Chapter 155
Hampir semua yang hadir saat itu sudah mengenal Mahesa Bungalan, salah satu putra Mahendra, pahlawan Singasari yang tidak disangsikan lagi kesetiaannya. Pengalamannya memimpin pasukan besar telah terbukti, antara lain dalam penumpasan beberapa gerombolan pemberontak yang mencoba mengganggu dan menguji kewibawaan Kerajaan Singasari.
"Meski dirimu tidak terjun di medan Balidwipa, kutitahkan segenap kekuasaanku kepadamu wahai sepupuku untuk menjadi pimpinan tertinggi mengatur segalanya, menyiapkan prajurit segelar sepapan, serta berwenang menggunakan perbendaharaan kerajaan," kata Maharaja Kertanegara kepada Raden Wijaya.
"Titah Baginda Maharaja akan kujunjung tinggi," jawab Raden Wijaya sambil menjura penuh kehormatan.
Demikianlah, sebuah perundingan awal pergelaran sejarah Balidwipa telah dimulai. Sementara itu, langit malam di atas pesanggrahan Ratu Anggabhaya sudah semakin larut; suara jangkrik berdengung mengisi kesunyian malam. Sri Baginda Maharaja Singasari terlihat akan beranjak untuk kembali ke pesanggarahannya. Namun, sebelum beranjak, Maharaja Kertanegara meminta Empu Dangka untuk tinggal di istana mendampinginya.
"Guru sudah sangat tua, tinggallah di istana ini mendampingiku," ujar Maharaja Singasari kepada Empu Dangka.
"Aku sangat setuju. Biarlah kita yang sudah beruban ini duduk di pinggiran menjadi pemandu," sambung Ratu Anggabhaya kepada Empu Dangka, menyetujui permintaan Sri Baginda Maharaja Singasari.
"Terima kasih telah menerima aku yang sudah rapuh ini. Semoga buah pikiranku masih dapat diabdikan di istana ini," kata Empu Dangka yang disambut gembira oleh Maharaja Singasari, Empu Nada, dan Ratu Anggabhaya.
Terlihat Maharaja Singasari yang masih muda itu telah meninggalkan pesanggrahan Ratu Anggabhaya.
"Maaf, aku akan membawa saudaraku ke pondokanku," pamit Empu Nada kepada semuanya, seraya mengajak Empu Dangka.
"Terima kasih telah meramaikan perjamuan malam ini," ucap Ratu Anggabhaya sambil mengantar kedua saudara kembar itu menuruni anak tangga pendopo pesanggarahannya.
Tidak lama berselang, Mahesa Amping dan Raden Wijaya dipersilakan untuk beristirahat.
"Beristirahatlah, mulai besok kalian sudah memasuki tugas yang panjang," kata Ki Lembu Tal kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.
Akhirnya pendapa itu menjadi begitu sepi, menyisakan dua pelita yang tergantung menerangi sekelilingnya. Sementara itu, rembulan di atas langit malam sudah semakin pudar, bergeser ke barat, dan terhalang awan tipis. Sekumpulan kelelawar malam masih terlihat satu dua melintas di udara dingin. Hawa angin malam di atas bumi Singasari yang berbukit memang sangat dingin. Namun, beberapa prajurit pengawal yang sedang bertugas malam itu sepertinya tidak memedulikan hawa dingin yang menusuk kulit; mereka tetap berjaga, meronda, dan berkeliling istana.
Pagi itu, hawa dingin yang sejuk menyelimuti bumi Singasari. Dua ekor kuda terlihat berjalan perlahan melewati pintu gerbang Kotaraja. Mereka yang berkuda itu adalah Raden Wijaya dan Mahesa Amping.
"Ingin rasanya aku terbang langsung tiba di Padepokan Bajra Seta," ujar Mahesa Amping mengungkapkan perasaan hatinya kepada Raden Wijaya.
Raden Wijaya hanya tersenyum mendengar perkataan Mahesa Amping. Kakinya menghentak perut kuda yang langsung tersentak dan berlari kencang. Mahesa Amping segera memburu lari kuda Raden Wijaya yang telah jauh meninggalkannya. Maka, terlihat dua ekor kuda tengah berlari saling berkejaran membelah padang ilalang yang luas, menaiki dan menuruni bukit-bukit kecil yang landai.
"Kukira kamu tidak kasihan kepada kudamu," kata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya yang telah berhenti di sebuah sungai kecil berair jernih.
"Bukankah kamu ingin terbang sampai di Padepokan Bajra Seta?" balas Raden Wijaya sambil tersenyum.
"Tapi tidak dengan menyiksa kuda kita sampai mati lemas," sahut Mahesa Amping sambil turun dari kudanya, membiarkan hewan itu meneguk air sungai yang jernih.
Matahari sudah semakin beranjak naik ke puncak cakrawala yang berawan putih cerah. Mahesa Amping dan Raden Wijaya terlihat sudah kembali berada di punggung kuda, tengah mendaki bukit. Mereka sepakat untuk menembus jalan pintas menuju Padepokan Bajra Seta, meski jalan yang ditempuh harus melewati beberapa perbukitan terjal, hingga sesekali mereka harus turun menuntun kuda.
Senja bening telah menyelimuti hamparan bumi ketika Mahesa Amping dan Raden Wijaya keluar dari sebuah hutan yang lebat. Di hadapannya menghadang hamparan padang ilalang dan sebuah bukit.
"Padepokan Bajra Seta tinggal setengah hari perjalanan," kata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya ketika mereka berada di tengah hamparan padang ilalang yang cukup luas.
"Kuda-kuda kita perlu beristirahat," jawab Raden Wijaya.
"Kita juga perlu beristirahat," sahut Mahesa Amping sambil melompat turun.
Mahesa Amping dan Raden Wijaya bersandar di bawah sebuah pohon besar yang dipenuhi akar-akar besar menyembul dari permukaan tanah. Kegelapan malam pun akhirnya turun menyelimuti padang ilalang.
"Beristirahatlah lebih dulu, biarlah aku yang berjaga," kata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya.
Semburat warna merah terang terlihat memancar di ujung timur bumi, hari masih gelap dan dingin. Di keremangan pagi, dua ekor kuda sudah menapaki padang ilalang yang masih basah berembun. Mahesa Amping dan Raden Wijaya kembali melanjutkan perjalanan menuju Padepokan Bajra Seta.
Ketika pagi sudah mulai berwarna bening dan semburat warna merah menyebar mengisi lengkung langit, Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah sampai di kaki bukit yang hijau. Perlahan mereka memacu kuda menyusuri jalan setapak menuju puncak bukit yang dipenuhi pepohonan rimbun. Semakin ke atas, pepohonan semakin jarang ditemui. Akhirnya, mereka sampai di atas puncak bukit datar yang dipenuhi hamparan rerumputan hijau sepanjang mata memandang. Titik-titik embun di pucuk rerumputan memercik ketika terhentak langkah kaki kuda.
Perlahan mereka menghentikan kuda, terpesona menatap hamparan sawah ladang yang menghijau di bawah bukit dalam warna pagi yang cerah, di bawah tatapan matahari yang bercahaya lembut menyinari alam. Mereka menuruni bukit di bawah siraman matahari pagi dan menyusuri sebuah bulakan panjang. Di kanan kiri mereka terhampar persawahan yang hijau, dipenuhi untaian buah padi yang sudah mulai matang menguning.
"Kita datang menjelang padi akan dituai," kata Mahesa Amping sambil menyapu pandangan ke arah hamparan sawah.
Beberapa petani yang berjalan bersisipan dengan mereka terlihat memandang ke arah mereka.
"Jangan biarkan burung pipit mencuri padi kalian," sapa Mahesa Amping kepada dua orang petani muda.
Dua petani itu melambaikan tangan setelah mengetahui dan mengenal Mahesa Amping. Akhirnya, kuda-kuda mereka sampai di muka regol pintu gerbang Padepokan Bajra Seta. Mahesa Amping dan Raden Wijaya turun dari kuda. Beberapa cantrik yang sedang menyapu halaman depan berlari menghampiri mereka.
"Selamat datang kembali di Padepokan Bajra Seta," kata salah seorang cantrik menyambut.
"Ternyata kita kedatangan tamu perwira tinggi Singasari," ujar seorang lelaki berumur yang bertelanjang dada, yang ternyata adalah Sembaga.
"Paman Sembaga, kulihat tidak bertambah tua," sapa Mahesa Amping sambil menyambut uluran tangan Sembaga.
"Kami sangat merindukan kalian," kata Mahesa Murti kepada mereka ketika sudah berada di pendapa Padepokan Bajra Seta.
Seorang wanita muda bersama seorang anak lelaki kecil keluar dari pintu butulan.
"Katakan selamat datang untuk kedua pamanmu," ujar wanita muda itu yang ternyata adalah Padmita, istri Mahesa Murti.
"Selamat datang, Paman berdua," ucap anak kecil itu dengan suara cadel.
"Mahesa Darma sudah pandai bicara," kata Mahesa Amping sambil mengangkat anak itu tinggi-tinggi. Anak itu tidak takut, malah terlihat gembira.
"Mari ikut Bunda ke dapur menyiapkan minuman untuk kedua pamanmu," ajak Padmita.
Mahesa Amping, Raden Wijaya, dan Mahesa Murti berbincang di pendapa, saling bercerita sepanjang perpisahan mereka.
"Kehadiran pasukan tidur sangat besar peranannya. Harus dapat membaca pergerakan lawan serta menentukan jalur perjalanan yang aman menuju titik kemenangan," ujar Mahesa Murti memberikan pandangannya ketika Mahesa Amping bercerita tentang tugas menguasai Balidwipa.
"Aku perlu bantuan memperkuat pasukanku," kata Mahesa Amping.
"Para cantrik di Padepokan Bajra Seta ini selalu siap sedia menjaga pilar kejayaan Singasari," jawab Mahesa Murti.
"Terima kasih Kakang, aku hanya memerlukan tiga orang terbaik di padepokan ini," kata Mahesa Amping.
Pembicaraan mereka terhenti ketika Padmita keluar dari pintu utama membawa minuman hangat dan beberapa potong ubi manis.