Chapter 18
Harapan mereka tentang peranan Benteng Cangu memang sangat besar.
Tetapi itupun untuk waktu yang agak lama.
Tetapi ternyata perompak tidak muncul dari balik hutan.
Tiga orang berwajah beringas berdiri di atas geladak kapal dengan golok besar telanjang.
"Yang ingin selamat, berkumpul di sebelah kiri geladak," kata seorang yang tinggi besar, yang tampaknya pemimpin mereka.
Maka beberapa penumpang dengan wajah penuh ketakutan telah berkumpul di geladak sebelah kiri.
"Lewati mayat kami terlebih dahulu," kata salah seorang awak kapal di belakangnya, diikuti oleh tiga orang lainnya.
"Kami hanya perlu beberapa barang, jadi jangan menyusahkan diri," kata seorang pemimpin perompak menggertak.
"Kami bertanggung jawab di atas kapal ini," kata pimpinan awak kapal.
"Dasar kepala batu," kata pemimpin perompak sambil maju menerjang pemimpin awak kapal. Golok besarnya langsung membabat kepala pemimpin awak kapal itu.
Ternyata pemimpin awak kapal bukan sembarang menantang. Dengan gesit ia merendahkan dirinya dan langsung menyerang dengan menyodokkan pedang panjangnya ke perut pemimpin perompak itu.
Bukan main geramnya pemimpin perompak itu, melihat serangannya dapat ditandingi.
Akhirnya terjadilah perang tanding yang mendebarkan di atas geladak kapal itu antara pemimpin perompak dan pemimpin awak kapal.
Sementara itu, tiga orang awak kapal tidak tinggal diam.
Mereka langsung menghadang dua perompak yang tidak menyangka bahwa di kapal kayu itu akan mendapat perlawanan.
Akhirnya terjadilah perang tanding yang mendebarkan di atas geladak kapal itu antara perompak dan para awak kapal.
Seorang perompak tampak tidak gentar mendapat dua orang lawan.
Lima orang ksatria dari Padepokan Bajra Seta masih belum dapat menilai, apakah pertempuran akan berjalan seimbang.
Meski begitu, mereka telah mempersiapkan diri mereka untuk membantu para awak kapal.
Entah dari mana munculnya, seorang pemuda perlente berwajah tampan, namun senyumnya tampak seperti iblis, dingin, dan kejam.
Ia bertolak pinggang di ujung geladak.
"Ternyata tugasku hari ini menjadi begitu ringan," kata pemuda perlente itu, seolah kata-katanya ditujukan kepada pemimpin perompak.
"Sepasang Iblis dari Gelang-gelang!!" kata pemimpin perompak sambil melompat mundur beberapa langkah dari hadapan lawannya.
Ternyata pemimpin perompak itu telah mengenal pemuda perlente itu.
"Hantu Wungu, apakah bayaranmu untuk membunuh Putra Mahkota masih belum cukup banyak?" kata seorang pemuda yang sangat mirip dengan pemuda perlente sambil duduk di pagar geladak.
Yang membedakan kedua pemuda itu adalah pemuda yang terlihat belakangan mempunyai cacat luka bakar di pundaknya.
"Dari mana kalian mengetahui tugas rahasia kami? Siapa pun kalian, enyahlah dari kapal kami!" kata pemimpin awak kapal yang terbakar amarahnya mendengar pembicaraan mereka.
Dengan geram, ia langsung menyerang pemimpin perompak yang dipanggil Hantu Wungu itu.
Sementara itu, tiga orang awak kapal dan dua orang perompak masih terus bertempur.
Lima orang ksatria dari Padepokan Bajra Seta sudah dapat menilai, siapa yang lebih unggul dari pertempuran itu.
Hantu Wungu dan dua orang anak buahnya ternyata sudah tidak bermain-main lagi; mereka telah menunjukkan siapa mereka sebenarnya. Terlihat pemimpin awak kapal seperti tidak berdaya mengelak serangan dari Hantu Wungu yang semakin cepat.
Hampir saja sebuah sabetan golok panjang Hantu Wungu mengenai pinggangnya kalau saja pemimpin awak kapal itu tidak menjatuhkan dirinya berguling di geladak.
Sementara itu, tiga orang awak kapal nasibnya hampir sama; mereka sudah menjadi bulan-bulanan dua orang perompak anak buah Hantu Wungu.
Wantilan telah memberi tanda kepada saudara-saudaranya; mereka telah siap turun bertempur sebelum para awak kapal menjadi korban.
"Biarlah aku menghadapi orang ini," kata Sembaga kepada pemimpin awak kapal yang baru bangkit berdiri setelah berguling jatuh di lantai geladak.
"Ini adalah tanggung jawabku," kata pemimpin awak kapal kayu itu kepada Sembaga.
"Hantu Dungu ini bukan tandinganmu, aku tidak ingin ada korban di kapal ini," kata Sembaga berusaha meyakinkan pemimpin awak kapal kayu itu.
"Berhati-hatilah," kata pemimpin awak kapal itu yang memang merasa bukan tandingan Hantu Wungu. Hanya karena rasa tanggung jawabnya saja maka ia masih terus bertahan.
Meski di dalam hatinya masih menyangsikan apakah Sembaga dapat menandingi Hantu Wungu.
Dalam keraguan, pemimpin awak kapal itu pun mundur beberapa langkah.
"Di tempat asalku tidak ada yang berani menghinaku," kata Hantu Wungu menunjuk dengan golok besarnya kepada Sembaga. Rupanya ia mendengar dengan jelas ketika Sembaga menyebutnya dengan 'Hantu Dungu'.
"Ternyata hantu mudah tersinggung," kata Sembaga kepada Hantu Wungu sambil tersenyum.
Tidak sedikit pun menampakkan kegentarannya.
Sikap Sembaga membuat Hantu Wungu naik pitam.
Tanpa aba-aba lagi, ia langsung menyerang Sembaga.
Ketika menyaksikan pertempuran antara Hantu Wungu dan pemimpin awak kapal, Sembaga sudah dapat menilai sejauh mana tataran ilmu Hantu Wungu. Maka, tanpa melepaskan senjatanya, Sembaga melayani serangan Hantu Wungu.
Sembaga sepertinya tidak ingin membunuh Hantu Wungu, juga tidak ingin secepatnya menyelesaikan pertempurannya.
Terlihat Sembaga lebih banyak mengelak, sengaja menguras tenaga Hantu Wungu yang semakin panas melihat serangannya selalu luput dari sasaran.
Sementara itu, Wantilan dan Mahesa Semu juga telah ikut ambil bagian.
Wantilan menghampiri dua orang awak kapal yang sudah hampir kehabisan tenaga menghadapi seorang perompak yang terlihat mempunyai kematangan bertempur jauh lebih baik.
"Beristirahatlah, cecunguk ini urusanku," kata Wantilan meminta dua orang awak kapal menyingkir.
Melihat ada yang datang membantu, kedua awak kapal yang sudah hampir terkalahkan itu seperti menarik napas lega.
Meski masih merasa sangsi apakah Wantilan dapat melayani lawannya itu.
"Hebat, ternyata ada orang pemberani di kapal ini," kata perompak itu memandang tajam Wantilan.
"Aku punya penyakit turunan, badanku gatal-gatal bila lama tidak berkelahi," kata Wantilan sambil menggaruk beberapa bagian tubuhnya.
"Apakah sekarang kamu sudah sedemikian gatal?" tanya perompak itu masih dengan sorot mata yang tajam menakutkan.
"Gatal sekali untuk menusuk kedua matamu," kata Wantilan perlahan kepada perompak itu.
"Kurang ajar, kurrobek mulut lancangmu!" kata perompak itu. Merasa diremehkan oleh Wantilan, ia langsung menyerang dengan golok besarnya.
Maka terjadilah pertempuran yang seru antara Wantilan dan perompak itu.
Wantilan tidak ingin bermain lama dengan perompak itu. Dengan pedang panjangnya, Wantilan memburu perompak itu yang terkejut bahwa lawannya bukan orang lemah.
Sementara itu, di sisi lainnya.
Mahesa Semu sudah menggantikan awak kapal yang juga hampir terbunuh.
Ketika sebuah serangan ke arah leher awak kapal itu tidak mungkin dapat dihindari, dengan kecepatan yang luar biasa, pedang Mahesa Semu telah menangkis laju golok besar perompak.
Dan benturan dua senjata pun terjadi.
Bukan main kagetnya perompak itu.
Hampir saja senjatanya terlepas.
Tangannya terasa panas menahan benturan itu.
Namun nyalinya kembali berkembang ketika mengetahui orang yang menahan dan membenturkan senjatanya hanyalah seorang pemuda.
"Anak muda, apakah kamu tidak takut mati?" kata perompak itu kepada Mahesa Semu.
"Justru aku yang harus berkata, apakah kamu tidak takut kehilangan senjatamu?" kata Mahesa Semu sambil tersenyum.
Perompak itu menjadi panas melihat Mahesa Semu begitu tenang, meski dalam benturan pertama telah merasakan benturan tenaga yang melampaui tenaganya.
Tetapi perompak itu masih belum merasa suatu kekalahan.
Perompak itu masih berpikir dan berharap dapat mengalahkan pemuda di hadapannya dengan kecerdikan dan pengalaman tempurnya.
Tetapi, harapan perompak itu ternyata hanya sebatas harapan.
Setelah sekian jurus ia belum mampu juga mengalahkan Mahesa Semu, bahkan sepertinya justru dirinya yang hampir tidak berdaya menerima serangan-serangan Mahesa Semu.
Semakin lama, semakin jelas bahwa perompak itu tinggal menunggu waktu.
Dan waktu itu pun terjadi, sebuah benturan senjata kembali terjadi.
Perompak itu sudah tidak lagi dapat mempertahankan golok besarnya.
Telapak tangannya terasa begitu panas, dan golok besarnya pun telah terlepas terpental jauh.
Sepasang Iblis dari Gelang-gelang yang biasanya selalu meremehkan lawan-lawannya menjadi sangat kaget menyaksikan orang-orang yang baru datang menggantikan para awak kapal, dan ternyata mempunyai tataran ilmu di atas kelompok Hantu Wungu.
"Menyerahlah," kata Mahesa Semu yang dengan gerakan begitu cepat telah mengancamkan pedangnya di ujung leher seorang perompak lawannya.
Sementara itu, Wantilan juga telah menyelesaikan perkelahiannya.
Sebuah tendangan yang cukup keras telah menghantam dada perompak hingga terlempar menghantam pagar geladak, dan langsung pingsan.
Sepasang Iblis dari Gelang-gelang semakin tegang.
Dua anak buah Hantu Wungu dengan mudah dijatuhkan oleh orang-orang yang belum dikenalnya.
Sementara itu, Sembaga masih melayani Hantu Wungu, memancingnya untuk menyerang lebih buas lagi.
Dengan sekuat tenaga Hantu Wungu terus menyerang Sembaga tanpa mengetahui bahwa dirinya sengaja dipancing untuk menguras tenaganya.
Hingga akhirnya Sembaga mulai terlihat tidak telaten lagi.
Tiga buah pukulan beruntun begitu cepat menghantam Hantu Wungu.
Pukulan pertama sebuah tinju menghantam perutnya.
Ketika tubuh Hantu Wungu agak merendah menahan sakit di perutnya yang terasa seperti terhantam benda berat yang begitu keras, pukulan kedua kembali terasa pada sisi tulang lehernya.
Dan terakhir, sebuah tamparan menghantam persis pada tulang rahangnya.
Seperti handuk basah, Hantu Wungu ambruk lemas tak bertenaga.
Pandangan matanya seperti menjadi begitu gelap.
Dan Hantu Wungu telah tergeletak pingsan tak bergerak lagi.