Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 70

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 70

"Jangan besar kepala dulu," kata lawannya sambil memindahkan senjata goloknya ke tangan kiri dan terus menyerang Kujang Gundul. Kujang Gundul tersenyum menghadapi lawannya. Serangan lawannya terlihat agak kaku karena kurang terbiasa menggunakan tangan kiri.

"Agar seimbang, aku akan berbuat yang sama," kata Kujang Gundul sambil memindahkan tombak pendeknya ke tangan kiri. Namun, meski menggunakan tangan kiri, kemahiran Kujang Gundul dalam memainkan tombak pendeknya tidak berubah.

Sret! Sretttt!

Kembali tombak pendek Kujang Gundul menemui dua sasaran sekaligus. Dua pangkal paha lawannya tergores mata tombak yang bergerak begitu cepat. Terlihat kedua kaki lawannya tidak mampu lagi menopang tubuhnya; mereka hanya mampu berdiri di atas lutut.

"Dulu aku tidak pernah mengampuni lawanku. Hari ini kubiarkan kalian hidup agar suatu saat kita masih dapat bermain lagi," kata Kujang Gundul kepada kedua lawannya. Ia pun menghentakkan kaki di perut kudanya dan berlalu pergi, diiringi tatapan mata kedua orang lawannya. Malam terus merayap dalam gelisah, berharap datangnya pagi untuk menggantikan takhta hari.

"Semula aku berpikir kamu tidak akan datang kembali," kata Ki Mantul kepada Kujang Gundul ketika mereka bertemu di suatu tempat yang telah disepakati.

"Ada sedikit hiburan dalam perjalananku," jawab Kujang Gundul sambil menceritakan apa saja yang menghambat perjalanannya.

"Syukurlah bila kamu sekarang dapat mengendalikan diri untuk tidak begitu mudah membunuh lawanmu," ujar Ki Mantul setelah mendengar cerita Kujang Gundul sambil terus memacu kudanya.

"Hari-hari yang kujalani saat demi saat terasa begitu indah. Bagaimana mungkin aku dapat merebut kehidupan orang lain? Kematianku sendiri bukan lagi milikku," sahut Kujang Gundul.

Akhirnya, saat malam telah jemu menjaga bumi dan menyerahkan sisa hari kepada pagi, Ki Mantul dan Kujang Gundul sampai di tepi Hutan Kranggan. Tidak lama berselang, seorang utusan Ki Lurah Gembleh tiba. Ternyata Ki Mantul telah mengenal utusan itu dengan baik. Utusan tersebut menyampaikan berita bahwa pagi ini sepasukan prajurit akan datang ke tepi Hutan Kranggan dengan rencana menggulung orang-orang Pasir Muncang untuk dijadikan kambing hitam.

"Raden Darmamula dan Patih Manohara ikut dalam pasukan itu," kata utusan tersebut.

"Bagus, secepatnya kita buat blumbang agar ular-ular itu mudah terpancing," kata Ragasuci.

"Ada satu lagi dosa yang masih mengganjal di hatiku," kata Kujang Gundul kepada semua yang hadir. Semua mata pun tertuju kepadanya. "Meluruskan kebenaran atas apa yang sebenarnya terjadi kepada orang-orang Pasir Muncang."

"Apakah kamu tidak takut bahwa kemarahan orang-orang Pasir Muncang akan berbalik arah kepadamu?" tanya Ki Mantul yang khawatir.

"Tidak perlu khawatir. Aku dengan ketuanya pernah adu tanding dengan taruhan siapapun yang kalah akan tunduk patuh, dan untungnya akulah pemenangnya," kata Kujang Gundul sambil tersenyum, diiringi tarikan napas lega dari semua yang hadir.

"Tidak ada pilihan, aku akan menugaskanmu meluruskan semuanya dan menyampaikan apa yang akan terjadi atas mereka. Sampaikan salamku atas nama Baginda Raja Saunggaluh," perintah Ragasuci.

"Hamba menjunjung titah Baginda. Hamba mohon diri untuk segera berangkat ke Hutan Cigugur," jawab Kujang Gundul penuh hormat. Ia segera pamit menuju Hutan Cigugur, tempat orang-orang Pasir Muncang berlindung selama ini.

Setelah Kujang Gundul berlalu, Ragasuci meminta Ki Mantul untuk menyiapkan rumah duka. "Ingat, ada dua jenazah di rumah ini," kata Ragasuci sambil melirik Bango Samparan yang membalasnya dengan senyuman.

"Sebelum menjadi mayat palsu, aku akan membukakan ikatan para anak buahku," kata Bango Samparan sambil bangkit berdiri dan turun ke bawah menemui anak buahnya yang saat ini masih terikat sebagai tawanan. Mahesa Amping, Lawe, dan Raden Wijaya mengikuti Bango Samparan untuk membantu.

Sementara itu, di Istana Saunggaluh, sebuah pasukan khusus berkuda yang sangat dibanggakan telah dipersiapkan.

"Baginda Raja memerintahkan kita untuk menjaga istana," kata Ki Lurah Gembleh yang merasa cemas saat melihat kesiapan pasukan berkuda keluar dari gerbang istana.

"Kenapa Baginda Raja tidak memerintahkan pasukan kita membantunya?" tanya salah seorang anak buahnya berbisik.

"Mungkin Baginda Raja punya perhitungan sendiri. Setidaknya kitalah benteng terakhir," ujar Ki Lurah mencoba menenangkan diri.

Abu mengepul di belakang kuda-kuda yang berlari keluar gerbang kota. Hanya Ki Lurah Gembleh dan beberapa anak buah kepercayaannya yang mengetahui ke mana tujuan pasukan itu sebenarnya. Ketika matahari bergeser turun dari puncaknya, pasukan berkuda telah sampai di tepi Hutan Kranggan dan langsung menuju rumah singgah.

"Ampun Tuanku, hamba tidak dapat melindungi Baginda Raja," bersimpuh Ki Mantul di hadapan Patih Manohara dan Raden Darmamula.

"Ceritakan apa yang telah terjadi," kata Raden Darmamula. Ki Mantul pun bercerita sebagaimana yang telah diatur sebelumnya. Dikatakan bahwa malam itu datang seseorang yang membunuh Bango Samparan sekaligus masuk ke kamar Ragasuci yang tengah tertidur.

"Tuanku Baginda telah terbunuh saat tertidur," kata Ki Mantul menutup ceritanya.

"Aku ingin melihat jenazah Baginda Raja," kata Patih Manohara tidak sabar. Patih Manohara dan Raden Darmamula masuk ke dalam. Hati mereka gembira melihat dua buah jenazah di ruang tengah. Terlihat tiga orang gadis sedang menangisi sesosok jenazah.

"Siapakah di antara kalian yang bernama Dara Puspa?" tanya Raden Darmamula kepada ketiga gadis yang masih menangis tersedu-sedu.

"Akulah Dara Puspa," jawabnya sambil menatap Raden Darmamula.

"Aku turut berduka cita atas kematian suamimu," kata Raden Darmamula, sementara hatinya berdecak kagum melihat kecantikan Dara Puspa.

Belum sempat Raden Darmamula menyingkap kain yang menutupi tubuh jenazah untuk memastikan apakah jenazah itu benar Ragasuci, seorang prajurit datang. "Ampun Tuanku, orang-orang Muncang memaksa ingin masuk," lapor prajurit itu.

"Anjing mencari penggebuk," ucap Patih Manohara sambil berjalan keluar diikuti Raden Darmamula.

"Apa yang kalian inginkan kemari?" tanya Patih Manohara di hadapan orang-orang Pasir Muncang.

"Kami ingin menyampaikan penghormatan yang terakhir," jawab salah seorang yang tampaknya adalah pemimpin mereka.

"Kalian adalah orang-orang terbuang dari tanah Pasundan, tidak layak memberikan penghormatan terakhir," cemooh Raden Darmamula.

"Lebih layak mana, orang yang terbuang dari kampungnya atau seorang pengkhianat bangsa?" balas pemimpin itu.

"Siapa yang kalian maksudkan sebagai pengkhianat bangsa?" tanya Patih Manohara.

"Tidak perlu berpura-pura lagi, kalian berdualah pengkhianat bangsa itu," kata Kujang Gundul yang tiba-tiba keluar dari kerumunan orang-orang Pasir Muncang.

"Kujang Gundul!" teriak Patih Manohara kaget.

"Tuanku kaget melihat hamba masih hidup?" tanya Kujang Gundul dengan senyum khasnya.

"Sebaliknya, aku gembira kamu datang sendiri mencari alat penggebuk," sahut Patih Manohara menutupi rasa kagetnya.

"Untuk membunuh seekor ular memang perlu alat penggebuk," tiba-tiba suara lantang berasal dari atas panggung pendapa. Ternyata itu adalah Ragasuci yang sudah berdiri di situ, di samping Bango Samparan.

Bukan main kagetnya Patih Manohara dan Darmamula melihat Ragasuci masih hidup. Kekagetan mereka bertambah ketika dari bawah panggung rumah itu keluar para anak buah Bango Samparan yang selama ini mereka kira masih terikat.

"Maaf Paman, terima kasih atas perhatian Paman untuk menjenguk jenazah keponakannya," kata Ragasuci melihat Raden Darmamula terkejut. "Paman telah datang dengan dua puluh pasukan berkuda. Untuk itu, aku telah menghadirkan lima puluh orang lebih yang setia berkorban untukku," lanjut Ragasuci agar Raden Darmamula memperhitungkan kekuatannya.

"Kalian akan kami basmi sekalian di sini," kata Raden Darmamula menutupi kegentarannya.

"Apakah Paman dapat memerintahkan pasukan berkuda untuk membunuh rajanya sendiri?" tanya Ragasuci. Hal itu membuat para prajurit bimbang, perintah siapa yang harus mereka taati.

Melihat wajah keraguan para prajurit, wajah Raden Darmamula memerah terbakar. Dirinya merasa sudah berada di tengah jebakan yang tidak mungkin dapat lolos lagi.

"Aku akan menantangmu adu tanding," kata Raden Darmamula penuh keputusasaan, berharap tantangannya diterima. Inilah jalan satu-satunya untuk keluar dari segala tuntutan, meski secara pribadi ia menyadari ketinggian ilmu Ragasuci yang menjadi murid tunggal terkasih Gurusuci Darmasiksa.

"Aku terima tantangan Pamanda," jawab Ragasuci. Bukan main gembiranya Raden Darmamula mendengar pernyataan tersebut. Meski mengakui ketinggian ilmu Ragasuci, ia merasa selisihnya hanya setipis kulit dibandingkan dengan pengalaman dan umurnya.

"Izinkan hamba mewakili Baginda Raja," kata Mahesa Amping yang dapat membaca perasaan Ragasuci yang menjadi ragu harus berhadapan dengan pamannya sendiri.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment