Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 60

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 60

"Aku memang senang sekali bersama kalian; banyak hal kudapat ketika bersama kalian."

"Tapi..." Argalanang tidak melanjutkan kata-katanya.

"Tapi di tanah kelahiranmu ada seorang dara jelita yang tengah menunggumu," ujar Lawe yang dibalas oleh anggukan kepala Argalanang sambil tersenyum malu.

"Begitulah," jawab Argalanang berterus terang, tidak menyanggah tebakan jitu dari Lawe.

Kita sudah lama meninggalkan Pangeran Kertanegara dan Kebo Arema. Sebagaimana diceritakan di muka, mereka tidak jadi melaksanakan pelayaran sampai ke Tanah Melayu karena berbagai pertimbangan, antara lain karena para saudagar Tanah Melayu belum dapat menerima kehadiran armada jung Borobudur yang megah di area perdagangan mereka.

Setelah singgah sebentar di Pantai Pasir Seputih, ujung selatan Swarnadwipa, mereka kembali lagi ke Singasari menyusuri pantai utara Nusa Jawa. Luar biasa sambutan orang-orang Singasari atas kembalinya jung kebanggaan mereka. Sebuah pelayaran perdana, sebuah awal perubahan baru dalam kehidupan Kerajaan Singasari di masa-masa berikutnya. Sebuah mimpi Sri Maharaja Singasari tentang kerajaan laut telah tercipta.

Saatnya mewariskan mimpi itu kepada yang berhak menerimanya, kepada seseorang yang dapat dipercaya mampu melanjutkan mimpi-mimpi tersebut. Pewaris impian itu memang sudah lama dipersiapkan, yang tidak lain adalah sang putra mahkota sendiri, Pangeran Kertanegara.

Ketika datang menghadap ayahandanya, Sri Maharaja, untuk melaporkan perjalanan pelayarannya yang gemilang, Sri Maharaja menerimanya dengan penuh sukacita.

"Pengalamanmu di lautan telah tumbuh, itulah yang kuharapkan. Pandanganmu tidak lagi terkucil sebatas tanah daratan, tetapi sudah begitu luas meliputi segenap samudra. Duduk dan bertahtalah engkau, anakku, di atas singgasana Kediri. Tunjukkan bahwa engkaulah pewaris takhta tunggal di Bumi Singasari ini yang dapat mengademayemkan suasana hati para petani, mengamankan perjalanan para pedagang di laut dan di daratan, serta sebagai ksatria besar menjaga segenap jiwa prajurit dari segala ancaman peperangan," sabda Sri Maharaja kepada Pangeran Kertanegara yang didampingi sahabat setianya, Kebo Arema.

Pada hari itu juga, Sri Maharaja memanggil mahapatihnya untuk menyiapkan penobatan besar bagi putra mahkota sebagai raja di Kediri. Hari penobatan pun ditetapkan. Dari segenap penjuru Singasari, rakyat membanjiri Kotaraja untuk menyaksikan upacara agung putra mahkota memulai kehidupan barunya sebagai raja Kediri. Perayaan mengiringi puncak upacara agung penuh kemeriahan yang gegap gempita, melebihi perayaan apa pun sebelumnya di Singasari.

"Selamat jalan Tuanku Raja Muda, hamba belum dapat mengiringi Tuanku. Sri Maharaja telah menitahkan hamba membangun kerajaan lautnya agar kelak Tuanku jua yang bertahta di sana, sebagai maharaja yang berkuasa dan jaya di laut dan di bumi Singasari," ujar Kebo Arema melepas junjungannya yang telah dinobatkan sebagai Raja Muda Kediri.

"Air laut yang biru telah mengajarkan kepadaku arti sebuah kesetiaan. Kelak aku akan merindukanmu, berbagi semangat membangun kejayaan Singasari, di bumi dan di lautan," jawab Kertanegara dari atas kereta kencana kepada Kebo Arema.

Kebo Arema menatap jauh iring-iringan rombongan kecil yang mengantar Raja Muda Kertanegara dan permaisurinya ke Kediri. Setelah sekian lama bersama, hari itu mereka harus berpisah karena perbedaan tugas yang harus dijalani. Kebo Arema memandang gamang iring-iringan rombongan berkuda yang semakin menjauh menghilang di jalan berbukit saat menurun. Pangraitanya yang halus sepertinya memberi tanda akan ada peristiwa yang menanti rombongan kecil itu.

"Semoga Gusti yang Maha Kasih selalu bersamamu," ucap Kebo Arema lirih, sepertinya menahan kegusaran yang terlintas di dalam hatinya. Kegusaran yang terlintas di hati seorang yang mumpuni seperti Kebo Arema memang tidak akan berlarut; hal itu langsung ditangkap sebagai pertanda kilasan panggraita dan diserahkan kembali kepada Sang Hyang Tunggal Maha Karsa.

Panggraita seorang Kebo Arema ternyata sebuah pengabaran yang tidak meleset jauh. Nun jauh di sana, di sebuah hutan kecil di antara jarak Kotaraja dan Kediri, telah menunggu sekelompok orang yang akan menyergap rombongan Kertanegara. Rombongan kecil itu dikawal oleh tiga belas prajurit muda yang telah diakui kesetiaannya dan ditempa mengarungi lautan bersama Kertanegara. Bhaya, salah seorang prajurit yang dipercaya sebagai kepala prajurit, turut bersama rombongan itu.

Matahari siang itu begitu terik, syukurlah angin bertiup kencang, kadang menggiring awan tebal memayungi rombongan berkuda dari hawa panas matahari yang menyengat.

"Kita beristirahat sejenak di muka hutan kecil itu," perintah Raja Muda Kertanegara kepada Bhaya yang berkuda di samping kereta kencana.

Demikianlah rombongan kecil itu beristirahat di muka hutan sambil membuka bekal yang mereka bawa.

"Apakah kamu tidak melihat dan mendengar suara burung yang terbang di muka hutan itu?" tanya Raja Muda Kertanegara kepada Bhaya.

"Hamba melihat burung-burung itu seperti telah terusik, terbang mencari tempat yang lebih aman," jawab Bhaya yang tanggap akan maksud junjungannya.

"Beritahu kepada semua prajurit agar waspada," titah Kertanegara. Bhaya segera menyampaikan pesan secara berantai kepada semua prajurit untuk tetap siaga. Diam-diam ia mengagumi ketajaman penglihatan Raja Mudanya yang dikenal memiliki ilmu sangat tinggi.

Setelah beristirahat cukup, rombongan kecil itu perlahan memasuki mulut hutan. Setiap prajurit bersiaga penuh menghadapi apa yang akan terjadi di depan mereka. Hutan yang sunyi semakin menambah kecurigaan Kertanegara. Biasanya suasana hutan dipenuhi suara burung dan binatang, namun kali ini begitu senyap, sebagai tanda penghuninya telah berganti. Para prajurit sudah tahu apa yang harus dilakukan, termasuk tiga orang yang bertugas menjaga kereta kencana tempat Permaisuri Padmita berada.

Pendengaran Kertanegara yang tajam menangkap suara di antara belukar. Akhirnya, apa yang mereka khawatirkan menjadi kenyataan ketika dari gerumbul belukar muncul puluhan kepala.

"Habisi mereka!!" suara aba-aba menggema, diiringi suara gaduh puluhan orang keluar dari persembunyian dan langsung mengepung rombongan kecil itu.

Pertempuran tidak dapat dielakkan lagi. Para prajurit muda yang terlatih menghadapi orang-orang yang menyerang mereka dengan tangkas. Kertanegara, yang mengkhawatirkan permaisurinya di dalam kereta kencana, bertindak tanpa ragu. Lima orang penyerang langsung tumbang terkena tendangan dan pukulannya. Kertanegara terbang ke sana kemari, menyapu bersih siapa pun yang berada di dekatnya.

Para prajurit muda pun memperlihatkan keandalannya. Mereka terlatih baik dalam perang kelompok maupun bertarung perseorangan. Dalam waktu singkat, jumlah para penyerang menyusut.

"Jangan beri mereka napas sedikit pun, tunjukkan bahwa kalian prajurit Singasari yang tidak akan mengampuni para perusuh!" seru Kertanegara. Ia melancarkan beberapa pukulan yang mengacaukan barisan penyerang seperti bara api yang masuk ke kumpulan serangga.

"Menyerahlah!" seru Kertanegara setelah mengepung tujuh orang penyerang yang tersisa bersama para prajuritnya. Ketujuh penyerang itu tampak bimbang saat menyadari jumlah mereka telah menyusut drastis.

"Lemparkan senjata kalian!" perintah Kertanegara dengan suara penuh wibawa. Suara itu begitu mengejutkan hingga nyali beberapa penyerang menciut. Terlihat seseorang melemparkan senjatanya, diikuti oleh kawan-kawannya. Akhirnya, ketujuh orang itu diringkus sebagai tawanan.

Kertanegara menarik napas lega, tidak ada seorang pun dari para prajurit pengawalnya yang terluka. Ia memerintahkan prajuritnya memeriksa korban yang mungkin masih dapat diselamatkan. Beberapa penyerang telah tewas, namun sebagian lagi hanya terluka ringan. Para prajurit pun mengobati penyerang yang terluka dengan obat-obatan yang mereka bawa.

"Uruslah jenazah mereka sebagaimana layaknya," jawab Kertanegara ketika seorang prajurit bertanya tentang penyerang yang tewas.

Keadaan hutan kecil itu menjadi sibuk. Dengan peralatan seadanya, para prajurit membuat lubang untuk menguburkan jenazah para penyerang.

"Bersyukurlah, hari ini kita tidak membuat lubang untuk kawan kita sendiri," kata seorang prajurit yang telah menyelesaikan sebuah lubang.

"Bersyukurlah bahwa kita telah dilindungi oleh orang yang harusnya kita lindungi," jawab kawannya.

"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, tidak ada yang luput dari terjangannya," ujar prajurit pertama, menceritakan junjungannya, Kertanegara, yang turun langsung dalam pertempuran.

"Junjungan kita bukan ksatria biasa. Sangat tepatlah bila Sri Maharaja Singasari memercayakannya menjadi penguasa di Kediri," sahut kawannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment