Chapter 13
Suasana di tepian sungai begitu teduh, sinar matahari terhalang rindangnya pohon waru yang banyak tumbuh di sana. Air sungai yang bening dan berbatu menambah keteduhan tempat itu.
"Aku dan Paman Sembaga sering ke tempat ini berlatih," kata Mahesa Amping sambil membuka baju kotornya dan meletakkannya di atas batu.
"Sanggar alam," ujar Raden Wijaya sembari memandang sekeliling.
"Mari kita berlatih, Raden," ajak Mahesa Amping kepada Raden Wijaya seraya mengambil kuda-kuda yang mantap.
"Aku sudah siap menerima serangan," balas Raden Wijaya kepada Mahesa Amping.
Sementara itu, Sembaga duduk di sebuah batu besar, mengamati kedua pemuda yang sedang berlatih.
"Lihat seranganku!" seru Mahesa Amping, meluncurkan tendangan ke arah dada Raden Wijaya.
Dengan sigap, Raden Wijaya mengelak ke samping, lalu membalas dengan menyerang kaki Mahesa Amping yang terbuka.
Melihat serangannya gagal dan justru dibalas, Mahesa Amping menggunakan momentum ayunan kaki kirinya yang terlanjur melayang. Ia memutar badan, melemparkan kaki kirinya ke kanan, lalu menjulurkan kaki kanannya mengancam dada Raden Wijaya.
Dengan kecepatan luar biasa, Raden Wijaya menunduk sangat rendah sambil menyapu melingkar dengan kaki kanannya.
Terkejut luar biasa oleh serangan mendadak itu, Mahesa Amping langsung melompat menghindari sapuan kaki Raden Wijaya.
Demikianlah, kedua pemuda itu, Raden Wijaya dan Mahesa Amping, saling berbalas menyerang.
Tidak mudah menentukan siapa di antara mereka yang lebih unggul. Mahesa Amping begitu luwes dan sempurna dalam gerakan, sementara Raden Wijaya mampu mengatur napas dan memiliki kecepatan gerak yang lebih unggul dari Mahesa Amping.
Sembaga, yang menyaksikan latihan kedua anak muda itu, mengangguk-angguk. Ia langsung dapat menilai keistimewaan masing-masing.
"Raden Wijaya sudah dapat menggunakan tenaga cadangannya, sementara Mahesa Amping masih melulu pada tenaga wadaknya," gumam Sembaga dalam hati, menilai latihan bertempur kedua anak muda di hadapannya.
Sembaga sebenarnya sudah lama ingin memberikan ilmunya mengenai cara mengungkapkan tenaga cadangan yang ada dalam diri. Namun, ia merasa sungkan karena merasa dirinya bukan siapa-siapa, bukan guru, dan bukan pula kerabat Mahesa Amping.
"Mahesa Murti pasti punya perhitungan kapan saatnya," hibur Sembaga dalam hati.
Sementara itu, Mahesa Amping dan Raden Wijaya terus berlatih. Masing-masing telah mengeluarkan seluruh kemampuan mereka, dengan keinginan yang sama untuk mengukur sejauh mana tingkat keilmuan sahabat baru mereka.
"Nafasku habis!" seru Mahesa Amping, meloncat beberapa langkah ke belakang.
Peluh membasahi seluruh tubuhnya. Sebaliknya, Raden Wijaya terlihat masih segar bugar.
"Gantian aku yang menjadi lawanmu," kata Sembaga, maju menghadapi Raden Wijaya.
"Mudah-mudahan aku tidak mengecewakan Paman," jawab Raden Wijaya dengan sopan seraya menjura.
Dalam waktu singkat, mereka saling berbalas menyerang, melompat, dan menghindari serangan. Sembaga yang berilmu tinggi mampu menyesuaikan diri dan mengimbangi setiap serangan Raden Wijaya.
Ketika berlatih bersama Mahesa Amping, Raden Wijaya dengan cepat dapat membaca setiap serangan karena mereka berasal dari perguruan yang sama. Namun, menghadapi Sembaga, Raden Wijaya benar-benar harus berjuang keras menghadapi jurus yang belum pernah ia temui sebelumnya.
Satu dua kali, pertahanan Raden Wijaya berhasil ditembus oleh Sembaga. Namun, pada serangan selanjutnya, Raden Wijaya sudah dapat melihat kesalahannya dan memperbaiki lubang kelemahannya. Senang bukan kepalang Raden Wijaya mendapatkan lawan tanding seperti Sembaga. Pengalaman dan pengenalan atas jurus-jurusnya semakin bertambah.
"Cukup," kata Sembaga, melompat beberapa langkah ke belakang.
"Hari sudah hampir gelap," lanjut Sembaga seraya menunjuk ke langit.
Memang, hari sudah senja. Matahari telah turun dan mengintip di ujung cakrawala. Setelah mandi di sungai, mereka pun kembali ke Padepokan Bajra Seta.
Demikianlah Raden Wijaya berlatih setiap hari di Padepokan Bajra Seta, baik di sanggar tertutup maupun di tempat terbuka seperti tepian sungai bersama Mahesa Amping. Kadang, Mahesa Murti sendiri yang membimbingnya, meningkatkan tahap keilmuannya selapis demi selapis. Sama seperti Sembaga, Mahesa Murti juga melihat keunggulan Raden Wijaya atas Mahesa Amping dalam hal mengungkapkan tenaga cadangannya.
Sebagai guru yang bijaksana, sebelum Mahesa Amping menyadari kekurangannya, Mahesa Murti berkeinginan memberikannya hal yang sama seperti yang diterima Raden Wijaya, yaitu sebuah laku rahasia.
Hari itu, matahari masih mengintip di batas fajar. Seperti biasa, Raden Wijaya dan Mahesa Amping sudah bangun dan naik ke pendapa menemui Mahesa Murti. Seperti biasa pula, mereka menikmati hidangan dan minuman hangat yang disediakan langsung oleh Padmita.
"Mahesa Amping," panggil Mahesa Murti kepada Mahesa Amping. "Hari ini aku akan mengajakmu ke Goa Ranggan."
Mahesa Amping sudah cukup mengetahui di mana letak Goa Ranggan. Dari beberapa cantrik dan penduduk sekitar, ia sering mendengar cerita tentang Goa Ranggan. Goa itu berada tidak jauh dari Padepokan Bajra Seta, tepatnya di Gunung Karang. Konon, puluhan tahun lalu, tempat itu adalah lokasi pertapaan seorang pertapa sakti.
"Raden Wijaya boleh diajak turut?" tanya Mahesa Amping kepada Mahesa Murti, seolah sebuah permintaan.
Mahesa Murti memandang Mahesa Amping dan Raden Wijaya bergantian. Merasa haru melihat keakraban mereka yang sudah begitu dekat.
"Kita berangkat bersama," ujar Mahesa Murti, yang disambut gembira oleh Mahesa Amping. Tentu saja, Raden Wijaya pun ikut bergembira, tidak lagi harus berhari-hari terpisah dari Mahesa Amping, sahabatnya satu-satunya yang seusia dengannya di Padepokan Bajra Seta.
"Katakan kepada Paman Wantilan untuk mengatur segalanya selama aku tidak ada di sini," pesan Mahesa Murti kepada istrinya, Padmita.
"Apa yang akan aku katakan bila Paman Wantilan dan siapa pun bertanya tentang kepergian Kangmas bertiga?" tanya Padmita kepada Mahesa Murti.
"Katakan bahwa kami pergi berburu," jawab Mahesa Murti kepada Padmita. Sebelumnya, Mahesa Murti sudah memberitahukan keinginannya untuk meningkatkan ilmu Mahesa Amping.
Matahari masih belum merayap naik, cahayanya masih redup ketika Mahesa Murti, Mahesa Amping, dan Raden Wijaya keluar dari gerbang Padepokan. Beberapa cantrik sudah terbiasa melihat mereka bertiga keluar dari Padepokan Bajra Seta, mungkin ke padukuhan terdekat, ke tepian sungai, atau memang pergi berburu.
Jarak antara Padepokan Bajra Seta dengan Goa Ranggan tidak begitu jauh, hanya setengah hari perjalanan. Matahari sudah bergeser setengahnya ke arah barat ketika mereka bertiga tiba di kaki bukit karang. Perjalanan selanjutnya adalah pendakian yang melelahkan bagi Mahesa Amping, sementara Mahesa Murti dan Raden Wijaya hanya menggunakan sedikit tenaga mereka. Keringat membasahi sekujur tubuh Mahesa Amping. Dalam hati, ia sedikit penasaran melihat Mahesa Murti dan Raden Wijaya seperti berjalan di tanah datar, tanpa merasakan kelelahan sedikit pun.
Akhirnya, mereka tiba di mulut Goa Ranggan.
"Ruang mulut goa ini hanya sebatas tubuh kita, tapi di dalamnya kita akan menemui ruangan yang cukup besar seluas bilik kamar kita," kata Mahesa Murti, yang sebelumnya pernah datang menyelidiki Goa Ranggan ini.
Mereka tidak langsung masuk, tetapi beristirahat sebentar sambil membuka bekal yang sengaja mereka bawa. Matahari sudah hampir senja ketika mereka mulai memasuki mulut goa. Seperti yang dikatakan Mahesa Murti, ruang goa itu memang hanya sebatas tubuh orang dewasa. Maka, seperti seekor ular, mereka merayap perlahan memasuki lebih dalam lagi, hingga akhirnya sampai di mulut goa lainnya, menemukan sebuah lorong goa yang cukup luas, seluas bilik kamar, sebagaimana dikatakan Mahesa Murti.
Sebenarnya, ada beberapa lubang di langit-langit ruang goa itu yang dapat ditembus cahaya matahari. Namun, karena mereka baru sampai di ruang goa itu saat senja, ruangan itu terlihat begitu gelap. Mereka tidak dapat melihat apa pun selain kegelapan itu sendiri.
"Mahesa Amping," panggil Mahesa Murti. "Sengaja aku membawamu kemari untuk melaksanakan sebuah laku rahasia." Mahesa Murti melanjutkan bahwa hal yang sama telah dilakukan oleh Raden Wijaya.
Mahesa Murti pun bercerita tentang kejadian yang mereka alami dalam perjalanan kembali ke Padepokan Bajra Seta, terjebak dalam sebuah sumur yang dalam. Sebuah cerita rahasia yang tidak pernah dikatakan oleh siapa pun. Mahesa Murti pun telah meminta Raden Wijaya untuk tidak bercerita, mengubur cerita ini hanya untuk dirinya sendiri karena di dalamnya tersangkut sebuah rahasia besar, sebuah laku rahasia.
"Dengan laku rahasia ini, kamu dapat mengenal dirimu sendiri lebih dalam lagi dan dapat mengungkap tenaga murni yang tersembunyi di dalam dirimu," kata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping.
"Di ruang goa yang pekat ini, para pendeta telah menemukan diri mereka dan penciptanya. Merasakan kematian sebelum datangnya kematian itu sendiri," jelas Mahesa Murti, memberikan pemahaman bagaimana caranya masuk mengenal diri, mengenal alam besar dan alam alit, serta tentunya untuk mengenal lebih dekat lagi kepada Tuhan Yang Maha Pencipta, Tuhan Yang Maha Agung, dan Tuhan Yang Maha Tunggal.
Mahesa Amping mendengarkan semua penjelasan Mahesa Murti dengan penuh perhatian, meresapi setiap kata.
"Sekarang kita istirahat dulu. Besok pagi kita baru memulai laku itu," kata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.