Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 14

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 14

Sang fajar telah bersinar terang, cahayanya masuk di antara lubang langit-langit gua seperti pedang panjang menembus bumi.

"Ada air yang menetes di ujung sebelah kanan gua ini, air itu dapat mengenyangkan perut kita," kata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

Cahaya di dalam gua menjadi lebih terang sebagai tanda di luar sana matahari sudah berada di puncaknya.

Hari itu Mahesa Murti tengah memberikan pemahaman kepada Mahesa Amping tentang alam semesta di luar dirinya, segala wujud, dan sifatnya.

"Kenalilah melalui wujud dan sifatnya, kamu dapat merasakan bahwa wujud dan sifatnya ada juga di dalam dirimu," kata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping. "Hari ini tugasmu adalah menembus dan mengenali alam sebagai wujud bersama sifatnya," lanjut Mahesa Murti.

"Lakukanlah," kata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping setelah memberi penjelasan tentang apa yang harus dilakukannya.

Terlihat Mahesa Amping tengah melaksanakan sebuah laku.

Sementara itu, Mahesa Murti dan Raden Wijaya ikut mendampingi Mahesa Amping untuk memberikan dukungan batin, berharap Mahesa Amping berhasil dalam tahap pertamanya untuk mengenali alam dalam wujud dan sifatnya di dalam dirinya.

Matahari telah bergeser di ujung senja, cahaya di dalam gua telah menghilang.

Kegelapan menyelimuti isi gua.

Tiga orang di dalam gua itu seperti arca Buddha dalam sila sempurna.

Malam terus berlalu, kegelapan begitu pekat di dalam gua. Jangankan melihat sekitarnya, melihat wujud diri sendiri pun tidak mampu.

Mahesa Amping hanya merasakan dirinya dalam wujud kesendirian.

Mulailah dirinya berkelana mengenal alam di sekitarnya, di dalam wujud dan sifatnya.

Tanpa terasa, waktu terus berlalu.

Sedikit cahaya kemerahan mengisi lubang di atas langit-langit adalah tanda bahwa sang fajar telah kembali datang.

"Katakan apa yang telah kamu rasakan," kata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping yang sudah terbangun dari lakunya.

Mahesa Amping pun menceritakan segala yang dirasakannya tanpa sedikit pun yang terlupakan.

"Puji syukur kepada Gusti Yang Maha Pencipta, perjalanan pertamamu telah sampai di dalam bimbingan-Nya," kata Mahesa Murti setelah mendengar apa saja yang dirasakan oleh Mahesa Amping.

"Beristirahatlah," kata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

Setelah melihat Mahesa Amping telah cukup beristirahat, Mahesa Murti kembali memberikan beberapa penjelasan tentang apa yang harus dilakukan oleh Mahesa Amping.

Sementara itu, Raden Wijaya yang ikut mendengarkan seperti teringat kembali bagaimana dirinya memasuki tahap kedua ini.

"Semua yang berwujud di alam adalah semu, semua akan kembali kepada-Nya. Janganlah takut melihat ketiadaanmu, karena yang tiada itu sebenarnya ada, dan yang ada itu sesungguhnya tiada," kata Mahesa Murti memberikan tuntunan kepada Mahesa Amping sebagaimana pernah dialami Mahesa Murti sendiri ketika membuka sebuah laku rahasia.

"Mari kita memulainya lagi," kata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping.

Seperti sebelumnya, Mahesa Murti dan Raden Wijaya ikut membantu memberi dukungan batin kepada Mahesa Amping dengan ikut melaksanakan sebuah laku.

Pelan-pelan cahaya matahari sudah tidak tampak kembali, malam pun datang merayap, mengisi gua dalam kepekatan.

Tiada suara, begitu hening, tiada terdengar suara napas sedikit pun.

Sepertinya di dalam gua tidak ada yang menghuni, begitu sepi.

Waktu memang sebuah ukuran dunia, ia tidak pernah menjadi lebih cepat maupun lebih lambat.

Namun, hitungan waktu di dalam gua seperti sudah terlupakan.

Keberadaannya terwakili oleh warna gelap dan warna terang.

Ketika warna di dalam gua menjadi terang, mereka beristirahat sejenak, lalu kembali dalam sikap sebuah laku.

Tidak terasa mereka sudah memasuki hari keempat.

Mahesa Amping sudah akan memasuki tahap akhir dalam lakunya: mengenal dan mengerti bagaimana menghimpun hawa murni di dalam tubuh.

Mengendalikannya menjadi kekuatan di luar wadagnya.

Meniadakan bobot tubuh seperti kapas diterbangkan angin, atau menjadikan bobot tubuh berat menjadi puluhan kati.

Hari itu warna gua sudah begitu terang. Manakala Mahesa Murti dan Raden Wijaya membuka mata, bukan main terperanjatnya mereka.

Mahesa Amping tidak ada di dekat mereka. Ternyata Mahesa Amping tengah melayang dalam posisi sila sempurna dua jengkal di atas kepala mereka, masih dalam keadaan mata terpejam. Mahesa Murti pun segera berdiri menyentuh sedikit pundak Mahesa Amping dengan jari telunjuknya.

Perlahan tubuh Mahesa Amping turun kembali di tempatnya.

Mahesa Amping pun telah membuka matanya.

"Lakumu telah selesai, ternyata kamu dilahirkan dengan bakat istimewa melampaui orang biasa," kata Mahesa Murti penuh rasa gembira.

"Terima kasih, semua atas dukungan Kangmas dan Raden tentunya," kata Mahesa Amping penuh rasa syukur telah melewati tahap demi tahap sebuah laku rahasia.

"Hijab yang menutupi alam alit telah terbuka, jangan kamu tinggalkan laku ini di mana pun kamu berada," kata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping.

"Berlatihlah untuk mengenal lebih dalam lagi kekuatan yang tak terhingga yang dapat kalian ungkapkan dalam bentuk apa pun," kata kembali Mahesa Murti tidak hanya kepada Mahesa Amping, tetapi juga kepada Raden Wijaya yang meresapi setiap kata Mahesa Murti sebagai pusaka guru yang bermakna dalam, saat itu dan mungkin juga di saat mendatang.

Matahari telah turun dari puncaknya, angin di bukit karang bertiup begitu kencang.

Tiga sosok tubuh menuruni lereng bukit karang dengan begitu ringannya.

Kadang mereka melompat jauh dari satu tempat ke tempat lain seperti kambing gunung yang tidak pernah takut jatuh, berlompatan menjejakkan kakinya dari satu sisi ke sisi lainnya.

Dalam waktu singkat mereka sudah sampai di kaki bukit karang.

Mahesa Murti, Mahesa Amping, dan Raden Wijaya tampak tengah berjalan kembali ke Padepokan Bajra Seta.

Wajah mereka begitu ceria, sepertinya tidak ada yang luput dari pandangan mereka selain keindahan: melihat anak kijang yang baru lahir berjalan terpincang-pincang, mendengar perkutut liar merayu dan memanggil sang betina dengan suaranya yang panjang.

Bahkan perkelahian dua ekor burung jantan di angkasa menjadi sesuatu yang mengasyikkan untuk ditonton.

Ketika senja melukis cakrawala dalam warna keteduhan, Mahesa Murti, Mahesa Amping, dan Raden Wijaya telah sampai kembali di Padepokan Bajra Seta.

Hari itu, seperti hari sebelumnya, di saat matahari sudah mulai bosan menatap bumi dari puncaknya.

Burung-burung liar berlindung di pepohonan yang rindang setelah sepanjang siang mencari makanan.

Mahesa Amping, Raden Wijaya, dan Sembaga berada di tepian sungai yang teduh untuk berlatih.

"Akhirnya, Mahesa Amping sudah dapat mengungkapkan tenaga cadangannya," kata Sembaga kepada dirinya sendiri ketika melihat serangan-serangan Mahesa Amping bagai angin yang menderu berlatih bersama Raden Wijaya.

Raden Wijaya memang menjadi agak sibuk mengelak dari serangan Mahesa Amping yang beruntun, begitu cepat, dan penuh dengan kekayaan gerak yang kadang membingungkan Raden Wijaya.

Tapi ketenangan Raden Wijaya ternyata menjadi modal tersendiri. Dengan ketenangannya ia dapat berpikir jernih, meloloskan diri dari setiap sergapan Mahesa Amping dan langsung menyerang balik.

Kekuatan dan kecepatan gerak mereka seimbang.

Kelebihan tipis dari Mahesa Amping terletak pada kesempurnaan gerak dan pengalaman bertempurnya.

Seperti dua ekor banteng yang sedang bertempur, tidak terlihat sedikit pun kelelahan di wajah mereka.

Ketika warna senja telah turun menyelimuti hamparan tepian sungai, latihan mereka baru berhenti.

"Hari ini aku tidak kebagian berlatih," kata Sembaga dengan bersungut-sungut.

"Besok aku akan menantang kalian berdua sekaligus," lanjut Sembaga.

"Hadiah apa yang akan Paman Sembaga berikan kepadaku bila sebuah pukulanku menembus tubuh Paman?" kata Mahesa Amping kepada Sembaga.

"Aku akan menghadiahkan sebuah bogem mentah langsung," kata Sembaga yang disambut tawa oleh Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

Demikianlah, dari hari ke hari, Mahesa Amping dan Raden Wijaya terus berlatih.

Di tepian sungai, di sanggar tertutup, atau di beberapa tempat di alam terbuka lainnya di bawah pengawasan Sembaga dan Mahesa Murti.

Kehadiran Sembaga dalam latihan-latihan mereka telah banyak menambah kekayaan dan pengalaman mereka dalam pertempuran yang sebenarnya.

Sementara itu, Mahesa Murti dengan hati-hati dan sedikit demi sedikit membangunkan kesadaran mereka untuk dapat mengungkapkan kekuatan tak terhingga yang ada di dalam diri.

Dan kekuatan itu pun akhirnya terbangun.

Raden Wijaya sudah dapat mengungkapkan kekuatan hawa panas dari dalam dirinya.

Dari hentakan tangannya akan meluncur angin panas yang bergulung-gulung menghanguskan apa pun yang menghadang.

Sementara itu, sebagaimana pernah dikatakan oleh Mahesa Murti bahwa Mahesa Amping mempunyai bakat yang istimewa, bakat di luar orang biasa.

Diam-diam ia telah menemukan rahasia membangunkan hampir semua kekuatan yang dapat diungkapkan sesuai dengan keinginannya.

Membangunkan hawa dingin yang dapat membekukan, membangunkan hawa panas yang dapat membakar apa pun yang ada di sekelilingnya.

Dan yang lebih mengerikan lagi adalah sorot matanya yang dapat meremukkan kerasnya batu.

"Penuhilah hati kalian dengan hawa kasih, dan jalanilah kehidupan kalian dengan budi. Jauhilah hati kalian dari nafsu angkara, karena di situlah sumber petaka dan bencana," kata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya dan Mahesa Amping pada suatu malam di sebuah tempat alam terbuka yang jauh dari kehidupan dan Padepokan Bajra Seta.

Sebuah tempat yang sering mereka singgahi untuk berlatih meningkatkan tataran ilmu Raden Wijaya dan Mahesa Amping selapis demi selapis menuju ke arah kesempurnaannya.

Di suatu hari, matahari saat itu sudah rebah di ujung senja.

Warna cakrawala dikuas bening redup tanpa desiran angin sedikit pun.

Gambar pohon randu yang bercabang banyak di sudut depan dinding Padepokan Bajra Seta tampak seperti patung arca.

Tidak ada satu pun helai daun yang bergerak.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment