Chapter 85
"Puji syukur ke hadirat Gusti Yang Maha Pengasih, adikku telah kembali," kata Mahesa Murti menyambut kedatangan Mahesa Amping.
"Berkat doa Kakang dan Mbakyu, Gusti Yang Maha Pelindung telah menjagaku sampai hari ini," ujar Mahesa Amping menjura penuh hormat kepada Mahesa Murti dan Padmita. "Ternyata aku telah dikaruniai seorang keponakan," lanjutnya saat melihat seorang bayi dalam dekapan Padmita.
"Namanya Mahesa Darma," jawab Mahesa Murti sambil tersenyum.
"Lekaslah bersih-bersih, kami menunggumu di sini," kata Padmita yang masih menganggap Mahesa Amping sebagai bocah kecil seperti dulu.
Mahesa Amping segera pergi untuk membersihkan diri. Ketika ia kembali ke pendapa, sudah ada Mahesa Semu yang langsung berdiri dan memeluknya.
"Aku begitu merindukanmu, Adikku," ucap Mahesa Semu dengan haru sambil memeluk Mahesa Amping begitu erat.
Sementara itu, di halaman terlihat Wantilan dan Sembaga berjalan menuju pendapa.
"Kami tidak jadi ke sawah, takut keponakanku yang nakal tiba-tiba saja menghilang dari padepokan ini," ujar Sembaga ketika sudah naik ke tangga pendapa.
"Biarkan Mahesa Amping menikmati hidangan dan sedikit beristirahat, setelah itu baru kita tuntut dirinya untuk bercerita," kata Mahesa Murti.
"Kalian masih menganggap Mahesa Amping seperti bocah nakal? Kalian tidak melihat kumis di atas bibirnya yang pasti membuat setiap gadis tergila-gila?" goda Wantilan kepada Mahesa Amping yang tersenyum menunda suapannya.
"Jangan ganggu adikku yang tengah menikmati makanannya," kata Mahesa Semu ikut menggoda.
"Kapan aku akan menyelesaikan makananku sementara kalian terus menggoda?" sahut Mahesa Amping dengan melotot. Hal itu membuat semua orang di pendapa tersenyum. Mereka masih melihat Mahesa Amping sebagaimana dulu: lugu, seorang adik kecil yang selalu mendapatkan perhatian penuh dari orang-orang dewasa di Padepokan itu.
Beberapa cantrik pun berdatangan hingga memenuhi pendapa. Mahesa Amping segera bercerita, mulai dari petualangannya di Tanah Gelang-Gelang, pelayaran panjangnya sampai ke Tanah Melayu, dan terakhir tentang perjalanannya di Tanah Pasundan.
"Ayahku, Mahendra, pernah bercerita tentang seorang Raja Pasundan yang telah mengasingkan diri menjadi seorang guru suci yang sederhana," kata Mahesa Murti ketika Mahesa Amping bercerita tentang Guru Suci Darmasiksa.
"Beliau adalah orang yang berilmu tinggi, terutama dalam hal ilmu kejiwaan," ujar Mahesa Amping.
"Jadi, pekan depan kalian akan berlayar kembali ke Tanah Melayu?" tanya Mahesa Murti saat Mahesa Amping berbicara tentang rencananya.
"Aku mohon doa restu," jawab Mahesa Amping.
"Berbahagialah dirimu, Sri Baginda Maharaja telah memercayaimu sebagai salah seorang yang akan membangun armada kelautan yang besar," ujar Mahesa Murti dengan bangga setelah mengetahui Mahesa Amping telah menerima kekancingan dari Sri Baginda Maharaja Singasari.
"Maaf, besok pagi aku sudah harus meninggalkan padepokan ini," pamit Mahesa Amping.
"Kami akan selalu berdoa untuk keselamatanmu," kata Mahesa Semu mewakili semua yang ada di pendapa.
Sementara itu, matahari di atas Padepokan Bajra Seta terus merayap tinggi. Cerita di antara mereka sepertinya tidak pernah tuntas; mereka saling melengkapi apa saja yang telah terjadi selama jarak dan waktu memisahkan mereka.
"Kakang Mahesa Pukat telah bercerita tentang petualangan kalian bermain sebagai Dewa Bangau Putih," ujar Mahesa Amping yang langsung ditanggapi dengan cerita yang lebih seru lagi.
Saat matahari mulai menggelantung di lengkung langit sebelah barat, Mahesa Murti mengajak Mahesa Amping ke tepi sungai berbatu. Di sana terdapat tanah datar luas beralas rumput hijau yang dinaungi beberapa batang pohon waru dan pohon ambon yang rindang.
"Aku yakin ada beberapa hal yang belum semuanya kamu ceritakan. Aku dapat merasakannya dalam setiap tarikan napasmu. Itulah sebabnya aku membawamu kemari agar leluasa bagimu untuk mengungkapkannya," kata Mahesa Murti setelah mereka duduk bersama di atas sebuah batu besar yang datar di tepi sungai.
Berdesir darah Mahesa Amping; ia diam-diam mengagumi kakak angkat sekaligus gurunya yang telah dapat membaca isi pikirannya. Maka, secara terperinci, Mahesa Amping bercerita tentang Kembang Wijaya serta tuntunan dari Guru Suci Darmasiksa yang sepertinya telah dikenal dalam jalur rahasia rontal Empu Purwa.
"Ternyata kamu sudah menemukan takdirmu. Engkau adalah sang penuntun yang akan mendampingi sang pewaris dalam takhtanya," ujar Mahesa Murti setelah mendengar cerita Mahesa Amping tentang Kembang Wijaya.
"Perhatikan pohon waru itu," kata Mahesa Murti. Mahesa Amping langsung mengarahkan pandangannya ke pohon yang ditunjuk.
"Aku yakin bahwa sudah ratusan kali kamu melihat pohon waru itu, namun hanya sebatas penglihatan sepintas dan sebatas penglihatan wadag bahwa wujud pohon waru itu agak condong ke arah tepian sungai," kata Mahesa Murti. "Selama ini ada yang engkau lewatkan. Perhatikanlah bahwa pohon waru itu mempunyai akar yang cukup panjang, masuk hingga ke dasar bumi, menghisap sari bumi untuk menghidupi batang dan daunnya."
"Melihat apa yang tak terlihat, mendengar apa yang tak terdengar," gumam Mahesa Amping mencoba menerjemahkan maksud Mahesa Murti.
"Engkau dapat berada di mana-mana meski tidak berada di mana-mana," ucap Mahesa Murti masih terus menuntun pengembaraan jiwa Mahesa Amping.
"Ternyata Guru Suci Darmasiksa sengaja membukakan pintu batas alam jagat tak terbatas kepada kami," kata Mahesa Amping penuh kegembiraan. Ia diam-diam mengagumi bahwa gurunya ini telah melampaui karena mampu menuntunnya dengan benar.
"Engkau telah mengungkapkan segala kekuatan yang ada di dalam alam jagat raya tak terbatas sebagai kekuatan yang tak terbatas. Janganlah memalingkan dirimu, janganlah menghentikan dirimu dalam kepuasan dan kegembiraan semu. Pengembaraan menuju sumber hidup adalah perjalanan panjang tak terbatas. Dialah Sang Maha Hidup yang akan menuntun perjalananmu," pesan Mahesa Murti.
"Tuntunan Kakang adalah pusaka yang tak terhingga," jawab Mahesa Amping.
"Ketika berada di alam jagat raya tak terbatas, kamu dapat membawa inderamu ke mana pun kamu inginkan," kata Mahesa Murti sambil tersenyum.
"Ilmu Aji Pameling, ilmu aji langlang sukma?" tanya Mahesa Amping seolah tidak percaya.
"Bakatmu yang terlahir telah membawamu menemukan takdirmu. Bawalah inderamu ke mana pun yang kamu inginkan," perintah Mahesa Murti.
Maka, Mahesa Amping mencurahkan dirinya masuk ke dalam alam jagat raya tak terbatas, mencoba membawa inderanya ke tempat yang jauh, ke sebuah tempat di Bandar Cangu. Mahesa Amping melihat dengan jelas, seolah berada di tempat nyata di sebuah jung Singasari yang besar. Tidak terasa, langkahnya menuntun ke sebuah kamar perwira yang terbuka.
Mahesa Amping tersenyum membuka matanya, kembali berada di atas batu datar di tepi sungai bersama Mahesa Murti.
"Baru saja engkau membawa inderamu ke Bandar Cangu. Engkau menyaksikan sendiri kelakuan lucu dua sahabatmu, Lawe dan Raden Wijaya, di dalam kamar salah seorang perwira; mereka saling berganti mencoba baju perang perwira," ujar Mahesa Murti seolah menjadi saksi.
"Tuntunan Kakang adalah pusaka yang tak terhingga," ucap Mahesa Amping penuh rasa hormat.
"Seperti yang telah kukatakan, segala anugerah yang engkau temukan hendaknya janganlah memalingkan dan menghentikan perjalananmu menemukan sumber dari segala sumber kehidupan ini. Teruslah mengungkap rahasia demi rahasia dalam pengembaraan panjang yang tak ada puncaknya, karena Dialah Gusti Yang Maha Tinggi," kata Mahesa Murti dengan penuh kebahagiaan.
Sementara itu, sang mentari sudah terperosok jauh di tepi ujung lengkung langit. Warna senja yang bening membalut tepian sungai dalam pesona keindahan.
"Mbakyumu mungkin sudah lama menunggu, mari kita kembali ke padepokan," ajak Mahesa Murti.
Mereka berdua bangkit dari batu datar dan berjalan ke arah Padepokan Bajra Seta.
"Mahesa Darma sudah kangen sama ayahnya," kata Padmita ketika mereka menaiki anak tangga pendapa.
"Mahesa Darma atau ibunya yang kangen?" goda Mahesa Amping yang dibalas senyum oleh Padmita.
Sementara itu, Sang Senjakala sepertinya sudah lelah membayangi wajah bumi. Sang Butakala bersembunyi di balik kegelapan malam.
"Semoga Gusti Yang Maha Menjaga akan selalu melindungi kita di mana pun berada," doa Mahesa Murti kepada Mahesa Amping dan para cantrik setelah selesai menikmati hidangan makan malam.
"Besok aku akan kembali ke Bandar Cangu, bersiap untuk berlayar jauh ke Tanah Melayu. Aku mohon doa restunya," kata Mahesa Amping.
"Kami di Padepokan Bajra Seta selalu berdoa untukmu, Mahesa Amping," jawab Mahesa Murti mewakili semua yang hadir.
Ingatan Mahesa Amping tiba-tiba kembali ke tepian sungai tadi. "Berada di mana-mana tanpa berada di mana-mana," bisiknya kepada diri sendiri.