Chapter 144
"Pak Tua edan, sekarang pergilah menjauh sebelum kami berubah pikiran untuk membunuhmu," ancam pemimpin perampok itu kepada Ki Arya Sidi.
"Tidak bisa, tidak bisa, kalian tidak bisa membunuhku," jawab Ki Arya Sidi sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Aku akan membunuhmu!" seru pemimpin perampok itu sambil mengambil golok yang tercecer di tanah dan langsung menyerang Ki Arya Sidi.
Ki Arya Sidi membiarkan golok itu mendekati lehernya. Namun, tepat saat senjata itu hendak menyentuh kulitnya, ia bergeser sedikit. Orang itu terkejut karena tenaganya sendiri membuat tubuhnya condong ke depan. Ki Arya Sidi kemudian menabrakkan badannya ke tubuh perampok itu sembari mengerahkan tenaga dalam. Akibatnya, perampok itu terpental dan jatuh pingsan.
"He he he," tawa Ki Arya Sidi sambil memberi isyarat agar dua orang tersisa maju melawannya.
Namun, kedua orang itu ketakutan membayangkan nasib mereka jika melawan pria tua yang dianggap gila tersebut. Bukannya maju, mereka justru mundur dan melarikan diri sekencang-kencangnya.
"Keluarlah kalian dari persembunyian," panggil Ki Arya Sidi kepada keempat muridnya. Mereka pun segera keluar dan mendekati guru mereka.
"Ikat orang itu," perintah Ki Arya Sidi kepada Wayan Dewa Bayu. Wayan pun mengikat perampok yang masih pingsan itu dengan kulit kayu yang tumbuh di sekitar mereka.
"Serahkan kotak perhiasan ini kepada salah seorang dari mereka yang masih pingsan," titah Ki Arya Sidi sambil mencari tempat untuk bersembunyi.
Keempat muridnya segera mengumpulkan para perampok yang pingsan di berbagai tempat. Tidak lama kemudian, orang-orang itu mulai siuman.
"Siapa kalian?" tanya salah seorang dari mereka.
"Kami kebetulan lewat dan melihat kalian tergeletak di sini," jawab Nyoman Dewa Bayu mewakili saudara-saudaranya.
"Di mana orang tua edan itu?" tanya orang lain sambil menyapu pandangan ke sekeliling, namun pria yang dicari tidak ditemukan.
"Mungkin maksud Kisanak adalah lelaki yang sudah cukup berumur?" tanya Nyoman Dewa Bayu.
"Benar, seorang lelaki tua. Apakah kalian melihatnya?" tanya orang itu lagi.
"Aku melihatnya sedang mengikat salah satu dari kalian," jawab Nyoman Dewa Bayu sambil menunjuk perampok yang terikat. "Orang tua itu juga menitipkan kotak ini, katanya ini milik salah satu di antara kalian," lanjutnya sembari menyerahkan kotak tersebut.
"Terima kasih, ternyata kalian adalah orang-orang jujur," ujar pria itu dengan gembira setelah mendapati isi kotak tidak berkurang sedikit pun.
Ia kemudian bercerita bahwa mereka sedang dalam perjalanan menuju Kademangan Pejeng untuk menghadiri upacara pernikahan saudara mereka. Namun, di tengah jalan, mereka dicegat oleh tiga perampok dan bertemu dengan orang tua aneh yang membuat mereka pingsan.
"Kami berasal dari Padukuhan Kendal di lereng bukit Pura Indrakila," ungkapnya.
"Kebetulan sekali, tujuan perjalanan kami memang ke Pura Indrakila," ujar Made Dewa Apah.
"Singgahlah ke tempat kami jika kalian ada waktu, mungkin kami dapat menjamu kalian sebagai ungkapan terima kasih," ajak pria termuda di kelompok itu.
"Berterima kasihlah kepada orang tua tadi, kami hanya kebetulan lewat," balas Nyoman Dewa Bayu.
"Apakah kalian melihat ke mana perginya orang tua yang agak kurang waras itu?" tanya yang paling tua.
"Tadi ia pergi mengejar dua perampok ke arah sana," jawab Nyoman Dewa Bayu sambil menunjuk suatu arah.
"Syukurlah, berarti kita tidak akan bertemu lagi dengannya," sahut salah seorang yang sedari tadi diam, mungkin masih trauma dengan rasa sakit yang membuatnya pingsan. Nyoman Dewa Bayu dan ketiga adiknya hanya tersenyum dalam hati mengingat ulah guru mereka.
"Bagaimana dengan perampok ini?" tanya Made Dewa Apah.
"Biarlah kami yang membawanya untuk diserahkan kepada Ki Buyut di padukuhan terdekat," jawab mereka.
Setelah keempat orang itu pergi membawa tawanan, Ki Arya Sidi muncul dari persembunyiannya. "Hari ini aku salah menilai orang. Kukira ketiga orang berpakaian bangsawan itu orang baik, ternyata perampok tengik," gerutu Ki Arya Sidi sambil mengibas-ngibaskan pakaiannya yang dihinggapi semut hitam.
"Guru tidak pernah mengajarkan kami jurus katak menendang ke belakang," celetuk Ketut Dewa Akasa.
"Itu memang tidak ada dalam jurus perguruan kita," sahut Ki Arya Sidi sambil menggaruk kepalanya.
"Tapi dampak dari jurus itu benar-benar jempolan, dua orang langsung pingsan," puji Nyoman Dewa Teja sambil mengacungkan jempol.
Ketut Dewa Akasa dengan lincah mencoba meniru gerakan yang mereka sebut jurus maut itu, membuat yang lain tertawa.
"Tidak baik memperolok guru sendiri. Mari kita melanjutkan perjalanan," ajak Ki Arya Sidi.
Matahari mulai bergeser dari puncaknya saat mereka kembali melanjutkan perjalanan di bawah cakrawala biru yang cerah. Mereka sampai di kaki bukit yang dipenuhi pepohonan lebat. Ki Arya Sidi dan para muridnya mendaki bukit itu, menembus semak dan alang-alang. Keadaan hutan begitu teduh, namun jalan yang mereka tempuh berliku.
"Bukankah ini jalan yang tadi kita lewati?" tanya Nyoman Dewa Teja yang teliti.
"Benar, kita berputar kembali ke tempat yang sama," jawab Wayan Dewa Bayu.
"Mungkin kita perlu beristirahat dan membuka bekal," saran Ki Arya Sidi.
"Di pasar tadi aku sempat membeli brem ketan hitam," kata Made Dewa Apah sembari membuka bekalnya.
"Pantas kita tersasar!" seru Ki Arya Sidi tiba-tiba. Ia pun bercerita bahwa ayahnya dulu selalu mewanti-wanti agar tidak membawa brem ketan hitam saat melakukan perjalanan jauh. Menurut ayahnya, makhluk halus sangat menyukai makanan itu dan akan menahan siapa pun yang membawanya di hutan.
Mendengar itu, bulu tengkuk para murid berdiri. Ki Arya Sidi mengambil sedikit brem milik Made Dewa Apah, lalu melemparkannya ke empat penjuru mata angin. "Silakan kalian menikmati dan jangan ganggu kami lagi," ucapnya.
Setelah menikmati bekal, mereka melanjutkan perjalanan. Entah karena makhluk halus itu sudah kenyang atau karena mereka sudah beristirahat, perjalanan mereka tidak lagi berputar-putar. Mereka berhasil melintasi bukit dan sampai di kaki bukit Pura Indrakila tepat saat senja.
Sesampainya di sana, mereka disambut oleh Mahesa Amping. Setelah melepas rindu dan menyampaikan kabar, Ketut Dewa Akasa berkata, "Guru menemukan jurus maut di perjalanan tadi, namanya jurus katak menendang ke belakang."