Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 105

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 105

Ketika semburat warna merah muncul di ujung malam, mereka berdua sudah terjaga. Terlihat mereka tengah bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Demikianlah, ketika matahari sudah merayap tinggi menjelang siang, mereka sudah mendekati padukuhan terdekat. Tidak lama lagi, mereka akan sampai di Padepokan Bajra Seta.

Di regol gerbang Padepokan Bajra Seta, beberapa cantrik menyambut gembira kedatangan Mahesa Amping.

"Perkenalkan, ini Empu Nada. Kami bertemu di perjalanan. Ada maksud untuk bertemu dengan Kakang Mahesa Murti," kata Mahesa Amping memperkenalkan kawan seperjalanannya ketika bertemu dengan Mahesa Murti di pendapa padepokan.

"Apakah mataku ini tidak salah mengenal orang?" tanya Mahesa Murti yang masih ingat wajah Empu Nada, seorang kepercayaan Pangeran Gaco Bahari dari Kediri.

"Anakmas tidak salah lihat. Kita pernah bermain dalam satu-dua jurus," sahut Empu Nada dengan wajah penuh senyum.

"Selamat datang di padepokan sederhana kami. Empu Nada pasti punya kepentingan yang kuat datang ke tempat ini," ujar Mahesa Murti yang sudah hilang kecurigaannya. Mungkin air wajah Empu Nada yang tampak begitu polos dan penuh kasih memancar dari sinar wajahnya.

Setelah bersih diri, Mahesa Amping dan Empu Nada dipersilakan beristirahat sejenak sambil menyantap beberapa potong makanan dan minuman hangat. Akhirnya, perlahan Empu Nada menyampaikan maksud dan tujuannya datang ke Padepokan Bajra Seta.

"Garis hidupku memang aneh. Dulu, aku telah salah berdiri di belakang Pangeran Gaco Bahari," kata Empu Nada, berhenti sebentar membiarkan Mahesa Murti mengenang sedikit tentang sang pangeran yang pernah ingin memberontak atas kekuasaan Singasari. "Saat ini, kembali langkahku salah berpijak," lanjut Empu Nada menyambung perkataannya.

Empu Nada kemudian bercerita tentang pertemuannya dengan seorang perampok tunggal yang sedang sakit parah terkena banyak senjata lawan. "Aku membawanya ke gubukku dan merawatnya. Ketika dirinya telah kembali sembuh seperti sedia kala, kuberharap dengan bimbingan dan tuntunanku, orang itu akan kembali ke jalan yang benar," kata Empu Nada sambil menarik napas panjang, sepertinya tengah mengumpulkan kenangan. "Aku gembira sekali, orang itu ternyata punya bakat dan kecerdasan yang kuat."

Wajah Empu Nada tiba-tiba menjadi suram, dipenuhi duka dan penyesalan yang berat. "Ternyata aku telah menciptakan tanduk untuk seekor serigala. Apalagi ketika datang seorang raja dari Gelang-Gelang yang memberikannya banyak janji. Serigala itu sepertinya telah kembali ke padang perburuannya yang lebih besar. Saat ini, serigala itu telah berencana dengan Raja Gelang-Gelang untuk merampok kekuasaan penguasa baru Singasari," ujar Empu Nada mengakhiri ceritanya.

"Apakah Empu Nada pernah memberitahukan kepadanya bahwa langkahnya telah masuk ke jalan simpang?" tanya Mahesa Murti.

"Serigala itu sudah tidak mempan lagi diberi nasihat apa pun. Bahkan dirinya merasa telah sampai pada batas pencarian ke 'aku'-annya," jawab Empu Nada.

"Carilah aku di mana tidak ada aku?" tanya Mahesa Murti menegaskan.

"Benar. Dirinya telah menemukan 'aku' yang lain, yaitu 'aku' nafsunya sendiri yang diakuinya sebagai penguasa tunggal. Ia membenarkan segala tindakannya, semua dianggapnya sebagai kebaikan. Mata hatinya sepertinya telah terbalik; matahari telah terbit di ujung barat mata hatinya," tutur Empu Nada.

"Siapakah nama orang itu?" tanya Mahesa Murti.

"Namanya Mahesa Rangga," jawab Empu Nada.

"Aku pernah mendengar nama itu disebut oleh salah seorang pedagang dari arah barat Singasari. Menurutnya, ia adalah orang yang sakti mandraguna, tidak terkalahkan, dan diam-diam telah memupuk kekuatan sebagai penguasa bayangan yang juga ikut menarik upeti dari beberapa padukuhan terdekat," kata Mahesa Murti.

"Ternyata Anakmas punya banyak telinga," puji Empu Nada.

"Beberapa bulan yang lalu, ada banyak pesanan senjata dari pedagang yang berasal dari barat Singasari," sahut Mahesa Murti.

"Mereka memang telah memupuk sebuah kekuatan di sana," tegas Empu Nada.

"Serigala itu sudah mempunyai tanduk, kita harus cepat bertindak sebelum serigala itu bersayap," ujar Mahesa Amping yang selama itu ikut mendengar.

"Itulah maksud kedatanganku ke Padepokan Bajra Seta ini, meminta pertimbangan dan tindakan dari pimpinan padepokan yang kutahu selalu menjunjung tinggi kebenaran," kata Empu Nada.

Sementara itu, matahari di atas Padepokan Bajra Seta telah pudar mendekati senja. Lengkung langit berwarna putih sejuk menelungkupi keteduhan. Beberapa cantrik terlihat masuk ke regol gerbang padepokan dengan pakaian yang berlumpur. Rupanya, mereka baru pulang dari sawah. Saat itu memang awal musim penghujan, saat yang baik untuk membajak sawah ketika tanah basah tersiram hujan.

"Paman Sembaga dan Paman Wantilan sudah datang, undanglah mereka ke pendapa," perintah Mahesa Murti kepada Mahesa Amping.

Mahesa Amping segera turun dari pendapa menemui Sembaga dan Wantilan. "Ternyata sang pelaut telah kembali," goda Sembaga menyambut kedatangan Mahesa Amping.

"Aku rindu mengotori seluruh tubuh dengan lumpur di sawah," jawab Mahesa Amping penuh senyum.

"Siapakah yang ada di pendapa bersama sang ketua?" tanya Wantilan penuh selidik.

"Paman pasti pernah mengenalnya. Seorang kepercayaan Pangeran Gaco Bahari dari Kediri yang dulu pernah Paman hancurkan padepokannya beberapa tahun yang lalu," jelas Mahesa Amping.

"Untuk apa dia datang ke padepokan kita?" tanya Wantilan.

"Kakang Mahesa Murti meminta Paman berdua datang nanti malam ke pendapa utama. Ada yang ingin disampaikan, mungkin keingintahuan Paman berdua akan terjawab," jawab Mahesa Amping.

"Kalau begitu, kami akan segera membersihkan diri," ujar Sembaga.

"Juga berganti pakaian," sambung Mahesa Amping sambil tersenyum melihat Sembaga dan Wantilan berjalan cepat meninggalkannya. Mahesa Amping pun kembali ke pendapa utama.

Waktu terus bergulir di atas Padepokan Bajra Seta. Wajah langit semakin meredup dan akhirnya kusam pekat menghitam. Malam telah datang bersama armada kegelapannya, menyergap dan menutupi batas pandang wajah bumi.

"Sebelum melangkah lebih jauh, yang paling utama adalah melihat kekuatan lawan," kata Mahesa Murti di pendapa utama. Sembaga dan Wantilan telah hadir dan diberitahu tentang beberapa hal yang berkaitan dengan kedatangan Empu Nada.

"Kehadiranku di sini berkaitan dengan penyelidikan kekuatan lawan itu," ujar Sembaga.

"Ternyata Paman Sembaga telah tanggap. Benar apa yang Paman duga, aku berkeinginan menugaskan Paman berdua bersama Mahesa Amping ke daerah barat itu," kata Mahesa Murti.

"Sudah lama kaki ini tidak menginjak tanah lebih jauh dari sawah dan ladang di Padepokan Bajra Seta ini," ucap Wantilan penuh senyum.

"Kapan kami akan berangkat?" tanya Sembaga yang terlihat tidak sabaran.

"Hari ini Mahesa Amping baru saja tiba, biarlah dia beristirahat dulu satu-dua hari," jawab Mahesa Murti.

Mahesa Amping memang terlihat sudah sangat letih. Akhirnya, Mahesa Murti mempersilakan Mahesa Amping dan Empu Nada beristirahat. Malam di musim penghujan itu terasa begitu dingin. Di pertengahan malam, kembali hujan mengguyur bumi, membasahi halaman depan padepokan dan melelapkan semua yang telah tidur.

Hujan baru berhenti di awal pagi dengan siraman gerimis kecil yang membuat siapa pun enggan membuka mata. Namun, di pagi yang masih bergerimis itu, Mahesa Amping dan Empu Nada sudah keluar dari kamarnya dan langsung menuju pendapa utama.

"Ternyata Anakmas Mahesa Murti sudah terbiasa bangun di awal pagi," sapa Empu Nada yang melihat Mahesa Murti sudah mendahuluinya berada di pendapa.

"Orang tua bilang bangun pagi akan memanjangkan usia," jawab Mahesa Murti.

"Dan rezeki kita tidak keduluan dipatuk ayam," sambung Mahesa Amping.

Sambil menikmati wedang jahe hangat dan ubi manis, mereka saling bercerita banyak hal. Mahesa Amping menceritakan perjalanan pelayarannya bersama bahtera besar Singasari menuju Tanah Gurun, sebuah pulau di ujung timur matahari sebagai tempat asal pohon cengkih dan pala—tanaman yang saat itu harganya setara dengan emas.

"Impian Maharaja Seminingrat telah terwujud, saatnya Maharaja Kertanegara melanjutkan dan memapankannya," kata Mahesa Murti menanggapi.

"Musuh-musuh Maharaja muda itu ternyata punya siasat yang sangat tajam. Mereka menusuk Singasari saat semua daya pikiran tertuju ke luar, yakni membangun jalur perdagangan laut bagi kemakmuran nagari," ujar Empu Nada.

"Empu Nada benar. Kita harus menutup kelemahan itu agar Singasari tidak terganggu memperluas cakrawala kekuasaannya yang luhur," tutur Mahesa Murti.

"Ternyata aku datang ke tempat yang benar, di padepokan para ksatria Singasari," ujar Empu Nada.

"Empu Nada telah datang ke tempat sanak kadangnya sendiri," sahut Mahesa Murti.

Empu Nada tersenyum menangkap maksud perkataan itu. "Gambar Cakra di lengan Empu Nada telah mempertemukan dua saudara yang telah lama terpisah, yakni jalur perguruan sejati," kata Mahesa Murti. "Jalur perguruan sejati masih hidup di Padepokan Bajra Seta ini lewat Paman Mahesa Agni, murid tunggal Empu Purwa, saudara seperguruan Empu Brantas," jelas Mahesa Murti.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment