Chapter 169
"Yang ada dalam pikiran mereka adalah lima orang saudagar kaya tengah berkunjung," kata Mahesa Amping kepada Sembaga.
"Yang mereka pikirkan adalah seorang saudagar kaya diiringi empat pelayannya," kata Wantilan yang mendengar perkataan Mahesa Amping.
"Menurutmu, siapa kira-kira yang pantas disebut saudagar kaya di antara kita berlima?" kata Sembaga kepada Wantilan.
"Yang pasti bukan dirimu," kata Wantilan singkat.
"Yang pasti juga bukan dirimu," kata Sembaga langsung membalas.
Demikianlah, mereka berkuda seolah-olah tidak dibatasi oleh waktu.
Dalam setiap kesempatan menikmati pemandangan alam yang indah—sawah yang membentang hijau, warna biru pegunungan yang jauh, serta lembah yang dihiasi rimbunnya pepohonan yang tertiup angin—memberikan aroma sejuk dan sangat menyegarkan.
"Gunung di depan kita itu adalah Gunung Agung," kata Mahesa Amping kepada kawan-kawannya sambil menunjuk ke arah gunung yang tinggi di depan mereka.
Ke arah Gunung Agung itulah tampaknya arah perjalanan mereka.
"Jalur sandi yang akan kita bangun berada di Kademangan Rendang, sebuah tempat yang paling dekat dengan sasaran kita, Pura Besakih," kata Mahesa Amping memberikan penjelasan tentang sebuah wilayah yang masuk dalam pengamatan mereka.
Akhirnya, di awal senja, langkah kaki kuda mereka berhenti di sebuah kademangan yang cukup ramai karena merupakan tempat persinggahan para pedagang yang membawa hasil bumi dan hutan di Balidwipa.
"Inilah Kademangan Rendang," kata Mahesa Amping ketika mereka memasuki jalan padukuhan utama.
Terlihat kuda Mahesa Amping berhenti di muka sebuah rumah yang paling luas dibandingkan dengan beberapa rumah di kiri dan kanannya. Mahesa Amping mengajak semua kawannya untuk masuk ke halaman rumah itu.
"Apakah Ki Demang masih mengenalku?" tanya Mahesa Amping kepada seseorang yang berada di atas pendapa menyambut kedatangan mereka.
"Mana mungkin kami melupakanmu yang telah mempersatukan kami dua saudara," kata orang yang dipanggil Ki Demang sambil mempersilakan mereka untuk naik ke atas pendapa rumahnya.
Setelah menyampaikan beberapa kabar keselamatan masing-masing, Mahesa Amping memperkenalkan Kebo Arema sebagai pedagang kuda dari Bandar Buleleng.
"Selama di sini, biarlah kalian tinggal di rumahku," kata Ki Demang menawarkan kebaikannya.
"Terima kasih, semoga tidak merepotkan Ki Demang," jawab Mahesa Amping.
Sementara itu, di regol halaman terlihat seorang yang seusia Ki Demang berjalan ke arah pendapa rumah.
"Ternyata ada sahabat mudaku," kata lelaki itu setelah naik ke pendapa rumah menyapa Mahesa Amping.
"Selamat bertemu kembali, Ki Amararaja," kata Mahesa Amping menyambut lelaki itu yang ternyata adalah Ki Amararaja, saudara seayah lain ibu dari Ki Demang.
Maka, Mahesa Amping segera memperkenalkan semua kawannya kepada Ki Amararaja, tentunya sesuai dengan jati diri penyamaran sebagai pedagang kuda dan pembantunya.
"Mudah-mudahan usaha kalian dapat berjalan dengan baik," kata Ki Amararaja kepada Mahesa Amping dan kawan-kawannya.
Sementara itu, waktu terus berlalu. Sang sandikala terlihat perlahan menyelinap di ujung waktu, digantikan oleh sang malam.
"Malam ini aku ingin mengajakmu ke Banjar Desa. Saat ini kami tengah membentuk para pecalang baru untuk menggantikan beberapa orang pecalang yang sudah mulai tua," kata Ki Amararaja kepada Mahesa Amping.
"Dengan senang hati," jawab Mahesa Amping.
Terlihat Mahesa Amping dan Ki Amararaja tengah menuruni anak tangga pendapa rumah Ki Demang. Sementara itu, Kebo Arema, Mahesa Semu, dan Sembaga masih ditemani oleh Ki Demang. Banyak sekali yang mereka bicarakan, mulai dari masalah kuda sampai dengan keresahan warga kademangan atas sebuah kabar angin tentang gerombolan Barong Asu Ngelawang. Ternyata Kebo Arema terlalu piawai untuk urusan bersandiwara melakoni dirinya di hadapan Ki Demang sebagai pedagang kuda yang berpengalaman.
Sementara itu, di Banjar Desa, Mahesa Amping tengah melihat para pecalang baru sedang berlatih olah kanuragan di bawah bimbingan Ki Amararaja.
"Ada rencana untuk menambah jumlah pecalang di kademangan ini. Jumlah yang ada pada saat ini masih belum dikatakan cukup untuk menjaga ketentraman dan ketenangan di kademangan ini," kata Ki Amararaja kepada Mahesa Amping sambil melihat beberapa pecalang muda tengah berlatih.
"Aku tertarik dengan cara orang Balidwipa mengamankan kampungnya dengan cara kemandiriannya ini," ujar Mahesa Amping memberikan pandangannya.
"Meski upah sebagai pecalang tidak bisa dijadikan sebagai sandaran hidup, mereka tetap menjalaninya dengan penuh kebanggaan," kata Ki Amararaja.
"Bila seorang gadis harus memilih dua orang pemuda, siapa yang dipilihnya bila salah satunya adalah seorang pecalang?" tanya Mahesa Amping sedikit bercanda.
"Yang pasti gadis itu akan memilih pecalang, karena biasanya seorang pecalang itu bertubuh kekar, kuat, dan ganteng," kata Ki Amararaja menimpali canda Mahesa Amping.
Namun, diam-diam Mahesa Amping memperhatikan beberapa anak muda yang akan menjadi pecalang itu memang umumnya mempunyai badan yang kekar berisi dan dapat dikatakan cukup tampan.
"Tentu saja sang gadis memilih pecalang, karena pemuda yang satunya di samping buruk rupa juga sebagai pemuda luntang-lantung yang tidak punya sandaran hidup," kata Mahesa Amping kepada Ki Amararaja.
"Ternyata kamu tidak pernah mau menyerah," kata Ki Amararaja sambil tertawa panjang.
Udara malam di Kademangan Rendang yang berada di sebelah barat lereng Gunung Agung memang cukup dingin. Sementara beberapa pemuda masih tetap semangat terus berlatih, sepertinya sudah terbiasa dengan dinginnya udara malam. Akhirnya, ketika malam mulai masuk di pertengahan, mereka baru kembali ke rumah Ki Demang. Ternyata di pendapa tidak ada seorang pun.
"Sepertinya mereka sudah lama tertidur," kata Ki Amararaja sambil mengajak Mahesa Amping langsung beristirahat ke bilik yang telah disediakan.
Setelah tiba di bilik, Mahesa Amping tidak dapat langsung tidur. Terbayang pertempuran kemarin pagi di pantai Tanah Melaya. Terlihat Mahesa Amping menarik napas panjang, menyerahkan semuanya kepada Gusti Yang Maha Berkehendak.
"Tidak ada satu pun makhluk yang luput dari kehendak-Mu," kata Mahesa Amping dalam hati sambil berbaring di peraduan dan memejamkan matanya.
Sementara itu, langit malam di atas Kademangan Rendang dipenuhi taburan bintang. Semilir angin basah menggugurkan bunga-bunga kemboja merah yang berjejer di sebelah kanan pagar batu halaman rumah Ki Demang.
Udara pagi di Kademangan Rendang begitu dingin terasa menusuk tulang. Namun, Mahesa Amping dan kawan-kawannya sudah keluar dari biliknya dan duduk di pendapa rumah Ki Demang; tentunya Ki Amararaja dan Ki Demang ikut menemani mereka.
"Ketika kalian di pakiwan, bagaimana rasanya air di sini?" tanya Ki Amararaja.
"Luar biasa dinginnya," kata Sembaga langsung menyambut, terlihat bibirnya masih biru kedinginan.
Akhirnya, ketika matahari pagi sudah mulai naik, udara di Kademangan Rendang sudah mulai hangat. Mahesa Amping dan kawan-kawannya terlihat pamit untuk menemui beberapa peternak kuda yang ada di sekitar Kademangan Rendang.
"Mudah-mudahan kami dapat kuda yang baik dan cocok harganya," kata Kebo Arema sambil turun dari pendapa, diiringi pandangan mata Ki Demang dan Ki Amararaja.
Terlihat Mahesa Amping dan kawan-kawannya tengah menyusuri jalan padukuhan tengah menuju peternakan kuda yang ada di Kademangan Rendang. Pada saat itu, Kademangan Rendang sangat terkenal dengan peternakan kudanya. Namun, di tengah jalan, Mahesa Amping menemui sebuah pelepah kelapa terpotong tiga.
"Ada petugas sandi yang akan menemui kita," kata Mahesa Amping membaca isyarat sandi yang telah mereka sepakati bersama.
Terlihat Mahesa Amping memberi simpul pada salah satu janur sebagai tanda mereka akan menemuinya di pasar terdekat.
"Biarlah petugas itu menunggu kita di pasar terdekat," kata Mahesa Amping sambil melompat ke atas kuda melanjutkan perjalanannya.
Akhirnya, mereka telah sampai di sebuah peternakan kuda, seorang lelaki telah menyambut kedatangan mereka.
"Apakah kami dapat bertemu dengan pemilik peternakan ini?" tanya Kebo Arema kepada orang itu.
Lelaki yang sudah cukup berumur itu tersenyum mendengar pertanyaan Kebo Arema.
"Kalian telah berhadapan dengan pemilik peternakan ini," kata lelaki itu sambil mempersilakan Kebo Arema dan kawan-kawannya untuk naik ke pendapa rumahnya.
Terlihat lelaki itu mengiringi tamunya naik ke pendapa rumahnya dan mempersilakan duduk.
"Nampaknya kalian baru pertama kali ke peternakan ini," kata pemilik peternakan itu memulai pembicaraan.
Kebo Arema langsung menyampaikan maksud dan tujuannya, yakni untuk membeli beberapa ekor kuda. "Tentunya bila harganya cocok," kata Kebo Arema kepada lelaki itu.
Terlihat lelaki itu tersenyum setelah mendengar perkataan Kebo Arema.
"Kalian datang terlambat, kemarin sore semua kudaku telah diborong habis," kata lelaki itu sambil tersenyum.
"Telah diborong habis? Siapa yang telah membeli semua kudamu?" tanya Kebo Arema kepada lelaki itu.
"Penguasa Pura Besakih, mereka telah memberi panjer," kata lelaki itu.
"Bagaimana bila kami membayar dengan harga yang lebih tinggi dari harga yang telah kalian sepakati?" tanya Kebo Arema kepada lelaki itu.
Terlihat lelaki itu menarik napas panjang, sepertinya tengah menimbang-nimbang.
"Maaf, aku tidak bisa mengecewakan pelangganku yang telah membayar panjer," kata lelaki itu menolak tawaran Kebo Arema.
"Ternyata kami datang terlambat, dan kita belum berjodoh," kata Kebo Arema sambil memohon pamit diri mencari peternak lain di sekitar Kademangan Rendang.
"Lain waktu datanglah, aku punya beberapa bibit yang baik," kata lelaki itu mengantar tamunya keluar dari pekarangan rumahnya yang terlihat dipenuhi beberapa kuda yang ternyata sudah diborong semuanya oleh penguasa Pura Besakih.