Chapter 135
"Yang muda saja bukan main nikmatnya, apalagi yang sudah tua," kata Empu Dangka ketika menikmati jukut mapelencing yang merupakan masakan berbahan dasar rebung bambu.
Mendengar ucapan Ki Dangka, Ki Arya Sidi dan Mahesa Amping tidak mampu menahan rasa geli. Setelah menyelesaikan makanan dan bermaksud membayar, mereka terkejut karena pelayan tua itu menolak pembayaran.
"Seseorang telah membayar semua pesanan Tuan," kata pelayan tua itu.
"Siapakah yang telah membayar pesanan makanan kami?" tanya Mahesa Amping sambil menyapu pandangan ke arah pengunjung yang masih ada di kedai.
"Orangnya sudah keluar ketika Tuan-tuan sedang menikmati hidangan," jawab pelayan tua itu. Meski Ki Arya Sidi memaksa, pelayan tetap menolak. Akhirnya, dengan penuh tanda tanya, mereka bertiga keluar dari kedai.
Belum jauh melangkah, seorang pemuda menghampiri mereka. "Maaf, ternyata kehadiran kalian di sini membawa berkah untukku. Seseorang memberi upah agar aku menyampaikan pesan kepada kalian."
"Pesan?" tanya Ki Arya Sidi.
"Kalian ditunggu di balik gumuk di ujung jalan ini," kata pemuda itu, lalu menjura penuh hormat dan pergi meninggalkan mereka yang termangu.
"Apakah orang yang berpesan itu sama dengan yang membayar makanan kita?" tanya Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka.
"Mari kita menuju ke balik gumuk itu, mungkin jawabannya ada di sana," ajak Empu Dangka.
Mereka pun berjalan menuju gumuk yang ditunjukkan pemuda tadi melalui jalan lurus yang jarang dilalui orang. Rumput liar tumbuh subur di sepanjang jalan, menandakan tempat itu tak pernah terinjak. Sesampainya di ujung jalan yang buntu di bawah gumuk, mereka langsung menaiki gumuk yang dipenuhi ilalang liar itu.
Begitu sampai di atas, mereka terkejut melihat sepuluh mayat bergelimpangan. Pakaian mereka menandakan bahwa mereka adalah pasukan pengawal Pura yang membawa busur dan anak panah lengkap. Kening mereka berkerut saat melihat dua orang tengah beradu tanding. Seorang bertelanjang dada dengan rambut terurai, sementara lawannya adalah seorang pendeta.
"Bukankah itu Ki Jaran Waha?" tanya Mahesa Amping mengenali sosok tersebut.
"Benar, itu saudara kita, Pemimpin Leak Balidwipa," sahut Ki Arya Sidi.
"Akhirnya kalian datang," sapa Ki Jaran Waha sambil menghindari sabetan tongkat lawannya dan melenting mendekati mereka. "Orang ini bermaksud mencelakaimu, saudaraku," ujarnya kepada Mahesa Amping.
Mahesa Amping bingung. "Tuan Pendeta, kita belum pernah bertemu. Kesalahan apa dariku sehingga Tuan bermaksud mencelakaiku?"
"Asal kau ketahui, aku adalah saudara tua Dewa Bakula yang pernah kau kalahkan," jawab orang itu.
"Kami bertanding dengan adil. Apakah Dewa Bakula tidak menceritakannya kepada Tuan?" tanya Mahesa Amping.
"Begitu mudahnya Dewa Bakula kalah olehmu, itulah yang tidak kupercayai. Pasti kalian telah berbuat curang," tuduh orang itu.
"Percaya atau tidak adalah hak Tuan Pendeta," tegas Mahesa Amping yang merasa tersinggung.
"Namaku Dewa Palaguna. Purnama depan kutunggu dirimu di Pura Indrakila," ujar orang itu, lalu berbalik pergi meninggalkan tanah gumuk tersebut.
Sepeninggal Dewa Palaguna, Ki Jaran Waha bercerita bahwa ia mendapat berita tentang upaya Dewa Palaguna untuk mencelakai Mahesa Amping. Dewa Palaguna adalah seorang pendeta guru di Pura Besakih yang membimbing para pangeran. Dari seluruh pangeran di Balidwipa, hanya pangeran Pura Besakih yang tidak berguru di Pura Indrakila, melainkan memilih Dewa Palaguna.
"Kami mengikuti mereka sampai di Kademangan Pejeng ini," jelas Ki Jaran Waha.
"Jadi, Ki Jaran Waha yang membayar makanan kami?" tanya Empu Dangka.
"Aku memerintahkan orangku untuk membayarnya," jawab Ki Jaran Waha sambil tersenyum.
Ki Arya Sidi kemudian menjelaskan tujuan mereka mencari tempat untuk melihat sejauh mana Mahesa Amping dapat menghentakkan puncak ilmu cambuknya. Ki Jaran Waha pun meminta izin untuk ikut, yang disambut baik oleh Mahesa Amping.
Matahari mulai bergeser ke barat, tertutup awan tebal yang membuat suasana menjadi sejuk. Mereka berempat berjalan membelah padang ilalang, menembus hutan perdu, lembah, dan ngarai.
"Berhati-hatilah, Mahesa Amping. Kudengar kesaktian Dewa Palaguna dapat meruntuhkan gunung," peringat Ki Jaran Waha.
"Terima kasih atas peringatannya. Semoga Gusti Yang Maha Agung selalu melindungiku," jawab Mahesa Amping.
"Sikap itulah yang harus kita miliki: tidak menggantungkan pada kesaktian, tetapi kepada Sang Hyang Gusti Yang Maha Agung," tambah Ki Arya Sidi.
Akhirnya mereka sampai di sebuah tanah lapang yang dibatasi batuan bercadas, jauh dari pemukiman. Sang senja mulai redup, digantikan cahaya bulan tua yang menyinari tanah lapang tersebut. Mereka beristirahat sejenak untuk menghabiskan bekal yang dibawa dari Padepokan Panca Agni sambil menunggu malam tiba.
Setelah perapian padam dan mata mereka mulai terbiasa dengan kegelapan, Empu Dangka mempersilakan Mahesa Amping untuk mulai berlatih. Mahesa Amping berjalan menjauh sekitar dua puluh langkah, lalu berdiri tegak dengan tangan menggenggam cambuk yang menjurai hampir menyentuh tanah.