Chapter 112
Dan ketika senja turun membayangi wajah bumi, iring-iringan itu telah kembali ke kesatuannya di Bandar Cangu.
"Selamat datang, wahai para perwira muda," ujar Kebo Arema menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang, wahai Senapati muda," sapa Mahesa Pukat kepada Raden Wijaya.
"Selama kalian tidak ada, Senapati Mahesa Pukat selalu datang menemaniku, atau sebaliknya, aku yang datang ke bentengnya," tutur Kebo Arema ketika mereka sudah berkumpul di pendapa Balai Tamu.
Sementara itu, sang malam mulai turun, menutupi pandangan di langit Balai Tamu di pinggir Sungai Brantas. Angin malam bersemilir sejuk. Malam itu, kelihatannya hujan tidak akan turun karena banyak bintang bertaburan di langit.
"Sri Maharaja Kertanegara telah memberi tugas kepada kami untuk menguasai Tanah Bali. Kami menginginkan masukan dari Paman berdua," kata Raden Wijaya kepada Kebo Arema dan Mahesa Pukat.
"Aku dapat memahami pandangan Sri Maharaja Kertanegara atas Tanah Bali," ujar Kebo Arema sambil mengelus janggutnya yang sudah tampak dua warna.
"Sampai saat ini kita belum mengetahui kekuatan Tanah Bali," kata Mahesa Pukat menyampaikan pandangannya.
"Artinya, kita harus mengetahui kekuatan dan kelemahannya sebelum melakukan serangan," sahut Raden Wijaya menangkap maksud Mahesa Pukat.
"Harus ada seseorang yang dapat dipercaya untuk mengamati Tanah Bali dari dekat," usul Mahesa Pukat.
Entah kenapa, semua wajah tiba-tiba berbarengan memandang ke arah Mahesa Amping.
"Kenapa kalian semua memandangku?" tanya Mahesa Amping pura-pura keheranan.
"Artinya semua sepakat kamulah yang paling cocok mengamati Tanah Bali dari dekat dan melaksanakan tugas telik sandi," kata Raden Wijaya.
"Seorang Rangga harus patuh melaksanakan perintah senapatinya," ucap Mahesa Amping sambil tersenyum.
"Betul, betul, betul," sahut Rangga Lawe.
Ketika hari telah bergulir di pertengahan malam, Mahesa Pukat pamit untuk kembali ke bentengnya. "Aku khawatir kalian tidak dapat beristirahat selama masih ada aku," kata Mahesa Pukat sambil berdiri. "Sampai bertemu besok," ujarnya saat menuruni tangga pendapa Balai Tamu.
"Aku lupa kalian baru pulang dari perjalanan panjang. Beristirahatlah," kata Kebo Arema kepada Mahesa Amping, Lawe, dan Raden Wijaya.
Akhirnya, mereka satu per satu masuk ke pembaringan masing-masing untuk meregangkan otot yang tegang setelah berkuda seharian. Di atas langit Balai Tamu di tepian Sungai Brantas, bintang-bintang kecil masih berkilauan. Bulan sabit telah bergeser ke barat. Langit purba pada malam itu tidak berawan, begitu jernih berwarna biru kelam.
Di kesunyian malam, terdengar suara celepuk yang terus menjauh, mungkin sedang mencari anak tikus yang terjebak jauh dari induknya. Dari tepian Sungai Brantas, suara katak bersahutan mengiringi malam, mungkin tengah memanggil dan merindukan datangnya hujan.
Pagi pun akhirnya datang. Warna sungai dan langit tampak senada, putih keperakan disinari cahaya matahari yang mengintip di ujung timur bumi. Pagi itu, Kebo Arema, Lawe, Mahesa Amping, dan Raden Wijaya berkumpul di pendapa Balai Tamu, menikmati suasana dan warna pagi di tepian Sungai Brantas yang indah. Di hutan seberang sungai, sekumpulan burung betet loreng terbang bersama mencari persinggahan baru, sebagai tanda bahwa pergantian musim akan segera datang.
"Aku punya kenalan seorang saudagar yang sering berdagang ke Tanah Bali," kata Kebo Arema kepada Mahesa Amping.
"Sebuah berita baik. Setidaknya aku dapat ikut berlayar bersamanya," jawab Mahesa Amping.
"Aku akan menemuinya dan menanyakan kapan akan bertolak ke Tanah Bali," ujar Kebo Arema.
Pagi itu, matahari bersinar cerah mewarnai Bandar Cangu yang sudah ramai sejak dini hari. Sebuah bahtera terlihat perlahan bertolak meninggalkan Bandar Cangu, dibawa arus Sungai Brantas yang jernih putih keperakan dibias cahaya matahari. Bahtera dagang itu milik seorang saudagar yang akan berlayar menuju Tanah Bali. Di atas bahtera itulah Mahesa Amping menumpang.
Angin yang berhembus di awal musim kemarau terasa begitu sejuk membelai wajah Mahesa Amping di atas geladak. Tidak ada yang tahu bahwa pemuda itu adalah seorang Rangga prajurit Singasari. Mahesa Amping memang sengaja menyamarkan jati dirinya dengan mengenakan pakaian orang kebanyakan. Kepada saudagar pemilik bahtera yang merupakan kenalan Kebo Arema itu, Mahesa Amping mengatakan tujuannya ke Bali adalah untuk menemui saudara perempuannya yang sudah lama berpisah.
Bahtera terus melaju dibawa aliran Sungai Brantas, melewati hutan lebat di kanan kirinya, atau sesekali melintasi hamparan sawah hijau yang diselingi puluhan burung bangau putih. Seorang bocah kecil terlihat berlari mengusik burung bangau yang kemudian terbang menjauh.
Mahesa Amping tersenyum sendiri. Ia merenungi garis hidupnya; mulai dari Padepokan Bajra Seta, hidup sebagai cantrik, merasakan suasana kehidupan padepokan yang guyub, mengembara ke berbagai belahan dunia, hingga akhirnya diangkat sebagai seorang prajurit berpangkat Rangga.
Waktu terus berlalu, bahtera telah mendekati Bandar Curabhaya menjelang senja. Hanya sebentar bahtera itu bersandar, setelah memuat dan menurunkan beberapa barang pesanan, bahtera kembali bertolak ke arah timur Jawadwipa menuju Tanah Bali. Layar telah dikembangkan dan angin laut berhembus cukup kencang. Di bawah langit malam, bahtera terapung di atas hamparan laut biru yang luas, menyusuri tepian pantai Jawadwipa.
"Esok pagi kita sudah sampai di Tanah Sempit Selat Bali," kata seorang tua yang ikut sebagai penumpang. "Anak muda sudah sering ke Tanah Bali?" tanya orang tua itu kepada Mahesa Amping.
"Untuk pertama kalinya," jawab Mahesa Amping dengan senyum penuh persahabatan.
"Apakah anak muda punya saudara yang tinggal di Tanah Bali?" tanya orang tua itu lagi.
"Aku punya seorang saudara perempuan yang sudah lama tinggal di sana," jawab Mahesa Amping.
Tanpa diminta, orang tua itu bercerita bahwa dirinya adalah seorang pedagang batu aji. "Kadang aku juga berdagang keris bertuah, tergantung pesanan," katanya. Kebersamaan sebagai sesama penumpang membawa keakraban di antara mereka.
"Orang-orang memanggilku Ki Ketut Areng," ujar orang tua itu memperkenalkan diri.
"Namaku Mahesa Amping," balas Mahesa Amping.
"Singgahlah ke rumahku beberapa hari sebelum melanjutkan perjalananmu," tawar Ki Ketut Areng.
"Terima kasih, aku akan singgah," kata Mahesa Amping.
"Hari masih jauh dari pagi, sebaiknya kita beristirahat," ujar Ki Ketut Areng sambil menggelar tikar pandan. "Tikar ini cukup untuk kita berdua," tawarnya berbagi alas tidur menanti datangnya pagi.
Akhirnya mereka terlelap di atas geladak bahtera, angin dingin laut malam tidak terasa karena tubuh mereka telah terbungkus kain panjang. Langit malam perlahan surut berganti menjadi langit pagi, ditandai dengan semburat kemerahan di ujung timur bumi. Semburat warna merah itu perlahan merata mewarnai seluruh lengkung langit.
"Malam telah kita lewati," ujar Ki Ketut Areng yang terjaga dari tidurnya kepada Mahesa Amping yang sudah bangun lebih dulu dan bersandar di dinding geladak.
"Itukah Balidwipa?" tanya Mahesa Amping sambil menunjuk ke arah timur matahari.
"Itulah Balidwipa, pulau tempat matahari terbit," kata Ki Ketut Areng sambil menatap cahaya kuning matahari yang mengintip dari balik bumi Tanah Bali.
"Bahtera sepertinya akan merapat," ujar Mahesa Amping melihat bahtera berbelok ke kanan ke arah tepian pesisir Tanah Jawa.
"Benar, bahtera akan merapat di Tanah Sempit," kata Ki Ketut Areng yang tampak sudah sering berlayar menuju Tanah Bali.
Sebagaimana dikatakan Ki Ketut Areng, bahtera memang merapat di sebuah bandar kecil bernama Tanah Sempit. Mungkin dinamakan demikian karena letak bandar itu dibatasi oleh dua anak sungai yang bermuara di Selat Bali.
"Di ujung senja bahtera ini baru akan berlayar kembali, mari kita turun," ajak Ki Ketut Areng yang sudah bersiap.
Bulat penuh matahari sudah terlihat di ujung timur langit, cahaya pagi telah menerangi seluruh tanah bandar kecil itu. Ki Ketut Areng, diiringi Mahesa Amping, mendekati sebuah perkampungan nelayan dan mampir ke sebuah kedai makanan.
"Kami minta minuman hangat," kata Ki Ketut Areng kepada pemilik kedai.
Tidak lama kemudian, pemilik kedai membawakan minuman hangat serta beberapa jajanan. "Aku membawa kesukaan Tuan, serabi dan dage goreng," ujar pemilik kedai kepada Ki Ketut Areng yang ternyata sudah sangat sering berkunjung.
Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng menikmati minuman hangat serta kudapan yang dihidangkan.
"Apa yang biasa Ki Ketut Areng lakukan selama menunggu bahtera berlayar kembali?" tanya Mahesa Amping.
"Berdagang," jawab Ki Ketut Areng sambil tersenyum.
"Berdagang?" tanya Mahesa Amping keheranan.
"Di perkampungan nelayan ini ada seorang juragan yang cukup makmur, aku akan menawarkan sebuah keris kecil kepadanya," kata Ki Ketut Areng.