Chapter 32
Napasnya seketika menjadi sesak, langsung roboh lemas di tempat. Sementara yang lain masih sempat menutup rapat hidung mereka sambil menjauhi arah angin.
Kertanegara langsung menerapkan ilmunya. Sebuah angin deras meluncur ke segenap penjuru, membersihkan asap beracun. Dengan cepat pula mata Kebo Arema menemukan arah sumber asap. Tubuh Kebo Arema seperti anak panah langsung meluncur ke arah sumber asap beracun tersebut.
Ternyata dugaan Kebo Arema tidak meleset. Ada sebuah tabunan api ditemukan masih menyala. Dengan cepat ia menutup tabunan api itu dengan tanah basah. Bara api itu pun seketika padam.
Mata Kebo Arema mencoba menyusuri semak dan kepekatan hutan. "Mereka datang dari arah sungai," kata Kebo Arema kepada dirinya sendiri, mencoba menerka siapa dan dari mana orang yang menyebarkan racun itu datang. Maka Kebo Arema langsung berlari ke arah tepi sungai.
Namun sudah terlambat, sebuah jukung sudah jauh meninggalkan tepian. Hanya punggung mereka yang masih terlihat di kejauhan dan tidak mungkin dapat dikejar.
Kebo Arema kembali ke tengah hutan dengan hati berdebar, seorang saudaranya sudah terkena asap beracun.
"Ia masih hidup," bisik Bhaya menenangkan perasaan Kebo Arema sambil menunjuk saudaranya yang tengah diberikan tetesan air rendaman Kayu Aji Batu Keling pemberian dari Empu Dangka yang selalu dibawa oleh Kertanegara.
Ternyata Kayu Aji Batu Keling sangat mujarab menawarkan segala jenis racun. Setelah beberapa tetes air rendaman Kayu Aji Batu Keling masuk lewat bibirnya, terlihat kulit tubuhnya yang semula putih pucat kembali memerah, napasnya kembali teratur seperti sedang tertidur nyenyak.
Akhirnya mereka memutuskan untuk sementara menghentikan kegiatan kerja, menunggu saudara mereka sehat kembali.
"Kita beristirahat di sini, menunggu perkembangan kesehatan saudara kita," kata Kebo Arema meminta semuanya beristirahat.
"Mulai sekarang kita harus selalu waspada, mereka tidak akan berhenti sampai di sini," ujar Kertanegara.
"Dengan kejadian ini mataku sudah terbuka, ternyata ada juga orang Singasari yang tidak menginginkan kerja besar ini terwujud," kata Kebo Arema.
"Yang mereka inginkan adalah kegagalanku," sahut Kertanegara.
"Apakah Pangeran sudah dapat menduga, siapa di balik semua ini?" bertanya Kebo Arema.
"Sejauh ini aku sudah dapat menduga siapa dan apa yang mereka inginkan," jawab Kertanegara.
Kebo Arema tidak mendesak siapa orang di balik semua ini kepada Kertanegara. Ada sesuatu hal lain sehingga Kertanegara masih harus menyimpan rahasia siapa dalang yang berusaha menggagalkan kerja mereka.
Paherangi, demikian nama saudara mereka yang terkena racun, terlihat bangun dan hendak bangkit berdiri. "Beristirahatlah, jangan banyak bergerak," kata Kebo Arema sambil membantu Paherangi bersandar di sebuah batang pohon.
Malam pun akhirnya datang berangsur menutupi Hutan Porong dengan kegelapan.
"Biarlah aku dan Bhaya berganti jaga, tenaga kalian sangat diperlukan esok hari," kata Kertanegara meminta semuanya untuk beristirahat. "Bangunkan aku," pesan Kertanegara kepada Bhaya yang mendapat tugas jaga pertama.
Sepanjang malam tidak ada yang mengganggu mereka hingga pagi menjelang. Berdasarkan pengalaman hari pertama, maka mereka mulai mengatur siapa yang bekerja dan siapa yang harus berjaga. Sementara itu, Paherangi yang terkena asap beracun sudah merasa sehat dan dapat bekerja kembali.
"Terima kasih, Pangeran," kata Paherangi yang sudah mengetahui siapa yang menyembuhkannya. "Tanpa Pangeran, mungkin aku tidak dapat lagi memandang cahaya pagi hari ini."
"Tidak perlu mengucapkan terima kasih, bukankah kita bersaudara?" balas Kertanegara yang ikut merasa gembira melihat Paherangi sehat sebagaimana sediakala.
Mereka pun kembali bekerja, membuka hutan agar batang kayu jati merah dapat dikeluarkan. Sementara itu, Bhaya yang mahir memanjat tengah membuang cabang pohon jati merah. Sebatang demi sebatang cabang pohon kayu jati jatuh terpangkas hingga akhirnya tinggal pokok batangnya saja yang masih berdiri menjulang tinggi.
Setelah pembukaan jalan dirasa mencukupi, mereka pun secara bergantian mulai memotong pokok batang kayu jati merah. Tali tambang besar pun telah terikat di batang pohon jati merah, siap untuk ditarik. Sementara itu, di sepanjang jalan telah ditebarkan balok kayu bulat yang berfungsi sebagai roda untuk menggelinding manakala pokok batang kayu jati sudah rebah di atasnya.
Kraak! Bum!
Terdengar suara batang pohon jati merah jatuh ke bumi dengan suara yang luar biasa kerasnya. Tanah pun terasa bergetar ketika batang pohon kayu jati merah yang besar itu rebah. Akhirnya batang pokok kayu jati itu pun sedikit demi sedikit bergeser sampai ke tepian sungai.
"Besok kita datang kembali mengambil beberapa cabang batang yang sudah terpangkas. Pantang dipisahkan tulang pokok dan tulang rusuk jung, harus berasal dari pohon yang sama," kata Kebo Arema kepada Kertanegara yang langsung mengerti bahwa batang pokok dan batang cabang itu akan ditatah nantinya sebagai tulang pokok dan tulang rusuk Jung.
Dua buah jukung terlihat meluncur menarik batang pohon yang panjang. Arus Sungai Porong yang mengalir ke arah Sungai Brantas sangat membantu mempermudah kerja mereka. Namun ketika jukung mereka masuk ke aliran Sungai Brantas, mereka harus melawan arus. Tapi para suku air adalah pendayung ulung, sepertinya mereka tidak merasakan kesukaran. Perlahan tapi pasti, jukung mereka terus bergerak menuju Bandar Canggu tempat mereka telah mendirikan sebuah galangan besar di tepian Sungai Brantas.
Namun semangat mereka seakan terbang mendapati kenyataan. Terlihat galangan yang mereka kerjakan siang dan malam selama sepekan telah berubah menjadi tumpukan abu.
"Kemarin malam ada yang membakar galangan kita," kata salah seorang dari suku air. "Api sudah membesar, tidak mungkin lagi diselamatkan."
"Di mana kalian ketika kebakaran ini terjadi?" tanya Kebo Arema menatap semua saudaranya dari suku air yang tidak ikut bersamanya ke Hutan Porong mencari pohon jati merah.
Semua saudaranya dari suku air tampak tertunduk. "Sirep mereka begitu kuat, semua saudaramu tertidur. Kami sendiri datang terlambat, galangan sudah setengahnya terbakar api," kata Senapati Mahesa Pukat yang juga hadir di tempat itu, menjelaskan dan meminta pengertian Kebo Arema untuk tidak menyalahkan sepenuhnya kepada saudaranya.
"Siapapun mereka, tujuannya hanya satu: untuk mematahkan semangat kita. Tunjukkan kepada mereka bahwa kita bukan orang yang gampang menyerah," kata Kertanegara memberi semangat.
Ternyata kata-kata Kertanegara seperti siraman minyak yang mengobarkan api semangat di dada para suku air. Keesokan harinya mereka sudah bekerja kembali membuat galangan dengan penuh semangat, seakan ingin menunjukkan bahwa mereka tidak mudah dipatahkan.
Kejadian terbakarnya galangan di dekat Bandar Canggu itu pun sebentar saja sudah menggema sampai ke pelosok nagari. Semua orang membicarakannya. Beberapa orang bahkan mengaitkan kejadian itu dengan kosongnya singgasana di Kediri.
"Ada yang ingin menjatuhkan nama Pangeran Kertanegara," kata seorang saudagar di sebuah kedai.
Ternyata semua sudah diperhitungkan dengan matang oleh Pangeran Kertanegara. Jauh sebelum pembuatan galangan, Pangeran Kertanegara sudah menduga akan ada usaha yang menginginkan kegagalannya. Itulah sebabnya galangan pembuatan jung sengaja berada tidak jauh dari Bandar Canggu. Di situlah pusat berita.
Dan nama Pangeran Kertanegara telah menjadi pusat berita; usaha pembakaran galangan justru menyuburkan rasa simpatik dari banyak orang. Siapapun yang lewat di tepian Brantas pasti akan melambaikan tangannya, sepertinya ingin menyemangati agar terus bekerja dan jangan mundur. Orang-orang suku air pun merasa tersanjung dan bangga bekerja bersama pahlawan mereka, Sang Putra Mahkota.
"Gila!" seru seorang yang beralis tebal di sebuah kedai di Bandar Canggu sambil menggebrak meja.
Tiga orang kawannya tampak terdiam penuh rasa gentar menghadapi pimpinan mereka itu. Sementara itu kedai sedang sepi, hanya ada mereka berempat. Pemilik kedai tidak terlihat, mungkin sedang sibuk di dapur belakang.
"Usaha kita berbalik arah, bahkan telah membuat namanya melambung tinggi," kembali orang itu berkata, yang ditanggapi oleh ketiga kawannya dengan menundukkan kepala lebih dalam lagi.
Salah seorang dari mereka terlihat lebih berani dibandingkan kedua kawannya, ia mengangkat kepalanya. "Harusnya kita tidak cuma membakar, tapi menghabisi mereka semua di saat sirep kita bekerja."
"Bagus!" kata pemimpin mereka yang sepertinya mendapatkan rencana baru.
Seekor elang terus berputar di padang perburuannya. Sekali-kali mengepakkan sayapnya yang panjang. Matanya yang tajam terus mengawasi, menanti saat yang tepat untuk menukik menyambar mangsanya yang lengah. Suara pekik elang jantan kadang menggetarkan dada.
Gema terbakarnya sebuah galangan di tepian Sungai Brantas juga telah terdengar jauh sampai ke Padepokan Bajra Seta.
"Mudah-mudahan kehadiran kalian dapat memberikan dukungan bagi Pangeran Kertanegara. Sampaikan salamku kepadanya," kata Mahesa Murti ketika melepas Raden Wijaya, Mahesa Amping, dan Lawe yang akan berangkat ke Bandar Canggu.
Dengan menghela napas panjang, Mahesa Murti memandang punggung tiga anak muda di atas kuda mereka yang menghilang di belokan, terhalang dinding padepokan. Terbayang masa mudanya bersama Mahesa Pukat melanglang dunia. Mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya, merasakan angin segar di tengah padang ilalang, mencium bau tanah merah di perbukitan hijau.
"Masa muda yang indah," kata Mahesa Murti kepada dirinya sendiri, masih memandang jauh ke depan melampaui pintu gerbang padepokannya.