Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 88

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 88

"Tuan Kebo Arema terlalu meninggikan, aku cuma pedagang kecil di Pulau Bangka ini," berkata Gagak Seta merendah.

Dari pakaiannya, dapat diketahui bahwa Gagak Seta memang seorang yang cukup kaya.

Dan Gagak Seta memang seorang yang rendah hati.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Kebo Arema, Gagak Seta memang orang yang sangat disegani di Pulau Bangka.

Dari kilatan matanya dapat ditangkap bahwa Gagak seorang yang berilmu cukup tinggi.

Mengapa Gagak Seta begitu hormat kepada Kebo Arema? Ada cerita tersendiri di balik persahabatan mereka, sebagaimana pernah diceritakan di muka tentang latar belakang Kebo Arema, bahwa semasa mudanya Kebo Arema adalah seorang pendekar yang sangat ditakuti oleh semua bajak laut.

Di sepanjang pesisir Nusa Jawa sampai jauh ke Semenanjung Malaka, namanya menjadi momok yang menakutkan, khususnya bagi para bajak laut.

Di antara para bajak laut itu, tersebutlah nama Gagak Seta sebagai salah seorang bajak laut yang sangat ditakuti oleh para pedagang yang hendak masuk ke Bandar Sriwijaya melewati Selat Bangka.

Beberapa pedagang datang menemui Kebo Arema; mereka bercerita tentang seorang bajak laut yang berilmu sangat tinggi bernama Gagak Seta.

Sebagai seorang pendekar, Kebo Arema merasa terpanggil.

Maka dengan penuh keberanian, berangkatlah Kebo Arema mendatangi sarang penyamun itu di Pulau Bangka seorang diri.

Maka terjadilah perkelahian yang begitu sengit antara Kebo Arema dan Gagak Seta yang berakhir dengan kalahnya Gagak Seta.

Kebo Arema tidak membunuh Gagak Seta, bahkan telah menyadarkan Gagak Seta bahwa perbuatannya selama ini sangat tidak terpuji.

Gagak Seta menyadari kesalahannya dan berjanji untuk bergabung bersama Kebo Arema untuk mengamankan Selat Bangka dari segala ancaman para bajak laut.

Sejak saat itu, Selat Bangka menjadi daerah yang aman.

Dan Kepulauan Bangka tidak lagi menjadi sarang para bajak laut.

Dan sejak saat itu, para pedagang yang berlayar dari laut timur pasti singgah dan menjatuhkan sauhnya di Pulau Bangka setelah melakukan pelayaran yang panjang sebelum melanjutkan pelayaran mereka ke Bandar Sriwijaya.

Dan para penghuni Pulau Bangka mendapat berkah dari persinggahan para pedagang. Gagak Seta termasuk di antaranya menjadi seorang pedagang yang cukup berhasil.

Di samping namanya sangat disegani dan dihormati, Gagak Seta adalah seorang pedagang yang cukup kaya raya di Pulau Bangka.

Begitulah awal dan akhir sebuah cerita persahabatan antara Kebo Arema dan Gagak Seta.

"Kalian adalah tamuku, mari beristirahat di gubukku," berkata Gagak Seta mengajak Kebo Arema dan kawan-kawannya berkunjung ke rumahnya.

"Ternyata gubuk di Pulau Bangka ini adalah sebuah rumah yang megah," berkata Kebo Arema ketika mereka sudah sampai di rumah Gagak Seta yang ternyata memang sebuah rumah panggung yang sangat megah. Hampir seluruh bahan bangunan terbuat dari kayu jati yang mengkilat.

Beberapa bagian berupa ukiran yang begitu indah, seperti pada lisplang, pintu, jendela, bahkan papan pagar pendapa telah dihias dengan seni ukir yang begitu halus mempesona.

"Silakan menikmati hidangan alakadarnya," berkata Gagak Seta mempersilakan tamunya menikmati makanan dan minuman hangat yang disediakan.

Setelah masing-masing bercerita tentang keadaan mereka dan beberapa hal di tempat masing-masing, Kebo Arema langsung bercerita tentang rencana pelayarannya.

"Di samping menjajaki beberapa usaha perdagangan antarnegeri, kami bermaksud akan melakukan pinangan di Tanah Melayu," berkata Kebo Arema. "Ternyata kalian adalah rombongan peminang," berkata Gagak Seta penuh senyum.

"Kami bermaksud untuk meminang putri Raja Melayu," berkata Ratu Anggabhaya ikut menjelaskan.

Sementara itu, hari sudah menjelang malam.

Angin laut semilir bertiup menjadikan pelepah dan daun kelapa yang banyak tumbuh di Pulau Bangka itu seperti sebuah tangan yang melambai-lambai.

Sebagai orang-orang yang sudah biasa tinggal di udara perbukitan yang sejuk dan dingin, mereka memang harus membiasakan diri di dalam suasana udara pantai yang cukup menggerahkan.

Itulah sebabnya mereka masih tetap di pendapa meski hari sudah masuk di pertengahan malam.

Namun, rasa kantuk akhirnya mengalahkan segalanya. Satu per satu telah masuk ke dalam bilik yang telah disediakan untuk mereka beristirahat.

Dan ketika pagi masih gelap, warna lengkung langit masih memancarkan semburat kemerahan, semuanya telah terbangun.

"Terima kasih telah menjamu kami semalam," berkata Kebo Arema kepada sahabatnya, Gagak Seta, yang mengantar tamu-tamunya sampai di dermaga.

"Pulau Bangka ini selalu menunggu kedatangan kalian," berkata Gagak Seta melambaikan tangannya.

Sauh telah diangkat dari buritan, tali temali telah dilepas dari tambatan, Jung Singasari telah beranjak menjauhi dermaga.

"Angin laut bertiup cukup kuat," berkata Kebo Arema setelah memerintahkan beberapa prajurit untuk membuka layar.

Dan lima layar telah mengembang ditiup angin laut.

Di atas laut biru, langit sudah berwarna merah terang.

"Bila angin bertiup cukup bagus, kita akan sampai di Bandar Sibukit menjelang mentari semakin tinggi," berkata Kebo Arema ketika Jung Singasari terlihat tengah memasuki sebuah muara besar, yakni muara Sungai Musi.

Ternyata Jung Singasari bukan satu-satunya jung yang masuk ke muara Sungai Musi di pagi yang cerah itu.

Beberapa jung terlihat memasuki jalur yang sama.

Sebuah gambaran bahwa perairan sungai purbakala ini telah dilewati berbagai jung dari berbagai penjuru dunia.

"Setiap jung membawa ciri khasnya sendiri sebagai tanda asal mereka, dan jung kita adalah yang terbesar," berkata Kebo Arema penuh kebanggaan di atas anjungan.

Akhirnya, sebagaimana yang diperkirakan oleh Kebo Arema, Jung Singasari telah mendekati Bandar Sibukit, Bandar Sriwijaya yang besar.

Dan merapat untuk pertama kalinya di sebuah dermaga.

"Akhirnya kita dapat menyaksikan Jung Singasari itu merapat di Bumi Sriwijaya," berkata seorang buruh kepada kawannya yang pernah mendengar cerita tentang jung besar dari Singasari.

"Silakan kalian melihat-lihat kota tua Sriwijaya, sementara aku akan menemui beberapa pedagang di bandar ini," berkata Kebo Arema mempersilakan Ratu Anggabhaya dan rombongan kecilnya turun ke darat.

"Semoga peruntunganmu baik, wahai saudagar besar," berkata Ratu Anggabhaya kepada Kebo Arema yang membalasnya dengan penuh senyuman disebut sebagai seorang saudagar besar.

Ternyata Kebo Arema bukan hanya lihai membaca bintang dan arah angin, namun Kebo Arema juga seorang pedagang ulung.

Banyak pedagang yang ditemui Kebo Arema menjadi tertarik dan langsung melakukan perjanjian dagang yang saling menguntungkan.

Keunggulan Jung Singasari adalah dapat membawa barang sepuluh kali lipat lebih banyak dibandingkan kebanyakan jung besar pada saat itu.

Dan Kebo Arema dengan mudah membuat persaingan berpihak kepadanya dengan harga jual yang jauh lebih murah.

Ketika Kebo Arema tengah melakukan tugasnya sebagai seorang saudagar besar, Ratu Anggabhaya dan rombongan kecilnya sudah memasuki kota tua Sriwijaya.

"Kita cari sebuah kedai, sinar matahari di sini sepertinya begitu menyengat," berkata Lembu Tal mengajak untuk singgah ke sebuah kedai.

"Kedai itu tampaknya begitu ramai dikunjungi banyak orang, pasti sebuah kedai istimewa," berkata Lawe menunjuk ke sebuah kedai di muka sebuah pasar yang memang tengah ramai dikunjungi banyak orang.

Mereka pun segera masuk dan mencari tempat duduk yang ternyata masih tersedia.

Seorang pelayan mendatangi mereka menanyakan pesanan apa yang diinginkan.

"Aku pesan masakan istimewa di kedai ini," berkata Lawe menyampaikan pesanannya.

Tidak lama berselang, seorang pelayan telah kembali membawa makanan dan minuman pesanan mereka.

"Selamat menikmati, Tuan," berkata pelayan itu penuh hormat.

Namun, baru saja pelayan itu hendak melangkah, seorang yang berwajah kasar telah mendekatinya.

"Katakan pada junjunganmu, Rang Brewok meminta sedikit sangu keamanan," berkata orang itu kepada pelayan.

"Hari ini sudah ada dua orang yang sama sebagaimana Tuan," berkata pelayan itu.

"Mulai besok jangan kamu berikan apa pun yang mereka pinta, karena hanya aku seorang yang berhak mempunyai wewenang di pasar ini," berkata orang itu.

"Mereka juga berkata sebagaimana Tuan katakan," berkata pelayan itu.

"Jangan banyak bicara, lekas jumpai saja junjunganmu," berkata orang itu yang sudah mulai tidak sabar.

"Aku akan menyampaikannya," berkata pelayan itu sambil melangkah menuju ke dalam.

Tidak lama berselang, pelayan itu telah kembali bersama junjungannya. Entah apa yang dibicarakan di antara mereka dan berapa yang diberikan kepada orang itu, yang jelas, orang yang mengaku bernama Rang Brewok itu telah meninggalkan kedai itu.

Semua itu telah menjadi perhatian Ratu Anggabhaya dan rombongannya.

"Tanah Sriwijaya sudah lama tidak bertuan, pemerasan merajalela di mana-mana," berkata Ratu Anggabhaya.

Setelah merasa cukup beristirahat, mereka keluar dari kedai melihat-lihat suasana pasar yang ramai.

Mereka juga berjalan melihat-lihat suasana padukuhan terdekat.

"Ada upacara sabung ayam," berkata Lembu Tal menunjuk ke sebuah keramaian.

"Kukira upacara sabung ayam hanya milik orang Nusa Jawa," berkata Lawe.

"Sebagai tanda bahwa orang Tanah Swargadwipa serumpun dengan kita, bangsa Galuh Agung," berkata Ratu Anggabhaya yang mempunyai wawasan yang luas tentang sejarah leluhur bangsa Galuh Agung.

"Degungnya pun kulihat sama, ada ukiran naga di atasnya," berkata Lawe memperhatikan seperangkat gamelan.

"Degung itu perlambang naga dan matahari. Mereka meletakkannya masih di sisi bagian paling tinggi, artinya mereka masih menghargai penguasa bumi ini, meski yang kita ketahui bahwa Tanah Sriwijaya sudah lama tidak bertuan," berkata Ratu Anggabhaya memberi makna tentang lambang dari Degung.

"Naga dan Matahari adalah lambang Dewa Siwa," berkata Raden Wijaya. "Itu pun dapat diartikan bahwa persembahan umum mereka ditujukan kepada Dewa Siwa," berkata Ratu Anggabhaya.

"Artinya kepercayaan mereka sama dengan kita," berkata Lembu Tal sambil terus melangkah mendekati arena sabung ayam yang ternyata masih baru akan dimulai.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment