Chapter 140
"Keluarkanlah senjatamu," ucap Aanjav kepada Mahesa Amping.
Mahesa Amping terlihat dengan penuh ketenangan mengurai cambuk dari pinggangnya. Sementara itu, semua orang yang melihat Mahesa Amping dan Aanjav bersiap untuk bertarung memahami bahwa pertarungan dahsyat akan terjadi di tanah lapang Bukit Sembul itu; mereka semua segera mencari tempat yang aman.
"Mari kita lihat apakah cambukmu mampu menahan serangan tongkatku," ujar Aanjav sambil memutar tongkatnya di atas kepala.
Wut! Tiba-tiba terdengar suara angin kencang saat tongkat Aanjav meluncur menghantam ke arah pinggang Mahesa Amping.
"Pukulan yang kuat!" seru Mahesa Amping yang bergeser mundur menghindari hantaman tongkat panjang Aanjav yang cepat.
Baru saja Mahesa Amping bergeser, tongkat Aanjav telah berubah arah menusuk ke arah perut. Kembali, Mahesa Amping menghindar ke belakang. Namun, kali ini cambuk Mahesa Amping ikut bergerak.
Wut! Cambuk Mahesa Amping nyaris menghantam leher Aanjav.
"Arah serangan yang baik," puji Aanjav sambil merunduk menghindari serangan tersebut.
Deg! "Bagaimana yang ini?" tanya Mahesa Amping sambil menghentakkan cambuknya dengan gerakan sendal pancing yang mematuk ke arah leher Aanjav.
"Luar biasa," kata Aanjav sambil menggeser badannya ke kanan guna menghindari patukan cambuk yang datang begitu cepat dan tidak terduga.
Kali ini, Aanjav membalas serangan dengan mengibaskan tongkatnya ke arah kaki Mahesa Amping. Dengan cepat, Mahesa Amping melompat dan membalas dengan memutarkan cambuknya ke arah badan bagian atas Aanjav. Tidak ada cara lain bagi Aanjav selain menangkis serangan tersebut dengan tongkatnya.
Duarr!
Kedua senjata beradu, mengeluarkan suara dentuman keras dan memercikkan bunga api di keremangan malam Bukit Sembul. Dua senjata yang terbuat dari kayu pilihan dan kulit jengat itu, ketika beradu dan memercikkan bunga api, menjadi tanda bahwa pemiliknya telah memiliki tenaga cadangan yang sangat dahsyat.
"Kali ini Mahesa Amping mendapatkan lawan yang sepadan," batin Empu Dangka yang menyaksikan pertempuran itu tanpa berkedip.
Perhitungan Empu Dangka memang beralasan. Aanjav sangat disegani di tanah asalnya; namanya sudah terkenal melampaui Tanah Hindu. Beberapa Datuk sesat di daratan Cina yang mahsyur karena ketinggian ilmunya pun akan berpikir ulang untuk berhadapan langsung dengan Aanjav, yang dikenal dengan sebutan "Pendeta Bertongkat Seribu".
Kedua murid Aanjav, Dewa Bakula dan Dewa Palaguna, diam-diam mengagumi ketinggian ilmu Mahesa Amping. Mereka tahu betul kedahsyatan ilmu gurunya, namun kali ini seorang pemuda mampu melayaninya dengan sangat baik.
"Pertempuran yang dahsyat," kata Ki Jaran Waha kepada Ki Arya Sidi yang berdiri di sebelahnya.
"Pertempuran semakin cepat," sahut Ki Arya Sidi saat melihat pergerakan mereka yang kian sulit diikuti mata.
Sebagaimana dilihat Ki Arya Sidi, pertarungan memang semakin cepat. Mahesa Amping dan Aanjav telah meningkatkan tataran ilmu mereka selapis demi selapis. Serangan mereka tak lagi terlihat kasat mata, yang tersisa hanyalah dua bayangan hitam yang saling beradu. Lebih dahsyat lagi, arena tempat mereka berpijak telah rata. Rumput dan alang-alang hangus terbakar menjadi abu, diterbangkan oleh angin dari pukulan yang keras.
Ternyata, Mahesa Amping dan Aanjav telah menyalurkan tenaga dalam berupa hawa panas yang luar biasa pada senjata masing-masing. Hal itu terasa pada setiap desis pukulan yang mereka lepaskan. Jarak tempur pun bergeser; serangan tidak lagi terbatas pada ujung senjata, melainkan sudah bertambah sedepa melalui hawa serangan yang sangat panas.
Mahesa Amping memanfaatkan kelenturan cambuknya, sementara Aanjav memainkan tongkatnya dengan kecepatan luar biasa. Pertempuran dua pendekar ini pun menjadi sengit, seru, dan keras. Sesekali, benturan senjata yang tak terelakkan menghasilkan percikan bunga api layaknya dua pusaka wesi aji yang saling beradu. Hawa panas telah menyebar luas ke sekeliling arena.
Malam semakin larut, namun belum ada tanda-tanda siapa yang akan memenangkan pertempuran. Tidak setitik keringat pun terlihat di wajah mereka. Sepertinya, keduanya telah menguasai ilmu pernapasan tingkat tinggi hingga tidak merasakan kelelahan sedikit pun.
"Pantas bila kedua muridku tidak dapat menandinginya," batin Aanjav sambil meladeni serangan Mahesa Amping yang datang beruntun.
Sementara itu, Mahesa Amping terus berpikir keras mencari cara untuk menembus ilmu Aanjav yang berada pada tataran tinggi. Tidak terlihat celah sedikit pun dari jurus-jurus yang dikeluarkan, meskipun Mahesa Amping pernah melihat teknik serupa saat menghadapi Dewa Bakula dan Dewa Palaguna. Namun, jurus Aanjav jauh lebih sempurna.
"Anak ini bergerak seperti setan," batin Aanjav menghadapi Mahesa Amping yang menggunakan ilmu meringankan tubuh dengan nyaris sempurna, ditambah kemampuan membaca arah serangan tongkatnya.
Hanya kematangan pengalaman dalam menghadapi berbagai aliran ilmu yang membuat sang Pendeta Bertongkat Seribu mampu mengimbangi pemuda itu.
"Luar biasa!" puji Aanjav dalam hati ketika Mahesa Amping mampu menghadapi serangan jarak pendeknya tanpa terpengaruh hawa panas yang telah ia kerahkan.
Butiran keringat akhirnya mulai muncul di wajah keduanya, menandakan mereka telah mengerahkan seluruh tenaga.
"Hanya orang gila yang mampu berbuat ini!" batin Aanjav dengan dada yang berdebar.
Ternyata, Mahesa Amping tengah membolak-balikkan kekuatan hawa panas dan hawa dingin secara bergantian dengan perubahan yang cepat. Empu Dangka yang melihat kecerdikan itu hanya tersenyum kecil; sebuah teknik yang tidak umum dan tidak semua orang bisa melakukannya. Empu Dangka melihat Aanjav mulai terganggu dengan metode tersebut.
"Dewa mana yang mengendap di dalam jiwa anak ini?" tanya Aanjav dalam hati dengan perasaan galau.
Galau pun memenuhi perasaan Dewa Palaguna yang melihat gurunya tampak setengah terdesak. Sebagai pengamat, ia bisa merasakan tekanan akibat perubahan hawa yang silih berganti tersebut. Ki Jaran Waha dan Ki Arya Sidi pun mundur menjauh karena merasakan tekanan kekuatan dari dalam diri Mahesa Amping.
"Bila saja anak muda ini mengerahkan kekuatannya seperti ini saat melawanku, mungkin aku sudah tidak lagi melihat purnama malam ini," batin Dewa Palaguna dengan napas panjang, merasa bersyukur Mahesa Amping telah bersikap lunak kepadanya.
"Saat mencoba menghentakkan kekuatannya beberapa hari lalu, Mahesa Amping belum mengeluarkan seluruh kekuatannya," gumam Empu Dangka yang kini juga ikut mundur beberapa langkah untuk menghindari tekanan hawa panas dan dingin yang kian mencekam.
Kegalauan menghantui Aanjav; Mahesa Amping terus merambati kekuatannya menuju puncak. Pikiran Aanjav terpecah; selain menghadapi serangan cambuk yang cepat, ia juga harus membentengi dirinya dari serangan hawa panas dan dingin yang berubah-ubah. Akhirnya, tubuh Aanjav melenting jauh ke belakang.
"Cukup!" seru Aanjav sambil mengangkat kedua tangan sebagai tanda menghentikan pertempuran.
Sebagai orang yang ahli, ia tahu jika pertarungan diteruskan dengan kekuatan yang kian tak menentu itu, seluruh urat darah mereka akan pecah—sebuah dampak yang sangat mengerikan. Mahesa Amping berhenti dan berdiri tenang di tempatnya.
"Terima kasih telah berbuat lunak kepadaku," ucap Aanjav kepada Mahesa Amping sambil menjura dalam. "Hari ini aku mengakui kekalahan murid-muridku."
"Hanya manusia yang berjiwa layaknya samudera yang dapat menerima sebuah kekalahan," balas Mahesa Amping dengan senyum penuh persahabatan.
"Senang berkenalan denganmu, wahai anak muda," ujar Aanjav. Sepertinya, mereka kini telah mengakhiri pertarungan itu dengan rasa hormat.