Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 177

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 177

"Kakang Mahesa Bungalan masih belum mengerahkan tataran ilmunya yang sebenarnya," kata Mahesa Amping kepada Mahesa Semu yang berada di dekatnya.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Mahesa Amping, ternyata Mahesa Bungalan memang belum meningkatkan tataran ilmunya ke tingkat yang lebih tinggi. Tampaknya, Mahesa Bungalan masih ingin menjajaki sampai di mana kekuatan lawannya.

Sementara itu, beberapa orang terlihat mendekati arena pertempuran antara Mahesa Bungalan dan Raja Adidewalancana yang kian sengit. Mereka bergerak semakin cepat; tanah dan batu kadang terlempar beterbangan, tergilas terjangan kaki mereka yang sesekali menghentak bumi. Arena itu akhirnya menyerupai lingkaran, dan semua orang menyaksikan pertempuran tersebut dengan perasaan tegang. Hampir setiap orang berharap senapatinya dapat mengalahkan lawan.

Raja Adidewalancana mulai merasa putus asa. Mahesa Amping ternyata lawan yang tangguh.

"Senapati muda ini benar-benar hebat," ucap Raja Adidewalancana yang mulai merasa frustrasi setelah sekian jurus dikerahkan dan tataran ilmunya ditingkatkan, namun ia belum juga dapat menundukkan serta mengalahkan lawannya.

Sementara itu, udara pagi sudah mulai menghangat. Cahaya matahari bersinar terang, menyinari dan menerangi Pura Besakih.

"Menyerahlah, Tuan. Orang-orang Pura Besakih semuanya sudah menyerah," kata Mahesa Bungalan kepada Raja Adidewalancana.

"Jangan terlalu percaya diri! Akulah yang akan menghabisi nyawamu dan semua orangmu!" seru Raja Adidewalancana sambil melompat menerkam ke arah Mahesa Bungalan dengan keris di tangan, siap menghujam tubuh lawannya.

Mahesa Bungalan telah melihat napas dan tenaga Raja Adidewalancana mulai mengendur. Tampaknya, ia ingin segera mengakhiri pertempuran itu. Maka, dibiarkannya keris itu meluncur menuju tubuhnya. Akhirnya, dengan perhitungan yang matang dan kecepatan di luar dugaan Raja Adidewalancana, tiba-tiba kaki Mahesa Bungalan menyepak keras punggung telapak tangan sang raja yang masih menggenggam kerisnya.

Akibatnya sungguh di luar jangkauan pikiran Raja Adidewalancana; punggung telapak tangannya merasakan panas yang tak terkira, bercampur dengan rasa ngilu dan nyeri. Tanpa sadar, keris di tangannya terlepas dan terlempar jauh.

"Menyerahlah," kata Mahesa Bungalan kepada Raja Adidewalancana yang terlihat memegang tangannya yang masih sangat sakit.

Namun, Raja Adidewalancana menjawabnya dengan melompat terbang seperti rajawali yang menerkam mangsanya. Dengan tenang, Mahesa Bungalan bergeser dengan kecepatan yang tidak dapat dibaca oleh mata sang raja. Akibatnya, terjangan Raja Adidewalancana mengenai tempat kosong.

Brak!

Tanah dan batu berhamburan terhantam terjangan Raja Adidewalancana.

"Aku di sini, Tuanku," kata Mahesa Bungalan sambil melempar pedangnya.

Mata Raja Adidewalancana tampak nanar penuh kemurkaan. Seperti seekor banteng yang terluka, ia langsung menerjang Mahesa Bungalan. Namun, Mahesa Bungalan bergerak dengan cepat. Tidak banyak orang yang dapat mengikuti gerak Mahesa Bungalan yang telah menerapkan ilmu peringan tubuh hingga mendekati puncak kesempurnaannya. Yang dilihat banyak orang adalah tiba-tiba saja Mahesa Bungalan telah berpindah tempat seolah tidak melangkah. Kembali Raja Adidewalancana hanya menemui tempat kosong dan meluncur berguling-guling terbawa tenaganya sendiri.

"Aku di sini, Tuanku," kata Mahesa Bungalan kembali sambil berdiri tegak di hadapan Raja Adidewalancana yang tengah rebah telentang di tanah.

Ternyata, Raja Adidewalancana sudah kehabisan napas dan tenaga.

"Jangan permalukan aku, bunuhlah aku," ujar Raja Adidewalancana dengan napas memburu.

"Tidak semua kematian di medan perang adalah sebuah kehormatan. Mengakui dan menerima kekalahan jauh lebih mulia," jawab Mahesa Bungalan.

"Kamu benar, anak muda. Selama ini aku merasa paling kuat, merasa sangat berkuasa, dan merasa semua orang memujaku. Tapi hari ini, aku dikalahkan oleh seorang senapati muda sepertimu. Baru kali ini aku merasakan kelemahanku, baru kali ini aku merasakan kenistaanku. Ternyata kelemahan dan kenistaan telah menyempurnakan perjalanan hidupku untuk mengenal pemilik kekuatan dan kemuliaan yang sebenarnya," ucap Raja Adidewalancana sambil berusaha bangkit duduk bersila untuk mengatur napas. Matanya terpejam.

Mahesa Bungalan membiarkan Raja Adidewalancana mengembalikan tenaganya.

"Aku menyerahkan diriku kepadamu. Saat ini aku adalah tawananmu," kata Raja Adidewalancana ketika merasakan napasnya tidak lagi memburu dan tenaganya mulai pulih sedikit demi sedikit.

"Kami akan tetap menghormati Tuan dan menjaga seluruh keluarga di Pura Dalem Astana," ujar Mahesa Bungalan saat akan melangkah diiringi sejumlah prajurit Singasari menuju Pura Dalem Astana.

Sementara itu, matahari pagi telah bergeser semakin naik. Semilir angin sejuk mengurangi panas cahaya matahari. Beberapa prajurit terlihat tengah mengumpulkan mayat yang bergelimpangan, baik kawan maupun lawan.

"Makamkan mereka di sebelah bukit kecil itu agar semua yang datang ke Pura Besakih dapat melihat dan berdoa untuk mereka," perintah Mahesa Bungalan.

Para prajurit Singasari tampaknya telah melupakan kelelahan mereka. Meskipun setelah sepanjang malam bertempur, hari itu mereka terlihat sibuk mengurus pemakaman kawan-kawan yang tidak lagi dapat kembali, yang tidak akan ditemui lagi oleh sanak keluarga, istri, serta kekasih pujaan hati di tanah Singasari. Mereka juga memperlakukan mayat musuh dengan penuh penghormatan dalam pemakaman yang terpisah. Begitu pula dengan mereka yang terluka; diperlakukan sama tanpa memandang kawan maupun lawan. Terlihat Mahesa Amping bersama kawan-kawannya dari Padepokan Bajra Seta, yang sedikit banyak mengenal ilmu pengobatan, tengah merawat beberapa orang yang terluka.

"Jaga lukamu agar tidak terkena air, mudah-mudahan akan membantu agar lekas kering," kata Mahesa Amping kepada seseorang yang terluka cukup dalam di bagian pangkal pahanya.

Kesibukan ternyata belum juga berhenti. Beberapa perwira terlihat membagi tugas kepada para prajurit. Ada yang mendapat tugas memperbaiki barak-barak yang hancur, menjaga keamanan sekitar Pura Besakih, dan tentu saja ada prajurit yang bertugas di dapur umum.

"Kenapa tidak menunggu besok pagi?" tanya Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha yang bermaksud pamit untuk kembali ke tempat kediamannya.

"Aku takut pengikutku akan menyusutkan ransum persediaan," jawab Ki Jaran Waha sambil bercanda.

"Kami tidak akan melupakan apa yang telah kalian perbuat untuk kami," kata Mahesa Bungalan yang ikut mengantar Ki Jaran Waha dan pengikutnya yang akan meninggalkan Pura Besakih.

"Kebahagiaan kami adalah telah berbakti bagi kehidupan dan kemakmuran Balidwipa," sahut Ki Jaran sambil melangkah meninggalkan Pura Besakih.

Waktu terus berlalu. Wajah senja yang bening tidak lagi menghiasi Pura Besakih karena malam yang gelap telah menyelimutinya. Taburan jutaan bintang di langit malam menjadi hiasan di atas bumi Pura Besakih. Hawa dingin terasa menusuk kulit.

"Aku mempercayakan pengawalan Raja Adidewalancana dan permaisurinya kepada Kebo Arema," kata Mahesa Bungalan di Pendapa Bale Guru, Pura Besakih, saat membicarakan rencana untuk membawa Raja Adidewalancana dan permaisurinya ke Singasari sebagai bukti bahwa Balidwipa telah ditaklukkan.

"Paman Wantilan, Paman Sembaga, dan Kakang Mahesa Semu dapat mendampinginya," usul Mahesa Amping.

"Aku setuju. Kehadiran tiga orang cantrik utama Padepokan Bajra Seta sebanding dengan lima puluh orang prajurit," Kebo Arema menyetujui usulan itu sambil melirik Mahesa Semu, Wantilan, dan Sembaga yang ada di hadapannya.

"Kami merasa tersanjung dikatakan sebanding dengan lima puluh orang prajurit. Yang pasti, kami akan segera pulang karena urusan di tanah Bali ini sepertinya sudah selesai," sahut Mahesa Semu mewakili Sembaga dan Wantilan.

"Badrun dan anak buahnya juga dapat diandalkan," tambah Kebo Arema mengenai daftar pengawal tawanan kehormatan tersebut.

"Raja dan permaisuri Pura Besakih adalah tawanan kehormatan kita. Semoga kalian dapat menjaga dan memperlakukan mereka dengan baik," pesan Mahesa Bungalan.

Demikianlah, hingga larut malam banyak hal yang mereka perbincangkan.

"Malam sudah menjadi begitu dingin," kata Mahesa Bungalan yang pamit untuk memeriksa keadaan prajuritnya.

"Aku ikut menemani Kakang Mahesa Bungalan," sahut Mahesa Amping.

Mereka berdua pun menuruni anak tangga pendapa Bale Guru, lalu hilang dari pandangan di sebuah kelokan. Terlihat Mahesa Bungalan dan Mahesa Amping menemui beberapa prajurit di gardu penjagaan darurat yang tersebar di beberapa tempat di Pura Besakih.

"Selamat malam, Tuan Senapati," sapa seorang prajurit kepada Mahesa Bungalan dengan rasa bangga karena pimpinannya datang menjenguk.

"Mudah-mudahan petugas di dapur umum tidak lupa mengirim ransum ke gardu ini," ujar Mahesa Bungalan.

"Ransum itu sayangnya sudah lewat," jawab salah seorang prajurit. "Maksudku, sudah lewat perutku," sambungnya yang langsung disambut derai tawa semua yang mendengarnya.

Canda prajurit itu telah menghangatkan suasana dingin malam di Pura Besakih yang terus berkabut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment