Chapter 45
Rumah-rumah besar dengan pilar ukiran kayu jati dan berpagar dinding batu berderet sepanjang jalan yang tertata rapi. Tanah Sriwijaya sudah lama tak bertuan, tetapi para warganya sepertinya tidak memedulikannya. Siapa pun penguasanya, yang penting mereka tetap dalam keadaan damai dalam bertani, berdagang, dan menjalani kehidupan.
Tanah Sriwijaya saat itu berada dalam pengendalian para penguasa dari Tanah Melayu. Namun, siapa yang peduli? Begitulah suasana yang ditangkap oleh Raden Wijaya, Lawe, Mahesa Amping, dan Argalanang ketika mereka menyusuri kota tua Sriwijaya. Mereka pun kembali ke Bandar Sebukit, melihat berbagai barang diangkut naik ke jung besar milik para saudagar dari berbagai bangsa. Mereka juga melihat di antara berbagai barang yang keluar masuk melalui Bandar Sebukit yang ramai itu adalah lada hitam.
Mereka mendapat keterangan bahwa lada hitam adalah komoditas yang paling diminati oleh para pedagang asing karena merupakan kualitas yang terbaik. Lada hitam ini dibawa oleh para pedagang setempat dari pedalaman Sungai Kampar, sebuah tempat yang jauh.
"Jung bangsawan Sunda," kata Argalanang sambil menunjuk sebuah jung yang elok dengan banyak umbul-umbul berwarna kuning bergambar kepala harimau. Ternyata Argalanang memang mengenal berbagai jenis jung. Jung elok itu memang milik bangsawan Sunda. Pemiliknya adalah seorang yang sangat dihormati di bumi Pasundan, tidak lain adalah Raja Ragasuci, penguasa Saunggalah, putra Raja Darmasiksa yang telah mengasingkan diri bertapa di Gunung Galunggung sebagai seorang Resi Guru yang sakti.
Raja Ragasuci sendiri terbilang masih paman Raden Wijaya dari garis ibunya yang berdarah Sunda. Ibunda Raden Wijaya dan Raja Ragasuci adalah saudara lain ibu. Raja Ragasuci mempunyai seorang ibu berdarah campuran bangsawan Sriwijaya dan Melayu. Kehadiran Ragasuci di kota Sriwijaya adalah sebuah kunjungan ke tanah leluhur ibundanya. Masih ada pamannya di kota Sriwijaya, kakak kandung dari ibundanya bernama Bagus Kemuning, seorang bangsawan yang sangat disegani dan begitu berpengaruh.
"Ternyata kamu berminat menyunting seorang putri dari Tanah Melayu?" tanya Bagus Kemuning kepada kemenakannya, Raja Ragasuci, yang datang menemuinya di rumahnya.
"Begitulah Paman, mudah-mudahan aku dapat memenangkan sayembara itu," jawab Raja Ragasuci.
Pada saat itu, memang di Tanah Melayu akan diadakan sebuah sayembara besar memperebutkan seorang putri raja Melayu yang cantik jelita bernama Dara Puspa. Namun, yang dapat mengikuti hanyalah kalangan yang berdarah bangsawan dari berbagai negeri. Salah satunya adalah Raja Ragasuci sendiri. Berita sayembara yang akan dilaksanakan pada hari purnama pekan depan itu telah didengar pula oleh Raden Wijaya dan kawan-kawannya yang tengah melaksanakan tugas sandi.
"Besok kita berangkat ke Tanah Melayu," kata Argalanang.
Demikianlah, pada hari itu mereka mencari rumah penginapan di sekitar Bandar Sebukit. Malam telah menyelimuti Bandar Sebukit yang telah lelah setelah seharian didera kesibukan dan kepenatan. Udara dingin di luar rumah menjadikan jalan-jalan menjadi begitu sepi dan lengang.
Mahesa Amping belum tidur di kamar penginapannya. Pendengarannya yang tajam menangkap pembicaraan di kamar sebelah yang terpisah oleh dinding dari bilik kayu. Sebuah pembicaraan yang begitu menarik perhatiannya.
"Apa susahnya menghancurkan jung Singasari itu?" kata seseorang yang terdengar dari bilik kamar sebelah.
"Tetapi sampai hari ini mereka masih belum kembali," jawab suara yang lain.
"Apa yang akan kita laporkan kepada Tuanku Bagus Kemuning?" tanya orang pertama.
"Tunggu sampai besok, baru kita dapat menghadap," sahut orang kedua.
"Yang kutakutkan, mereka tidak singgah ke Sebukit, tapi langsung pulang ke Tanah Melayu," kata orang pertama.
"Apa yang kamu takutkan?" tanya suara orang kedua.
"Kamu ini benar-benar penakut!" ketus orang pertama.
"Tuanku Bagus Kemuning telah berpesan bahwa tugas ini jangan sampai didengar Baginda Raja," lanjut orang pertama.
"Kamu benar, tapi aku bukan penakut," jawab orang kedua yang terdengar oleh Mahesa Amping membanting badannya ke pembaringan.
Setelah itu tidak terdengar pembicaraan lagi. Yang terdengar adalah dengkur napas mereka yang saling bersahutan. Dengan pendengarannya yang tajam, Mahesa Amping menduga mereka sudah terlelap. Tiba-tiba saja, telinga Mahesa Amping menangkap suara mencurigakan berasal dari atap rumah. Segera Mahesa Amping membangunkan Raden Wijaya yang sekamar dengannya. Ketika Raden Wijaya terbangun, Mahesa Amping segera keluar kamar dan melenting ke atap rumah. Sesosok bayangan masih sempat terlihat berkelebat menghilang di kegelapan malam.
Mahesa Amping kembali masuk ke kamarnya, mencoba menempelkan telinga di dinding untuk mendengar apa yang terjadi di kamar sebelah. Suara dengkur sudah tidak terdengar lagi, bahkan napas halus sekalipun.
"Apa yang telah terjadi?" tanya Raden Wijaya.
Mahesa Amping menjelaskan kepada Raden Wijaya mulai dari pembicaraan yang tidak sengaja terdengar hingga suara mencurigakan di atas atap rumah. "Aku merasa orang di kamar sebelah sudah tidak bernyawa," ujar Mahesa Amping.
"Kita lihat apa yang terjadi," kata Raden Wijaya.
Mereka berdua keluar dari kamar dan langsung menuju kamar sebelah. Pintu kamar itu ternyata tidak diselarak dari dalam. Ketika pintu terbuka, Raden Wijaya dan Mahesa Amping terkejut melihat pemandangan di depan mata.
"Mereka berdua sudah mati," kata Mahesa Amping melihat dua orang tergeletak di pembaringan dalam keadaan tidak bergerak. Seluruh tubuh mereka terlihat berwarna hijau.
"Racun ikan buntal!" kata Raden Wijaya sambil menunjuk dua buah duri kecil menancap di leher kedua orang yang terbaring tak bernyawa itu.
"Dari mana Raden mengetahui bahwa mereka terkena racun ikan buntal?" tanya Mahesa Amping heran.
Raden Wijaya mengeluarkan sebuah bubu bambu kecil dari balik pakaiannya. Dengan hati-hati, ia mengeluarkan sebuah duri kecil dari dalam bubu bambu itu. "Sebuah duri yang sama yang telah menghabisi nyawa ibundaku," kata Raden Wijaya sambil mencabut duri yang ada di leher salah satu mayat.
Lamunan Raden Wijaya melayang jauh ke belakang, ke suatu malam menjelang keberangkatannya bersama Mahesa Murti menuntut ilmu di Padepokan Bajra Seta. "Di ujung duri ikan buntal ini nyawa ibundamu berakhir. Bawalah bersamamu, sampai saat ini ayahmu belum dapat mengungkap di balik kematian ibundamu," pesan Lembu Tal kepada Raden Wijaya. Di mana pun Raden Wijaya berada, bubu bambu kecil itu selalu menyertainya.
"Hari ini pintu rahasia lorong teka-teki keluargaku mulai terkuak, aku akan terus menyusurinya," ucap Raden Wijaya sambil memasukkan kembali duri ikan buntal tersebut.
Mahesa Amping yang pernah diceritakan mengenai hal itu memahami apa yang dirasakan Raden Wijaya saat itu. "Hanya mereka yang memiliki kemampuan tinggi yang dapat melempar duri kecil itu tepat menembus sasaran," ujar Mahesa Amping.
Akhirnya, mereka segera menyelinap keluar dari kamar nahas itu kembali ke kamar mereka. Waktu perlahan terus menyusut, membungkus rahasia kegelapan sampai akhirnya pagi yang bening datang dengan kehangatan matahari di ujung cakrawala.
Bandar Sebukit terbangun kembali dalam hiruk-pikuk pagi di antara celoteh para buruh angkut barang. Terlihat Mahesa Amping dan kawan-kawannya memasuki sebuah kedai yang sudah buka untuk sarapan. Dengan perlahan, agar tidak didengar orang lain, Raden Wijaya menceritakan kejadian semalam kepada Lawe dan Argalanang, termasuk teka-teki rahasia keluarganya.
"Apakah ayahmu pernah bercerita tentang orang yang bernama Bagus Kemuning?" tanya Lawe kepada Raden Wijaya.
"Belum," jawab Raden Wijaya datar sambil menggelengkan kepala.
"Kita harus mencari tahu banyak hal tentang orang itu," kata Argalanang.
Demikianlah, mereka akhirnya sepakat untuk menunda keberangkatan untuk menyelidiki siapa sebenarnya Bagus Kemuning. Mereka mendapatkannya dengan mudah, karena hampir semua orang di kota Sriwijaya mengenal Bagus Kemuning sebagai orang yang sangat disegani dan berpengaruh.
Matahari sudah naik ke puncaknya. Seorang tukang buah duku terlihat tengah berteduh di bawah sebuah pohon ambon yang rindang di depan pagar rumah Bagus Kemuning.
"Rancak nian rezekimu, wahai tukang buah," kata seorang berpakaian sederhana yang keluar dari regol rumah Bagus Kemuning menghampiri tukang buah tersebut.
"Seharian ini belum ada kutemui seorang pun pembeli, apanya yang rancak," jawab tukang buah itu yang ternyata Argalanang yang tengah menyamar.
"Buahmu kubeli semuanya," kata orang itu.
"Apakah aku tidak salah dengar? Biasanya orang membeli sekilo dua kilo," sahut Argalanang.
"Tuanku telah kedatangan banyak tamu, tolong antar sekalian ke dalam," kata orang itu.