Chapter 138
"Ssst, aku akan kembali berperan sebagai lelembut," kata Ki Jaran Waha sambil berlari masuk ke dalam semak belukar.
"Kami telah menemukan banyak bibit ulat bulu beracun di rumah Dukun Made Jakut," ujar pemimpin itu kepada Empu Dangka, yang ia kira sebagai orang yang dituakan di antara mereka bertiga.
"Apa yang dapat kalian lakukan untuk menawarkan ulat bulu beracun di sawah ladang kalian?" tanya Empu Dangka kepada pemimpin para penduduk itu.
"Mungkin memaksa Dukun Made Jakut memberikan penawarnya," jawab pemimpin para penduduk itu sambil menatap Dukun Made Jakut yang masih rebah.
"Tidak ada penawar ulat bulu beracun selain berharap datangnya hujan," kata Empu Dangka penuh keyakinan.
"Sayangnya saat ini masih musim kemarau," sahut salah seorang di belakang pemimpin itu.
"Kita tidak dapat mendatangkan hujan," kata pemimpin itu menatap penuh kekhawatiran kepada Empu Dangka; wajahnya tampak penuh keputusasaan.
"Aku akan mendatangkan hujan," kata Mahesa Amping sambil maju ke depan berhadapan dengan para penduduk yang tampak tidak yakin atas ucapannya.
"Mendatangkan hujan?" Ucapan itu keluar berulang-ulang dari beberapa penduduk yang menganggap Mahesa Amping hanya bercanda.
Mahesa Amping tidak menanggapi ucapan mereka. Dengan langkah perlahan dan penuh ketenangan, ia memisahkan diri menuju sebuah tempat yang terpisah. Mahesa Amping kemudian duduk bersila dengan sempurna. Wajah dan napasnya begitu tenang, seperti patung Buddha. Ia benar-benar telah masuk dalam semedinya, memusatkan segala nalar dan budinya ke dalam ketiadaan, alam kesunyatan.
Para penduduk terperanjat ketika menyaksikan asap tipis keluar dari ubun-ubun Mahesa Amping. Asap tipis itu kian melebar menyelimuti tubuhnya, lalu terus meluas dan menebal hingga membentuk kabut putih. Pandangan mata siapa pun di padukuhan itu tidak lagi dapat menembus kabut yang diciptakan oleh kekuatan ilmu Mahesa Amping yang luar biasa. Seluruh tanah padukuhan kini telah diliputi kabut putih yang tebal.
Apa yang terjadi selanjutnya? Kabut putih tebal itu perlahan naik ke udara, membentuk gumpalan awan yang terbang semakin meninggi. Seluruh tanah padukuhan seketika menjadi teduh. Mentari sore yang sudah redup menjadi semakin redup karena terhalang awan putih ciptaan Mahesa Amping.
"Wuutttttttt!" Sebuah hentakan terlihat keluar dari kedua tangan Mahesa Amping, meluncur menembus kabut awan putih. Ternyata, hentakan itu adalah kekuatan hawa inti es yang luar biasa dinginnya. Kabut awan seketika berubah menjadi sekumpulan batu es salju yang sangat besar.
"Wuuutttttttt!" Kembali Mahesa Amping menghentakkan kedua tangannya ke arah gumpalan batu es salju yang tengah meluncur ke bumi. Luar biasa! Gumpalan batu es yang sangat besar itu hancur berkeping-keping, luluh menjadi air hujan yang turun bagai air bah tercurah dari langit.
"Hujan! Hujan!" Seluruh penduduk berteriak gembira menyaksikan hujan mengguyur seluruh bumi padukuhan, termasuk sawah ladang mereka yang terkena wabah ulat bulu beracun. Para penduduk tampak tidak menghiraukan tubuh dan pakaian mereka yang basah kuyup. Mereka berlari menuju sawah ladang masing-masing dan betapa gembiranya mereka saat melihat ulat bulu beracun telah hanyut terbawa air.
Mereka pun berbondong-bondong kembali ke tempat semula, di mana Mahesa Amping masih duduk bersila. "Terima kasih, wahai Manusia Dewa," kata beberapa penduduk sambil bersujud di hadapan Mahesa Amping. Sementara itu, hujan telah mereda dan akhirnya berhenti. Perlahan, Mahesa Amping membuka kedua kelopak matanya. Ia tersenyum melihat penduduk yang tengah bersujud di hadapannya.
"Bangunlah, aku tidak pantas disembah. Semua berkat karunia Sang Hyang Gusti yang Maha Pengasih, juga berkat doa kalian," ujar Mahesa Amping sambil meminta para penduduk untuk bangkit.
Pemimpin mereka mendekati Mahesa Amping yang sudah berdiri. "Terima kasih, Tuan telah menyelamatkan kehidupan kami," katanya.
"Berterima kasihlah kepada Gusti Yang Maha Pengasih, sementara diriku hanya sebatas perantara," jawab Mahesa Amping.
"Kami mohon maaf atas segala perlakuan buruk terhadap Tuan," kata pemimpin itu kepada Mahesa Amping, juga kepada Empu Dangka dan Ki Arya Sidi yang ikut mendekat.
"Siapapun dapat berbuat khilaf menghadapi suasana musibah wabah seperti ini," tutur Empu Dangka.
"Namaku Nyoman Atmaya, para penduduk di sini biasa memanggilku Ki Buyut," ujar pemimpin itu memperkenalkan diri.
Mahesa Amping, Empu Dangka, dan Ki Arya Sidi berganti memperkenalkan diri. Mereka pun menyampaikan tujuan perjalanan mereka, yaitu ke Pura Indrakila.
"Ternyata Tuan bertiga adalah tamu agung pemilik Pura Indrakila," kata Ki Buyut penuh kekaguman. "Hari sudah di ujung senja, sebuah kehormatan bila saja Tuan-tuan sudi beristirahat di tempat kami."
"Hari memang akan segera gelap, asal tidak merepotkan kalian, kami akan bermalam," sahut Ki Arya Sidi.
"Sebuah kehormatan menjamu Tuan-tuan bermalam di tempat kami," jawab Ki Buyut gembira. Ia segera memberi perintah kepada penduduk untuk menyiapkan keperluan bagi para tamu kehormatannya. "Mari kita berjalan menuju rumahku," ajak Ki Buyut setelah menghampiri mereka.
Mereka pun berjalan bersama menuju rumah Ki Buyut. "Dua hari lagi kami akan panen raya," ujar Ki Buyut sambil memandang hamparan sawah. Rumah Ki Buyut terlihat mencolok di antara rumah lainnya karena ukurannya yang besar. Saat memasuki regol rumah, mereka disambut oleh orang kepercayaan Ki Buyut.
"Nyi Buyut sudah kuberitahukan tentang kedatangan tamu-tamu kita," lapor orang itu dengan sopan.
"Beristirahatlah," kata Ki Buyut kepada tamunya sambil menunjukkan letak pringgitan untuk bersih-bersih. Setelah bergantian ke pringgitan, Mahesa Amping, Empu Dangka, dan Ki Arya Sidi duduk bersama di saung besar.
"Mudah-mudahan masakan simbok berkenan di lidah Tuan-tuan," kata Ki Buyut sambil mempersilakan tamunya menikmati hidangan.
"Terima kasih, jadi merepotkan," ucap Ki Arya Sidi.
"Kami tidak repot, sebaliknya kami merasa terhormat Tuan-tuan bersedia bermalam di sini," ujar Ki Buyut dengan senyum ramah.
Langit di atas rumah Ki Buyut kian gelap, purnama bulat penuh berdiri di atas pohon kemboja kuning di halaman. Suasana rumah menjadi hangat karena Ki Buyut pandai bercerita. Obrolan mereka mengalir mulai dari panen raya hingga kerajinan keris, bahkan perihal cucu Ki Buyut yang sempat sukar tidur.
"Maaf, bila sudah bicara aku memang suka lupa waktu," kata Ki Buyut mengingatkan tamunya untuk beristirahat.
Akhirnya, Mahesa Amping, Empu Dangka, dan Ki Arya Sidi masuk ke bilik yang telah disediakan. Di sisa malam itu, cucu Ki Buyut sama sekali tidak terbangun menangis. Yang sering terdengar hanya suara burung tekukur milik Ki Buyut di kesunyian malam.
Mahesa Amping menjadi orang pertama yang bangun, menyusul Ki Arya Sidi dan Empu Dangka. "Mari kita keluar," ajak Mahesa Amping.
"Hari masih begitu pagi," kata Ki Arya Sidi memandang langit yang masih gelap.
"Ternyata Tuan-tuan sudah lebih dulu bangun pagi," sapa Ki Buyut yang baru keluar dari pringgitan.
"Tidur kami sangat nyenyak di rumah Ki Buyut," ujar Ki Arya Sidi.
"Hari ini kami akan melaksanakan Tajen, kuharap kalian dapat menyaksikannya," kata Ki Buyut.
"Di kesempatan lain waktu saja," tolak Empu Dangka dengan halus.
Ketika matahari pagi telah bersembul di ujung timur hamparan sawah yang menghijau, Mahesa Amping, Empu Dangka, dan Ki Arya Sidi meninggalkan rumah Ki Buyut. Pandangan Ki Buyut mengiringi langkah mereka yang kian menjauh. Jarak Pura Indrakila dari kabuyutan memang tidak terlalu jauh lagi, meski jalannya menanjak karena pura terletak di puncak bukit.
Saat matahari semakin naik, mereka sudah dapat melihat Pura Indrakila berdiri megah dari kejauhan. "Apakah Tuan-tuan berasal dari Padepokan Panca Agni?" tanya seorang penjaga.
"Benar, kami dari Padepokan Panca Agni," jawab Ki Arya Sidi.
"Ternyata Tuan-tuan adalah tamu yang tengah kami nantikan," kata penjaga itu sambil mengajak mereka menemui Dewa Bakula. "Kita langsung ke Bale Guru."