Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 115

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 115

"Hentikan pertempuran!" seru Mahesa Amping dengan suara yang dilambari tenaga sakti, membuat suaranya menggema dan menghentak dada siapa pun yang mendengarnya.

Seketika pertempuran itu terhenti. Semua orang menatap ke arah suara, menatap Mahesa Amping yang tengah melangkah mendekati arena perkelahian.

Orang-orang yang berpakaian poleng di pinggang melihat Mahesa Amping sebagai seorang pemuda biasa, namun kegentaran mengisi hati mereka manakala menangkap sorot mata yang tajam penuh ketenangan. Sementara itu, orang-orang yang berpakaian poleng di leher dan berpakaian seadanya tampak melotot ketakutan, seolah melihat sosok hantu yang mengerikan.

Ternyata mereka memang melihat hantu yang sebenarnya. Di hadapan mereka, tengah berjalan menghampiri sesosok hantu setinggi dua kali orang dewasa dengan wajah mayat pucat yang menakutkan serta dua buah gigi taring yang menyembul dari sela-sela bibirnya.

"Hantu leak! Hantu leak!" teriak beberapa orang yang berpakaian poleng di leher sambil berlari sekencang-kencangnya hingga suara langkah mereka tak lagi terdengar.

Sementara itu, orang-orang yang berpakaian poleng di pinggang merasa heran, mengapa tiba-tiba lawan-lawan mereka lari dengan wajah penuh ketakutan sambil berteriak tentang hantu leak, sosok yang memang paling ditakuti di tanah Bali.

"Terima kasih, kedatangan anak muda telah menyelamatkan kami dari kekalahan yang sia-sia," ujar seorang di antara mereka yang ternyata adalah pemimpin kelompok tersebut. "Namun, kami heran mengapa mereka lari dalam keadaan ketakutan," lanjutnya penuh rasa penasaran.

"Mungkin mereka takut melihat hantu yang sebenarnya, hantu yang hanya bisa dilihat oleh mereka sendiri," jawab Mahesa Amping sekenanya sambil tersenyum.

Pemimpin kelompok itu tidak mendesak Mahesa Amping untuk mengatakan yang sebenarnya, namun dalam hati kecilnya ia yakin pemuda itu telah melakukan sesuatu yang membuat lawannya kocar-kacir.

"Apa pun yang telah anak muda lakukan, kami sebagai orang berbudi tidak lupa mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Bolehkah kami mengetahui namamu, wahai anak muda?" tanya pemimpin itu.

Mahesa Amping dapat mengukur seseorang melalui tutur katanya, dan ia merasa berhadapan dengan orang-orang dari golongan baik dan berbudi. "Namaku Mahesa Amping. Kebetulan aku melewati hutan ini saat kalian sedang bertempur," jawab Mahesa Amping memperkenalkan diri.

"Pasti anak muda bukan orang asli Bali, karena semua orang telah mengenal kami sebagai rombongan kesenian Jagur. Orang-orang Bali memanggilku dengan sebutan Ki Dalang Bancak," ucap pemimpin itu memperkenalkan dirinya.

Mahesa Amping termangu; ia baru menyadari bahwa dirinya berhadapan dengan sebuah rombongan kesenian dan memang melihat ada seperangkat alat gamelan di sekitar mereka. Sementara itu, dari balik semak-semak, keluar dua orang gadis dengan wajah yang masih diliputi sisa-sisa ketakutan.

"Mereka adalah dua orang putri kami," ujar Ki Dalang kepada Mahesa Amping yang memandang sebentar kedua gadis itu.

"Bolehkah aku memeriksa tiga orang kawan kalian yang terluka?" tanya Mahesa Amping sambil melangkah mendekati tiga orang yang sedang dipapah.

"Silakan," jawab Ki Dalang Bancak mengiringi Mahesa Amping.

"Kebetulan aku membawa obat pemampat darah. Bubuhkanlah bubuk obat ini pada luka mereka," perintah Mahesa Amping kepada salah seorang anak buah Ki Dalang Bancak. Ternyata, bubuk obat pemberian Mahesa Amping sangat manjur; luka-luka ketiga orang itu dalam waktu singkat sudah tidak mengeluarkan darah lagi.

"Ternyata anak muda adalah seorang tabib," puji Ki Dalang Bancak.

"Aku bukan seorang tabib, hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang pengobatan," jawab Mahesa Amping merendah.

"Anak muda pasti seorang pengembara dari tempat yang jauh. Sebentar lagi malam akan menjelang. Sebuah kebahagiaan bilamana anak muda mau mampir bermalam di padukuhan kami yang tidak jauh dari hutan ini," tawar Ki Dalang Bancak.

"Hari memang akan menjelang malam. Tawaran Ki Dalang Bancak adalah sebuah kehormatan, aku tidak berani menolaknya," sahut Mahesa Amping.

Ki Dalang Bancak diam-diam mengagumi Mahesa Amping. "Seorang anak muda yang santun," batinnya, melihat tutur kata Mahesa Amping yang teratur.

Terlihat sebuah iring-iringan kecil menyusuri jalan hutan di penghujung senja. Mahesa Amping menuntun kudanya berjalan beriringan dengan Ki Dalang Bancak. Sambil berjalan, Ki Dalang bercerita tentang asal muasal pertempuran tersebut. Mereka baru saja pulang dari acara potong gigi di sebuah padukuhan di Buleleng.

"Orang-orang yang menyerang kami adalah anak buah saudagar Made Ontrak yang kaya raya namun tidak pernah puas dengan satu istri. Beberapa hari yang lalu, ia mengutus anak buahnya untuk melamar salah satu putriku, namun dengan tegas kutolak. Karena kami memiliki adat yang berbeda, beristri lebih dari satu wanita adalah perbuatan tabu," tutur Ki Dalang Bancak sepanjang perjalanan.

"Jadi, hari ini anak buah Made Ontrak bermaksud membawa paksa putri-putri Ki Dalang?" tanya Mahesa Amping yang mulai memahami situasi.

Padukuhan mereka memang tidak jauh lagi dari hutan tempat pertempuran tadi. Iring-iringan itu pun memasuki gerbang padukuhan, berjalan di atas jalan tanah yang rata. Rumah-rumah penduduk di padukuhan itu berjejer rapi, terbuat dari kayu jati yang halus. Di halaman depan masing-masing rumah, terdapat pura pemujaan, dan hampir setiap halaman ditanami dua atau tiga pohon jepun.

"Inilah gubukku," ucap Ki Bancak berhenti di depan sebuah rumah yang tampak lebih luas dibandingkan rumah di sekitarnya. Di sisi kanannya terlihat sebuah sanggar dengan empat tiang terukir sebagai bangunan terbuka.

Beberapa orang berpamitan untuk kembali ke rumah mereka masing-masing. "Besok aku akan ke rumah tiga orang kawanmu yang sakit, ada beberapa racikan yang akan kuberikan kepada mereka," kata Mahesa Amping kepada orang-orang yang hendak beranjak pergi.

"Silakan masuk ke rumah kami," ujar Ki Dalang Bancak mempersilakan Mahesa Amping. Malam mulai menyelimuti ketika mereka memasuki regol halaman depan.

"Pura Besakih adalah pancer dari sembilan pura yang ada di tanah Bali ini. Jadi, penguasa Pura Besakih adalah penguasa tanah Bali," cerita Ki Dalang Bancak ketika Mahesa Amping mengatakan tujuannya ke Bali adalah untuk menjalankan tugas dari gurunya melakukan pendarmaan di Pura Besakih.

"Penguasa Pura Besakih memperlakukan diri sebagai paramasiwa," tanggap Mahesa Amping.

"Nenek moyang kami memiliki kepercayaan bahwa pusat bumi ada di Bali," sambung Ki Dalang Bancak.

Mendengar pernyataan terakhir itu, pikiran Mahesa Amping melambung. Dalam hati, ia mengagumi nalar budi Maharaja Kertanegara tentang tanah Bali. "Ternyata Maharaja Kertanegara mempunyai pandangan yang jauh. Kekuatan dan kepercayaan warga tanah Bali adalah sebuah ancaman bagi perkembangan Singasari di masa yang akan datang," pikir Mahesa Amping, menyatukan cerita Ki Dalang dengan tugas yang diembannya dari Maharaja Singasari.

"Orang luar tidak ada yang menyadari kekuatan tanah Bali bila bersatu padu. Bayangkan, sebuah bala prajurit yang besar dengan cepat dapat terwujud bilamana seluruh pecalang di setiap padukuhan dikumpulkan," lanjut Ki Dalang Bancak membeberkan rahasia kekuatan Bali.

"Berapa orang pecalang di setiap padukuhan?" tanya Mahesa Amping.

"Bisa mencapai tiga puluh orang, bahkan bisa lebih, tergantung jumlah warga di setiap padukuhan," jawab Ki Dalang.

"Akan menjadi kekuatan yang besar bila seluruh pecalang bersatu," sahut Mahesa Amping membenarkan, sementara di dalam hati, ia diam-diam mulai menyusun rencana bagaimana seharusnya menguasai tanah Bali tanpa harus melalui pertempuran terbuka.

"Empat hari lagi adalah bulan purnama sasih kedasa. Semua penduduk tanah Bali akan berduyun-duyun menyampaikan sujud baktinya pada Tuhan di Pura Besakih dalam upacara Batara Turun Kabeh," ujar Ki Dalang Bancak.

"Artinya, kita dapat bertemu kembali di Pura Besakih," kata Mahesa Amping.

"Bila kamu mengundurkan perjalananmu sehari atau dua hari, kita dapat berangkat bersama ke Pura Besakih," ajak Ki Dalang Bancak.

"Kebetulan aku punya keperluan lain dan harus berangkat esok pagi," jawab Mahesa Amping berusaha mengelak, demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari, terutama terkait tugas telik sandinya yang mengharuskannya menghindari hubungan terlalu dekat dengan orang kebanyakan.

Sementara itu, terdengar pintu pringgitan berderit. Salah seorang putri Ki Dalang Bancak keluar membawa kendi tanah liat. "Masih ada sisa minuman brem untuk menghangatkan pembicaraan kalian," ucap gadis itu sambil tersenyum, lalu kembali menghilang di balik pintu.

"Istriku sudah lama meninggal. Di rumah ini, kami hanya tinggal bertiga," ujar Ki Dalang Bancak, yang seolah dapat membaca pikiran Mahesa Amping yang sejak kedatangannya tidak melihat sosok ibu di rumah tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment