Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 117

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 117

"Dampak apa yang dapat terjadi bilamana pergeseran dan perubahan tempat itu terjadi?" tanya Mahesa Amping.

"Keserasian dan keselarasan di bumi ini akan terganggu; akan timbul berbagai kekacauan yang berujung pada peperangan antara para penguasa Pura," jawab Empu Dangka.

"Balidwipa ini begitu dekat dengan Kerajaan Singasari. Kekacauan di Balidwipa akan memengaruhi tatanan dan kemapanan di Tanah Singasari," ujar Mahesa Amping mencoba menilai dan mengungkapkan wawasannya.

"Anakmas benar, kekacauan di Balidwipa dapat memengaruhi kemapanan Singasari," kata Empu Dangka membenarkan pandangan Mahesa Amping.

"Apakah ada usaha dari para penguasa selain penguasa Pura Besakih untuk mengingatkannya?" tanya Mahesa Amping.

"Mereka merasa tidak mampu menandingi kesaktian penguasa Pura Besakih yang bernama Adidewa Lamcana," jawab Empu Dangka.

Sebagai seorang yang tengah bertugas sebagai telik sandi, Mahesa Amping memang sangat berhati-hati. Ia telah dapat membaca di pihak mana Empu Dangka berada. Maka, akhirnya Mahesa Amping bercerita tentang rencana dan tugas yang tengah diembannya saat ini dari Sri Baginda Maharaja Kertanegara.

"Aku berpihak kepada junjunganmu, Sri Baginda Maharaja Kertanegara. Semoga pencerahan hatinya terus bercahaya, memuliakan keinginannya mengembalikan tatanan dan keserasian Balidwipa," kata Empu Dangka menyampaikan persetujuannya.

"Aku yang muda mohon petunjuk dari Empu Dangka," ujar Mahesa Amping.

"Dengan senang hati," jawab Empu Dangka penuh senyum.

"Di mana Empu Dangka bertempat tinggal selama di Balidwipa ini?" tanya Mahesa Amping.

"Di bawah cakrawala langit, di hamparan bumi yang luas," jawab Empu Dangka sambil tersenyum.

"Pengembara sejati," ucap Mahesa Amping.

"Mengikuti ke mana langkah kaki," sahut Empu Dangka.

"Termasuk juga mengikuti dan menunggu kehadiranku di sini," kata Mahesa Amping.

"Aku hanya ingin mengenal seorang pemuda yang telah menguasai ajian Kawah Aji Ari-ari," jawab Empu Dangka sambil tersenyum.

"Artinya, semalaman Empu Dangka menungguku di hutan bambu ini," kata Mahesa Amping.

"Sekadar mengikuti kata hati, mengenalmu lebih dekat," ujar Empu Dangka menyampaikan perasaannya saat itu.

"Kata hati itulah yang telah mempertemukan kita," kata Mahesa Amping.

Sementara itu, tidak terasa matahari telah beranjak bergeser ke barat, mengintip dari sela-sela batang dan daun bambu.

"Kita menanti hari upacara Dewata Turun Kabeh di tempat yang paling dekat, di perkampungan para pemburu," kata Empu Dangka setelah mendengar rencana Mahesa Amping untuk mengunjungi Pura Besakih.

"Kupercayakan diri ini bersama pemandu terbaik di Pulau Dewata," ujar Mahesa Amping sambil menuntun kudanya mengikuti langkah kaki Empu Dangka.

"Di hadapan kita adalah Hutan Trunyan. Perkampungan para pemburu ada di tengah hutan itu," kata Empu Dangka sambil menunjuk sebuah hutan lebat di hadapan mereka.

Hutan Trunyan yang lebat itu dibatasi padang ilalang yang luas, yang kadang diselingi batu karang gundul berkapur yang dipenuhi lumut dan jamur. Di ujung senja, Mahesa Amping dan Empu Dangka baru sampai di bibir hutan tersebut. Mereka tampak masuk ke dalam Hutan Trunyan, menghilang ditelan kegelapan saat sinar matahari begitu lemah, tidak mampu menembusi lorong-lorong gerumbul pepohonan yang rapat dan lebat.

"Orang di Tanah Jawa takut berjalan di malam Jumat Kliwon, sementara itu di Balidwipa yang ditakuti adalah malam Rabu Wage," kata Empu Dangka ketika mereka telah masuk lebih dalam lagi ke kegelapan hutan.

"Bukankah hari ini adalah malam Rabu Wage?" tanya Mahesa Amping yang menyadari hari itu.

"Apakah hatimu telah diliputi perasaan takut?" tanya Empu Dangka.

"Urat takutku sudah putus, apalagi berjalan bersama Empu Dangka," jawab Mahesa Amping yang tersenyum, meski senyumnya tertutup keremangan hutan Trunyan.

Ternyata Empu Dangka sepertinya telah mengenal jalan-jalan setapak di hutan itu. Sambil menuntun kudanya, Mahesa Amping mengikuti langkah sang Empu. Sementara itu, hari telah menjadi malam, suasana di dalam hutan menjadi begitu gelap.

"Apakah kamu mencium bau kemenyan?" tanya Empu Dangka.

"Benar, bau kemenyan itu semakin sangat dan keras," kata Mahesa Amping.

"Bau kemenyan itu berasal dari pohon menyan yang banyak tumbuh di hutan ini, terutama di tempat pemakaman suku Trunyan," jelas Empu Dangka. "Kepercayaan mereka berbeda dengan penduduk umumnya di Tanah Bali ini. Mereka tidak mengabukan jenazah saudaranya, tapi meletakkannya secara utuh di pemakaman khusus di bawah pohon kemenyan."

"Meletakkan begitu saja sebuah mayat?" tanya Mahesa Amping, baru mendengar cara pemakaman yang aneh.

"Kelak kamu akan menyaksikannya sendiri," jawab Empu Dangka yang terus melangkah.

Suku Trunyan umumnya adalah pemburu yang menggantungkan hidup di hutan secara turun-temurun; merekalah penduduk asli Balidwipa yang sebenarnya. Saat itu, mereka hanya terdiri dari tujuh puluh kepala keluarga. Rumah-rumah mereka sangat sederhana, terbuat dari kayu kasar dengan atap alang-alang kering. Namun, kerukunan di antara mereka sangat mengagumkan; mereka seperti keluarga besar yang saling tolong-menolong, memiliki lumbung bersama, dan berburu bersama untuk dinikmati bersama.

Sudah dua pekan ini, warga suku Trunyan merasakan kegelisahan. Dua pekan lalu, mereka geger dengan hilangnya mayat seorang wanita yang mati tidak wajar karena gantung diri. Kejadiannya bertepatan dengan malam Rabu Wage atau Malam Buda Cemeng, malam yang sangat dikeramatkan oleh orang Bali. Malam itu, beberapa lelaki suku Trunyan melihat pemandangan menakutkan: sebuah keranda terbang melayang terbawa angin. Para lelaki pemberani itu menjadi kaku, bahkan salah satunya sampai terkencing-kencing.

Keesokan harinya, kegemparan melanda penduduk karena mayat wanita bernama Wariga Alit itu hilang. "Mungkin hantu Leak yang membawa pergi Wariga Alit," ujar salah seorang warga. Sejak saat itu, mereka takut jika hantu Leak akan datang mengambil mayat saudara mereka yang lain.

Malam ini, bertepatan dengan malam Rabu Wage, suasana kembali mencekam. Suara serigala melolong panjang menambah kegelisahan penduduk. Tidak ada lelaki yang berani keluar rumah, kecuali satu orang: Ki Tolu Cemeng, kepala suku sekaligus ayah Wariga Alit. Ia bersembunyi di atas pohon ambon besar di depan rumahnya sejak awal malam. Firasatnya mengatakan keranda itu akan muncul kembali.

Benar saja, dari balik keremangan malam, Ki Tolu Cemeng melihat sebuah keranda tertutup kain panjang meluncur sendiri tanpa ada yang mengusung. Ketika keranda itu melewati pohon ambon, Ki Tolu Cemeng perlahan turun dan mengikuti dari belakang tanpa rasa takut. Keranda itu bergerak menuju arah pemakaman, diiringi suara burung celepuk yang menambah keangkeran suasana.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment