Chapter 128
"Empu Dangka ingin memberikan ilmu cambuk kepadaku?" tanya Mahesa Amping.
"Cambuk adalah lambang kelembutan. Aku melihat sifat dan sikapmu sangat sejiwa dengan lambang cambuk itu sendiri yang kadang lembut, tapi kadang dapat keras menghentak," kata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.
"Itu pun bila dirimu berkenan," lanjut Empu Dangka.
"Adalah sebuah kehormatan mewarisi ilmu cambuk dari Empu Dangka. Terima kasih telah mempercayakannya kepada diri ini," ujar Mahesa Amping.
"Aku telah mewariskan ilmu cambuk ini kepada orang yang tepat. Aku yakin di tanganmu ilmu ini akan berkembang melebihi apa yang telah aku capai," kata Empu Dangka merasa gembira bahwa Mahesa Amping berkenan menerima tawarannya.
"Empu Dangka terlalu memuji. Mudah-mudahan diriku yang bodoh ini dapat menerima pengajaran yang Empu Dangka berikan," kata Mahesa Amping dengan penuh kerendahan hati.
"Merasa bodoh, itulah jiwa para penuntut ilmu sejati. Karena ilmu itu sendiri laksana samudra yang mahaluas; semakin kita minum, semakin kita menjadi haus. Semakin kita mendalaminya, semakin banyak yang tidak kita ketahui," ujar Empu Dangka.
"Ucapan Empu Dangka adalah pusaka yang akan aku bawa dalam jiwa ini," sahut Mahesa Amping.
"Besok kita akan mulai berlatih," kata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.
"Setidaknya hari-hari di Padepokan Panca Agni ini menjadi tidak menjemukan," kata Ki Arya Sidi yang merasa gembira bahwa Empu Dangka dan Mahesa Amping berada lebih lama di padepokannya.
Sementara itu, tidak terasa rembulan sudah muncul di ujung timur, menggantung di langit meski awan senja masih terang berwarna pucat. Terlihat padang ilalang yang mengelilingi Padepokan Panca Agni berayun-ayun merunduk ditiup angin.
Waktu terus berlalu. Langit malam telah menyelimuti Padepokan Panca Agni di puncak Bukit Pejeng Gundul itu. Bersama dengan bergulirnya waktu, penguasa malam tampaknya telah bersembunyi di sisi kegelapan bumi lainnya ketika fajar datang menjenguk wajah bumi.
Suara ayam jago sudah terdengar sayup dari perkampungan yang jauh. Wajah pagi yang bening terlihat semakin cerah dan hangat manakala mentari muncul utuh, menggantung di ujung lengkung langit sebelah timur.
Para penghuni Padepokan Panca Agni pagi itu telah memulai kembali latihan di dalam sanggar bersama Mahesa Amping dan Empu Dangka.
"Biarlah aku yang mendampingi para sisya," kata Ki Arya Sidi yang memberikan kesempatan kepada Mahesa Amping untuk menerima pengajaran ilmu cambuk dari Empu Dangka.
"Terima kasih," ucap Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi.
Mahesa Amping kemudian mengambil tempat di sudut sanggar.
"Aku akan memperkenalkan kepadamu wujud serta sifat dari cambuk ini sebagai dasar mengenal ilmu cambuk," kata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.
Maka mulailah Empu Dangka menjelaskan beberapa hal mengenai wujud dan sifat sebuah cambuk kepada Mahesa Amping yang mendengarkannya dengan penuh perhatian. Ternyata Mahesa Amping mempunyai daya tangkap yang cemerlang. Dalam waktu singkat, ia telah memahami segala sifat maupun watak senjata cambuk yang disampaikan langsung oleh Empu Dangka.
Setahap demi setahap, Empu Dangka memberikan dasar-dasar penggunaan senjata cambuk.
"Perlu waktu satu bulan ketika aku memberikan pemahaman dasar-dasar jurus cambuk kepada Kertanegara maupun Kebo Arema. Sementara kamu sudah dapat melakukannya dengan begitu sempurna dalam waktu setengah hari," puji Empu Dangka yang merasa kagum atas kecepatan Mahesa Amping.
Di sisi lain dalam sanggar itu, para sisya masih terus berlatih. Terlihat pula kemajuan mereka yang membuat gembira Ki Arya Sidi sebagai gurunya. Latihan mereka akhirnya terhenti ketika pelayan tua datang membawa hidangan untuk makan siang.
"Bila tidak ingat sedang berlatih, pasti kuisi penuh perutku ini," kata Mahesa Amping sambil memegang paha ayam, yang ditanggapi dengan senyum oleh para sisya.
"Ternyata kita punya perasaan yang sama," sahut Wayan Dewa Bayu sambil manggut-manggut.
"Jangan khawatir, masih ada makan malam," kata Ki Arya Sidi.
"Artinya hari ini masih ada seekor ayam yang akan pasrah menerima takdirnya," ujar Empu Dangka perlahan.
Setelah beristirahat sejenak, mereka pun kembali berlatih. Para sisya di bawah bimbingan gurunya tengah berlatih jurus perguruan mereka yang telah disempurnakan. Sementara itu, Mahesa Amping dengan tekun berlatih dasar-dasar ilmu cambuk di bawah bimbingan Empu Dangka.
"Jurus ilmu cambuk ini terdiri dari tiga belas jurus. Setiap jurus bercabang lima bagian dan setiap cabang mempunyai enam pecahan gerak yang berbeda," kata Empu Dangka sambil memperagakan setiap gerakan kepada Mahesa Amping.
Kembali Empu Dangka tercengang melihat Mahesa Amping dengan cepat dapat menirukan semua jurus yang diperagakannya, meski masih terlihat kaku. Namun, dengan beberapa pengulangan, Mahesa Amping dapat melakukannya dengan begitu sempurna.
"Luar biasa!" seru Empu Dangka seolah tidak percaya bahwa dalam waktu yang singkat Mahesa Amping telah menghafal dan melakukan semua jurus ilmu cambuk dengan sempurna.
Hari telah beranjak sore. Matahari sudah condong ke barat di atas langit Padepokan Panca Agni. Terlihat para sisya tengah beristirahat mengendurkan urat-urat persendian mereka setelah seharian berlatih. Sementara itu, Mahesa Amping masih terus berlatih tanpa merasakan kelelahan sedikit pun.
"Anak muda ini telah menguasai ilmu pengolahan napas yang sempurna. Mungkin tiga hari tiga malam anak muda ini mampu bertahan dalam pertempuran yang sebenarnya," batin Empu Dangka mengagumi ketahanan tubuh Mahesa Amping.
Sambil berlatih, Mahesa Amping melihat para sisya sudah beristirahat, maka ia pun menghentikan latihannya. Tidak sedikit pun terlihat raut kelelahan di wajahnya.
"Ilmu pengaturan napasmu sudah begitu sempurna," puji Empu Dangka.
"Empu Dangka terlalu memuji," sahut Mahesa Amping rendah hati.
"Besok aku akan mencari bahan untuk membuat sebuah cambuk. Aku perlu janget khusus dan karah-karah baja pilihan," kata Empu Dangka.
"Aku pernah membuat sebuah cambuk dari bahan jerami," kata Mahesa Amping.
Empu Dangka tersenyum mendengar ucapan Mahesa Amping. "Akulah yang akan membuatnya khusus untukmu. Cambuk yang kupunya ini, dan dua lagi yang dimiliki oleh Kertanegara dan Kebo Arema, adalah buah tangan kakekku sendiri, Empu Brantas," kata Empu Dangka penuh kegembiraan.
"Memiliki sebuah senjata buatan seorang ahli adalah sebuah kebanggaan dan kehormatan," kata Mahesa Amping sambil memandang cambuk milik Empu Dangka yang masih dipegangnya.
"Aku merasa bangga telah membuat dan menitipkan sebuah cambuk untukmu. Aku yakin di tanganmu ilmu cambukku akan berkembang melebihi tataran yang kumiliki," ujar Empu Dangka.
"Sudah beberapa kali Empu Dangka memujiku, lama-lama kepalaku bisa membesar," canda Mahesa Amping.
Empu Dangka tersenyum memandang Mahesa Amping. Di dalam hatinya telah timbul rasa suka dan kagum atas pemuda sederhana itu. Dirinya yakin bahwa di dalam diri anak muda ini tersimpan kekayaan dan kekuatan ilmu luar biasa yang tidak dimiliki orang biasa.
"Sanggar ini sudah mulai gelap," kata Ki Arya Sidi menghampiri mereka dan mengajak keluar dari sanggar.
Ternyata langit di atas padepokan sudah di ujung senja. Di pendapa Padepokan Panca Agni, terlihat pelayan tua tengah menyalakan pelita.
"Kutinggalkan cambukku agar dapat kau pakai untuk berlatih," kata Empu Dangka kepada Mahesa Amping ketika mereka berada di pendapa.
"Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat sebuah cambuk?" tanya Ki Arya Sidi.
"Tergantung bahan yang tersedia. Selain itu, aku perlu waktu dan tempat yang khusus," jawab Empu Dangka. "Aku yakin, selama aku membuat cambuk, dirimu sudah menguasai sepenuhnya ilmu ini," lanjutnya kepada Mahesa Amping.
"Aku akan berusaha," jawab Mahesa Amping.
Terdengar suara pintu berderit. Pelayan tua muncul membawa beberapa hidangan malam.
"Gurami bakar bumbu merah sangat nikmat untuk hidangan malam," kata Ki Arya Sidi sambil mempersilakan kedua tamunya menikmati hidangan.
"Malam ini seekor ayam jago telah luput dari takdirnya," canda Empu Dangka yang disambut tawa semuanya.
"Kapan pun, takdir ayam jago masih tetap ada di tangan Ki Nyoman," sahut Ki Arya Sidi.
"Pelayan tua itu bernama Ki Nyoman?" tanya Mahesa Amping.
"Ki Nyoman sudah tinggal di padepokan ini sejak aku masih kecil," Ki Arya Sidi bercerita tentang pelayannya yang sangat setia itu.
Malam semakin kelam menyelimuti puncak Bukit Pejeng. Langit bertaburan bintang menjaga penghuni bumi yang telah tertidur. Rembulan bersama cahayanya yang kian pudar berbaring mendekati kaki langit di ujung barat, hingga akhirnya tergelincir jatuh ketika fajar merah muncul mengintip di ujung timur.
Warna awan gelap memudar menjadi kuning kemerahan tersinar cahaya mentari. Langit pagi di atas puncak Bukit Pejeng berhias awan putih bersih. Sekelompok burung manyar terbang melintas, sementara seekor induk ayam betina di halaman padepokan memanggil anak-anaknya untuk berebut cacing tanah.
"Secepatnya aku akan kembali," kata Empu Dangka kepada Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi yang mengantarnya sampai di muka regol pintu gerbang Padepokan Panca Agni.