Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 31

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 31

Diam-diam menyebarkan kebencian bahwa Sri Maharaja telah menjadi pikun, telah melakukan perbuatan sia-sia.

Pagi itu tanah Kutaraja masih basah; gerimis di malam hari menggenangi banyak tanah berlubang.

Tiga ekor kuda terlihat keluar dari gerbang kota.

Mereka adalah Kebo Arema, Bhaya, dan Pangeran Kertanegara yang akan melakukan perjalanan menuju Bandar Canggu.

Di sanalah mereka akan membuat sebuah sejarah baru di bumi Singasari, membangun jung besar sebagaimana terpahat di dinding Biara Bukit Beduhur.

Jalan yang mereka lewati adalah jalan lintas perdagangan.

Beberapa gerobak dengan muatan penuh tampak berjalan pelan menuju Kutaraja.

"Sudah lama tidak terdengar ada perampokan di sepanjang perjalanan ini," kata Pangeran Kertanegara.

"Kelak akan juga dirasakan keamanan perjalanan di perairan," kata Kebo Arema.

"Tentunya setelah berdirinya sebuah kerajaan air yang akan kita bangun," kata Kertanegara penuh semangat.

"Di samping para perampok, masih ada segelintir orang yang merasa terancam dengan berdirinya sebuah kekuatan di perairan," ujar Kebo Arema. "Yang pasti mereka akan melemparkan duri di sepanjang perjalanan kita," sahut Pangeran Kertanegara.

"Itulah salah satu yang harus kita waspadai," kata Kebo Arema sambil memandang jauh ke ujung batas cakrawala.

Sementara itu, matahari telah jauh bergeser ke barat.

Langkah kaki kuda mereka sudah hampir mendekati Bandar Canggu.

"Selamat datang di Benteng Canggu," kata Senapati Mahesa Pukat menyambut kedatangan mereka di pendapa utama Benteng Canggu.

Setelah menyampaikan kabar keselamatan masing-masing, Pangeran Kertanegara menyampaikan tujuan dan rencananya, yaitu membuat sebuah jung besar yang belum ada sebelumnya di zaman itu.

"Sebuah kebanggaan yang besar bila aku terlibat dalam karya mahabesar ini," kata Senapati Mahesa Pukat memberikan dukungannya.

Akhirnya, pembicaraan pun semakin mendalam dan terperinci.

Mulai dari penempatan galangan, pencarian bahan kayu, hingga berlanjut kepada penggalangan prajurit yang akan menjadi bagian tak terpisahkan dari jung besar itu sendiri.

"Prajurit air," kata Senapati Mahesa Pukat setelah memahami apa yang harus mereka lakukan demi mewujudkan impian Sri Maharaja membangun sebuah kerajaan air.

"Sesuai petunjuk Sri Maharaja, di benteng ini ada seorang senapati yang tangguh, mantan seorang guru istana yang terpilih," kata Kebo Arema.

"Sri Maharaja terlalu memuji, mudah-mudahan sedikit ilmuku ini masih dapat berguna," kata Mahesa Pukat merendahkan diri.

Diam-diam Kebo Arema menyukai senapati muda di hadapannya yang rendah hati ini.

Banyak keterangan yang telah diceritakan oleh Sri Maharaja tentang Mahesa Pukat kepadanya, di antaranya kesaktian yang dimiliki oleh senapati muda ini.

Kebo Arema meyakini cerita Sri Maharaja bukan sekadar isapan jempol belaka.

Demikianlah, keesokan harinya Mahesa Pukat telah memerintahkan beberapa prajuritnya membangun beberapa bedeng darurat di pinggir Sungai Brantas, tidak jauh dari Benteng Canggu.

Di situlah akan berdiri sebuah galangan tempat pembuatan sebuah jung besar yang belum pernah tercipta di zaman sebelumnya.

Pada hari itu juga, Kebo Arema telah memerintahkan Bhaya, keponakannya itu, untuk berangkat ke Curabhaya guna memanggil beberapa saudara mereka dari Suku Air.

Pada zaman itu, keahlian orang-orang Suku Air dalam pembuatan perahu memang tidak diragukan lagi.

Mereka secara turun-temurun telah mewarisi ilmu pertukangan pembuatan perahu terbaik.

"Beberapa dari prajurit di Benteng Canggu ini dapat dibentuk menjadi prajurit yang tangguh sesuai dengan medan yang akan mereka hadapi, baik di darat maupun di lautan. Merekalah yang kelak akan menjadi perwira utama yang akan menurunkan keahliannya kepada prajurit baru yang akan kita dapatkan dari beberapa daerah di Singasari ini," kata Senapati Mahesa Pukat kepada Kebo Arema dan Pangeran Kertanegara pada suatu malam di pendapa utama Benteng Canggu.

"Sebuah usaha yang baik. Pembentukan pasukan khusus akan menjadi lebih cepat," kata Kebo Arema menyetujui usulan Senapati Mahesa Pukat.

Malam itu, bulan tua menyembul di atas langit tepian Sungai Brantas dengan begitu indahnya.

Langit bertaburan bintang menghiasi cakrawala raya.

Empat buah obor menerangi tanah lapang di tepian Sungai Brantas.

Kebo Arema, Kertanegara, Bhaya, dan dua puluh orang saudaranya dari Suku Air tengah berkumpul melakukan upacara adat memohon perlindungan dan berkah dari para leluhur.

"Pangeran," kata Kebo Arema.

"Leluhur kami telah melarang keturunannya menurunkan ilmu pembuatan perahu kepada selain garis darah. Untuk itulah, kami akan melakukan upacara penyatuan darah, menjadikan Pangeran sebagai saudara kami."

"Aku bersedia menjadi saudara kalian," kata Pangeran Kertanegara.

Maka, sebuah ritual kecil pun berlangsung khidmat.

Diawali dengan Kebo Arema memakan tiga helai daun cimeng yang diambilnya dari sebuah kotak kayu.

Bergilir satu per satu mereka memakan daun cimeng hingga berakhir pada Pangeran Kertanegara yang ikut mengambil tiga helai daun cimeng dan mengunyahnya.

Setelah itu, mereka meminum air tuak aren dari bumbung bambu yang sama.

Demikianlah mereka melakukan sebuah ritual kecil, mengikat Pangeran Kertanegara sebagai saudara sedarah.

"Mulai hari ini, Pangeran adalah saudara kami. Tidak tabu lagi bagi Pangeran untuk mengetahui rahasia pengetahuan kami," kata Kebo Arema kepada Pangeran Kertanegara.

Demikianlah mereka memulai sebuah kerja yang diawali dengan pembuatan sebuah galangan besar di tepian Sungai Brantas.

Pangeran Kertanegara melihat sendiri bagaimana orang-orang Suku Air bekerja.

Mereka benar-benar ahli dan pekerja keras.

Siang malam mereka bekerja seperti tidak mengenal lelah.

Memang sangat mengagumkan; hanya dalam waktu sepekan, sebuah galangan besar telah berdiri dengan kokoh di tepian Sungai Brantas.

"Aku sudah mendapatkan sepuluh prajurit pilihan, para calon perwira pasukan khusus pengawal jung besar," kata Senapati Mahesa Pukat kepada Pangeran Kertanegara pada suatu malam di pendapa utama Benteng Canggu.

Hadir juga pada saat itu Kebo Arema.

Atas penghormatan dan permintaan Mahesa Pukat, Pangeran Kertanegara dan Kebo Arema tinggal bersama di Benteng Canggu.

"Terima kasih, kami sudah membebani Paman Senapati," kata Pangeran Kertanegara.

"Tugas yang tengah Pangeran pikul adalah kewajiban kami sebagai prajurit untuk membantu sepenuh hati," kata Mahesa Pukat.

Pangeran Kertanegara dan Kebo Arema mengakui dalam hati masing-masing bahwa senapati muda di depannya itu benar-benar mendukung sepenuh hati tugas yang tengah mereka emban, sehingga tidak ada jarak di antara mereka.

Dalam setiap hal, tidak ada yang tidak mereka bicarakan bersama; mereka saling meminta pendapat dan mencari jalan keluar bersama.

"Galangan telah siap. Pekerjaan kita selanjutnya adalah mencari bahan kayu pilihan, di antaranya adalah mendapatkan sebuah kayu jati merah sebagai pokok jung," kata Kebo Arema kepada Mahesa Pukat dan Pangeran Kertanegara.

"Apakah ada syarat ketinggian tertentu dari pohon jati merah itu?" tanya Mahesa Pukat.

"Kita harus mendapatkan kayu jati merah untuk tulang pokok," jawab Kebo Arema.

"Pohon jati merah yang kita cari harus melebihi ketinggian dua puluh meter."

"Sebuah jung yang luar biasa besarnya," kata Mahesa Pukat membayangkan sebuah jung sangat besar yang belum pernah dilihatnya pada zaman itu.

"Aku pernah menemui pohon jati merah setinggi itu di Hutan Porong. Besok kami akan mencarinya," kata Kebo Arema.

"Sementara untuk bahan kayu lainnya, seperti kayu benuang dan ulin, tidak begitu sulit. Kita masih dapat mencarinya di hutan terdekat, tidak perlu persyaratan ketinggian tertentu sebagaimana pohon jati merah."

Pagi itu, dua buah jukung meluncur di atas Sungai Brantas.

Mereka adalah Kertanegara, Kebo Arema, Bhaya, serta lima orang Suku Air saudara mereka.

Ketika sampai di pertigaan Sungai Porong, mereka langsung berbelok arah dan masuk jauh ke pedalaman sungai hutan Porong.

Mereka tidak menyadari beberapa pasang mata tengah mengikuti perjalanan mereka.

"Berhenti!" kata Kebo Arema ketika mengingat sebuah tempat di mana ia pernah melihat banyak pohon jati merah tumbuh.

Mereka pun menepi. Setelah menyembunyikan dua buah jukung jauh dari tepian sungai, mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Hutan Porong sepertinya menelan mereka yang melangkah semakin jauh ke dalam hutan lebat yang jarang sekali didatangi orang.

Di samping masih banyak binatang buas yang berkeliaran, konon Hutan Porong adalah hutan kerajaan para dedemit.

Jarang sekali orang yang berani masuk ke hutan ini jika tidak ada keperluan yang mendesak.

Akhirnya, setelah lama mencari dan masuk lebih dalam lagi ke kelebatan Hutan Porong, mereka pun menemukan apa yang mereka inginkan.

Sebuah pohon jati merah dengan ketinggian lebih dari yang mereka duga sebelumnya.

Bukan hanya setinggi dua puluh meter, bahkan lebih dari empat puluh meter dengan lebar batang dua kali pelukan orang dewasa.

"Dengan pohon jati merah setinggi ini, tidak ada sambungan untuk tulang pokok jung kita," kata Kebo Arema gembira sekali menemukan pohon jati merah yang diharapkan.

Tanpa diperintah, Bhaya langsung memanjat pohon jati merah itu.

Begitu lincah Bhaya memanjat naik dari satu cabang ke cabang lainnya sampai ke ujung puncak cabang yang paling tinggi.

Sebagaimana naiknya, Bhaya menuruni pohon jati merah itu juga lebih cepat lagi dibandingkan ketika memanjat.

"Empat puluh tiga meter," kata Bhaya kepada Kebo Arema dengan gembiranya.

"Kita persiapkan jalan," kata Kebo Arema kepada lima orang saudaranya yang langsung tahu apa yang harus mereka lakukan, yaitu membuka hutan agar batang kayu jati merah dapat mudah ditarik mendekati tepian sungai.

Ketika mereka bekerja membuka jalan, penciuman Kertanegara yang tajam mencium bau aneh.

"Asap beracun!" kata Kertanegara mengingatkan semuanya untuk berhati-hati.

Namun, peringatan Kertanegara telah terlambat; seorang Suku Air yang ada di tempat paling ujung telah menghisap asap beracun.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment