Chapter 103
Keesokan harinya, empat ekor kuda telah meninggalkan Bandar Cangu. Mahesa Amping, Lawe, Raden Wijaya, dan Kebo Arema terlihat di atas kudanya, sementara jalan tanah masih begitu lengang karena hari masih sangat pagi. Tidak ada hambatan apa pun di perjalanan; ketika matahari telah bergeser jauh ke barat, mereka telah sampai di gerbang batas Kotaraja.
Sesampainya di istana, seperti biasa mereka langsung menuju Pesanggrahan Ratu Anggabhaya. Kedatangan mereka disambut dengan gembira oleh Ratu Anggabhaya dan Lembu Tal.
"Pesanggrahan ini telah menjadi hangat kembali," ujar Ratu Anggabhaya menyambut kedatangan mereka.
Seperti biasa, setelah menyampaikan berita keselamatan masing-masing, mereka pun bercerita tentang berbagai hal, dimulai dari saat terakhir perjumpaan mereka.
"Kalian telah mewujudkan mimpi Sri Baginda Maharaja," kata Ratu Anggabhaya setelah selesai mendengar cerita Kebo Arema tentang jalur pelayaran yang telah berhasil mereka rintis.
"Baru hari ini aku dapat mengerti gagasan Sri Baginda Maharaja tentang kerajaan lautnya," ucap Lembu Tal.
"Pemikiranmu memang selalu kalah satu langkah oleh anakmu sendiri," ujar Ratu Anggabhaya kepada Lembu Tal yang hanya mengangguk-anggukkan kepala dan tersenyum sebagai tanda membenarkan.
"Pada mulanya, mimpi Sri Baginda Maharaja memang sangat sukar dipahami oleh banyak orang," sahut Kebo Arema. "Tapi setelah melihat hasil akhir, mereka mengakui bahwa itu adalah sebuah gagasan yang luar biasa."
"Kuakui, Sri Baginda Maharaja mampu berpikir melompat jauh ke depan. Itulah bakat yang terlahir padanya; tidak semua orang memilikinya," kata Ratu Anggabhaya. "Sayangnya, pemikir itu saat ini tengah jatuh sakit."
"Sri Baginda Maharaja sedang sakit?" tanya Mahesa Amping, Lawe, Raden Wijaya, dan Kebo Arema serempak, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar.
"Sudah dua pekan ini beliau berbaring sakit. Dua kali pertemuan di Maguntur Raya, beliau tidak dapat hadir," jelas Ratu Anggabhaya meyakinkan.
"Kami datang ke Kotaraja bermaksud membawa berita gembira kepadanya," ujar Kebo Arema sambil menarik napas panjang.
"Mungkin kehadiran kalian berempat dapat menjadi obat. Aku akan mencoba agar kalian dapat bertemu dengan beliau," kata Ratu Anggabhaya.
"Kami mengucapkan terima kasih atas kesediaan Tuan Ratu Anggabhaya," kata Kebo Arema gembira.
Keesokan harinya, Ratu Anggabhaya mencoba menemui Sri Baginda Maharaja yang masih berbaring sakit di kamar pribadinya. Dalam kesempatan itu, Ratu Anggabhaya bercerita tentang armada bahtera Singasari yang telah berhasil merintis jalur perdagangan dari ujung timur sampai ke barat. Mendengar tentang armada tersebut, wajah Sri Baginda Maharaja tampak berseri-seri.
"Bawalah mereka kehadapanku agar aku dapat mendengar cerita langsung dari mereka," perintah Sri Baginda Maharaja kepada Ratu Anggabhaya. Ratu Anggabhaya merasa gembira melihat wajah pucat Sri Maharaja sepertinya telah berubah kemerahan dan penuh semangat.
"Aku akan membawa mereka," jawab Ratu Anggabhaya setengah berbisik.
Tidak lama kemudian, Ratu Anggabhaya datang kembali bersama Raden Wijaya, Kebo Arema, Lawe, dan Mahesa Amping. Ternyata, Sri Baginda Maharaja tidak lagi berbaring, melainkan sudah bersandar dengan punggung bersandar pada tempat tidurnya.
"Berceritalah wahai pejuang mimpiku, para panglima kerajaan lautku," kata Sri Baginda Maharaja.
Dengan perlahan, Kebo Arema bercerita tentang armada bahtera Singasari yang telah mulai merintis jalur pelayarannya. "Kami telah menemukan daratan tempat asal pohon cengkih dan pala di ujung timur laut matahari terbit," lapor Kebo Arema.
"Kalian telah mewujudkan mimpiku, membangun kerajaan laut Singasari untukku," kata Sri Baginda dengan wajah berseri-seri, sepertinya telah melupakan rasa sakit di badannya. "Hari ini aku rela Gusti Yang Maha Hidup mengambil nyawaku," sambung Sri Baginda Maharaja penuh kebahagiaan.
"Sri Baginda Maharaja harus tetap hidup, Tuan adalah cahaya semangat hamba," kata Kebo Arema perlahan.
"Wahai cucunda Sanggrama Wijaya, mendekatlah," perintah Sri Baginda Maharaja kepada Raden Wijaya yang langsung mendekat. "Kutitipkan kerajaan lautku kepadamu. Engkaulah cahaya mataku di masa depan. Bawalah cahaya mataku bersama armada bahteramu sejauh dan seluas kamu dapat berlayar mengarunginya. Berjanjilah wahai cucundaku."
"Cucunda berjanji, membawa bahtera Singasari mempersatukan ujung timur matahari sampai ke barat matahari terbenam," jawab Raden Wijaya dengan penuh kesungguhan hati.
Sementara itu, awan di atas istana Singasari tampak mendung. Tidak lama kemudian, terdengar suara gerimis membasahi rumput-rumput dan tanaman penghias taman. Seorang prajurit pengawal istana terlihat berlindung di bawah pohon beringin tua. Hujan gerimis yang turun di ujung senja itu berlangsung cukup lama.
"Kami mohon pamit, semoga Baginda beristirahat dan lekas sembuh," kata Ratu Anggabhaya kepada Sri Baginda Maharaja.
"Terima kasih telah mengunjungiku," jawab Sri Baginda Maharaja melepas kepergian mereka.
Tiga hari setelah pertemuan itu, ada berita bahwa Sri Baginda Maharaja telah pulih kesehatannya. Seisi istana tampak gembira melihat perkembangan kesehatan Sri Baginda Maharaja yang terus membaik. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Sri Baginda Maharaja kembali sakit, bahkan terlihat lebih parah dari sebelumnya. Napasnya tidak teratur dan denyut nadinya sangat lemah. Tabib istana merasa putus asa karena segala ramuan obat tidak memberikan kesembuhan bagi Sri Baginda Maharaja yang memang sudah cukup tua. Penyakit yang dideritanya ini sepertinya merenggut sisa kebugarannya.
Berita tentang Sri Baginda Maharaja Singasari yang sedang gering akhirnya sampai juga ke Tanah Kediri. Bukan main gundahnya Raja Kertanegara yang mendengar berita itu dari seorang utusan istana Kutaraja. Pada hari itu juga, Raja Kertanegara langsung berangkat ke Singasari. Namun, usia manusia memang sudah ditentukan, tidak bisa diundur atau dimajukan. Bersamaan dengan keberangkatan Raja Kertanegara dari Kediri, Sri Baginda Maharaja Singasari telah diangkat ke alam keabadian, alam tempat segala berasal, dari tiada kembali ke tiada.
Bumi Singasari berkabung, langit Singasari berkabut mendung. Tiga hari tiga malam hujan gerimis tiada henti, sepertinya mewakili duka cita seluruh jiwa di tanah Singasari yang meratap menangisi kepergian seorang raja besar yang agung, yang mencintai dan dicintai para kawulanya. Prabu Seminingrat dikenang sebagai raja agung yang selalu mengampuni musuh-musuhnya, ksatria besar di medan perang, pengaman perjalanan para saudagar, serta pelindung dan pemberi kemakmuran bagi rakyatnya.
Jasad Prabu Seminingrat diperabukan dengan upacara besar. Abunya dicandikan di sebuah tempat yang tinggi sebagai penghormatan tertinggi untuk diagungkan sebagai Maharaja titisan dewa kasih. Setelah masa berkabung melewati hari keempat puluh, pada hari itu naiklah sang putra mahkota menggantikan ayahandanya. Kertanegara dinobatkan sebagai Maharaja Singasari yang berkedudukan di Kutaraja.
Gema riuh rendah warga yang berbondong-bondong dari pelosok tanah Singasari ke Kutaraja demi menyaksikan upacara agung penobatan sang putra mahkota menjadi Maharaja Singasari terdengar ke mana-mana. Seorang pujangga pengembara mengabadikannya dalam rontal syairnya: *Pada hari itu bumi Singasari penuh suka cita, di musim penghujan, di tahun genap, Raja dari Kediri itu datang berkuda di pagi hari, duduk di istana Kutaraja dianugerahi mahkota tiga belas batu mutiara, dikalungi seratus sebelas pucuk melati, diperciki air suci, pulanglah para kawula membawa baki persembahannya, semua wajah dipenuhi suka cita.*
Demikianlah awal dan hari pertama Sri Baginda Maharaja Kertanegara naik takhta menggantikan kedudukan ayahandanya, Prabu Seminingrat. Semua harapan kini tertuju kepada sang penguasa baru. Mampukah sang putra mahkota membangun bumi Singasari di atas pilar-pilar warisan ayahandanya tercinta?
Di malam hari penobatan itu dilangsungkan sebuah pesta perjamuan yang meriah. Kebo Arema, Raden Wijaya, Mahesa Amping, dan Lawe hadir di malam penuh kebahagiaan itu.
"Aku ingin Paman hadir di hari Maguntur Raya," kata Sri Baginda Maharaja kepada Kebo Arema di sela-sela pesta.
"Hamba bukan pejabat istana," jawab Kebo Arema.
"Aku, Maharaja Singasari, mengundang langsung hambaku," tegas Sri Baginda Raja penuh senyum.
"Undangan Paduka adalah sebuah kehormatan besar," kata Kebo Arema yang tidak dapat menghindar lagi.
Demikianlah, pada hari Maguntur Raya, di mana para pejabat istana menyampaikan laporannya atas tugas-tugas yang diembannya di hadapan Sri Baginda Maharaja, Kebo Arema ikut hadir dan duduk bersama para pejabat istana. Setelah semua pejabat selesai menyampaikan laporan, Sri Baginda Maharaja meminta Kebo Arema menyampaikan laporannya mengenai perkembangan pembangunan jalur perdagangan laut Singasari.
Semula Kebo Arema merasa ragu dan menduga-duga mengapa Sri Baginda Maharaja memintanya menyampaikan laporan di tempat terbuka. Namun, Kebo Arema tidak sempat berpikir banyak; dengan lugas ia menyampaikan beberapa kemajuan dan perkembangan terkini dalam hal pembukaan jalur perdagangan laut Singasari.
"Kami telah membuka jalur pelayaran ke barat sampai ke Tanah Melayu. Kami juga telah menemukan tanah tempat pohon cengkih dan pala tumbuh. Bahtera laut Singasari telah menguasai jalur perdagangan dari timur terbit matahari sampai ke arah terbenam matahari," lapor Kebo Arema di ruang Maguntur Raya.