Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 95

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 95

"Rezekiku akan datang bersama datangnya musim melaut," kata Gagak Seta sembari tersenyum.

"Tapi aku tidak melihat barang daganganmu menumpuk di ujung sana?" tanya Kebo Arema. Ia heran karena biasanya ia melihat barang dagangan Gagak Seta menumpuk tinggi, mulai dari beras hingga berbagai sayuran yang dibutuhkan sebagai persediaan dalam pelayaran jauh.

"Sudah dua hari ini para pedagang di Kepulauan Banca ini tidak berani datang menyeberang," jawab Gagak Seta. Wajahnya yang biasanya periang berubah menjadi sedikit masam.

"Apakah ada gangguan dari para perompak?" tanya Kebo Arema merasa prihatin.

"Sudah tidak ada lagi perompak yang berkeliaran di Kepulauan Banca ini," jawab Gagak Seta sambil menggelengkan kepala.

"Jadi, apa yang mengganggu mereka?" tanya Kebo Arema semakin penasaran.

"Ular naga besar berkaki enam," jawab Gagak Seta.

"Apakah kamu sudah pernah melihatnya?" tanya Kebo Arema.

"Aku baru mendengar dari orang-orang yang selamat, yang nyaris dibantai ular besar itu," kata Gagak Seta bercerita. "Hari ini, kami di Pulau Banca ini bermaksud mendatangi sarang ular naga itu."

"Kami akan ikut menyertai," kata Kebo Arema kepada Gagak Seta.

"Terima kasih, kami memang butuh orang-orang yang mempunyai keberanian," kata Gagak Seta merasa gembira.

"Sampai lupa mengajak kalian singgah di rumahku. Mungkin banyak yang harus kita bicarakan sebelum mendatangi pulau sarang naga besar itu," ajak Gagak Seta kepada rombongan Kebo Arema untuk singgah dan beristirahat.

Setelah tiba di rumah panggung Gagak Seta, mereka bersih-bersih dan beristirahat sejenak menikmati hidangan dari tuan rumah yang cukup ramah. Akhirnya, pembicaraan kembali tertuju pada sesosok ular naga berkaki enam. Gagak Seta bercerita bahwa beberapa puluh tahun yang lalu, ketika Kepulauan Banca digunakan sebagai sarang perompak, ada sekelompok bajak laut yang berhasil menjarah sebuah jung besar. Di sebuah pulau, mereka membuka berbagai barang hasil jarahan, salah satunya adalah sebuah peti kayu besar. Bukan main kagetnya para perompak itu ketika membuka peti tersebut, karena isinya adalah seekor ular naga berkaki enam. Seluruh bajak laut pun lari meninggalkan pulau itu.

"Sampai saat ini, tidak ada yang berani mendekati pulau itu," kata Gagak Seta mengakhiri ceritanya.

"Dan baru sekarang ular naga itu mengganggu manusia?" tanya Raden Wijaya yang tertarik dengan cerita tersebut.

"Benar, baru kali ini ular naga itu mengganggu. Mungkin makanan di pulau itu sudah menipis," kata Gagak Seta.

"Mungkin itu ular naga tua yang terusir dari kelompoknya. Aku pernah mendengar cerita itu," kata Mahesa Amping memberikan pendapat.

"Banyak kemungkinannya. Kita harus datang ke sarangnya untuk memastikan apa yang sebenarnya telah terjadi," kata Gagak Seta.

Akhirnya diputuskan besok pagi mereka akan berangkat ke pulau sarang naga itu. Gagak Seta mengajak tiga orang lelaki pemberani dari Pulau Banca, sementara Kebo Arema mengajak Mahesa Amping, Raden Wijaya, dan Lawe. Keesokan harinya, saat matahari mulai bangkit di ujung timur Pulau Banca yang terlindung barisan pohon kelapa dan embusan angin pantai, tiga buah jukung kecil meninggalkan pulau tersebut.

Tidak ada hambatan saat mereka mendekati Pulau Naga. Delapan lelaki itu melompat menjejakkan kakinya di pasir putih pantai yang hangat terkena sinar matahari. Semua mata tertuju ke arah hutan kayu yang rimbun dengan pohon-pohon raksasa.

"Berhati-hatilah," ucap Kebo Arema saat mereka mendekati hutan yang lebat.

"Lihatlah, ular naga besar itu masuk dari tempat ini," kata salah seorang lelaki dari Pulau Banca sambil menunjuk semak yang terkuak dengan beberapa ranting patah.

"Kita masuk lewat jalan ini," kata Gagak Seta.

Jejak itu memang cukup besar, memudahkan mereka menembus hutan yang penuh semak belukar. Namun, belum jauh melangkah, tiba-tiba langkah mereka terhenti. Napas mereka tertahan karena tidak jauh dari sana, terlihat dua sosok ular naga berkaki enam sedang berada di atas sebuah belumbang. Panjang ular naga itu mencapai sepuluh meter dengan badan sebesar pelukan orang dewasa.

"Ular naga yang besar," bisik Kebo Arema tak percaya. Kedua naga itu tampak gelisah.

"Menyingkir jauh-jauh!" perintah Kebo Arema saat melihat dua naga tersebut bergerak mendekat.

Mereka pun segera berlari menjauh. Ternyata, naga-naga itu tidak mengejar, melainkan mengikuti jejak menuju pantai. Delapan orang itu terus membuntuti arah langkah kedua naga tersebut. Sampai di pantai, ternyata kegelisahan naga-naga itu disebabkan oleh seekor naga lain yang baru tiba di ujung pasir pantai. Kedua naga besar menunjukkan taringnya, seolah mengusir naga pendatang. Naga pendatang itu pun menunjukkan taringnya, namun cukup cerdas untuk tidak melayani tantangan kedua naga besar tersebut. Ia perlahan mundur dan masuk ke dalam laut yang dalam. Setelah lawannya pergi, kedua naga besar itu kembali masuk ke dalam hutan.

"Sebagaimana yang pernah kamu katakan, naga yang terakhir kita lihat adalah naga yang terusir dari kelompoknya," kata Kebo Arema kepada Mahesa Amping.

"Dapat disimpulkan, bukan dua naga besar itu yang sering mengganggu penduduk, tapi seekor naga yang terbuang dan sedang marah," kata Raden Wijaya.

"Naga itulah yang harus kita binasakan," ujar salah seorang lelaki Pulau Banca dengan geram.

"Kita pancing naga besar itu," kata Gagak Seta.

"Dengan apa?" tanya Lawe.

Setelah rencana disepakati, delapan orang tersebut kembali ke jukung masing-masing. Mereka mendayung berputar-putar di sekitar tempat terakhir naga besar itu masuk ke laut. Saat rasa putus asa mulai muncul, tiba-tiba air laut bergolak. Seekor naga besar menyembul ke permukaan. Tanpa aba-aba, ketiga jukung meluncur ke darat. Sesuai rencana, mereka memancing naga itu untuk mengejar ke daratan agar pergerakan mereka lebih leluasa.

Naga itu mengejar mereka hingga ke pantai. Sebuah sabetan ekornya hampir menghantam Gagak Seta. Dengan gesit, Gagak Seta melompat menghindar, namun seorang lelaki dari Pulau Banca terlambat mengelak sehingga tubuhnya terlempar jauh. Tulang rusuknya terasa remuk.

"Lindungi orang itu!" perintah Mahesa Amping kepada Lawe.

Lawe berlari menyeret temannya yang terluka, namun naga itu bergerak cepat mengejar Lawe. Melihat bahaya mengancam, Mahesa Amping melesat terbang dan hinggap tepat di leher makhluk melata tersebut.

Crat!

Dua belati kembar milik Mahesa Amping menembus kedua mata naga besar itu. Dalam sekejap, Mahesa Amping sudah melesat menjauh dengan kedua belati yang berlumur darah segar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment