping sambil tertawa mirip orang kurang waras.
"Aku bukan orang Kademangan Rendang!" teriak orang itu lebih keras.
"Bohong! Kamu berkata seperti itu karena takut kubunuh," sahut Mahesa Amping sambil menjulurkan belatinya.
"Terserah percaya atau tidak, aku bukan orang Kademangan Rendang," jawab orang itu yang tampak kesal.
"Aku akan membunuhmu!" Mahesa Amping menghujamkan belatinya ke arah leher orang itu.
"Orang gila!" seru orang itu sambil mengelak, merunduk, dan melayangkan tendangan tepat ke perut Mahesa Amping. Meskipun Mahesa Amping telah melindungi tubuhnya dengan ilmu kekebalan, ia berpura-pura terlempar jatuh. Ia bangkit dengan murka dan terus menyerang dengan kasar. Namun, setiap serangan Mahesa Amping selalu dipatahkan oleh orang itu hingga akhirnya tangan Mahesa Amping dicengkeram kuat dan belatinya terlepas.
Orang itu kemudian menindih dan mencengkeram leher Mahesa Amping. "Apa yang membuatmu begitu dendam dengan orang Kademangan Rendang?" tanya orang itu.
"Lepaskan," jawab Mahesa Amping berusaha memberontak, namun cekalan itu terlalu kuat.
"Cepat ceritakan!"
"Bagaimana aku bisa bicara, sementara mulutku tertutup tanah," jawab Mahesa Amping. Orang itu melepas cekalannya. Mahesa Amping duduk menghadap lawannya.
"Aku benci orang Kademangan Rendang karena mereka kikir. Bukannya memberikan sedekah makanan, mereka mencaci maki diriku dan membiarkan anak-anak kecil melempariku dengan batu," ujar Mahesa Amping dengan wajah kesal.
Orang itu tertawa panjang. "Wahai orang Kademangan Rendang, hari ini telah bertambah musuhmu," katanya.
"Kamu juga memusuhi orang Kademangan Rendang?" tanya Mahesa Amping.
"Benar, aku senang melihat mereka susah. Kutaburkan sungai mereka dengan bulu daun pulus. Kemarin sore sudah ada tiga orang korban, dan sore ini aku akan kembali melakukannya."
"Kenapa tidak kau bunuh mereka satu per satu?"
"Bodoh, membunuh mereka sangat mudah, tapi aku ingin menyiksa mereka," jawab orang itu dengan sombong.
"Apakah kamu membenci mereka karena menolak sedekah?"
"Aku bukan pengemis sepertimu. Yang kubenci bukan orang Kademangan, tapi Demangnya yang sangat sombong," jawab orang itu sambil memukul-mukul tangannya sendiri.
"Apa yang disombongkan Ki Demang terhadapmu?"
"Demang sombong itu tidak mengakui diriku sebagai saudaranya!"