Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 116

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 116

"Jadi, Ki Dalang Bancak seorang duda?" tanya Mahesa Amping.

"Khusus di kademangan ini, kami memegang adat untuk tidak beristri lebih dari satu. Kami hanya melakukan upacara perkawinan satu kali untuk seumur hidup," ujar Ki Dalang Bancak menjelaskan hukum adat istiadatnya.

"Apakah ada hukuman bila melanggar adat itu?" tanya Mahesa Amping.

"Kami punya tempat khusus, sebuah tempat pengasingan bagi mereka yang melanggar aturan adat tersebut," jawab Ki Dalang Bancak.

Sementara itu, seteguk demi seteguk brem di dalam kendi tanah liat itu tidak terasa sudah semakin tiris, seiring dengan surutnya cahaya bulan yang belum bulat sempurna bergeser ke barat.

"Saatnya beristirahat. Tidak terasa malam sudah larut," kata Ki Dalang Bancak menawarkan Mahesa Amping untuk beristirahat.

Demikianlah, akhirnya Mahesa Amping bermalam di bilik yang telah disediakan. Di pembaringan, pikiran Mahesa Amping terusik, terutama tentang pecalang yang terdapat di setiap padukuhan sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Dalang Bancak.

"Mungkinkah penguasa Bali diam-diam telah membangun sebuah kekuatan?" tanya Mahesa Amping dalam hati.

Ia masih belum bisa memejamkan matanya. Pikirannya terbayang pada beberapa peperangan yang disaksikannya: suara senjata beradu, darah berceceran di mana-mana, memilukan. Teriakan kasar dan suara rintihan masih terngiang. "Dalam suasana perang, manusia seperti lupa akan persaudaraan, lupa sebagai sesama makhluk yang seharusnya saling menyayangi. Rasa kasih telah hilang, berubah menjadi rasa dendam dan haus darah. Dalam suasana peperangan, manusia seperti binatang buas di hutan, bahkan lebih buas dari binatang buas sekalipun," guman Mahesa Amping dalam hati saat bayangan peperangan muncul kembali di benaknya.

"Sri Maharaja Singasari bertekad memperluas kerajaannya sebagai pendarmaan Siwa-Buddha, sementara penguasa Bali merasa berdiri sebagai pusat bumi sebagai Paramasiwa," lanjutnya dalam hati sambil tersenyum.

"Puji syukur ke hadirat-Mu wahai Gusti Sang Hyang Jagat yang selalu menjaga hati ini. Telah Kau cerahkan hati ini dari kesalahan yang terkecil. Pengakuan atas diri ini adalah pekerjaan hati, milik Sang Hyang Jagat Raya. Tersesatlah jalan para yogi yang mencari nirwana di dalam dunia fana," ucap Mahesa Amping dalam hati yang telah menemukan sebuah hakikat.

Akhirnya, Mahesa Amping kembali dalam kesadaran pikirannya, menghadirkan dan menyatukan akal budinya, menyerahkan hatinya kepada Gusti Sang Maha Karsa yang membawanya ke dalam alam ketiadaan, alam kesunyatan. Terlihat napasnya begitu teratur, nyaris tak terdengar.

Akhirnya, pagi telah datang. Hal itu ditandai dengan suara kokok ayam jantan yang terdengar sayup-sayup dari tempat yang sangat jauh, saling bersahutan hingga akhirnya terdengar jelas dari belakang rumah Ki Dalang Bancak.

Sebagaimana yang dijanjikan, pagi itu Mahesa Amping diantar oleh Ki Dalang Bancak menemui tiga orang yang terluka kemarin. Mahesa Amping memberikan mereka obat dari beberapa dedaunan yang ada di sekitar padukuhan itu.

"Racikan obat ini berguna untuk pemulihan," kata Mahesa Amping kepada Ki Dalang Bancak ketika mengunjungi salah satu korban yang terluka.

Ketika hari telah terang dan matahari mulai merayap di atas cakrawala, Mahesa Amping memohon diri untuk melanjutkan perjalanannya. "Senang berkenalan dengan kalian," ucap Mahesa Amping sambil melompat ke atas kudanya.

"Pintu rumahku selalu terbuka untukmu, anak muda," ujar Ki Dalang Bancak melepas keberangkatan Mahesa Amping.

"Aku akan merindukan brem hangat Ki Dalang Bancak," balas Mahesa Amping sambil menepuk perut kudanya.

Terlihat kuda Mahesa Amping perlahan berjalan di sepanjang jalan padukuhan, diiringi tatapan mata Ki Dalang dan kedua putrinya sampai akhirnya ia menghilang di sebuah tikungan jalan.

"Menurut Ayah, apakah pemuda itu masih lajang?" tanya putri tertua Ki Dalang Bancak.

"Aku lupa menanyakannya," jawab Ki Dalang Bancak yang tidak mengerti arah pertanyaan putrinya.

"Kenapa Ayah tidak menanyakannya?" tanya sang putri lagi.

"Bila bertemu kembali, pasti kutanyakan," jawab Ki Dalang sambil tersenyum, mulai menangkap maksud putrinya.

Sementara itu, Mahesa Amping bersama kudanya telah keluar dari regol gerbang padukuhan, melewati bulakan panjang dan hutan bambu. Segerombolan burung manyar terlihat bermain di atas rumpun bambu, mungkin karena di batang-batang bambu itu terdapat banyak serangga. Seekor kadal berlari kecil, terusik langkah kaki kudanya.

Langit di atas hutan bambu itu begitu cerah, berarak awan berwarna kapas di langit biru dalam cahaya matahari yang terus mendaki cakrawala. Gemericik suara air dari sungai kecil di hutan bambu itu seolah memanggilnya. Mahesa Amping turun dari kudanya, memberikan kesempatan hewan itu beristirahat untuk meneguk air jernih dan memamah rerumputan yang tumbuh di sepanjang sungai berbatu.

Matahari sudah berada di puncak cakrawala, namun kerimbunan hutan bambu dan semilir angin memberikan keteduhan. Di sebuah batu besar, Mahesa Amping bersandar menunggu kudanya. Namun, tiba-tiba ia mencium aroma daging bakar yang sangat menggoda. Keinginannya yang besar memaksanya berdiri dan berjalan menuntun kudanya mencari sumber aroma tersebut.

Mahesa Amping menemukan sumber aroma itu. Di hadapannya, terlihat seorang tua tengah memanggang dua ekor ayam hutan. Mahesa Amping terperanjat melihat wajah orang tua itu, wajah yang sangat dikenalnya.

"Empu Nada!" teriak Mahesa Amping gembira.

Orang tua yang dipanggil Empu Nada itu mengangkat wajahnya, menatap Mahesa Amping penuh selidik. "Orang yang kamu sebut itu adalah saudaraku. Bahagia diriku mendengar kembali nama saudaraku yang telah lama tidak kuketahui rimbanya," ucap orang tua itu.

Mahesa Amping menatap wajah orang tua itu dengan lebih teliti. Memang sangat mirip dengan Empu Nada. "Apakah orang tua di hadapanku ini saudara kembar Empu Nada yang bernama Empu Dangka?" tanyanya penuh kehati-hatian.

"Ternyata saudara kembarku telah bercerita tentang diriku kepadamu. Benar, Anakmas, namaku adalah Bratadangkadewa, saudara kembar orang yang kau kenal bernama Bratanadadewa," kata orang tua itu yang ternyata adalah Empu Dangka.

"Namaku Mahesa Amping, senang dapat berjumpa dengan saudara kembar Empu Nada," ucap Mahesa Amping memperkenalkan diri.

"Mari duduk bersama, seekor ayam hutan ini memang untukmu," ajak Empu Dangka ramah.

"Jadi Empu Dangka memang sengaja menungguku di sini?" tanya Mahesa Amping.

"Benar, aku sudah melihat bagaimana kamu menakut-nakuti orang-orang yang tengah bertempur tadi," jawab Empu Dangka sambil menyerahkan ayam panggang yang sudah matang.

Mereka pun menikmati ayam hutan bakar bersama-sama. Ketika makan siang selesai, Mahesa Amping memulai pertanyaannya, "Ketika kami pulang dari Tanah Madura bersama Pangeran Kertanegara, kami tidak menemui Empu Dangka di Hutan Porong. Ke manakah Empu ketika itu?"

"Aku memang tidak pernah betah hidup di satu tempat. Ketika itu, aku telah melanglang buana mengikuti langkah kaki. Ternyata langkah kakiku membawaku ke Balidwipa ini," jelas Empu Dangka.

"Ada berita gembira, Pangeran Kertanegara telah menjadi Maharaja Singasari," kata Mahesa Amping. Ia diam sejenak melihat kegembiraan di wajah Empu Dangka. "Berita yang lebih menggembirakan lagi adalah bahwa Empu Bratanadadewa telah dikukuhkan oleh Sri Baginda Maharaja Kertanegara untuk menjadi gurusuci pendeta istana," lanjutnya.

"Sebuah berita yang sangat menggembirakan," ucap Empu Dangka tampak sangat bahagia.

"Ternyata Empu Dangka tidak pernah keluar dari Balidwipa ini hingga ketinggalan kabar tentang perkembangan Singasari," ujar Mahesa Amping.

"Benar, di Balidwipa ini hatiku seperti telah terpikat. Aku merasa telah menemukan rumahku sendiri," kata Empu Dangka tentang Pulau Dewata.

"Aku baru beberapa hari di Balidwipa ini, apa yang membuat Empu Dangka kerasan di sini?" tanya Mahesa Amping.

"Para pendahulu, penetap pertama di Balidwipa ini ternyata telah menata pulau dengan apiknya. Pengembaraan jiwaku sepertinya tidak pernah terpuaskan. Setiap saat jiwaku seolah meneguk pengetahuan baru, mengenal alam baru setiap kali mendaki pura yang ada di Balidwipa ini yang ternyata ditata begitu apik dan serasi mengikuti alam serta tempatnya berdiri berdasarkan tuntunan Dewata Nawa Sanga; sembilan penguasa di setiap penjuru angin dengan satu pancer di Pura Pusering Jagat," papar Empu Dangka.

"Jadi yang menjadi pancer adalah Pura Pusering Jagat, bukan Pura Besakih?" tanya Mahesa Amping.

"Itulah yang amat kusayangkan. Penguasa di Pura Besakih telah mencoba menggeser kedudukan pancer yang sudah ditetapkan oleh pendahulunya," jawab Empu Dangka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment