Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 126

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 126

"Bahagia diri ini dapat berkenalan dengan seorang guru dari Perguruan Panca Agni dan juga keempat muridnya," berkata Mahesa Amping menjura penuh hormat.

"Kami berhutang budi padamu, anak muda, semoga kami dapat membalasnya," berkata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping.

"Hutang budi itu kuanggap telah selesai manakala tidak ada permusuhan lagi antara perguruanmu dengan saudaraku ini," berkata Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi.

"Aku juga akan mengikat persaudaraan denganmu, anak muda, apakah dirimu berkenan?" bertanya Ki Arya Sidi menunggu jawaban dari Mahesa Amping.

Dengan tangan terbuka dan wajah kebahagiaan, Mahesa Amping menerima Ki Arya Sidi sebagai saudara.

"Itu artinya kita bertiga telah terikat tali persaudaraan," berkata Mahesa Amping sambil memeluk Ki Arya Sidi dengan penuh kegembiraan.

"Mari, Ki Jaran Waha, kita bertiga adalah saudara," berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha yang langsung mendekat.

Maka terlihat mereka bertiga saling berpelukan sebagaimana saudara yang disaksikan oleh keempat pemuda, para murid Ki Arya Sidi, dan juga tentunya Empu Dangka yang masih duduk di tempatnya.

"Aku lupa memperkenalkan sahabat perjalananku," berkata Mahesa Amping yang telah memperkenalkan Empu Dangka kepada semua yang ada di hutan itu.

Sementara itu, suasana di hutan itu sudah begitu gelap, sang malam telah menyelimuti bumi.

"Tempat tinggalku tidak jauh dari sini, mudah-mudahan kalian berkenan mampir di tempatku yang sederhana," berkata Ki Jaran Waha menawarkan semua yang ada untuk singgah di tempat tinggalnya.

"Maafkan kami, saudaraku Ki Jaran Waha, Pejeng sudah tidak begitu jauh lagi, biarlah kami melanjutkan perjalanan kami di malam hari ini," berkata Ki Arya Sidi.

"Bila kalian ada di sekitar Pejeng, datang singgahlah ke padepokan kami," berkata kembali Ki Arya Sidi.

"Kami akan berkunjung ke Padepokan Panca Agni, karena kebetulan kami akan melewati Pejeng," berkata Empu Dangka kepada Ki Arya Sidi.

"Terima kasih, kami akan menunggu kedatangan kalian," berkata Ki Arya Sidi sambil berpamitan bersama keempat muridnya melanjutkan perjalanannya.

Demikianlah, akhirnya Mahesa Amping dan Empu Dangka mengikuti Ki Jaran Waha berjalan ke arah tempat tinggalnya.

Setelah mereka berjalan menyusuri hutan yang gelap, sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Jaran Waha bahwa tempat tinggalnya memang tidak begitu jauh.

Akhirnya mereka telah sampai di kediaman Ki Jaran Waha.

Ternyata kediaman Ki Jaran Waha adalah sebuah goa yang ada di dalam hutan itu sendiri.

Bila saja datang tidak bersama Ki Jaran Waha, tidak seorang pun dapat menemukan pintu goa itu, karena pintu goa itu sendiri terhalang semak belukar.

Mereka terlihat memasuki lubang goa yang sempit, hanya cukup masuk untuk satu orang.

Namun ketika mereka semakin masuk ke dalam, ternyata ada ruangan yang cukup luas, selebar tiga kali kamar.

Dua buah pelita berada di dua sudut cukup menerangi ruangan.

Terlihat sebuah bale batu besar di tengah-tengah ruangan.

Dan seorang pemuda di atas bale batu itu terkejut melihat kedatangan mereka bertiga.

"Kita kedatangan tamu istimewa, siapkan minuman dan makanan hangat untuk kami," berkata Ki Jaran Waha kepada pemuda itu.

Dengan sigap pemuda itu turun dari bale batu menyiapkan perapian.

"Silakan naik ke atas bale batu, cuma itu perabot di dalam goa ini," berkata Ki Jaran Waha mempersilakan Mahesa Amping dan Empu Dangka.

