Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 43

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 43

"Kita harus dapat menjegal mereka sebelum menyeberang ke Bumi Melayu," berkata seorang yang lainnya.

Ketika persekongkolan para bangsawan Melayu untuk menjegal saingan baru mereka, jung Singasari telah sampai di ujung Nusa Jawa sekitar daerah Rakata. Mereka singgah di sebuah bandar kecil yang tidak begitu ramai.

Ternyata Kebo Arema bukan hanya pandai membaca bintang, penciuman dagangnya juga dapat diandalkan. "Disinilah tempat asal pembuatan perak yang terkenal, perak asli dari Salaka," kata Kebo Arema kepada Pangeran Kertanegara, menjelaskan mengapa harus singgah di bandar ujung Nusa Jawa ini. Mereka pun singgah di Tanah Rakata.

Ternyata bukan hanya perak yang mereka dapatkan dengan harga yang menguntungkan, tetapi mereka juga mendapatkan lada dengan mutu terbaik. Bahkan, yang tidak disangka-sangka, di sini juga banyak didapat cula badak dengan harga yang begitu murah.

"Mengapa jarang sekali para pedagang berlayar sampai di bandar ini?" tanya Pangeran Kertanegara, merasa penasaran dengan keadaan bandar yang sepi.

"Inilah keuntungan kita. Para pelaut enggan berlayar sampai ke sini karena beranggapan disinilah tempat para jin dan dedemit mendirikan kerajaannya," ujar Kebo Arema sambil tersenyum. Anggapan itu memang beralasan; badai di sekitar Selat Sunda ini memang datang seperti hantu, datang seketika tanpa mengenal musim dan tidak dapat dibaca.

"Dengan cara apa kita menghadapi hantu itu?" tanya Pangeran Kertanegara.

"Lewat jalan rahasia. Sedikit pelaut yang mengetahui tentang jalan rahasia itu," kata Kebo Arema.

Matahari senja telah kembali datang. Jung raksasa bertiang layar tujuh itu pun telah mengangkat sauhnya, bersiap meninggalkan dermaga. Wajah bulan sabit bercahaya buram bersembunyi di balik awan di atas Selat Sunda di ujung malam ketika jung milik Dewata, seperti yang terlukis di Candi Beduhur, dibawa angin menyeberangi mendekati Bumi Melayu.

Mereka memang tidak menemui hantu yang mengganggu. Di keremangan malam itu, mereka melihat dua buah jung terlihat semakin mendekat.

"Bersiaplah, mungkin yang kita hadapi adalah para perompak," kata Kebo Arema kepada para prajurit yang telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Kebo Arema telah membuat tanda dengan bahasa lentera, tetapi tidak ada jawaban dari dua buah jung yang terus mendekati. Bahkan, terlihat mereka telah mematikan lenteranya. Yakinlah Kebo Arema bahwa mereka akan berbuat suatu kejahatan.

"Matikan semua lentera!" teriak Kebo Arema ketika melihat dua buah jung di depannya telah mematikan lenteranya.

Para prajurit telah siaga di sepanjang pagar geladak. Mahesa Amping berada di kanan geladak, Raden Wijaya terlihat di kiri geladak. Sementara Lawe menjaga bagian buritan. Di keremangan malam, dua buah jung terlihat telah mengapit rapat jung dari Singasari.

"Jangan biarkan mereka masuk, pertahankan kedudukan kalian!" kata Kebo Arema dari anjungan.

Jung musuh telah semakin merapat, mengunci jung dari Singasari dengan tali temali. Berhamburan orang-orang asing itu melompat ke geladak. Dan terjadilah pertempuran yang mencekam di keremangan malam di Selat Sunda itu.

Untungnya, para prajurit muda ini telah sering berlatih di atas geladak. Di pertempuran yang sesungguhnya ini, mereka telah menunjukkan segala kemampuannya. Terlihat beberapa orang dari pihak musuh yang langsung terjungkal ke dasar laut sebelum mampu menginjakkan kakinya di geladak. Namun, beberapa orang yang terlihat berkemampuan tinggi berhasil melompat setelah melukai prajurit yang menjaganya.

Tapi semua tidak lepas dari perhatian Mahesa Amping yang bertanggung jawab di kanan geladak. "Gantikan tempatku," kata Mahesa Amping kepada seorang prajurit di dekatnya dan langsung menghadang musuh yang terlihat berkemampuan tinggi.

"Akulah lawanmu!" kata Mahesa Amping sambil menangkis sebuah sabetan yang hampir saja menebas leher seorang prajurit.

"Punya nyali juga kau," kata orang itu, kaget merasakan tangannya bergetar. Tanpa kata-kata peringatan, orang itu langsung membabat perut Mahesa Amping dengan pedangnya. Mahesa Amping hanya berkelit sedikit, membiarkan pedang lawan lewat di hadapannya.

Dan di luar perhitungan lawannya, Mahesa Amping dengan kecepatan yang tak terlihat tiba-tiba saja telah menjepit pedang lawannya dengan hanya dua jari tangannya. Dengan sebuah hentakan, pedang lawan itu ditariknya ke depan. Bukan main! Tenaga tarikan itu tidak bisa ditahan oleh orang itu. Daya tarikan itu seperti berasal dari tenaga sepuluh ekor banteng. Terlihat orang itu seperti layangan ringan ditarik sorong ke depan. Dan tiba-tiba saja, sebuah tendangan dirasakan menghantam pinggangnya seperti terhantam batu bongkahan besar. Orang itu telah jatuh rebah tak bergerak lagi.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Raden Wijaya dan Lawe. Mereka tidak bermain-main lagi, tetapi berusaha secepatnya merobohkan lawan dan langsung membantu para prajurit membereskan setiap lawan yang berhasil masuk ke geladak. Tapi para penyerang masih terus menerjang masuk, membanjiri geladak.

Melihat hal ini, Pangeran Kertanegara dan Kebo Arema telah menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Dua orang murid Empu Dangka seperti terbang di atas pagar geladak, langsung menyapu bersih siapa pun musuh yang berusaha masuk menerobos.

"Mengambil madu membelah sarang," kata Pangeran Kertanegara kepada Kebo Arema sambil melompat ke jung lawan yang ada di sebelah bahu kanan geladak. Kebo Arema mengerti apa yang diinginkan Pangeran Kertanegara. Ia pun telah melompat ke jung lawan yang ada di sebelah bahu geladak.

Tidak ayal lagi, puluhan orang terlempar terkena pukulan dan tendangan Pangeran Kertanegara. Kehadiran Pangeran Kertanegara juga telah menghentikan aliran gelombang musuh ke bahu kanan geladak. Sebagaimana Pangeran Kertanegara, Kebo Arema seperti bola api di tengah lebah hitam. Siapa pun yang mendekat akan terlempar jatuh, tak mampu bergerak lagi.

"Terima kasih," kata Bhaya kepada Raden Wijaya yang telah menyelamatkan dirinya dari seorang musuh yang akan menyerangnya dari arah belakang.

"Jangan keluar dari kelompok," kata Raden Wijaya, mengingatkan Bhaya yang terlalu semangat keluar dari kelompoknya.

"Aku akan mengingatnya," kata Bhaya, yang kembali membantu ke kelompoknya.

Sedikit demi sedikit jumlah pihak penyerang sudah semakin menyusut. Pangeran Kertanegara dan Kebo Arema telah membuat musuh kocar-kacir di jungnya sendiri. Sementara musuh yang sudah terlanjur berada di atas geladak langsung terserap oleh kepungan para prajurit muda yang baru pertama kali bertempur dengan musuh sungguhan.

Mahesa Amping, Lawe, dan Raden Wijaya memang sudah dapat dipercaya. Mereka menjaga dan mengingatkan para prajurit untuk tetap berada dalam kelompoknya, melakukan penyerangan secara berkelompok, saling membantu. Para penyerang yang ada di geladak benar-benar menghadapi serangan yang rapi dan tersusun rapat. Mereka tidak mampu memecahkan barisan para prajurit Singasari yang sudah sering dilatih menghadapi serangan di lautan. Para penyerang sepertinya digiring untuk terpencar perseorangan, masuk terkunci dalam sergapan.

Lambat tapi pasti, jumlah para penyerang sudah semakin menyusut. Terlihat Lawe telah merobohkan seorang penyerang terakhir di buritan.

"Menyerahlah!!" kata Mahesa Amping di geladak kanan kepada pihak lawan yang tinggal sepuluh orang.

"Kami menyerah," kata seorang dari sepuluh orang yang sudah terkepung rapat.

Sementara di geladak kiri, tujuh orang musuh tanpa kata-kata telah melempar senjatanya.

"Tahan serangan!!" teriak Raden Wijaya, mengingatkan para prajurit untuk tidak membantai tujuh orang yang sudah melemparkan senjatanya tanda menyerah.

Para penyerang di atas geladak sudah dapat dikuasai. Mereka telah dikumpulkan dan diikat. Sementara itu di jung lawan, Pangeran Kertanegara bermaksud untuk segera menghentikan pertempuran tanpa menimbulkan banyak korban. Maka, dengan kekuatan yang ada di dalam dirinya, Pangeran Kertanegara telah mampu menghadirkan kabut putih. Dua puluh orang musuh yang tersisa telah terperangkap kabut putih yang tebal. Mereka bukan saja tidak dapat melihat, tetapi tubuh mereka telah menggigil kedinginan. Kabut itu ternyata mengandung hawa dingin yang luar biasa, melebihi dinginnya es menusuk kulit mereka.

"Menyerahlah, aku akan menghentikan penderitaan kalian," kata Pangeran Kertanegara.

Apa yang dilakukan oleh Kebo Arema di atas jung lawan? Tidak seperti Pangeran Kertanegara yang menundukkan lawannya dengan kabut putihnya, Kebo Arema telah menundukkan lawannya dengan cara yang berbeda. Lima belas orang yang tersisa yang tengah mengepung Kebo Arema benar-benar dibuat bingung. Dengan kecepatan yang luar biasa, hanya dalam hitungan detik, entah setan apa yang memindahkan, pedang para pengepung telah berpindah tangan.

"Aku dengan mudah memindahkan pedang kalian, dengan mudah pula membunuh kalian," kata Kebo Arema sambil mengangkat lima belas pedang tinggi-tinggi.

"Tuan telah berlaku murah hati, kami menyerah," kata seseorang yang membayangkan bahwa Kebo Arema dapat melakukan lebih dari itu untuk selembar nyawanya, yang juga diikuti oleh teman-temannya, menyerah tanpa perlawanan lagi.

Hari masih menyisakan malam. Tiga buah jung terlihat di atas laut malam bergelombang laju dalam layar penuh terkembang ditiup angin kencang. Disaat pagi menjelang, tiga jung itu telah sampai di pantai Pasir Seputih. Jung tidak dapat mendarat sampai ke pantai. Pangeran Kertanegara dan beberapa orang telah terlihat di atas jukung kecil mendekati pantai.

Sebuah kelompok besar menyongsong kedatangan mereka. "Siapakah penguasa di sini agar kami dapat datang menghadap?" kata Pangeran Kertanegara kepada sekumpulan orang yang datang menyongsong mereka.

"Aku Minak Gajah, penguasa tanah ini. Kisanak dapat bicara denganku," kata seorang yang terlihat paling tua tetapi masih terlihat gagah. Matanya bening dan tajam, tanda telah menguasai kekuatan tenaga dalam yang tinggi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment