Chapter 166
Mereka pun memilih jalan tanah rata yang biasa digunakan para saudagar untuk menarik gerobak kudanya. Baru ketika malam mulai turun, Kebo Arema dan pasukannya telah kembali di Hutan Tanah Melaya.
"Hari ini kamu dan semua anak buahmu telah selesai. Aku tidak akan menghalangi ke mana pun kalian akan pergi," kata Kebo Arema kepada Badrun.
Terlihat Badrun menarik napas panjang, tidak tahu apa yang tengah dipikirkannya.
"Di mata orang-orang Pura Besakih, kami adalah pengkhianat. Mereka akan mencari kami sebagai buronan. Tempat yang paling baik sampai saat ini adalah berdiri bersama Tuan," kata Badrun dengan wajah penuh harap.
Saat itu, Kebo Arema yang terlihat menarik napas panjang. Apabila ada Mahesa Amping, mungkin ia dapat berbagi pendapat. Terlihat Kebo Arema tengah berpikir keras apa yang harus dikatakan kepada Badrun yang masih menunggu jawaban darinya.
"Baiklah, kalian kuterima," kata Kebo Arema singkat. Bukan main gembiranya Badrun mendengar pernyataan Kebo Arema yang singkat itu.
"Terima kasih, Tuan," kata Badrun penuh kegembiraan. "Aku akan menyampaikan berita gembira ini kepada semua anak buahku," lanjutnya sambil memohon pamit untuk menemui anak buahnya.
Sementara itu, di Pura Besakih, berita tentang tertangkapnya gerombolan Barong Asu Ngelawang sudah sampai ke telinga mereka.
"Mereka telah membajak orang-orang upahan kita," kata Raja Adidewalancana dengan nada penuh kekecewaan.
"Bahkan mereka telah membawa ular-ular itu ke rumah kita sendiri," tambah Dewa Bakula.
"Peperangan awal ini telah mereka menangkan, keberpihakan penduduk sudah mereka rebut. Saat ini yang kita harapkan adalah bantuan dari luar," kata Adidewalancana kepada Dewa Bakula.
"Masih ada harapan, pukulan pertama tidak menjamin sebuah kemenangan," sahut Dewa Bakula memberi harapan kepada Raja Adidewalancana.
"Yang pasti, kita harus lebih berhati-hati lagi. Kekuatan orang-orang Singasari tidak boleh diremehkan," kata Adidewalancana.
"Para saudagar dari Tanah Hindu tidak akan meninggalkan kita," kata Dewa Bakula memberikan keyakinan agar Raja Adidewalancana tidak begitu khawatir.
Ternyata ucapan Dewa Bakula bukan sekadar isapan jempol. Lima ratus prajurit bayaran pada hari itu telah memasuki perairan Balidwipa lewat pantai baratnya.
Malam telah menyisakan sedikit kegelapannya manakala semburat merah fajar di ufuk timur telah terbangun di cakrawala langit Pura Indrakila. Mahesa Amping terlihat sudah terbangun dan duduk di sisi peraduannya. Telinganya yang tajam mendengar suara burung hantu tidak begitu jauh dari tempatnya. Ia pun keluar dari biliknya, langsung menuju Pendapa Bale Guru.
Di keremangan pagi itu, Mahesa Amping melihat seorang lelaki mendekati pendapa.
"Kukira telingaku yang salah mendengar suara burung hantu menjelang pagi," kata Mahesa Amping kepada orang itu yang ternyata adalah Ki Jaran Waha.
"Maaf telah membangunkanmu," kata Ki Jaran Waha sambil melangkah menaiki anak tangga pendapa. Cahaya dua buah pelita di Pendapa Bale Guru itu sudah terlihat redup, warna merah cakrawala langit di atas halaman muka sudah mulai merata.
"Aku sudah biasa bangun di awal pagi," kata Mahesa Amping sambil mempersilakan Ki Jaran Waha duduk bersamanya.
"Aku datang membawa dua buah berita," kata Ki Jaran Waha setelah duduk bersama di pendapa.
"Aku tidak sabar untuk mendengarnya," kata Mahesa Amping.
Namun, belum sempat Ki Jaran Waha menyampaikan beritanya, dari pintu butulan muncul Ki Arya Sidi.
"Ternyata sudah ada tamu di pagi hari," kata Ki Arya Sidi yang datang menghampiri.
"Konon katanya sarapan pagi di Pura Indrakila sangat istimewa, itulah sebabnya aku mampir kemari di awal pagi," kata Ki Jaran Waha penuh senyum memperlihatkan sebaris giginya yang rata dan putih.
Suasana di Pendapa Bale Guru itu menjadi lebih ramai saat Mahesa Semu, Wantilan, dan Sembaga ikut bergabung. Mahesa Amping segera memperkenalkan Ki Jaran Waha kepada mereka.
"Mereka bertiga dari Padepokan Bajra Seta," kata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha.
"Mahesa Amping telah bercerita tentang Ki Jaran Waha sebagai seorang tengkulak kuda yang jempolan," kata Wantilan bercerita tentang lima puluh ekor kuda kiriman Ki Jaran Waha.
"Aku memilih kuda terbaik untuk kalian," kata Ki Jaran Waha penuh gembira mendapat julukan baru sebagai tengkulak kuda.
Suasana di atas pendapa menjadi lebih meriah manakala seorang pelayan membawa minuman dan makanan hangat.
"Akhirnya yang kutunggu datang juga," kata Ki Jaran Waha sambil memperhatikan pelayan lelaki yang tengah meletakkan makanan dan minuman.
"Mudah-mudahan Ki Jaran Waha tidak melupakan berita yang akan disampaikan setelah perutnya terisi," kata Mahesa Amping bercanda yang disambut tawa dari semuanya.
Terlihat semua menikmati hidangan pagi itu di Pendapa Bale Guru Pura Indrakila.
"Sepagi ini biasanya aku sudah turun ke sawah, sementara di sini duduk menikmati hidangan pagi," kata Sembaga sambil meneguk wedang sere hangatnya.
Sambil menikmati hidangan itu, akhirnya Ki Jaran Waha menyampaikan dua buah berita penting kepada Mahesa Amping.
"Berita pertama, aku sudah menyiapkan dua buah lumbung untuk para prajurit Singasari," kata Ki Jaran Waha.
"Terima kasih," jawab Mahesa Amping.
"Berita kedua, beberapa orangku telah melihat sebuah jung besar memasuki perairan pantai barat Balidwipa," kata Ki Jaran Waha dengan wajah penuh ketegangan.
Terlihat semua mata tertuju kepada Mahesa Amping, berharap ia dapat memberikan keputusan dan pandangannya.
"Kita berbagi tugas," kata Mahesa Amping setelah berpikir sejenak. Semua yang ada di sana sepertinya tidak sabaran menanti perkataan selanjutnya.
"Ki Jaran Waha didampingi Kakang Mahesa Semu berangkat ke Bandar Buleleng untuk memandu letak titik lumbung, sekaligus menyampaikan bahwa pihak lawan telah mendatangkan kekuatan dari luar," perintah Mahesa Amping.
Mahesa Amping mengalihkan pandangannya ke arah Wantilan dan Sembaga. Diam-diam Sembaga merasa bangga bahwa anak kecil momongannya itu telah tumbuh dewasa dan penuh kepercayaan diri.
"Paman Wantilan dan Paman Sembaga ikut bersamaku kembali ke Tanah Melaya. Mudah-mudahan kita dapat menahan untuk sementara kekuatan lawan yang datang dari luar itu," kata Mahesa Amping.
"Kita belum mengetahui berapa besar kekuatan lawan, menurut orang-orangmu berapa perkiraan kekuatan yang akan masuk itu?" tanya Ki Arya Sidi kepada Ki Jaran Waha.
"Sekitar lima ratus orang," jawab Ki Jaran Waha memperkirakan.
"Kekuatan kita di Tanah Melaya saat ini hanya berkisar seratus orang," ujar Mahesa Amping.
"Jumlah tidak selalu mendukung kemenangan," kata Ki Arya Sidi.
"Tugas kita hanya menghambat mereka sambil menanti bantuan dari Bandar Buleleng," kata Mahesa Amping penuh percaya diri.
"Apakah aku dan para sisya dapat diizinkan ikut bersamamu ke Tanah Melaya?" tanya Ki Arya Sidi.
"Hanya sebatas untuk menambah pengalaman, kurasa dapat kuizinkan," kata Mahesa Amping dengan perasaan berat hati. "Ki Arya Sidi, kuminta dapat mengawasi mereka," lanjutnya.
Maka pada hari itu juga, Mahesa Amping dan rombongannya berangkat menuju Tanah Melaya. Sementara itu, Ki Jaran Waha dan Mahesa Semu berangkat lebih dulu ke Bandar Buleleng.
Di Hutan Tanah Melaya, Kebo Arema sudah mendapat berita tentang akan datangnya dua buah jung melalui orang-orang Ki Subali yang telah disebar untuk mengamati keadaan.
"Apakah kamu dapat memperkirakan berapa jumlah mereka?" tanya Kebo Arema kepada utusan Ki Subali.
"Perkiraanku berkisar antara lima ratus orang," jawab utusan itu.
Kebo Arema kemudian memanggil Badrun dan bercerita tentang berita masuknya orang-orang upahan tersebut.
"Kamu lebih mengenal mereka dibandingkan aku," kata Kebo Arema kepada Badrun.
"Yang pasti, mereka akan merapat di ujung malam menjelang pagi," jawab Badrun memperkirakan.
"Garis pantai barat Balidwipa ini cukup luas, apakah kamu dapat memperkirakan di mana mereka akan merapat?" tanya Kebo Arema.
"Sepanjang pantai barat ini adalah pantai yang landai, mereka akan merapat dengan jukung. Kurasa pantai terbaik untuk merapat adalah pantai Tanah Melaya ini," jelas Badrun.
"Terima kasih, bersiaplah untuk menyambut kedatangan mereka," perintah Kebo Arema.
Hari itu juga, Kebo Arema mengumpulkan orang-orangnya yang terdiri dari prajurit Singasari, pengikut Ki Jaran Waha, dan anak buah Badrun.
"Hari ini kita akan menghadapi pasukan yang lebih besar dari kita," kata Kebo Arema dengan suara lantang penuh kewibawaan. "Kita sambut mereka dengan hujan panah," lanjutnya memberikan penjelasan rinci.
"Beristirahatlah, masih ada waktu menjelang akhir malam," kata Kebo Arema memberikan kesempatan kepada pasukannya untuk bersiap. Waktu pun terus berlalu, di ujung senja, suasana hutan di pantai Tanah Melaya itu menjadi jauh lebih gelap dibandingkan suasana di luar hutan yang telah redup dan bening.