"Setidaknya malam ini kita terlindung dari angin dan embun," berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha mencoba membesarkan hatinya.

Demikianlah, malam itu Mahesa Amping dan Empu Dangka bermalam di tempat Ki Jaran Waha di dalam sebuah goa.

"Maafkan aku, saudaraku, aku telah melumpuhkan tangan kirimu," berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha.

"Akulah yang seharusnya berterima kasih, dengan kejadian itu tangan kananku dapat mengerti arti hidup ini," berkata Ki Jaran Waha sambil tersenyum.

Ketika minuman dan makanan hangat telah disiapkan, mereka pun tampak menikmati hidangan malam itu di atas bale batu.

Sepanjang malam mereka asyik bercakap-cakap.

Ada-ada saja yang mereka percakapkan.

Ternyata dari percakapan itu dapat diketahui bahwa Ki Jaran Waha adalah seorang Raja Leak.

Para pengikutnya tersebar di seluruh daratan bumi Bali.

"Ternyata aku berhadapan dengan seorang raja," berkata Empu Dangka.

"Bahkan kita telah makan di satu tempat bersamanya," menimpali Mahesa Amping.

"Tidak sebagaimana Raja Puri Dalem, Raja Leak hanya punya perabot Bale Batu," berkata Ki Jaran Waha yang disambut tawa oleh Mahesa Amping dan Empu Dangka.

Akhirnya rasa kantuk yang menghentikan pembicaraan mereka.

Terlihat satu per satu mencari tempat untuk tidur di dalam goa.

Sang malam ternyata hanya tinggal menyisakan waktunya sedikit, sebentar saja sudah terdengar suara ayam hutan berkokok sebagai tanda hari sudah masuk pagi.

"Semoga perjalanan kalian dipenuhi keselamatan," berkata Ki Jaran Waha mengantar sampai keluar dari goa Mahesa Amping dan Empu Dangka yang akan melanjutkan perjalanan mereka.

"Semoga hari-harimu dipenuhi kesejahteraan, wahai saudaraku," berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha.

"Ikat pinggang itu adalah tanda pengenalku, seluruh pengikutku di Tanah Bali ini akan setia kepadamu sebagaimana mereka setia kepadaku," berkata Ki Jaran Waha mengingatkan Mahesa Amping atas ikat pinggang pemberiannya.

Sebuah ikat pinggang sederhana dengan tameng dari bahan perak bergambar matahari.

Sampai jauh Ki Jaran Waha dan pemuda yang setia menemaninya mengikuti punggung belakang Mahesa Amping dan Empu Dangka yang telah melangkah menjauh dari tempat tinggal mereka hingga akhirnya hilang terhalang semak belukar dan batang-batang kayu besar di hutan itu.

Mahesa Amping dan Empu Dangka terus membelah semak-semak belukar, berjalan menyusuri hutan yang masih tetap gelap meski matahari di luar sana telah cukup tinggi.

Akhirnya ketika matahari sudah berdiri di atas puncaknya, Mahesa Amping dan Empu Dangka terlihat keluar dari hutan rimba yang pekat, sebuah hutan perawan yang jarang sekali didatangi oleh siapa pun, yang ternyata di dalamnya adalah sebuah kediaman seorang Raja Leak, pemimpin tertinggi para manusia Leak di daratan Bali yang ternyata bernama Ki Jaran Waha.

"Semoga Ki Jaran Waha dapat membimbing para pengikutnya menuju jalan kebenaran," berkata Mahesa Amping sambil menoleh ke arah hutan rimba ketika jarak mereka dengan hutan itu terlihat sudah semakin menjauh.

"Aku pun berharap demikian, semoga juga mereka dapat mengikis sedikit demi sedikit pandangan orang Bali tentang manusia Leak," berkata Empu Dangka.

Sementara itu, hari sudah mendekati senja ketika mereka tiba di sebuah dusun.

"Dapatkah kakek menunjukkan kepada kami Padepokan Panca Agni?" bertanya Mahesa Amping kepada seorang tua yang dijumpainya masih berada di sawah.

"Teruslah kalian menyusuri tegalan ini, Padepokan Panca Agni ada di puncak Bukit Pejeng Gundul," berkata orang tua itu sambil menunjuk ke sebuah perbukitan yang sudah begitu dekat dari tempat mereka berdiri.

"Jadi bukit di depan itu bernama Bukit Pejeng Gundul?" bertanya Mahesa Amping.

"Benar, di puncak bukit itulah Padepokan Panca Agni berdiri," berkata orang tua itu mengulangi keterangannya.

"Terima kasih, Kek," berkata Mahesa Amping kepada orang tua itu yang membalasnya dengan sebuah anggukan kepala sebagai tanda keramahannya.

Sebagaimana yang ditunjukkan oleh orang tua itu, Mahesa Amping dan Empu Dangka terus mengikuti tegalan sawah menuju ke sebuah perbukitan kecil.

Akhirnya manakala senja telah turun menyelimuti perbukitan kecil, Mahesa Amping dan Empu Dangka telah berada di atas puncak Bukit Pejeng Gundul.

Sebuah hamparan tanah lapang menghadang di hadapan mereka.

Tidak ada pohon kayu satu pun.

Dan sebuah padepokan kecil terlihat berdiri sunyi dipayungi langit senja yang bening, seperti sebuah bangunan yang elok telah tercipta dan bersatu dengan alam perbukitan yang dipenuhi hamparan padang alang-alang.

"Sebuah padepokan yang menjauh dari lingkungannya," berkata Mahesa Amping memandang sebuah bangunan padepokan kecil.

"Mungkin mereka memang ingin menjauh dan keluar dari lingkungan di sekitarnya, atau memang mereka menyukai kesunyian dan kesendirian," berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping yang terus melangkah mendekati padepokan di atas puncak bukit itu.

Ketika mereka sampai di regol Padepokan Panca Agni, pintu gerbang tidak terkunci, juga tidak ada pos ronda sebagaimana sebuah padepokan besar umumnya.

Mahesa Amping mendorong pintu gerbang yang tidak terkunci dan menjulurkan kepalanya melihat ke dalam.

Ternyata ada seorang lelaki tua tengah membawa sebuah pelita yang akan diletakkan di sudut pintu regol halaman.

"Silakan masuk, apakah tuan-tuan akan bertemu dengan Ki Arya Sidi?" bertanya lelaki tua itu.

"Benar, kami ingin bertemu dengan Ki Arya Sidi," berkata Mahesa Amping yang telah membuka pintu gerbang lebih lebar lagi.

"Mari kuantar tuan-tuan ke pendapa," berkata lelaki tua itu mengantar Mahesa Amping dan Empu Dangka menuju pendapa Padepokan Panca Agni.

"Padepokan ini begitu sepi," bertanya Mahesa Amping kepada lelaki tua itu yang merasa aneh bahwa sebuah padepokan begitu sepi, tidak ada orang yang terlihat selain lelaki tua itu.

Lelaki tua yang mengerti keheranan Mahesa Amping hanya tersenyum.

"Penghuni padepokan saat ini masih ada di sanggar bersama Ki Arya Sidi," berkata lelaki tua itu kepada Mahesa Amping.

Terlihat Mahesa Amping, Empu Dangka, dan orang tua itu tengah naik tangga pendapa.

"Tunggulah di sini, aku akan menyampaikan tentang kedatangan tuan-tuan," berkata orang tua itu mempersilakan Mahesa Amping dan Empu Dangka menunggu di pendapa.

Diam-diam senja sudah semakin surut, pandangan mata di depan halaman sudah semakin buram.

"Maaf, tentunya kalian menunggu di sini begitu lama," berkata Ki Arya Sidi yang telah muncul di pendapa menemui Mahesa Amping dan Empu Dangka.

"Kami belum begitu lama, justru kamilah yang meminta maaf telah mengganggu kesibukan Ki Arya Sidi," berkata Empu Dangka.

"Tidak ada yang terganggu, bahkan aku merasa sebuah kehormatan dikunjungi kalian," berkata Ki Arya Sidi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment