Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 51

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 51

"Aku tidak bermaksud mencuri, hanya sekadar mengingat," kata Mahesa Amping dengan penuh percaya diri. Hal itu terlihat dari kilatan matanya yang menyambar tajam ke arah Ragasuci.

Jantung Ragasuci bergetar ketika tatapan mata mereka beradu. Diam-diam, ia mengagumi Mahesa Amping sebagai orang yang tidak boleh diremehkan.

"Bersiaplah," kata Ragasuci sambil tersenyum.

"Kita hanya berlatih," ingat Mahesa Amping sambil mempersiapkan diri.

"Ingatkan aku bila lupa diri," ujar Ragasuci sambil melangkah menyerang dengan pukulan yang langsung tertuju ke arah dada.

Sebuah pukulan yang cepat. Dengan sigap, Mahesa Amping bergeser ke samping, lalu menekuk sikunya untuk menyerang ulu hati Ragasuci. Ragasuci yang tidak menyangka mendapat balasan serangan langsung melenting ke belakang.

"Luar biasa!" seru Ragasuci yang langsung menyerang kembali, kali ini dengan sebuah tendangan yang meluncur tajam.

Mahesa Amping dapat membaca bahwa tendangan itu hanyalah pancingan. Maka, begitu ia bergeser ke samping untuk menghindar, sebuah pukulan telah meluncur ke arah dadanya yang terbuka. Mahesa Amping telah membaca pergerakan Ragasuci. Dengan cepat, ia kembali bergeser, memiringkan tubuh, sembari mengangkat kaki untuk menghantam pinggang Ragasuci.

Ragasuci kembali terkejut mendapatkan serangan balik yang begitu cepat, sehingga ia tergesa melompat ke belakang.

"Hebat!" kembali sebuah pujian terlontar dari mulut Ragasuci yang langsung menyerang lagi.

Demikianlah duel "latihan" antara Ragasuci dan Mahesa Amping berlangsung seru. Selapis demi selapis, mereka tampak meningkatkan tataran ilmu masing-masing. Pertempuran terlihat semakin cepat. Mereka bergerak seperti bayang-bayang hitam yang saling menyerang di bawah temaram warna bumi yang kian senja.

"Perhatikan dengan saksama, mungkin berguna untukmu besok bila saja dapat bertemu dengannya," bisik Raden Wijaya kepada Pranjaya.

Mahesa Amping dan Ragasuci masih terus bertanding dengan sengit tanpa tanda-tanda akan berakhir. Keduanya saling menghindar dan menyerang dengan kecepatan tinggi. Hingga pada sebuah kesempatan, pukulan Ragasuci tertuju ke dada Mahesa Amping yang sepertinya dibiarkan saja meluncur deras menghantam.

*Desss!*

Bukan main kagetnya Ragasuci merasakan pukulannya seperti menembus kapas; tenaganya seolah hilang seketika. Mahesa Amping menangkap rasa kaget itu, namun ia tidak memanfaatkan sedetik kesempatan tersebut untuk serangan berbahaya. Ia hanya menggantinya dengan sambaran ringan ke arah kepala.

Kain ikat kepala Ragasuci kini telah berpindah ke tangan Mahesa Amping.

"Bukankah kita cuma berlatih?" kata Mahesa Amping sambil tersenyum, lalu menyerahkan kembali ikat kepala itu.

"Terima kasih, hari ini aku mendapat teman berlatih yang hebat," ucap Ragasuci sambil menerima ikat kepalanya. "Maaf, aku belum menanyakan namamu," sambungnya sambil mengulurkan tangan.

"Namaku Mahesa Amping," jawab Mahesa Amping sambil menyambut tangan Ragasuci. Dalam hati, ia mengagumi sikap Ragasuci yang tidak mudah mendendam dan mampu menerima kekalahan dengan lapang dada.

"Nama yang bagus. Mungkin masih banyak lagi orang hebat berkumpul di sini," ujar Ragasuci sambil memandang Raden Wijaya, Argalanang, dan Lawe.

Datuk Belang kemudian memperkenalkan Raden Wijaya, Argalanang, dan Lawe kepada Ragasuci dan Bagus Kemuning, namun tetap merahasiakan asal-usul mereka dari Tanah Singasari.

"Sebuah kehormatan bila kalian sudi naik ke pendapa menikmati hidangan malam kami," ajak Datuk Belang ketika Bagus Kemuning dan Ragasuci hendak berpamitan.

"Terima kasih, kami takut akan mengganggu perbincangan kalian mengenai pertandingan esok," tolak Bagus Kemuning sambil tersenyum.

Bagus Kemuning dan Ragasuci pun berlalu diiringi tatapan mata orang-orang yang ditinggalkannya.

"Sampai bertemu besok," seru Ragasuci yang berbalik badan setelah beberapa langkah.

