Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 80

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 80

Maka Mahesa Amping pun membalas hormat itu dan melanjutkan langkahnya mendekati Raden Wijaya.

"Kupersembahkan Kembang Wijaya ini kepadamu," kata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya.

"Terima kasih, Saudaraku," sahut Raden Wijaya sambil menerima Kembang Wijaya dari tangan Mahesa Amping.

"Saatnya kita melakukan sebuah upacara," ujar Gurusuci Darmasiksa sambil mengeluarkan sebuah mangkuk yang sudah dipersiapkan berisi air penuh. "Remas bunga itu di dalam mangkuk, minumlah air yang bercampur racikan bunga itu, jangan disisakan," perintah Gurusuci Darmasiksa kepada Raden Wijaya yang langsung mengikuti semua petunjuk sang guru.

Mangkuk itu pun diminum seluruhnya oleh Raden Wijaya tanpa tersisa. Gurusuci Darmasiksa mengambil kembali mangkuk itu serta mengisinya kembali dengan air. Satu per satu orang yang ada di situ dipersilakan meneguk sedikit air di dalam mangkuk tersebut.

"Semoga kita mendapat berkah dari mangkuk ini yang pernah dipakai sebagai bejana suci Kembang Wijaya," ucap Gurusuci Darmasiksa setelah semua meneguk sedikit air. Gurusuci Darmasiksa sendiri adalah orang terakhir yang menghabiskan sisa air di dalam mangkuk itu.

"Mangkuk itu adalah lambang bejana kesetiaan; kita telah meminum dari bejana yang sama. Mulai hari ini, hati kita telah dipersatukan untuk menjaga sang pewaris dunia," kata orang tua itu yang tidak lain adalah Sang Penjaga.

"Aku berjanji," sahut semua yang ada di situ bersamaan.

Sementara itu, malam terus merayap mendekati pagi.

"Tugas sebagai Sang Penjaga telah berakhir. Bagaimana bila Guru berkenan untuk hidup dan tinggal di padepokanku?" tanya Gurusuci Darmasiksa kepada gurunya.

"Terima kasih. Tugasku sebagai Sang Penjaga tidak pernah berakhir. Pada saatnya akan datang seorang pewaris takdir yang menggantikan diriku menjadi Sang Penjaga," jawab orang tua itu.

"Guru akan menyisakan usia selamanya di tempat ini?" tanya Gurusuci Darmasiksa.

"Itulah takdir dan garis hidupku. Bila kalian rindu, pintu gua ini selalu terbuka untuk kalian," kata orang tua itu penuh senyum kebahagiaan.

Akhirnya dengan perasaan berat hati, Gurusuci Darmasiksa dan Ki Bancak memohon diri untuk meninggalkan orang tua itu. Mahesa Amping, Lawe, dan Raden Wijaya ikut memohon doa restunya.

"Adalah sebuah kebahagiaan bila mana umurku masih tersisa untuk menyaksikan penobatanmu, Sang Pewaris," kata orang tua itu kepada Raden Wijaya yang membalasnya dengan penuh hormat.

Tidak lama kemudian, rombongan kecil itu pun sudah terlihat menyusuri anak sungai yang berbatu. Jalan menurun membuat perjalanan menjadi semakin cepat. Ketika mereka tiba di muka lorong sungai, matahari pagi menyambut mereka dengan kehangatannya.

"Akhirnya Ki Bancak datang ke padepokanku secara terbuka," kata Gurusuci Darmasiksa kepada sahabatnya, Ki Bancak.

"Bilamana datang kerinduan, aku memang selalu berkunjung secara bersembunyi, hanya untuk melihat keadaan sahabatku," sahut Ki Bancak sambil tersenyum malu.

"Bila jual beli jurus di Pasundan diartikan sebagai berlatih, aku tidak keberatan," kata Mahesa Amping yang dapat menangkap maksud Ki Bancak yang hanya ingin berlatih, tidak lebih dari itu.

