Chapter 11
"Di mana aku?" berkata Kertanegara ketika membuka matanya kepada seorang yang ada di dekatnya. Kerut di wajah dan warna putih rambutnya menandakan bahwa orang itu sudah berumur. Namun, tubuhnya masih begitu tegap, kokoh, dan berotot, sangat berlawanan sekali dibandingkan dengan wajah dan rambutnya yang sudah putih seluruhnya. Namun, sinar matanya begitu lembut dan bening, sebagaimana bayi yang baru terlahir.
"Sudah tiga hari anakmas tidak sadarkan diri," berkata orang tua itu kepada Kertanegara. Dan Kertanegara pun mulai mengingat segalanya. Pertempurannya dengan pemimpin perompak, juga teriakan yang begitu memilukan dari seorang gadis yang sepertinya masih terngiang di telinganya.
Ketika Kertanegara ingin mengangkat badannya, sepertinya tidak ada kekuatan yang dapat digerakkan. "Tetaplah berbaring, anakmas belum pulih sama sekali," berkata orang tua itu meminta Kertanegara untuk tidak banyak bergerak. "Racun pedang ikan pari," berkata Kertanegara, teringat sebuah goresan pedang pemimpin perompak yang telah melukai bahunya.
"Racun itu sudah punah, maafkan aku anakmas, terpaksa aku menutup jalan darah di kepala anakmas untuk menghindari hal yang tidak diinginkan dari bisa racun ikan pari yang sangat keras itu," berkata orang tua itu, berhenti sebentar, kemudian berkata lagi, "pilihan yang sangat berat, bila aku tidak melakukannya anakmas tidak tertolong, tapi bila aku melakukannya anakmas akan menjadi lumpuh."
"Aku lumpuh?" berkata Kertanegara sambil menggerakkan seluruh tubuhnya. Dan apa yang dikatakan orang tua itu benar apa adanya. Kertanegara tidak dapat menggerakkan seluruh anggota badannya. Kedua kakinya, kedua tangannya, juga leher kepalanya.
"Aku lumpuh?" kembali Kertanegara berkata kepada orang tua itu. "Kuatkan hati anakmas, aku akan berusaha mengobati. Mudah-mudahan Gusti Kang Maha Cipta memberi jalan terang bagi usaha kita," berkata orang tua itu dengan begitu sarehnya.
Sementara Kertanegara, yang telah dicekam oleh perasaan keputusasaan, seperti tersiram air dingin yang menyejukkan, mendengar ucapan orang tua itu. Kembali ada api semangat untuk dapat sembuh kembali. Meyakinkan diri bahwa tidak ada sakit yang tidak ada obatnya.
"Keyakinan dan kepasrahan yang tinggi hanya tercurah hati ini kepada Gusti Kang Maha Agung, adalah sumber obat yang paling mujarab," kembali kata-kata orang tua itu menyejukkan hati Kertanegara, sepertinya dapat membaca apa yang dipikirkan oleh Kertanegara di dalam hatinya.
Kertanegara dan orang tua itu menjadi begitu akrab, bahkan menjadi begitu dekat seperti seorang ayah dan anak. Orang tua itu pun banyak bercerita tentang dirinya. Dikatakan bahwa dulu ia tinggal dan dibesarkan di daerah tanah Brantas. Hingga pada suatu hari ada musibah besar air laut setinggi pohon kelapa bingung arah menerjang daratan.
Semua keluarganya menghilang. Hanya ia, saudara kembarnya, dan kakeknya yang selamat. Karena pada saat kejadian ia bersama kakek dan saudara kembarnya tengah berkunjung ke rumah salah seorang kerabat dekat kakeknya di Panawijen bernama Empu Purwa.
"Namaku Dangka," berkata orang tua itu. "Namaku Kerta," berkata Kertanegara. "Dari mana asalmu Kerta?" bertanya orang tua itu yang bernama Dangka. "Tumapel," berkata Kertanegara, masih merahasiakan dirinya adalah seorang Pangeran Putra Mahkota.
Dari hari ke hari, orang tua itu merawat Kertanegara. Ternyata orang tua yang ditakuti oleh pemimpin perompak yang menyebut namanya dengan sebutan nelayan bercaping itu juga seorang tabib yang hebat. "Jamur kayu hitam ini akan menguatkan jantungmu, dan daun nangka putih ini berguna untuk mengembalikan kerja syarafmu," berkata orang tua itu kepada Kertanegara, memberi keterangan kegunaan air seduhan racikannya.
Bukan cuma itu, orang tua itu pun banyak bercerita tentang berbagai tumbuhan serta khasiatnya, seperti daun dewa, daun sambung nyawa, atau bunga wijaya kusuma yang hanya berbunga setahun sekali di malam hari. Anehnya Kertanegara merekam semua ucapan orang tua itu yang begitu terinci, seperti membedakan bentuk daun waru dan daun jati merah.
Kertanegara tidak pernah jemu meminum obat dari orang tua itu yang sesungguhnya biasa dipanggil oleh kerabatnya sebagai Empu Dangka. Hatinya menjadi begitu tersentuh melihat kesungguhan Empu Dangka merawat dirinya. Genap satu bulan Kertanegara berada di gubuk sederhana itu. Akhirnya pengobatan Empu Dangka telah mulai terlihat. Kertanegara telah dapat menggerakkan jari-jari kaki dan tangannya.
Bukan main senangnya Empu Dangka melihat perkembangan itu. Pada hari ketujuh selanjutnya, Kertanegara sudah dapat menggerakkan seluruh tubuhnya. Dan tiga hari kemudian Kertanegara sudah dapat bangun dari duduk di pembaringannya. "Jangan terlalu memaksakan diri, biarkan tubuhmu menguatkan dirinya sendiri," berkata Empu Dangka kepada Kertanegara yang tengah berusaha berdiri.
Demikianlah, dari hari ke hari Kertanegara merasakan perubahan kekuatan dirinya. Bukan main senang hatinya ketika di suatu pagi dapat bangun dan berdiri di atas kedua kakinya. Empu Dangka membuatkan dua buah tongkat penyangga. Melatih Kertanegara berjalan. Bukan main senangnya hati Kertanegara dapat berdiri di pinggir sungai yang airnya begitu jernih.
Yang selama ini hanya didengar suara arus dan riaknya air membentur batu besar. Beberapa hari kemudian, Kertanegara telah dapat berjalan perlahan tanpa bantuan tongkat penyangga. "Turun dan mandilah di sungai sepuasmu," berkata Empu Dangka kepada Kertanegara. Seperti anak kecil, Kertanegara berdiri di sungai yang tidak dalam itu. Berjalan kesana kemari dengan senangnya. Sepertinya tidak pernah menjadi jemu.
Hangatnya sinar matahari menambah kegembiraan hati Kertanegara. Begitulah Kertanegara berlatih diri setiap hari berjalan di dalam air sungai, keutuhan dan kekuatan tubuhnya telah kembali seperti sedia kala. Namun masih terus berlatih hingga bahkan dapat berlari melawan arus sungai yang deras.
"Kerta, anakku," begitulah Empu Dangka memanggil Kertanegara. "Usiaku sudah semakin rapuh, aku ingin memberikan sedikit ilmu yang ada ini kepadamu," berkata Empu Dangka kepada Kertanegara. "Semoga berguna dan bermanfaat untukmu," sambung Empu Dangka melanjutkan.
Kertanegara hatinya menjadi bimbang, sebulan lebih perjalanannya tertunda, terbayang wajah Menik Kaswari yang kecewa, akan menyangka dirinya sebagai seorang lelaki yang tidak berani memperjuangkan arti sebuah cinta. "Tataran ilmuku masih begitu rendah," berkata Kertanegara dalam hati, mengingat kembali pertempurannya dengan Daeng Bahar.
Kertanegara mencoba menjenguk hatinya yang paling dalam, sepertinya hati ini begitu berat untuk memilih menyetujui keinginan orang tua di depannya yang menginginkan dirinya mewarisi ilmunya. "Apa artinya seorang Raja bila masih takluk dan gentar melawan sekelas perompak jalanan," pikiran Kertanegara kembali memberi beberapa pertimbangan.
"Mudah-mudahan diriku ini tidak mengecewakan," berkata Kertanegara kepada Empu Dangka sebagai jawaban menerima tawarannya. "Aku ingin melihat sejauh mana tataran ilmu yang sudah kau miliki," berkata Empu Dangka kepada Kertanegara, meminta untuk memperlihatkan sejauh mana tataran yang dimiliki.
Kertanegara dan Empu Dangka mencari tempat yang agak terbuka. Mereka mendapatkan sebuah tempat yang mereka inginkan. Matahari pada saat itu masih belum naik ke puncak langit. Hembusan angin seperti hangat menyentuh tubuh. Seekor burung Kepodang kuning hinggap di batu sungai. Meneguk sedikit air sungai yang mengalir bening.
Burung Kepodang kuning itu pun terbang kembali, mungkin menemui kekasihnya yang begitu lama menunggu. Kertanegara telah mempersiapkan dirinya, semula gerakannya mengalir lambat tanpa kekuatan. Namun semakin lama menjadi semakin cepat dan keras karena dilakukan dengan segenap tenaga yang ada. Peluh bercucuran di seluruh tubuhnya.
Dan akhirnya kecepatan gerakannya pun perlahan berkurang, semakin lambat dan akhirnya berhenti. "Kerta, apa hubunganmu dengan Empu Purwa?" bertanya Empu Dangka. "Beliau dapat dikatakan sebagai buyut guruku," berkata Kertanegara. "Sudah kuduga, ternyata kita berasal dari perguruan yang sama," berkata Empu Dangka, manggut-manggut.
"Ditangan Empu Purwa dan keturunannya, ilmu itu telah berubah dari watak aslinya," berkata Empu Dangka melanjutkan. "Aku belum mengerti apa yang Empu maksudkan," berkata Kertanegara, tidak mengerti maksud perkataannya. Karena sebagai seorang yang selama ini menekuni jurus ilmu yang diwarisi langsung dari ayahnya, secara pribadi membanggakan aliran ilmunya.
Apalagi sering Ayahnya sendiri banyak bercerita, begitu tingginya ilmu yang dimiliki oleh Mahesa Agni tidak terlawan oleh siapapun pada jamannya. "Apakah permainan jurusku ini buruk?" berkata Kertanegara. Empu Dangka tertawa terpingkal-pingkal.
"Apakah kamu mendengar aku berkata seperti itu?" balik bertanya Empu Dangka kepada Kertanegara. "Aku hanya bertanya," berkata Kertanegara, dibalas senyuman oleh Empu Dangka. "Pada dasarnya sebuah ilmu akan terus menuju ke arah kesempurnaan, jurus yang kamu mainkan sudah begitu menjadi sempurna.
Terus terang aku mengagumi bahwa ilmu itu telah disempurnakan. Namun perubahan ilmu itu telah menyesuaikan dirinya sebagaimana watak pemiliknya. Yang kulihat perubahannya menjadi begitu keras, sementara watak asli dari ilmu perguruan kita adalah sebuah kelembutan. Melawan kekerasan dengan kelembutan. Melawan kekuatan tanpa kekuatan," berkata Empu Dangka.
"Aku mohon petunjuk dari Empu," berkata Kertanegara, paham apa yang dikatakan oleh Empu Dangka. "Aku seperti melihat watak asli dari Empu Purwa, lewat jurus yang kamu mainkan," berkata Empu Dangka. "Kakekku Empu Brantas banyak bercerita tentang siapa sesungguhnya Empu Purwa.
Seorang yang berwatak keras, kadang tidak mampu mengendalikan dirinya. Apalagi bila harga dirinya yang direndahkan, ia tidak akan mudah menerima dan mengalah. Apakah ayahmu tidak pernah bercerita tentang hancurnya bendungan Panawijen?" bertanya Empu Dangka kepada Kertanegara.