Chapter 156
"Aku tengah memasak pecak gabus, mudah-mudahan kalian menyukainya," kata Padmita sambil meletakkan minuman hangat untuk Raden Wijaya dan Mahesa Amping.
"Mendengar pecak gabus, perutku sudah langsung berbunyi," ujar Mahesa Amping yang disambut tawa oleh semuanya.
Sementara itu, bayang-bayang tangkai pohon randu di pojok halaman muka Padepokan Bajra Seta sudah semakin mengerucut. Matahari sudah berada di puncak lengkung langit yang putih dan berawan penuh.
"Ada tugas yang akan kalian emban," kata Mahesa Murti kepada Wantilan, Sembaga, dan Mahesa Semu yang telah dipanggil berkumpul bersama di Pendapa Bajra Seta.
"Tugas apa gerangan yang dapat kiranya akan kami emban?" tanya Wantilan mewakili Sembaga dan Mahesa Semu.
"Raden Wijaya akan menjelaskan kepada kalian," jawab Mahesa Murti meminta Raden Wijaya untuk menjelaskannya.
"Saat ini wilayah perdagangan Singasari telah mencakup dari ujung Tanah Gurun sampai ke ujung Malaka. Namun, sampai saat ini kami belum dapat menjangkau Balidwipa karena kekuasaan para saudagar dari Tanah Hindu sudah mendahului kami," kata Raden Wijaya menjelaskan duduk persoalan agar dapat dimengerti oleh Wantilan, Sembaga, dan Mahesa Semu.
"Lanjutkanlah, aku belum dapat menangkap apa hubungannya dengan kehadiran kami bertiga di sini?" potong Sembaga yang sepertinya sudah tidak sabar mengetahui tugas yang akan diembannya.
Raden Wijaya tersenyum mendengar pertanyaan Sembaga. "Baiklah, aku lanjutkan," katanya sambil menarik napas panjang.
"Sri Baginda Maharaja Singasari merasa khawatir bahwa kekuasaan para saudagar Tanah Hindu di Balidwipa dapat mengganggu wilayah perdagangan Singasari yang sudah terjalin sepanjang Tanah Gurun sampai ke ujung Malaka," kata Raden Wijaya berhenti sejenak sambil memandang Wantilan, Sembaga, dan Mahesa Semu satu per satu.
"Lanjutkanlah," kata Sembaga tidak sabaran. Kembali Raden Wijaya dan semua yang ada di pendapa Padepokan Bajra Seta itu tersenyum melihat tingkah Sembaga.
"Sri Baginda Maharaja Singasari telah meminta kami untuk menyiapkan sebuah pasukan besar untuk menguasai Balidwipa," kata Raden Wijaya sambil memperhatikan sikap Sembaga, Wantilan, dan Mahesa Semu.
"Aku sudah dapat menangkap penjelasanmu, kami bertiga diminta untuk bergabung dalam pasukan besar itu," kata Sembaga kepada Raden Wijaya.
"Paman Sembaga benar. Tepatnya, Paman Sembaga, Paman Wantilan, dan Kakang Mahesa Semu diminta untuk bergabung dengan pasukanku," kata Mahesa Amping ikut menjelaskan secara rinci tugas dan tanggung jawab pasukannya yang disebut sebagai "pasukan tidur" oleh Sri Baginda Maharaja Singasari.
"Pasukan tidur, aku menyukai sebutan itu," kata Wantilan dengan wajah penuh kebanggaan membayangkan dirinya bergabung dalam gerakan pasukan tidur di bawah pimpinan Mahesa Amping.
"Jadi kami bertiga bergabung dalam pasukanmu?" tanya Mahesa Semu kepada Mahesa Amping yang tidak menjawabnya, hanya menganggukkan kepala membenarkan perkataan Mahesa Semu.
"Tadinya aku berpikir bahwa pasukan tidur itu tugasnya hanya makan dan tidur," ujar Sembaga yang disambut tawa panjang oleh semua yang ada di pendapa.
Tawa mereka berhenti manakala Padmita datang membawa hidangan hangat yang harumnya sangat menggoda.
"Pecak gabus, makanan khusus pasukan tidur," kata Sembaga yang kembali membuat tawa semua orang di pendapa meledak.
Sementara itu, di saat yang sama jauh dari Padepokan Bajra Seta, di sebuah wilayah yang damai dan tenteram, tepatnya di Pakuwonan Sangling, terlihat sepasukan prajurit yang membawa umbul-umbul kekuasaan Kerajaan Singasari baru saja keluar dari pintu batas wilayah.
"Sri Baginda Maharaja Singasari telah menjatuhkan mandat kepercayaannya kepada Kakanda," kata seorang wanita muda berparas cantik jelita, Ken Padmi, istri Akuwu Mahesa Bungalan.
"Itu artinya aku akan lama meninggalkan Pakuwonan ini," kata Akuwu Mahesa Bungalan menatap istrinya dalam-dalam.
"Sejak Dinda memutuskan untuk menjadi istri Kakanda, Dinda sudah siap menjalani kehidupan di sisi Kakanda sebagai istri seorang prajurit," kata Ken Padmi dengan suara yang penuh ketegaran.
"Ketegaran Dinda telah menghilangkan keraguan di dalam hati Kakanda. Sebelumnya yang Kakanda khawatirkan adalah kesunyian hari-hari tanpa kehadiran Kakanda di Pakuwonan ini," kata Akuwu Mahesa Bungalan merasa bangga.
"Hari-hari penuh kesunyian akan Dinda sibukkan dengan berdoa, berharap Kakanda selalu di bawah lindungan Gusti Yang Maha Kasih," kata Ken Padmi dengan lembut.
Akuwu Mahesa Bungalan memalingkan wajahnya ke arah taman pasanggrahan Istana Pakuwonan yang tertata indah, tatapannya menyapu hamparan rumput hijau hingga ke bunga kuntha yang tengah berkembang.
"Dinda sedang mengandung anakku," kata Akuwu Mahesa Bungalan menatap mata istrinya.
"Tetapkanlah hati Kakanda. Bukankah Kakanda selalu mengajarkan untuk memasrahkan segalanya kepada Gusti Yang Maha Kasih?" ujar Ken Padmi berusaha membangun kemantapan hati suaminya.
Semilir angin membelai tangkai bunga kuntha, serbuk sari di ujung bunga itu berguguran.
"Senja sudah hampir berakhir," kata Akuwu Mahesa Bungalan sambil memandang Ken Padmi.
"Masih ada beberapa senja yang akan hadir dalam kebersamaan kita," jawab Ken Padmi sambil mengedipkan matanya menggoda.
Sementara itu di waktu yang sama di Padepokan Bajra Seta, di pendapa hanya tinggal Mahesa Amping, Raden Wijaya, dan Mahesa Murti. Perlahan malam mulai merayap menutupi warna senja, langit di atas padepokan akhirnya dipenuhi kegelapan yang senyap.
"Aku merasakan bahwa ilmu yang kalian bawa dari Padepokan Bajra Seta ini telah menjadi semakin matang bersama panjangnya masa pengembaraan kalian," kata Mahesa Murti penuh senyum kebanggaan menatap dua cantrik terbaik yang pernah diasuhnya.
"Pengembaraan telah mematangkan ilmu yang Paman Mahesa Murti wariskan kepada kami, namun tetap saja aku masih berada jauh di bawah tataran ilmu saudaraku ini," kata Raden Wijaya sambil melirik penuh senyum ke arah Mahesa Amping.
Mahesa Murti menatap wajah Mahesa Amping, diam-diam mengagumi pemuda di hadapannya itu, sosok yang diharapkan dapat melanjutkan dan mengembangkan Padepokan Bajra Seta. Namun, garis hidup berkata lain; pemuda itu telah menjadi seorang prajurit Singasari dan diangkat menjadi guru agung di Pura Indrakila.
"Hati kecil selalu berbisik untuk kembali ke padepokan yang gayem ini, tempat di mana aku merasakan kedamaian hidup sejati bersama bau lumpur di sawah dan canda tawa persaudaraan. Namun, diri ini sepertinya tidak mampu menahan arus deras garis hidup sendiri. Aku merasa seperti kerikil kecil yang hanyut dibawa arus jauh dari mata air tempatnya tumbuh," kata Mahesa Amping kepada Mahesa Murti.
"Garis hidup dari Gusti Yang Maha Agung adalah ketetapan mutlak yang tidak ada seorang hamba pun dapat menghindarinya. Apapun dan siapapun dirimu, terimalah sebagai karunia ketetapan dari Yang Maha Agung. Bersyukurlah, itulah sebaik-baik sikap pengabdian," ujar Mahesa Murti.
"Aku mohon doa dan restu dari Kakang, semoga rasa syukur terus hidup di mana pun aku berada," kata Mahesa Amping penuh rasa hormat.
"Aku selalu berdoa untuk kalian," kata Mahesa Murti dengan senyum yang sejuk.
Dua hari Mahesa Amping dan Raden Wijaya tertahan di Padepokan Bajra Seta melepas segenap kenangan. Pada hari ketiga, di pagi yang bening, terlihat Mahesa Amping dan Raden Wijaya keluar dari regol pintu gerbang padepokan bersama Sembaga, Wantilan, dan Mahesa Semu.
Lima orang kesatria berkuda itu berjalan menapaki jalan bulakan yang panjang, membelah padang ilalang, mendaki dan menuruni bukit dan lembah yang hijau di bawah payung awan di langit biru.
"Aku pernah mendengar bahwa Balidwipa tercipta dari sebuah bunga surga yang jatuh ke bumi," kata Mahesa Semu ketika mereka menghangatkan diri di dekat perapian di sebuah hutan tempat mereka bermalam.
"Seperti melihat wajah gadis manis yang tersenyum kepadamu, tidak mudah melupakannya dalam sehari atau dua hari," kata Mahesa Amping membenarkan.
"Sayangnya, tidak ada seorang gadis pun yang pernah tersenyum kepadaku," kata Sembaga sambil menambahkan ranting kayu kering ke perapian, yang ditanggapi tawa oleh semua orang.
"Jangankan seorang gadis tersenyum, anak kecil saja akan berlari memeluk bundanya setiap kali bertemu dengan Paman Sembaga yang seram," sahut Raden Wijaya.
"Wajah Pamanmu memang seram, tapi hatinya selembut salju," kata Wantilan ikut berseloroh menghangatkan suasana.
"Bila Wantilan menyanjung seseorang, pasti ada yang diinginkan," kata Sembaga sambil menambahkan kembali ranting kering ke perapian. "Kali ini mungkin berharap aku memanjangkan waktu giliran berjaga malam."