Akhirnya, mereka bersama-sama turun dari pendapa mencari tempat yang cukup luas di luar pendapa yang juga biasa dipergunakan para cantrik di padepokan itu untuk berlatih kanuragan.

"Silakan Mahesa Amping, kamu yang menjual," kata Ki Bancak kepada Mahesa Amping untuk memulai serangan terlebih dahulu.

"Silakan Ki Bancak menawar jurusku ini," kata Mahesa Amping sambil melakukan serangan awal lewat sebuah tendangan lurus ke depan yang mengarah ke perut Ki Bancak.

"Terlalu murah untuk dihargai," kata Ki Bancak sambil memiringkan sedikit tubuhnya. Bersamaan dengan itu, sebuah pukulan mengayun ke arah kepala Mahesa Amping. Sebuah serangan yang tidak dapat dibaca dan diperhitungkan datang begitu tiba-tiba. Tapi, Mahesa Amping memang selalu siap mengikuti setiap serangan.

Terlihat Mahesa Amping menjatuhkan diri menghindar, berbarengan dengan itu sebuah tendangan melingkar mengincar kedua kaki Ki Bancak. Tersentak kagum Ki Bancak melihat gaya Mahesa Amping menghindari serangannya dan langsung membalas dengan cepat. Terlihat Ki Bancak melompat menghindari sentuhan kaki Mahesa Amping dan membalas dengan tendangan yang menjulur mengancam kepala Mahesa Amping.

Mahesa Amping membiarkan kaki Ki Bancak mendekati sasaran. Namun, begitu kaki itu nyaris sekitar satu jari mendekatinya, dimiringkannya sedikit wajahnya dan kaki Ki Bancak lewat menembus angin. Ternyata tangan Mahesa Amping yang leluasa langsung menghantam kaki Ki Bancak yang masih mengambang.

Dess!

Kaki Ki Bancak sepertinya ditambah kecepatannya, membuat badan Ki Bancak ikut berputar. Dengan mudahnya Mahesa Amping menendang sendi kaki Ki Bancak dari belakang. Akibatnya, kaki Ki Bancak tertekuk ke depan, mendorong tubuhnya nyaris mencium tanah. Namun, dengan cepat Ki Bancak melakukan lompatan yang indah.

"Jurus yang sangat mahal," kata Ki Bancak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Sekarang akulah yang menjual," kata Ki Bancak sambil menyerang Mahesa Amping dengan sebuah tendangan kaki yang meluncur ke arah perut Mahesa Amping.

"Terlalu mahal untuk dinilai," sahut Mahesa Amping sambil memiringkan tubuhnya. Bersamaan dengan itu, meniru apa yang pernah dilakukan oleh Ki Bancak, tangan Mahesa Amping mengayun ke arah wajah Ki Bancak.

Ternyata Ki Bancak berbuat yang sama; menjatuhkan dirinya berbarengan dengan membalas serangan dengan membuat tendangan melingkar mengancam kedua kaki Mahesa Amping. Kembali Mahesa Amping meniru apa yang dilakukan oleh Ki Bancak, dirinya melompat sambil meluncurkan sebuah tendangan ke arah wajah Ki Bancak.

Mahesa Amping dapat membaca bahwa Ki Bancak akan melakukan sebagaimana pernah dilakukannya, yaitu membiarkan kakinya lewat di depan wajahnya menembus tempat kosong, lalu langsung menghantam kakinya yang berakibat kakinya akan mengayun berputar. Maka, ketika kaki Mahesa Amping yang sepertinya dibiarkan menghantam wajah Ki Bancak hanya tinggal satu jari, tiba-tiba saja Mahesa Amping menarik kembali kakinya dan berganti dengan sebuah pukulan tangan kosong ke dada Ki Bancak.

Buk!

Dada Ki Bancak terkena pukulan. Untungnya, pukulan itu hanya berlandaskan tenaga wadag, tapi cukup membuat Ki Bancak terdorong ke belakang.

"Lagi-lagi aku yang tua ini kena ditipu oleh orang muda," kata Ki Bancak sambil mencoba berdiri tegak.

Diam-diam Gurusuci Darmasiksa mengagumi gerakan tubuh Mahesa Amping yang sudah begitu sempurna, begitu lentur, dan dapat bergerak sesuka hati.

"Semuda ini sudah dapat menguasai gerakan yang begitu sempurna," kata Gurusuci Darmasiksa mengagumi Mahesa Amping.

Kembali terlihat Mahesa Amping dan Ki Bancak sudah saling menyerang. Kali ini serangan terlihat lebih cepat. Sungguh sebuah perkelahian yang indah untuk dipertontonkan, layaknya dua ekor garuda bertempur di udara. Saling menyerang dan balas menyerang, melesat dan berkelebat begitu cepatnya.

Dess!

Kembali terlihat Ki Bancak terlempar terkena sebuah tendangan dari Mahesa Amping.

"Jurusmu terlalu mahal untuk kuhargai," kata Ki Bancak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tanda mengagumi kehebatan Mahesa Amping.

"Aku belum menyerah kalah," ujar Ki Bancak yang kembali melakukan serangan.

Kembali terlihat perkelahian yang sangat seru dan begitu indah, layaknya sebuah seni pertunjukan. Duel antara dua orang yang memiliki kesempurnaan gerak tubuh yang dibarengi kecepatan. Semua mata yang melihatnya akan menarik napas panjang manakala melihat sebuah serangan cepat dan berbahaya meluncur ke salah satu lawan. Napas pun keluar lega manakala melihat lawan dapat keluar dari sergapan yang sulit dihindari.

"Tunjukkan kehebatan ilmumu yang lain, Anak Muda," kata Ki Bancak kepada Mahesa Amping.

Selesai bicara, Ki Bancak telah melepas ilmu puncaknya, Aji Geni Ngampar. Udara di sekitar itu pun tiba-tiba saja telah berubah seperti terbakar. Tubuh Ki Bancak adalah sumber panas itu sendiri, sudah seperti bara yang menyala. Bisa dibayangkan betapa panas udara di sekitar itu, apalagi bila sumber panas itu sendiri yang menerjang.

Berpikir betapa bahayanya bila serangan itu datang membakar dirinya, Mahesa Amping telah menghentakkan nalar budinya, mengungkap kekuatan terpendam yang tersembunyi lewat kepekaan naluri melindungi setiap ancaman. Tiba-tiba saja dari tubuh Mahesa Amping menguap hawa dingin bagai asap salju yang membeku. Mahesa Amping tidak lagi merasakan hawa panas yang mencekam dan melayani setiap serangan Ki Bancak sebagaimana semula, bahkan sekali-kali berani membenturkan tangan dan kakinya ke tubuh Ki Bancak.

Bukan main kagumnya Ki Bancak karena mendapatkan bahwa Mahesa Amping tidak merasakan apa pun dari hawa panas yang membara lewat Aji Geni Ngampar-nya. Gurusuci Darmasiksa berdecak kagum melihat Mahesa Amping ternyata mampu menandingi ilmu Aji Geni milik andalan perguruannya.

"Anak muda ini memang dapat diandalkan. Setidaknya ilmu Sanggrama Wijaya tidak jauh terpaut dari dirinya," kata Gurusuci Darmasiksa dalam hati.

Sementara itu, perkelahian masih terus berlanjut. Terlihat kelebatan mereka bagai burung cikatan saling menyambar di udara, bahkan kadang begitu cepatnya hingga hanya terlihat bayang-bayang hitam yang saling melesat. Mahesa Amping menghentakkan tataran ilmunya satu tingkat lagi. Dampaknya ternyata begitu luar biasa.

Dess!

Dua tangan saling beradu. Ki Bancak merasakan tubuhnya menggigil kaku karena merasakan hawa dingin yang begitu kuat menyelimuti seluruh tubuhnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment