Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 151

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 151

"Meski sudah jauh dari tempat asalnya, orang Mandar tetap memegang adatnya," kata Empu Dangka yang sudah banyak melanglang ke berbagai pulau.

Sementara itu, cahaya matahari pagi sudah semakin hangat. Warna pagi sudah begitu terang ketika mereka melihat Ki Subali datang kembali.

"Bagaimana keadaan mertua dan istrimu?" tanya Empu Dangka kepada Ki Subali yang baru datang dari rumah mertuanya.

"Kulihat mereka dalam keadaan sehat, tidak kurang suatu apa pun," kata Ki Subali penuh senyum.

Terlihat Ki Subali mengambil tempat duduk, namun tidak memesan apa pun karena sudah merasa kenyang disuguhi makanan di rumah mertuanya.

"Bila kalian merasa sudah cukup beristirahat, kita dapat melanjutkan perjalanan," kata Ki Subali kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka.

Terlihat Mahesa Amping, Empu Dangka, dan Ki Subali tengah melangkahkan kakinya ke arah pantai. Sementara itu, matahari pagi di atas cakrawala langit sudah bergeser, mengangkat wajahnya seperempat naik ke permukaan hamparan laut biru.

Ombak pantai berduyun-duyun membasahi kaki mereka yang tengah mendorong perahu menjauhi pasir dangkal.

Terlihat Ki Subali adalah orang terakhir yang melompat ke dalam perahu manakala kedalaman air dirasakan telah cukup tinggi.

Semilir angin di atas perahu sepanjang pesisir pantai Jawa itu berhembus menyejukkan. Perahu kecil itu terlihat melaju, dikayuh oleh Mahesa Amping dan Ki Subali menyusuri tepian pantai timur Jawadwipa.

Kadang mereka singgah menepi di sebuah pantai sekadar melepas kepenatan, setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan dalam terik matahari atau gelapnya langit malam yang bertaburan bintang.

Akhirnya, pagi itu mereka telah tiba di Muara Sungai Porong; matahari pagi di belakang punggung mereka bersinar hangat. Hari memang telah terang. Beberapa bocah lelaki terlihat tengah berlari-lari di atas pasir putih yang lembut.

"Paman Kebo Arema pernah tinggal di sini," kata Mahesa Amping sambil menunjuk sebuah perkampungan nelayan.

"Kebo Arema seperti raja kecil di perkampungan ini, kita bisa meminjam namanya," kata Empu Dangka sambil memandang perkampungan nelayan yang terdiri dari gubuk-gubuk kecil dari bilik bambu dan beratap daun alang-alang yang berjurai. Perkampungan itu sendiri berada di bawah bukit hutan yang hijau. Sebuah pemandangan yang indah antara hamparan laut yang luas dan bukit tinggi yang hijau.

"Kami kerabat Kebo Arema, kami perlu sebuah jukung untuk sampai ke Sungai Brantas," kata Empu Dangka kepada seorang lelaki di depan gubuknya yang tengah menjemur dendeng ikan.

"Kalian kerabat Paman Kebo Arema?" tanya lelaki itu sambil tersenyum memandang tiga orang asing di hadapannya.

"Benar, kami kerabatnya," kata Empu Dangka penuh keramahan kepada lelaki itu.

"Paman Kebo Arema adalah dewa penolong bagi warga di perkampungan ini. Membantu kerabatnya adalah sebuah kebanggaan bagi kami," kata lelaki itu sambil bercerita tentang sepak terjang Kebo Arema selama tinggal di perkampungan mereka.

"Saudaraku punya dua buah jukung, mungkin dapat meminjamkannya untuk kalian," kata lelaki itu sambil mengajak Empu Dangka, Mahesa Amping, dan Ki Subali ke rumah saudaranya.

Ternyata nasib mereka sedang mujur, saudara lelaki itu bersedia memberikan jukungnya.

"Berhati-hatilah, di hutan Porong air sungai cukup deras dan berbatu," kata saudara lelaki itu.

"Terima kasih telah mengingatkan kami," jawab Mahesa Amping.

"Kapan kalian berangkat?" tanya lelaki yang mengantar mereka setelah kembali ke rumahnya.

"Setelah beristirahat cukup, siang ini kami akan berangkat," kata Empu Dangka.

"Beristirahatlah di sini," kata lelaki yang memperkenalkan diri bernama Ragil itu. Dengan penuh keramahan, Ragil menjamu ketiga tamunya di gubuknya.

"Tangkapan ikan di musim ini cukup melimpah," ujar Ragil bercerita tentang kehidupan seorang nelayan.

Ketika matahari condong sedikit dari puncaknya di muara sungai, Mahesa Amping dan Empu Dangka tengah mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan.

"Terima kasih, Ki Subali, telah mengantar kami sampai di Muara Sungai Porong ini," kata Empu Dangka kepada Ki Subali yang siang itu juga akan kembali ke seberang, ke tanah Melayu di Balidwipa.

"Sampaikan salam kami kepada Paman Kebo Arema," kata Ragil kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka yang telah berada di atas jukungnya.

"Aku akan sampaikan salammu," kata Empu Dangka sambil melambaikan tangan dari atas jukung yang mulai bergerak menjauh dari bibir sungai.

Diiringi pandangan mata Ki Subali dan Ragil, jukung yang dinaiki Mahesa Amping dan Empu Dangka telah bergerak menjauh hingga akhirnya hanya tinggal bayangan hitam. Mereka telah masuk ke dalam kerimbunan hutan Porong yang lebat, dipenuhi batang-batang pohon kayu yang besar dan tinggi serta kerap dirayapi semak belukar. Hutan itu sepertinya tidak pernah dijamah oleh tangan manusia.

"Selama manusia tidak merusaknya, selama itu pula hutan ini menjaga dan memberi kehidupan kepada manusia di dunia," kata Empu Dangka sambil menyapu pandangan di sekitar hutan yang begitu rapat.

"Gusti Yang Maha Kasih telah memberikan hutan, gunung, dan lautan untuk kehidupan manusia," sahut Mahesa Amping sambil memandang jauh ke dalam hutan yang lebat.

"Matahari sudah semakin condong," kata Empu Dangka mengingatkan Mahesa Amping bahwa cahaya di atas sungai itu sudah semakin gelap karena terhalang kerapatan hutan Porong.

"Sungai semakin dangkal dan berbatu," kata Mahesa Amping kepada Empu Dangka yang dapat menangkap kekhawatirannya.

Akhirnya, ketika cahaya di atas Sungai Porong sudah begitu gelap, mereka merapatkan jukung di sebuah tepian.

"Kita bermalam di sini," kata Empu Dangka sambil duduk di sebuah bebatuan di bawah pohon kayu besar. Terlihat Mahesa Amping membuat perapian, membuka bekal, dan mengumpulkan beberapa umbi-umbian tanaman sejenis talas yang banyak tumbuh di sekitar tepi sungai itu.

"Kamu seperti ayahku, hanya memilih kimpul mitoha," kata Empu Dangka kepada Mahesa Amping yang telah mengumpulkan umbi tersebut.

"Aku menyukainya karena rasanya sangat pulen," jawab Mahesa Amping.

Demikianlah, mereka menghangatkan diri di tepian sungai hutan Porong yang sangat lebat dan gelap. Ketika pagi menjelang, cahaya matahari masuk di antara dahan dan daun, menyinari Sungai Porong yang jernih dan berbatu.

"Kita lanjutkan perjalanan," kata Empu Dangka.

Terlihat sebuah jukung mulai bergerak menyusuri sungai yang cukup deras. Dengan mahir, Mahesa Amping mengarahkan jukungnya menghindari batu-batu besar di hadapan mereka.

"Air sungai sudah semakin dalam," kata Mahesa Amping melihat air yang disusurinya sudah tidak berbatu lagi.

"Kita semakin mendekati Sungai Brantas," kata Empu Dangka yang sangat mengenal keadaan sekitar. Ia pernah hidup lama di daerah ini dan dikenal oleh penduduk setempat sebagai nelayan bercaping yang banyak menolong sesamanya dari gangguan para begal.

Sementara itu, matahari terus bergerak ke barat membuat bayang-bayang semakin memanjang. Akhirnya, menjelang senja, mereka sampai di sebuah pertemuan sungai.

"Kita telah sampai di muka sungai pemisah dua raja," kata Empu Dangka kepada Mahesa Amping ketika jukung mereka memasuki sungai yang jauh lebih luas.

"Sungai Brantas," kata Mahesa Amping perlahan, mewakili kegembiraan hatinya.

"Kita sama-sama merindukannya," kata Empu Dangka yang dapat menangkap perasaan hati Mahesa Amping.

Cahaya senja di atas Sungai Brantas terlihat begitu teduh. Sebuah jukung melaju dikayuh oleh tangan yang kuat dan penuh semangat.

"Di pertengahan malam kita baru dapat beristirahat," kata Empu Dangka sambil memasang lentera di ujung jukung, sementara cahaya di depan mereka memang telah begitu gelap.

Terlihat Mahesa Amping mengayuh jukungnya agak menepi. Pandangan matanya yang tajam masih dapat melihat arah meski malam telah menyelimuti Sungai Brantas dan hutan di kiri-kanannya.

"Kita menepi," perintah Empu Dangka.

Mahesa Amping dan Empu Dangka menepikan jukung di pinggir hutan. Seperti biasa, Mahesa Amping membuat perapian dan membuka bekal.

"Dendeng ikan cucut dari Ragil masih ada," kata Mahesa Amping.

Sementara itu, malam di hutan tepian Sungai Brantas telah menjadi begitu kelam, diselimuti suara kesunyian yang ajeg mengisi waktu. Kadang terdengar lolongan anjing hutan atau jerit seekor tikus sebagai suara terakhirnya ketika berada di mulut ular. Namun, semua suara itu tidak mengganggu Mahesa Amping dan Empu Dangka yang terlihat merebahkan diri bersandar pada pokok pohon besar di tepian sungai.

Sang malam akhirnya pasrah menyerahkan kekuasaannya manakala fajar datang, ditandai dengan semburat warna kemerahan di ujung timur lengkung langit. Warna bumi pagi pun menjadi begitu bening dan teduh.

Mahesa Amping dan Empu Dangka terlihat sudah berada di jukung kembali. Udara pagi yang sejuk dan segar mengiringi perjalanan mereka membelah air Sungai Brantas yang jernih. Kadang mereka bertemu dengan satu-dua perahu kayu milik para saudagar yang bermuatan barang dagangan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment