Chapter 124
"Maaf, kami memasak terburu-buru, mungkin bebek betutunya masih alot," ujar Nyi Demang sambil meletakkan hidangan malam untuk para tamunya.
"Masih ada persediaan brem ketan hitam, semoga dapat menghangatkan malam yang dingin," kata Ni Wayan Aolani sambil meletakkan minuman brem dan sebakul nasi putih hangat.
"Kenapa cuma dipandang?" tanya Ki Demang ketika Nyi Demang dan putrinya telah masuk kembali ke dalam rumah, mempersilakan ketiga tamunya menikmati hidangan yang telah disediakan.
"Anggap saja di rumah sendiri," ucap Ki Demang memberi semangat kepada ketiga tamunya yang mulai menyiduk nasi putih hangat dan bebek betutu yang sangat menggoda selera itu.
Ketika hari terus merangkak perlahan mengikis malam, mereka masih berada di saung depan halaman rumah, bercakap-cakap sambil memandang bintang yang bertebaran di langit.
"Aku baru melihat ada kunang-kunang terbang setinggi pohon kelapa," kata Ki Amararaja sambil menunjuk jauh ke depan.
Lima buah cahaya kerlap-kerlip yang berjalan setinggi pohon kelapa itu menarik perhatian semua orang yang ada di saung bambu tersebut.
"Itu bukan kunang-kunang biasa. Mereka adalah para manusia Liya-ak yang tengah menikmati keindahan suasana malam," ujar Empu Dangka sambil tersenyum.
"Aku terlahir di tanah Bali ini, tetapi baru tahu ada manusia Liya-ak yang dapat berwujud sebagai kunang-kunang. Apakah mereka yang juga disebut sebagai manusia Leak?" tanya Ki Demang yang merasa tertarik dengan penjelasan Empu Dangka.
"Keduanya berasal dari aliran ilmu yang berbeda. Manusia Liya-ak telah melepaskan segala amarah yang menyelimuti jiwanya hingga menemukan anugerah pencerminan wajah dan sifat Sang Hyang Tunggal. Sementara itu, para manusia Leak adalah para pemuja kegelapan," jelas Empu Dangka kepada Ki Demang.
"Dalam kehidupan sehari-hari, apakah ada tanda yang dapat membedakan kehadiran mereka?" tanya Ki Demang.
"Tidak ada perbedaannya, mereka tetap butuh makan nasi jagung sebagaimana kita," jawab Empu Dangka sambil tersenyum.
Sementara itu, lima buah cahaya seperti kunang-kunang telah menghilang dari pandangan mereka. Malam telah merangkak jauh di penghujung waktu.
Pagi itu, langit begitu bening di atas bumi Kademangan Rendang. Mentari belum muncul, hanya selembar cahaya merahnya menguasai warna awan menjadi kuning kemerahan di ujung timur bumi. Warna daun dan rerumputan menjadi begitu jelas kehijauannya; alam semesta pagi yang bening dan jernih itu begitu elok rupawan, bagaikan perawan wangi yang keluar dari sungai setelah mandi.
"Kademangan Rendang ini akan merindukan kalian," kata Ki Demang mengantar Empu Dangka dan Mahesa Amping keluar dari regol rumah.
"Semoga dalam pengembaraanku dapat berjumpa kembali dengan kalian," ucap Ki Amararaja yang juga ikut mengantar.
"Terima kasih untuk segala kehangatan yang kami rasakan di rumah ini," ujar Empu Dangka kepada Ki Demang dan Ki Amararaja.
Ki Demang dan Ki Amararaja masih terus memandang ke arah Empu Dangka dan Mahesa Amping yang telah melangkah di jalan tanah Kademangan yang sudah mulai ramai. Di sebuah kelokan jalan, Empu Dangka dan Mahesa Amping akhirnya menghilang.
"Mereka adalah para pengembara sejati, terbang bebas merdeka seperti elang di langit luas," ujar Ki Demang.
Sementara itu, langit pagi sudah terang disinari cahaya mentari yang hangat. Terlihat dua orang lelaki melangkahkan kakinya begitu ringan menyusuri jalan setapak. Langkah kaki mereka tampak berayun bebas, tidak perlahan namun juga tidak terburu-buru. Mereka adalah Empu Dangka dan Mahesa Amping yang berjalan sambil menikmati alam pemandangan yang elok di daratan Balidwipa.
Kadang, mereka terlihat melintasi pematang sawah di pegunungan hijau yang luas, berundak seperti tangga raksasa menuju puncak gunung. Kadang pula, langkah kaki mereka harus merambat perlahan menembus hutan pegunungan yang lebat, jauh dari keramaian manusia. Matahari sudah cukup tinggi di atas cakrawala, namun cahayanya redup terhalang kerimbunan dahan dan daun hutan yang lebat. Tanah di hutan itu sepertinya tidak pernah tersentuh cahaya sepanjang hari, sementara hembusan angin yang masuk di antara dedaunan membawa semerbak harum tanah hutan yang lembap.
"Ternyata begitu mudah mengundang kalian," kata seorang tua yang tiba-tiba saja datang menghadang langkah kaki Mahesa Amping dan Empu Dangka.
Empu Dangka dan Mahesa Amping terperanjat, namun mereka dengan cepat dapat menguasai diri. Di belakang orang tua itu, bermunculan empat orang pemuda yang berpakaian cukup rapi.
"Siapakah kalian dan apa keperluan kalian menghadang perjalanan kami?" tanya Empu Dangka dengan tenang.
"Jangan berpura-pura, pasti kalian para pemuja kegelapan yang tengah mencari kami," kata orang tua itu sambil tersenyum.
"Kami cuma pengembara yang kebetulan lewat hutan ini," jawab Empu Dangka sambil memandang wajah orang tua di depannya. Selintas, Empu Dangka dan orang tua itu saling pandang. Tidak sedikit pun terlihat kegarangan di wajah orang tua itu.
"Maaf, aku telah salah menerka kalian," ujar orang tua itu, tampak percaya dengan ucapan Empu Dangka.
Namun, tiba-tiba saja angin di sekitar hutan itu bergulung-gulung, beberapa daun kering beterbangan.
"Sudah kuduga, penampakan lima buah cahaya di Kademangan Rendang adalah upaya memancing kehadiran kami," terdengar suara entah dari mana asalnya, bercampur dengan tawa tinggi yang menggetarkan dada.
"Wahai para manusia Liya-ak, saat ini kalianlah buruan kami!" kembali terdengar suara dari berbagai arah.
"Lekas nampakkan wujudmu! Kami tidak sabar untuk membasmi manusia Leak di bumi ini," seru orang tua itu dengan suara yang tidak kalah tingginya.
"Aku juga sudah tidak sabar untuk memakan hati manusia Liya-ak," ucap seseorang yang tiba-tiba muncul di bawah pohon kayu besar. Penampilannya yang mengenakan pakaian terusan kotor dengan wajah yang juga kotor membuat siapa pun yang memandangnya merasa ngeri. Matanya berkilat bercahaya, kejam dan penuh kebengisan.
"Jangan takut kami akan mengeroyok, mari kita lakukan tradisi perkelahian yang jujur sebagaimana para buyut kita," ajak orang tua yang disebut manusia Liya-ak itu.
"Memakan jantung manusia Liya-ak akan menambah kekuatan," sahut manusia Leak sambil mengusap air liur yang menetes bersama lidahnya yang dijulur-julurkan, sebuah tingkah laku yang sangat menjijikkan.
"Membunuh manusia Leak adalah sepuluh kebajikan," balas manusia Liya-ak dengan mata penuh kebencian.
Tiba-tiba saja, manusia Leak meluncur seperti terbang dengan kepala di depan, menyambar ke arah dada manusia Liya-ak. Nyaris dada orang tua itu terkoyak oleh ketajaman gigi manusia Leak, bila saja ia tidak dengan cekatan melompat ke samping sambil menjulurkan kakinya membalas serangan.
Sepertinya manusia Leak itu sudah membaca gerakan musuhnya; masih dalam keadaan terbang, tubuhnya liat berubah arah dan langsung menerkam leher orang tua itu. Kembali orang tua tersebut melenting ke samping sambil membalas menyerang dengan begitu cepat dan berbahaya. Demikianlah dua orang dari aliran ilmu yang saling bermusuhan di daratan Bali itu saling menyerang. Pertarungan semakin lama semakin cepat dan menegangkan.
Sementara itu, Empu Dangka menarik tangan Mahesa Amping bergeser menjauh. Dada mereka berdua berdebar menyaksikan dua kekuatan ilmu yang berbeda meski berasal dari tempat yang sama. Sebagaimana Empu Dangka dan Mahesa Amping, keempat pemuda yang mengiringi orang tua itu juga bergeser menjauh dengan wajah tegang.
Tiba-tiba, manusia Leak melenting ke belakang sekitar sepuluh langkah. Ia duduk bersila dengan lengan rebah di atas paha dan telapak tangan terbuka ke atas. Orang tua yang merupakan manusia Liya-ak pun melakukan hal yang sama.
"Mari kita lanjutkan pertempuran ini di alam tak terbatas," ujar manusia Leak. Tiba-tiba saja, dari ubun-ubunnya keluar sebuah cahaya bulat bersinar kemerahan. Berbarengan dengan itu, dari mulut orang tua tersebut keluar sebuah cahaya bulat bersinar kehijauan.
Pemandangan luar biasa terjadi; dua buah cahaya bulat saling berkejar-kejaran di udara. Kadang, dua cahaya itu saling bertabrakan dan menimbulkan suara dentuman keras seperti guntur yang mengguncang bumi. Sementara dua cahaya itu bertempur, keempat pemuda pengikut manusia Liya-ak juga duduk bersila. Rupanya mereka telah mengosongkan diri, terlihat empat buah cahaya bulat bersinar kehijauan di atas kepala masing-masing.
"Mereka telah keluar dari rangka jasadnya," gumam Mahesa Amping yang diam-diam telah mengendapkan akal budinya, melihat dengan mata batinnya.
Yang terlihat saat itu adalah kelanjutan pertempuran sebelumnya ketika mereka beradu ilmu. Ternyata mata wadag hanya mampu melihat cahaya bulat yang saling menyerang, sementara dengan mata batin, Mahesa Amping dapat melihat mereka bertempur sebagaimana jasad kasar bertempur.