Chapter 36
Ratu Turuk Bali tidak lagi membantah apa pun yang diinginkan suaminya yang keras seperti batu. Sebagai istri yang setia, ia harus tunduk dan patuh. Meski di dalam hati ia kurang menyetujui tindakan suaminya yang terus meningkatkan kekuatan prajurit, seolah-olah Raja Jayakatwang tengah menyusun kekuatan besar untuk menghadapi sebuah perang besar.
"Siapa yang akan diperangi?" Pertanyaan itulah yang membuat hati Ratu Turuk Bali seperti tersayat, terapung-apung dalam kebimbangan.
"Ada tiga pemuda ingin menghadap Tuanku Ratu," kata seorang bibi dayang kepada Ratu Turuk Bali yang saat itu berada di taman.
"Apakah mereka menyebutkan sebuah keperluan?" tanya Ratu Turuk Bali.
"Mereka hanya mengatakan ingin menghadap Tuanku Ratu. Salah seorang menyebut dirinya putra Lembu Tal bernama Raden Wijaya dari Kutaraja," jawab bibi dayang itu.
"Bawa mereka kemari," kata Ratu Turuk Bali yang sudah mengenal Raden Wijaya sebagai anak sepupunya, Lembu Tal.
Bukan main gembiranya Ratu Turuk Bali menerima kedatangan Raden Wijaya, keponakannya dari Kutaraja. Sejak menetap di Tanah Gelang-gelang, ia sudah lama tidak bertemu dengan saudara sedarah dari Kutaraja.
"Keponakanku sudah menjadi seorang pemuda gagah," kata Ratu Turuk Bali menyambut kedatangan Raden Wijaya.
"Perkenalkan, ini kawan-kawanku," kata Raden Wijaya memperkenalkan Mahesa Amping dan Lawe kepada Ratu Turuk Bali.
Banyak hal yang ditanyakan Ratu Turuk Bali, terutama mengenai kondisi Kutaraja yang sudah begitu lama tidak dikunjunginya. Akhirnya dalam sebuah kesempatan, Raden Wijaya menunjukkan sebuah tusuk konde kepada Ratu Turuk Bali.
"Ini adalah milikku, kenapa bisa ada di tanganmu?" tanya Ratu Turuk Bali yang mengenali bahwa tusuk konde itu memang benar miliknya.
Raden Wijaya pun bercerita panjang lebar mengenai semua kejadian yang dialami Pangeran Kertanegara di Pulau Madura.
"Rahasia tusuk konde ini biarlah tetap menjadi rahasia. Biarlah Raja Jayakatwang tidak mengetahui bahwa aku sudah mengetahui apa yang telah dilakukannya sejauh ini," kata Ratu Turuk Bali sambil memandang jauh, menembus rimbunan soka merah yang berjejer rapi di pinggir pagar istana.
"Untuk itu, biarlah kami tidak terlalu lama di istana ini," kata Raden Wijaya mencari alasan agar tidak diminta menginap.
Ratu Turuk Bali dapat menerima alasan Raden Wijaya, terutama mengenai rahasia tusuk konde tersebut, meski rasa rindunya harus dikorbankan.
"Jagalah diri kalian," kata Ratu Turuk Bali melepas kepergian Raden Wijaya, Mahesa Amping, dan Lawe.
Hari memang hampir senja. Sebagaimana layaknya pengembara, Raden Wijaya, Mahesa Amping, dan Lawe terlihat di jalan kota yang sudah tidak begitu ramai lagi. Dilihatnya tidak jauh dari istana sebuah barak besar prajurit.
"Kita buat mereka tidak tidur malam ini," kata Raden Wijaya kepada Lawe dan Mahesa Amping ketika melihat dari gerbang yang masih terbuka beberapa kelompok prajurit Gelang-gelang tengah berkumpul di depan barak.
Sambil berjalan, Raden Wijaya menerangkan rencana mereka. Ia mengajak kedua kawannya itu ke alun-alun utama. Sebagai orang yang pernah tinggal di Kutaraja, Raden Wijaya sudah dapat menerka fasilitas apa saja yang biasanya ada di alun-alun utama. Ternyata yang dicari Raden Wijaya adalah seekor harimau jantan.
Setiap raja di Singasari biasanya memiliki beberapa binatang sebagai lambang kekuasaan, seperti gajah, kuda pilihan, dan seekor harimau. Di alun-alun Tanah Gelang-gelang pun dipelihara seekor harimau besar yang terawat dengan baik. Kerangkengnya terbuat dari kayu yang kuat dengan ukuran yang cukup luas. Saat Raden Wijaya, Mahesa Amping, dan Lawe tiba di dekat kerangkeng, harimau itu sedang tidur.
"Kita bergerak saat hari menjelang malam," kata Raden Wijaya.
"Kita harus mendapatkan kayu untuk memikulnya," sahut Lawe yang melihat ukuran harimau itu begitu besar.
Sesuai rencana, mereka bertiga telah menyiapkan segalanya sembari menunggu malam tiba. Malam itu bulan sabit menggantung di langit Gelang-gelang. Alun-alun terlihat sepi dan gelap. Tiga sosok bayangan mengendap-endap mendekati kerangkeng harimau yang sedang berbaring.
Ternyata harimau mempunyai pendengaran yang sangat tajam. Meski tidak terlihat bangun, telinganya sudah menangkap suara langkah yang mendekat. Di kegelapan malam, matanya mengawasi tiga sosok tersebut. Raden Wijaya membuka selarak kayu yang mengunci pintu kerangkeng, lalu perlahan masuk ke dalam.
Harimau itu telah bersiap sejak awal. Begitu Raden Wijaya masuk, harimau itu langsung bangkit menatap dengan mata tajam yang menyala. Bersamaan dengan auman keras, sang raja rimba melompat menerkam Raden Wijaya. Namun, semua itu sudah diperhitungkan. Dengan gerakan luar biasa cepat, melebihi kecepatan lompatan harimau, Raden Wijaya melenting ke samping. Sang raja rimba menerkam tempat kosong. Begitu harimau itu menjejakkan kakinya, Raden Wijaya sudah melenting hinggap di punggungnya. Sebuah pukulan kuat menghantam tengkuk urat simpul sang harimau. Tanpa bersuara lagi, binatang itu jatuh pingsan.
Mahesa Amping dan Lawe menarik napas panjang. Meskipun tahu Raden Wijaya pasti dapat mengatasinya, tetap saja ada perasaan tegang melihat kegarangan harimau tersebut.
Bulan sabit masih menggantung di langit malam. Sesosok bayangan melompati dinding pagar barak dan mengendap-endap menuju gardu ronda. Seorang peronda yang tampak mengantuk terkejut ketika tiba-laki seorang pemuda berdiri di hadapannya sambil tersenyum. Belum sempat prajurit itu bersuara, ulu hatinya sudah dihantam pukulan keras. Prajurit itu roboh pingsan.
Pemuda itu, yang tidak lain adalah Raden Wijaya, berlari ke arah pintu gerbang untuk membukanya. Ketika pintu gerbang barak terbuka, dua orang masuk memikul sebatang kayu panjang yang membawa seekor harimau besar yang masih pingsan. Dengan cekatan, ikatan kaki harimau dilepaskan. Mereka segera keluar dan mengunci pintu gerbang dari luar menggunakan pikulan kayu tersebut.
Harimau itu adalah yang pertama kali sadar. Dengan raungan besar, ia meluapkan kegusarannya. Suaranya menggema memenuhi barak-barak prajurit yang baru saja beristirahat. Suasana menjadi gempar; ratusan prajurit keluar dengan berbagai senjata seperti pedang dan tombak. Di hadapan mereka, berdiri seekor harimau besar yang sedang murka.
Sepuluh prajurit yang terbiasa menghadapi binatang buas maju dengan tombak di tangan. Tanpa isyarat, mereka bersama-sama melemparkan tombak ke arah harimau. Nahas, tiga batang tombak menembus punggungnya. Raungan kemarahan terakhir terdengar menggetarkan malam sebelum sang raja rimba rebah tak bernyawa.
Malam itu juga gegerlah separuh kota Tanah Gelang-gelang. Warga tidak hanya terkejut karena harimau kesayangan Raja Jayakatwang mati, tetapi mereka juga heran melihat selembar kain yang melintang di punggung bangkai harimau itu. Kain tersebut bertuliskan kalimat pendek: "BINGKISAN KECIL DARI SANG PUTRA MAHKOTA".
Pagi harinya, berita itu sampai ke taman keputren.
"Kertanegara tidak pernah berubah," gumam Ratu Turuk Bali kepada diri sendiri. Sebagai adik, ia paham betul watak kakaknya yang tidak ingin dikalahkan dalam hal apa pun, mungkin karena sejak kecil selalu diagungkan sebagai putra mahkota.
"Aku berharap Kertanegara tidak berbuat lebih jauh lagi," kata Ratu Turuk Bali sendirian di taman. Wajahnya suram, penuh kekhawatiran memandang masa depan yang dipenuhi pertentangan antara dua orang yang dicintainya: saudara dan suaminya.
Sementara itu, Raja Jayakatwang tengah menerima laporan dari orang kepercayaannya.
"Kenapa baru hari ini kamu katakan ada tiga orang pemuda asing menghadap Ratu Turuk Bali?" tanya Raja Jayakatwang dengan marah.
"Ampun Tuanku, setelah kejadian matinya harimau peliharaan Tuan, hamba baru merasa curiga dengan kedatangan mereka," jawab orang kepercayaannya.
"Cari dan bunuh mereka!" perintah Raja Jayakatwang dengan murka.
Di sebuah kedai dekat pasar yang ramai, ketiga pemuda itu tengah merencanakan sebuah aksi. Sasaran mereka adalah kiriman seribu pedang yang dipesan langsung oleh Raja Jayakatwang.
"Kabarnya barang dagangan itu akan datang besok siang," kata Raden Wijaya.
"Berarti kita harus mencegat mereka di luar kota," sahut Lawe.
"Aku belum mendengar usulan darimu," kata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping.
"Entahlah, aku justru melihat ada sebuah perangkap tengah dipasang untuk kita," jawab Mahesa Amping sesuai dengan firasatnya yang tajam.
Ternyata kekhawatiran Mahesa Amping benar. Kehadiran mereka sudah diketahui, mereka telah masuk dalam jaring mata-mata, dan pembicaraan mereka pun telah disadap.