"Sampai bertemu kembali esok di pertandingan," sahut Pranjaya mewakili kawan-kawannya sambil melambaikan tangan.

Malam pun tiba membawa kegelapan. Suara angin terdengar melalui gesekan daun pinang yang berjajar di halaman rumah panggung. Cahaya oncor yang dipasang di ujung kiri dan kanan taman remang-remang menyinari rumput hijau yang terhampar rapi di antara bunga kenanga yang tengah merekah berwarna putih dan kuning.

"Gerakan Ragasuci penuh kecerdikan dan muslihat," kata Mahesa Amping saat mereka beristirahat di pendapa.

"Aku sudah semakin mengenal beberapa jurusnya," tanggap Pranjaya.

Pagi itu, alun-alun istana kembali dipenuhi penonton yang akan menyaksikan pertandingan. Gemuruh sorak penonton pecah saat pengumuman undian menyatakan bahwa Pangeran Pasai akan berhadapan dengan Pranjaya dari Tanah Melayu, sementara Ragasuci dari Tanah Pasundan akan menghadapi bangsawan dari Tumasik.

Suara bende besar dipukul sebagai tanda pertandingan akan segera dimulai. Pranjaya dan Pangeran Pasai naik ke panggung dan saling berhadapan. Setelah seorang penengah menyampaikan tata cara pertandingan, ia pun bergeser ke sudut panggung.

*Gong!*

Suara bende terdengar kembali. Pangeran Pasai segera memulai serangan, menerjang Pranjaya. Dengan sigap, Pranjaya menghindar dan melakukan serangan balik. Sesuai saran Mahesa Amping, Pranjaya menggunakan gaya serangan panjang, yakni menyerang dan menghindar jauh. Pangeran Pasai terjebak dalam permainan tersebut dan mengejar ke mana pun Pranjaya bergerak, hingga tenaganya mulai terkuras, sementara Pranjaya tampak masih segar bugar.

Pada suatu kesempatan, Pangeran Pasai melancarkan pukulan yang mengarah ke wajah Pranjaya. Tanpa berkedip, Pranjaya membiarkan pukulan itu meluncur, lalu dengan cepat memiringkan wajahnya di saat pukulan tersebut nyaris mengenainya. Angin pukulan itu terasa bersuit di depan hidung Pranjaya.

Kesempatan itu tidak disia-siakan. Sebuah bacokan tangan terbuka bergerak cepat menghajar ketiak Pangeran Pasai yang terbuka. Akibatnya fatal. Pangeran Pasai merasakan engsel tangannya mati rasa. Belum sempat memikirkan apa yang terjadi, sebuah tendangan keras menghajar bagian antara kedua pahanya. Pangeran Pasai pun merasa sesak napas yang tak terhingga.

Pranjaya menyalurkan segenap kekuatan ke kedua kakinya, lalu melakukan lompatan dengan tenaga besar yang menghantam tubuh Pangeran Pasai.

*Bumm!*

Suara keras terdengar saat tubuh Pangeran Pasai menghantam lantai panggung kayu hitam. Pangeran Pasai terlempar dan rebah terlentang. Pranjaya tidak segera memburunya, membiarkan raksasa itu bangkit, namun Pangeran Pasai tak mampu lagi berdiri.

Lima orang saksi memeriksa Pangeran Pasai yang masih terbaring. Perlahan, ia nampak duduk lemah.

"Apakah kamu masih akan melanjutkan pertandingan?" tanya salah seorang saksi.

"Aku mengaku kalah," jawab Pangeran Pasai dengan suara lemah. Prajurit pun dipanggil untuk memapahnya keluar panggung. Penengah kemudian mengumumkan kemenangan Pranjaya di tengah sorak-sorai penonton.

*Gong!*

Pertandingan pertama selesai. Sorak-sorai bergemuruh menyambut Pranjaya, satu-satunya harapan dan kebanggaan dari Tanah Melayu.

*Gong!*

Suara bende menyapu suasana gegap gempita menjadi hening. Matahari telah tinggi, cahaya teriknya membakar tubuh penonton yang berhimpit. Ragasuci dan bangsawan dari Tumasik naik ke atas panggung. Seperti ayam jago, mereka saling menatap, mengadu nyali dan keberanian.

Lewat matanya yang agak sipit, bangsawan dari Tumasik itu bergidik memandang tatapan mata Ragasuci yang tajam seperti mata harimau. Bangsawan itu berusaha menghentakkan semangat untuk menutupi kegentaran hatinya. Suara penengah yang menyampaikan tata cara pertandingan sedikit membantunya mengembalikan kepercayaan diri, sebelum ia mundur ke sudut panggung.

*Gong!*

Pertandingan dimulai. Ragasuci menyerang lebih awal, dan lawannya yang sudah kembali percaya diri pun dengan cepat mengelak serta melakukan serangan balik.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment