Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 38

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 38

"Benar, kami akan melakukan persembahan ke tempat itu," berkata Mahesa Amping agar tidak ada pertanyaan lain lagi.

Setelah menyelesaikan hidangan yang telah disediakan, Mahesa Amping, Lawe, dan Raden Wijaya terlihat keluar dari kedai itu.

Puncak Bukit Jati memang tidak begitu jauh dari Kademangan Kedung Jati yang terletak di bawah kaki Bukit Jati. Sebuah Kademangan yang cukup subur dan menjadi sebuah tempat persinggahan yang ramai karena merupakan pertengahan jarak antara Kediri dan Tanah Gelang-gelang.

Hari masih begitu terang dan senja masih lama untuk dinantikan. Mahesa Amping, Lawe, dan Raden Wijaya tidak langsung ke puncak Bukit Jati. Mereka masih melihat-lihat keadaan pasar yang masih ramai. Di pojok pasar ada sebuah rumah pandai besi yang tengah sibuk mengerjakan beberapa pesanan senjata.

"Pasti pesanan dari Tanah Gelang-gelang," berkata Lawe ketika melihat seorang pandai besi tengah menempa lempengan besi.

"Tanah Gelang-gelang tengah membangun sebuah pasukan yang kuat," berkata Raden Wijaya.

Mahesa Amping tampak merenung, terbayang beberapa pertempuran yang telah terjadi sejak ia berada di Padepokan Bajra Seta. Terbayang mayat-mayat yang tergeletak, beberapa tubuh yang terluka. Tiba-tiba terlintas sebuah pertempuran besar dalam bayangan Mahesa Amping. Sebuah pertempuran besar yang belum pernah disaksikan sebelumnya.

Tampak begitu jelas seorang panglima perang yang gagah perkasa yang ia sangat kenal sekali, yang tidak lain adalah Raden Wijaya. Sementara seorang panglima pengapitnya adalah seorang pemuda dengan wajah begitu pucat yang terlihat gemetar memegang pedangnya sendiri.

"Siapakah pemuda itu?" tanya Mahesa Amping pada dirinya sendiri.

Mahesa Amping tersentak kaget ketika bahunya ditepuk oleh seseorang.

"Hari sudah hampir senja, saatnya kita berangkat ke puncak Bukit Jati," berkata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping sambil menepuk bahunya.

Maka Mahesa Amping, Lawe, dan Raden Wijaya terlihat tengah mendaki Bukit Jati. Ketika mereka tiba di puncak Bukit Jati, matahari sudah tenggelam di barat. Cahaya senja telah menyelimuti puncak Bukit Jati yang datar, penuh ditumbuhi ilalang panjang. Sebuah lingga terlihat di tengah tanah datar. Ada altar batu tempat persembahan di depan batu lingga.

Angin berembus keras di atas puncak Bukit Jati, merebahkan batang ilalang dan menerbangkan daun-daun kering.

"Kita beristirahat di sini," berkata Lawe sambil bersandar di batang pohon ambon yang rindang. Satu-satunya pohon yang tumbuh di tanah puncak Bukit Jati.

"Semoga mereka tidak membawa banyak orang," berkata Mahesa Amping.

"Apa yang kamu takutkan?" tanya Lawe.

"Yang kutakutkan adalah akan banyak jatuh korban," berkata Mahesa Amping.

Dan waktu terus berlalu. Sambil beristirahat, Mahesa Amping masih dipenuhi rasa kebimbangan. "Pria itu menuntut utang nyawa padaku. Dan pertempuran ini bukan yang terakhir. Di belakang menunggu tuntutan yang sama dari mereka yang masih merasa punya kewajiban atas sebuah utang nyawa."

Dan waktu terus berlalu. Suara angin mulai sedikit menyusut bersama datangnya keremangan malam. Bulan bulat muncul di ujung timur bersama cahaya redup bintang-bintang kecil. Purnama di puncak Bukit Jati begitu sepi dan mencekam dalam kesenyapan malam. Terdengar suara anjing melolong panjang dari bawah lereng bukit, sepertinya ikut menambah suasana semakin mencekam.

Dan waktu terus berlalu. Bulan bulat penuh telah menggantung di puncak langit malam. Cahaya purnama dan kerlip laksaan bintang di atas puncak Bukit Jati seperti sebuah panggung pagelaran yang kosong dalam debar penungguan yang panjang.

Tiga sosok tubuh terlihat muncul dari lereng bukit sebagai tiga bayangan hitam di bawah cahaya purnama, datang mendekati mereka. Setelah mendekat, terlihat jelas siapakah mereka yang ternyata adalah dua orang Iblis dari Gelang-gelang bersama pamannya.

"Kukira kamu akan lari jauh menghindari pertempuran," berkata pria yang dipanggil paman oleh dua pemuda yang menyertainya.

"Seperti yang Ki Sanak lihat, di sini aku menunggu pertempuran itu," berkata Mahesa Amping penuh percaya diri.

Melihat ketenangan Mahesa Amping, pria yang dipanggil paman oleh sepasang Iblis dari Gelang-gelang itu menjadi semakin terbakar bara api dendamnya. Sampai saat itu orang itu masih belum yakin bahwa Empu Gelian, kakaknya, kalah karena ilmunya di bawah anak muda ini. Orang itu masih berpikir bahwa Empu Gelian kalah karena kelengahan dan ketidaksengajaan atau boleh dibilang nasibnya lagi naas hingga dapat dikalahkan oleh pemuda belia ini.

"Jangan kau kira setelah dapat mengalahkan kakakku, kamu merasa telah mempunyai ilmu yang mumpuni. Jangan-jangan kakakku kalah hanya karena kelicikanmu," berkata pria itu.

"Aku memang telah membunuh Empu Gelian, tapi yang kulakukan adalah sebatas membela diri. Dan bukan sebuah kelicikan," berkata Mahesa Amping membela diri.

Di Tanah Gelang-gelang tidak ada seorang pun yang berani berurusan dengan pria ini yang biasa dipanggil Ki Rante, mungkin karena senjata andalannya berupa sebuah cambuk rantai baja kecil. Meski lebih muda dari Empu Gelian, tapi dari sisi tataran ilmu, Ki Rante tidak dapat dikatakan di bawah Empu Gelian. Karena Ki Rante tidak hanya berguru di Padepokan Gelang-gelang; dalam pengembaraannya telah banyak mengambil ilmu dari beberapa guru.

"Di Tanah Gelang-gelang orang memanggilku Ki Rante. Tidak seorang pun yang berani berurusan denganku," berkata Ki Rante berharap pemuda ini pernah mendengar namanya yang sangat disegani di Tanah Gelang-gelang.

"Maaf Ki Rante, baru kali ini aku mendengar nama itu," berkata jujur Mahesa Amping yang memang baru mengenal nama Ki Rante.

Bukan main gusarnya Ki Rante mendengar ucapan Mahesa Amping yang tidak menjadi gentar mendengar namanya. Perutnya terasa diaduk-aduk saking begitu marah dan gusarnya.

"Hari ini aku akan membuatmu menyesal seumur hidupmu telah berani berurusan denganku," berkata Ki Rante yang telah mengurai cambuk rantai dari pinggangnya. Sebuah cambuk yang terbuat dari rantai baja kecil yang di ujungnya terikat sebuah gelang yang tipis dan tajam.

Melihat Ki Rante telah mengeluarkan senjatanya, Mahesa Amping mengeluarkan senjata andalannya, sebuah belati pendek. Jarang sekali Mahesa Amping menggunakan senjatanya, hanya pada keadaan tertentu dan terpaksa. Dan menghadapi lawannya kali ini, Mahesa Amping tidak berani menganggap sepele. Getar jiwanya merasakan bahwa Ki Rante bukan lawan yang ringan.

Melihat Ki Rante telah menjuraikan cambuknya, sepasang Iblis dari Gelang-gelang mundur memberi jarak. Sementara itu Raden Wijaya dan Lawe dengan dada yang berdebar ikut mundur menjauh, namun tetap waspada menjaga setiap kemungkinan yang dapat saja terjadi, terutama berjaga-jaga apabila sepasang Iblis dari Gelang-gelang akan berbuat licik.

"Bersiaplah," berkata Ki Rante sambil memutar cambuk rantainya yang semakin lama terlihat menjadi semakin kencang berputar.

Wuss!!

Tiba-tiba saja cambuk Ki Rante melejit menyambar wajah Mahesa Amping. Dengan sigap Mahesa Amping bergeser ke samping. Karena mengenai tempat yang kosong, cambuk Ki Rante ditarik ke belakang sedikit dan seperti ular hidup cambuk itu mengejar, mematuk ke arah Mahesa Amping yang baru saja bergerak bergeser ke samping.

Kali ini Mahesa Amping memang tidak sempat lagi menghindar, maka yang dilakukannya adalah menangkis cambuk rantai itu dengan belati pendeknya disertai sedikit tenaga cadangan.

Trang!!

Dua senjata telah berbentur membentuk percikan sinar api. Kaget sekali Ki Rante merasakan getaran pada tangannya.

"Jangan merasa hebat dulu," berkata Ki Rante sambil memutar cambuk rantai besinya. Kali ini terlihat lebih cepat dari sebelumnya.

Wuss!!

Kali ini cambuk Ki Rante bergerak menyambar berputar-putar ke arah Mahesa Amping dengan kecepatan tinggi. Mahesa Amping langsung melenting. Tapi cambuk Ki Rante benar-benar nggenggirisi, cambuk itu seperti bermata terus mengejar ke mana pun Mahesa Amping menghindar.

Akhirnya Mahesa Amping mengambil keputusan untuk tidak hanya mengelak menghindari serangan, karena akan merugikannya bila dilakukan terus-menerus. Apalagi serangan Ki Rante bukan sembarang serangan, sebuah serangan yang cepat dan berubah-ubah arah seperti bermata, menyerang pada titik kelemahan lawan.

Pada serangan berikutnya, Mahesa Amping melenting mengelak sebuah serangan dan langsung menyusup mendekati tubuh lawan, menyabet pergelangan tangan Ki Rante dengan sabetan yang cepat.

Terkesiap Ki Rante mendapat serangan balik yang begitu cepat. Dengan cepat ia menarik tangannya ke samping sambil meluncurkan sebuah tendangan ke arah perut Mahesa Amping, sementara itu cambuknya berbalik arah mengejar punggung Mahesa Amping.

Mendapatkan dua serangan sekaligus dari arah yang berbeda, Mahesa Amping melompat ke samping. Tendangan dan mata cambuk itu mengenai tempat kosong. Namun Mahesa Amping tidak hanya melompat; tangannya dengan kuat telah memukul cambuk searah gerakannya. Akibatnya memang mendebarkan, cambuk itu bergerak menjadi lebih cepat dari sebelumnya dan berbalik mengejar si empunya sendiri.

Bukan main kagetnya Ki Rante melihat cambuknya sendiri meluncur mengejar dirinya. Tapi bukan Ki Rante namanya jika tidak bisa menghindar dari senjatanya sendiri. Dengan menundukkan kepalanya, cambuk itu melesat di atas kepalanya. Dan dengan menggunakan kecepatan serta kekuatan cambuk yang tengah meluncur, Ki Rante sudah dapat menguasai senjatanya yang langsung berbalik arah mengayun mengejar Mahesa Amping.

Demikianlah pertempuran setahap demi setahap terus meningkat menjadi semakin menegangkan dan seru. Berdebar jantung Raden Wijaya melihat pertempuran itu, berharap Mahesa Amping tetap waspada. Sebagai seorang sahabat yang sering berlatih bersama, Raden Wijaya melihat Mahesa Amping masih terus menjajaki tataran ilmu lawan. Mahesa Amping masih berada dalam pertengahan tataran ilmunya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment