Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 111

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 111

"Kami telah menyampaikan kepada pejabat istana bahwa besok akan menghadap Sri Baginda Raja," ujar Raden Wijaya kepada Ratu Anggabhaya.

"Aku akan mengantar kalian," sahut Ratu Anggabhaya, yang selama ini masih dibutuhkan oleh Sri Baginda Raja sebagai penasihat istana.

Sementara itu, ketika malam mulai beranjak di langit istana Singasari, seorang utusan raja datang ke pesanggrahan Ratu Anggabhaya untuk menyampaikan pesan langsung dari Sri Baginda Maharaja bahwa besok pagi Raden Wijaya, Lawe, dan Mahesa Amping diundang langsung ke puri pesanggrahan khusus Sri Baginda Maharaja.

"Sampaikan salam kami kepada Sri Baginda Maharaja, kami akan datang besok pagi," jawab Raden Wijaya kepada utusan itu.

"Besok aku tidak jadi mengantar kalian," ucap Ratu Anggabhaya setelah utusan itu pergi meninggalkan mereka.

Malam pun akhirnya berlalu, beriringan dengan datangnya pagi bersama mentari yang menerangi wajah bumi. Langit istana Singasari hari itu begitu cerah; suara burung manyar yang bersarang di atas pohon randu di belakang pesanggrahan terdengar ramai menyambut sang surya.

"Sengaja aku mengundang kalian datang ke tempatku di pagi hari. Aku rindu sarapan pagi bersama kalian seperti ketika di Bandar Cangu," kata Sri Baginda Maharaja menyambut kedatangan Raden Wijaya, Lawe, dan Mahesa Amping di puri pesanggrahan khusus.

"Kami merasa tersanjung dapat sarapan pagi bersama Sri Baginda Maharaja," kata Raden Wijaya mewakili kawan-kawannya.

Setelah menikmati hidangan sarapan yang nikmat, mereka saling bercerita tentang keadaan masing-masing.

"Kalian telah menunjukkan kesetiaan yang tak terhingga bagi keamanan Tanah Singasari," ujar Sri Baginda Maharaja setelah mendengar laporan dari Raden Wijaya mengenai keberhasilan mereka menumpas gerombolan pemberontak Mahesa Rangga di hutan Gunung Jati.

"Andil Empu Nada sangat besar dalam keberhasilan usaha kami ini," sahut Mahesa Amping.

"Empu Nada?" tanya Sri Baginda Maharaja.

Mahesa Amping bercerita tentang Empu Nada yang datang ke Padepokan Bajra Seta untuk menyampaikan berita tentang rencana pemberontakan Mahesa Rangga, yang tidak lain adalah murid tunggalnya sendiri.

"Empu Nada yang menunjukkan di mana gerombolan Mahesa Rangga mempersiapkan gerakannya," kata Mahesa Amping mengakhiri ceritanya.

"Aku sepertinya pernah mengenal nama orang tua itu," gumam Sri Baginda Maharaja, berusaha mengingat-ingat.

"Empu Nada itu saudara kembar guru Sri Baginda Maharaja, Empu Dangka," ujar Mahesa Amping menjelaskan sedikit mengenai Empu Nada.

"Dapatkah kalian membawa orang tua itu kepadaku?" tanya Sri Baginda Maharaja.

"Hamba akan membawa Empu Nada ke hadapan Paduka," jawab Mahesa Amping yang kemudian bergegas keluar dari puri pesanggrahan raja.

Empu Nada memang tidak ikut masuk ke dalam istana, melainkan masih bergabung dengan beberapa prajurit di sebuah barak kotaraja menunggu perintah untuk kembali ke Bandar Cangu.

"Semoga aku tidak canggung menghadap Sri Baginda Maharaja," canda Empu Nada kepada Mahesa Amping yang datang bersama seorang pengawal istana.

Demikianlah Empu Nada dan Mahesa Amping, diiringi seorang pengawal istana, memasuki lorong-lorong jalan di lingkungan istana menuju puri pesanggrahan khusus raja.

"Apakah aku bertemu dengan saudara kembar Empu Dangka?" tanya Sri Baginda Maharaja kepada Empu Nada.

"Sri Baginda Maharaja tidak salah lihat. Nama hamba Bratanadadewa, saudara kembar Empu Dangka," jawab Empu Nada membenarkan.

"Maaf, aku baru tahu bila Empu Nada juga ada bersama rombongan pasukan dari Bandar Cangu," kata Sri Baginda Maharaja.

"Garis hidup telah membawa hamba ke sini," sahut Empu Nada.

Sri Baginda Maharaja lalu bercerita tentang pertemuan dirinya dengan Empu Dangka di hutan sungai Porong. "Orang tua itu sepertinya sudah mengetahui bahwa hari ini kita akan berjumpa. Ia menitipkan sebuah pesan untuk Empu Nada," ujar Sri Baginda Maharaja.

"Hamba tidak sabar mendengar pesan itu," sahut Empu Nada.

"Pesannya adalah bahwa ia telah membenarkan bahwa tatwa bukan lagi sekadar ibadah hati, namun harus diejawantahkan di luar diri kepada seluruh alam. Laku Siwa memancar keluar sebagai budi, kasat mata dirasakan berwujud sebagai laku Sang Buddha yang menenteramkan isi dunia," tutur Sri Baginda Maharaja menyampaikan pesan gurunya.

"Itulah perselisihan paham di antara kami. Akhirnya, saudaraku memahami langkahku," ujar Empu Nada sambil menatap jauh, mengenang kebersamaannya dengan Empu Dangka.

"Tanah Singasari ini beruntung telah melahirkan orang-orang seperti kalian. Kebahagiaanku jika saja kalian berhasrat memenuhi permintaanku," ucap Sri Baginda Maharaja kepada Empu Nada, Raden Wijaya, Lawe, dan Mahesa Amping.

"Hasrat gerangan apakah yang dapat kami penuhi?" tanya Raden Wijaya mewakili yang lain.

Sri Baginda Maharaja menatap semua yang hadir dengan senyuman penuh arti. "Wahai Empu Nada, saudara guruku, hari ini aku melamarmu untuk kusandingkan sebagai Guru Suci Istana. Apakah dirimu berkenan?"

"Garis hidup telah membawaku ke istana ini. Berbakti sebagai Guru Suci Istana adalah sebuah darma. Hamba berkenan memenuhi hasrat Paduka," jawab Empu Nada.

"Wahai saudaraku, putra Lembu Tal, dapatkah kamu memenuhi hasratku untuk menjaga bumi Singasari ini? Membawahi segenap satria di medan juang membela tanah Singasari sebagai seorang Senapati panglima perang Singasari," ujar Sri Baginda Maharaja kepada Raden Wijaya.

"Hasrat Paduka adalah hasrat Siwa-Buddha. Memenuhi hasrat Paduka adalah darma. Hamba berkenan memenuhi panggilan bakti itu," jawab Raden Wijaya menerima permintaan Sri Baginda Maharaja Kertanegara.

"Wahai sahabatku yang telah lama membela bumi Singasari tanpa pamrih, maukah kalian menerima hasratku untuk terus menjaga bumi Singasari, berbakti dalam baju kebesaran, membawa umbul-umbul Singasari di medan perang manapun, sebagai seorang Rangga yang setia?" tanya Sri Baginda Maharaja Kertanegara kepada Lawe dan Mahesa Amping.

"Titah Paduka akan kami junjung sebagai pusaka," jawab Mahesa Amping dan Lawe bersamaan.

"Aku akan memanggil Mahapatih untuk melaksanakan upacara kebesaran sebagai hari pelantikan kalian," kata Sri Baginda Maharaja penuh senyum kebahagiaan.

Demikianlah, pada hari yang ditentukan, upacara besar pelantikan dilaksanakan dengan penuh kemeriahan. Inilah pertama kalinya Sri Maharaja Kertanegara mengeluarkan kekancingan, mengukuhkan pejabat utama istana. Seluruh raja yang berada di bawah kekuasaan Singasari diundang untuk menghadiri upacara tersebut. Kotaraja berhias dengan berbagai umbul-umbul dan janur di sepanjang jalan.

Ketika Sang Mahapatih membacakan titah dan sabda Sri Baginda Maharaja Kertanegara, gemuruh suara para undangan dan seluruh warga menyambutnya. Puja-puji mereka sampaikan atas pilihan Maharaja yang bijak terhadap para putra terbaik Singasari. Hari pelantikan empat orang pilihan Maharaja itu ditandai dengan turunnya hujan. Para orang tua memastikan bahwa ini adalah tanda para dewa merestui, dan Singasari akan mengalami masa keemasan.

"Hujan adalah lambang kesuburan, semoga ini pertanda kebaikan bagi Singasari," ucap seorang Brahmana tua di bawah tarub undangan.

"Payung pananggungan tidak mampu menahan hujan," ujar seorang tua renta yang berlindung di bawah pohon beringin di tengah lapangan alun-alun kotaraja.

Untungnya, hujan tidak turun sampai senja. Malam perjamuan menjadi begitu hangat, semua menikmati kegembiraan itu. Malam pun akhirnya berlalu, menyerahkan takhta waktu kepada pagi yang datang bersama surya.

Sementara itu, umbul-umbul dan janur masih menghiasi kotaraja. Sebuah iring-iringan pasukan terlihat melintas di jalan menuju gerbang kotaraja. Mereka adalah pasukan di bawah pimpinan Senapati dan dua orang Rangga muda yang baru kemarin dilantik. Mereka tengah kembali ke tempatnya, ke Bandar Cangu.

"Menguasai tanah Bali, itulah tugas pertama kita," ujar Raden Wijaya kepada Lawe dan Mahesa Amping.

"Di Tanah Madura ada Ki Banyak Wedi, di Tanah Pasundan ada Guru Suci Darmasiksa, dan di Tanah Melayu kita sudah mengikatnya dengan perkawinan. Hanya Bali yang belum kita ikat dengan apa pun," tutur Mahesa Amping menyampaikan pandangannya.

"Di Bandar Cangu, kita dapat meminta pertimbangan Paman Kebo Arema dan Kakang Mahesa Pukat," tambah Mahesa Amping.

"Benar, mereka adalah ahli siasat yang mumpuni," sahut Lawe.

Ketika mereka menemui sebuah pertigaan, Wantilan dan Sembaga tidak dapat menyertai karena harus kembali ke Padepokan Bajra Seta.

"Salam untuk Kakang Mahesa Murti dan seluruh warga Padepokan," ucap Mahesa Amping melepas kepergian mereka.

"Kami akan merindukan kalian," ujar Sembaga sambil melambaikan tangan.

Kegamangan mengisi hati dan perasaan Mahesa Amping saat menatap Wantilan dan Sembaga yang semakin menjauh. Terlintas suasana Padepokan Bajra Seta yang gayeng. Hati kecil Mahesa Amping terbawa dalam kenangan dan kerinduan pada padepokan nun jauh di sana. Tidak terasa, langkah kuda telah membawanya semakin ke utara, mengikuti benang-benang merah garis kehidupan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment