Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 86

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 86

"Yang memisahkan diri kita adalah wadag kasar ini, sementara bila hati ini bertaut kepada yang Maha Memiliki Alam Jagat Raya yang tak terbatas, diri kita telah disatukan, diri kita dapat dipertemukan," ujar Mahesa Murti, seolah dapat membaca apa yang dipikirkan oleh Mahesa Amping.

"Di mana pun aku berada, aku akan selalu mempusakainya," jawab Mahesa Amping penuh rasa terima kasih.

Sementara itu, malam seolah berlari membawa sang kala dalam kegelapannya. Tidak terasa hari sudah di pertengahan malam; terdengar suara kentongan menyuarakan nada dara muluk dari sebuah gardu ronda di padukuhan terdekat.

Semua yang ada di pendapa itu telah masuk ke peraduannya masing-masing untuk beristirahat menyongsong datangnya sang pagi esok hari. Ketika semburat warna merah sudah hampir merata memenuhi lengkung langit, Mahesa Amping sudah terjaga dari tidurnya. Ia segera membersihkan diri dan langsung menuju ke pendapa.

Ternyata, Mahesa Murti sudah terjaga dan duduk di pendapa mendahuluinya.

"Ternyata Kakang lebih dulu terjaga mendahuluiku," sapa Mahesa Amping kepada Mahesa Murti.

"Semakin tua, semakin sedikit tidur. Kelak kamu akan merasakannya," jawab Mahesa Murti sambil tersenyum.

Padmita terlihat datang membawa makanan dan minuman hangat. "Ada kiriman ubi manis dari pemilik kedai di pojok pasar padukuhan," ujar Padmita sembari menggoda Mahesa Amping.

"Anak gadis itu sudah disunting oleh putranya Ki Bekel. Meski begitu, kadang bila bertemu denganku, ia masih sering menanyakan dirimu," kata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping yang hanya tersenyum. Entah apa arti senyumnya, yang jelas pikirannya jauh menerawang ke sebuah tempat yang jauh di tanah seberang, tepatnya di Tanah Melayu.

Sementara itu, sang surya sudah merayap naik. Sinar matahari pagi sudah merata menghangatkan bumi, dan ujung kelopak daun bunga tidak mampu lagi menyembunyikan setitik embun. Kicau burung-burung kecil sudah ramai terdengar bersama jerit anak ayam yang berlari mengejar induknya di halaman Padepokan Bajra Seta.

"Kami semua akan merindukanmu," kata Mahesa Murti mewakili beberapa cantrik yang mengantar Mahesa Amping sampai di regol pintu gerbang padepokan.

"Kerinduan kalian akan kubawa sepanjang jalan," jawab Mahesa Amping sambil melambaikan tangan ketika kudanya sudah melangkah perlahan meninggalkan regol padepokan.

Berpasang-pasang mata mengantar dan mengiringi kepergian Mahesa Amping bersama langkah kudanya menyusuri jalan tanah panjang yang akhirnya menghilang di sebuah tikungan. Sebagaimana saat datang, Mahesa Amping kembali melalui jalan pintas, melintasi bukit-bukit kecil dan sebuah hutan panjang. Dahulu, bersama Mahesa Murti, ia sering diajak ke berbagai tempat yang jarang dilalui orang pada umumnya, dan kini ia kembali melintasi jalan penuh kenangan itu.

Terlihat kuda Mahesa Amping tengah mendaki bukit kecil yang penuh ilalang. Debu mengepul dari belakang kaki kudanya, membelah ilalang seolah berpacu mengejar matahari yang terus merayap ke puncak langit. Ketika matahari sudah menggelantung di puncak lengkung langit, kuda Mahesa Amping sudah masuk berlindung ke dalam kepekatan hutan rimba.

Senja yang bening mengantar perjalanan Mahesa Amping menembus padang ilalang di bukit kecil. Di kaki ujung bukit itu, ia bertemu dengan jalan tanah yang datar, jalan menuju Bandar Cangu. Mahesa Amping memperlambat lari kudanya karena perjalanannya sudah hampir mendekat, namun hari sudah memasuki malam.

"Selamat datang kembali di Benteng Cangu," sapa seorang prajurit yang membukakan pintu gerbang dan sudah mengenal Mahesa Amping.

Ia segera menuntun kudanya ke kandang di bagian belakang. "Biarlah kuda ini aku yang mengurusnya," kata seorang pekatik seraya mengambil tali kuda dari tangan Mahesa Amping. Setelah membersihkan diri, Mahesa Amping langsung menuju pendapa. Ternyata Mahesa Pukat sudah menunggunya.

Setelah berbagi kabar tentang keselamatan masing-masing, Mahesa Amping juga menceritakan keadaan Padepokan Bajra Seta. "Kakang Mahesa Murti dan seluruh warga padepokan menitipkan salam untukmu," ujar Mahesa Amping.

"Semoga keselamatan selalu menyertai Padepokan Bajra Seta," jawab Mahesa Pukat menerima titipan salam itu. Ketika mereka tengah menikmati makanan dan minuman hangat, Kebo Arema, Lawe, dan Raden Wijaya datang bergabung.

"Kukira kamu baru kembali besok," ujar Lawe kepada Mahesa Amping.

"Aku tidak mau disebut sebagai pemalas yang hanya tinggal terima bersih," jawab Mahesa Amping.

"Sayangnya, masih ada tugas yang belum dikerjakan," sahut Lawe.

"Saat ini kita hanya menunggu kedatangan utusan dari Kotaraja Singasari, apakah Sri Baginda Maharaja akan mengantar kepergian kita," kata Kebo Arema.

"Ketika kalian berlayar ke Tanah Melayu, mungkin aku adalah orang yang tidak sabaran menunggu kedatangan kalian bersama dengan seribu lima ratus calon prajurit yang sudah siap di barak barunya," ujar Mahesa Pukat, mencoba mengingatkan bahwa masih banyak tugas menanti mereka.

"Tidak dapat kubayangkan, berdiri di tengah ribuan kerumunan prajurit muda," kata Raden Wijaya.

"Dengan mengenakan seragam prajurit perwira," tambah Mahesa Amping sambil tersenyum. Lawe dan Raden Wijaya saling berpandangan.

"Kalian memang sudah seharusnya menjadi seorang prajurit karena kalian telah melakukan tugas seorang prajurit Singasari selama ini," ujar Kebo Arema.

"Tidak sekadar meminjam baju perang seorang perwira," imbuh Mahesa Amping. Sekali lagi Lawe dan Raden Wijaya saling berpandangan.

"Aku belum paham apa maksudmu dengan sekadar meminjam baju perang seorang perwira," tanya Raden Wijaya, mencoba menyelidiki dari mana Mahesa Amping mengetahui dirinya dan Lawe pernah mencoba pakaian perang seorang perwira.

"Kemarin aku cuma bermimpi kalian meminjam pakaian perang seorang perwira," jawab Mahesa Amping sekadar membelokkan cerita, padahal saat itu ia sedang menerapkan ajian Langlang Sukma.

"Kemarin aku melihat langsung mereka menyelinap di kamar perwira, mencoba sebuah pakaian perang milik seorang perwira," ungkap Kebo Arema sambil tersenyum.

"Paman melihat kami?" tanya Lawe.

"Aku melihat kalian begitu gagah mengenakannya," jawab Kebo Arema. Lawe dan Raden Wijaya kembali saling berpandangan, kali ini sambil tersenyum bersama.

"Aku berpendapat sudah saatnya kalian bergabung sebagai prajurit," kata Mahesa Pukat. "Melihat jasa-jasa yang telah kalian berikan bagi Tanah Singasari, Sri Baginda Raja langsung menyetujui usulan ini. Apakah kalian bersedia?"

"Ayahku seorang prajurit. Bila ini sebuah panggilan, aku bersedia," jawab Lawe.

"Aku terlahir di lingkungan istana. Pada saatnya aku akan menerima kekancingan, dan aku sudah siap kapan pun panggilan itu datang," ujar Raden Wijaya.

"Aku ingin mendengar pernyataan dari Mahesa Amping," kata Mahesa Pukat sambil berpaling ke arah Mahesa Amping. Semua mata dan telinga sepertinya menunggu apa yang akan dikatakan Mahesa Amping.

Ia tidak segera menjawab, sepertinya tengah menimbang-nimbang dua kehidupan yang berbeda: kehidupan di Padepokan Bajra Seta dan kehidupan di barak prajurit seperti yang dilihatnya saat itu di Benteng Cangu. Tiba-tiba terlintas bayangan peperangan, darah, dan denting pedang yang saling beradu. Puluhan mayat bergelimpangan terinjak-injak, suara mengumpat bersatu dengan jerit menahan sakit yang tak terhingga.

"Bagiku, pengabdian ada di mana-mana, meski hanya sebagai seorang petani. Memakai baju prajurit atau tidak, bagiku sama saja. Kesetiaanku dan pengabdianku ada di mana pun aku berada; di mana tanah berpijak, di situlah langit akan kujunjung. Aku akan berbuat apa pun meski tidak harus menjadi apa pun," ujar Mahesa Amping, membiarkan kata hatinya berbicara.

"Setiap manusia mempunyai garis hidupnya masing-masing. Berbahagialah orang yang telah memilih kata hatinya sebagai kemerdekaan, mengalir seperti air sungai tanpa tekanan dan keterpaksaan," kata Mahesa Pukat, yang sepertinya tengah mengenang masa lalu saat ia terpaksa memilih jalan menjadi prajurit. Namun, di hati kecilnya, sering menggeliat perasaan yang tidak pernah hilang, yakni kerinduan akan ketenangan hidup di sebuah padepokan yang damai. Ia diam-diam mengerti pilihan Mahesa Amping.

"Aku sependapat dengan Mahesa Amping. Kita adalah seorang prajurit meski tanpa mengenakan baju prajurit. Bukankah kita telah menerima kekancingan untuk membangun sebuah armada besar prajurit kelautan?" kata Kebo Arema.

"Langkah kalian bertiga masih begitu panjang," ujar Mahesa Pukat kepada tiga pemuda di hadapannya, yang dirasakannya akan menjadi bintang fajar yang cemerlang di masa depan.

"Kami perlu banyak bimbingan," ujar Mahesa Pukat dengan penuh kerendahan hati.

Sementara itu, di atas langit, bulan yang belum bulat penuh muncul dari balik gerumbul hutan bambu. Suara derik malam mulai mengalun bersama suara daun dan dahan yang bergesekan diayunkan angin. Lawe, Kebo Arema, dan Mahesa Pukat sudah lebih dulu masuk ke peraduan. Di pendapa, hanya tinggal Mahesa Amping dan Raden Wijaya yang belum mengantuk.

"Kakang Mahesa Murti berpesan agar kita terus berlatih," ujar Mahesa Amping.

"Bekal ilmu yang diberikan kepada kita memang harus selalu disempurnakan," jawab Raden Wijaya.

"Kakang Mahesa Murti telah membukakan tabir rahasia lewat olah kajiwan yang disampaikan Gurusuci Darmasiksa," kata Mahesa Amping, sambil menjelaskan sebuah rahasia jalan terang menuju alam jagat raya yang tak terbatas sebagaimana yang telah diajarkan oleh Mahesa Murti.

Terlihat Raden Wijaya langsung melakukan apa yang baru saja diungkapkan oleh Mahesa Amping.

"Pada saatnya, kamu akan mengungkapkan sebuah jalan untuk berada di mana-mana tanpa berada di mana-mana," pungkas Mahesa Amping.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment