Chapter 25
Dan malam pun telah memayungi langit di atas Padepokan Alasjati.
Beberapa penghuni mengisi malam yang dingin dengan bersenda gurau sambil meminum tuak.
Beberapa lagi terlihat sudah naik ke pembaringannya.
Malam itu Mahesa Amping menemani Bahar yang belum tidur.
Ia sengaja datang. "Aku ingin membuat minuman wedang sare untuk teman berbincang," kata Mahesa Amping kepada Bahar.
"Buatlah yang lebih, kadang ada saja penghuni Padepokan ini yang datang minta dibuatkan minuman hangat," kata Bahar.
"Jadi pintu dapur ini tidak dikunci sepanjang malam?" tanya Mahesa Amping menyelidik.
"Ya, sepanjang malam.
Agar siapa pun yang masih lapar dapat masuk tanpa mengganggu tidurku," kata Bahar tanpa prasangka apa pun.
Tidak menduga kalau Mahesa Amping hanya memastikan apakah pintu dapur terkunci di malam hari.
"Ruang dapur ini hangat, tidak seperti bilikku, angin sepertinya menusuk tulang," kata Mahesa Amping sambil menikmati minuman hangatnya, wedang sare bersama gula batu.
"Itulah sebabnya, aku sudah tidur jauh sebelum malam," kata Bahar kepada Mahesa Amping.
"Kalau begitu, kehadiranku mengganggu waktu tidur Paman?" kata Mahesa Amping kepada Bahar.
"Itu kan bila sendiri.
Kalau ada yang menemani, aku bisa tidur sampai jauh malam," kata Bahar kepada Mahesa Amping.
Dan ternyata Bahar memang teman berbincang yang menyenangkan.
Ada saja yang dapat diceritakan dan dibincangkan.
Malam pun terus berlalu bersama berputarnya waktu.
Suara binatang malam terdengar dari dapur yang terbuat dari bilik bambu.
Dan angin dingin pun kadang menyergap tubuh mereka.
Malam menjadi begitu sepi dan sunyi.
"Aku pamit dulu, mataku sudah berat," kata Mahesa Amping kepada Bahar, memohon diri kembali ke biliknya.
Mahesa Amping keluar dari dapur, memandang langit yang kelam bertabur bintang.
Batang-batang pohon besar di samping Padepokan Alasjati tergambar seperti sosok raksasa hitam berjajar.
Hanya suara gesekan daun dan cabang pohon yang terdengar ketika desir angin bertiup keras.
Mahesa Amping memang belum mengantuk, tapi tetap masuk ke biliknya.
Sementara waktu sepertinya begitu lambat berjalan merayap.
Sementara itu, langit di atas Padepokan Alasjati telah berubah kelam, berawan tebal tanpa satu pun bintang hadir di sana.
Sayup-sayup terdengar tiga kali suara anak katak menjerit ditelan seekor ular.
Tak lama kemudian, tiga kali suara kutilang jantan kehilangan betinanya.
"Raden Wijaya dan Lawe sudah ada di belakang Padepokan," kata Mahesa Amping kepada dirinya sendiri dari dalam biliknya.
Tampak Mahesa Amping keluar dari biliknya, menyelinap membuka pintu belakang Padepokan Alasjati.
Dengan pandangannya yang tajam, Mahesa Amping melihat Raden Wijaya dan Lawe muncul dari kegelapan malam.
Mahesa Amping memberi tanda agar Raden Wijaya dan Lawe menyeberang.
"Masuk dan bersembunyilah di bilikku," kata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya dan Lawe ketika kedua kawannya itu sudah berada di dekatnya.
Mahesa Amping, Raden Wijaya, dan Lawe menyelinap masuk bilik. Awan hitam yang menggelantung di atas Padepokan Alasjati ternyata telah bergeser ditiup angin malam, berpindah ke tempat yang jauh.
Warna langit pun menjadi cerah, bintang-bintang pun berdatangan menaburi warna langit malam.
Kerlip bintang kejora sudah mulai terlihat di ujung timur.
Di kegelapan malam, di depan Padepokan Alasjati, jauh dari jarak lemparan lembing dan anak panah, beberapa orang terlihat berdiri dalam jarak yang teratur.
Setiap orang terlihat membawa dua buah batang bambu, dari setiap batang bambu itu berdiri dua buah obor yang belum dinyalakan.
"Nyalakan!" terdengar suara keras penuh wibawa yang tak lain adalah suara Ki Gede Banyak Wedi memberi perintah.
Serentak setiap orang menyalakan keempat obor yang dipegang di kedua tangan kiri dan kanan mereka.
Nyala puluhan obor itu memang sangat menggetarkan siapa pun yang melihatnya dari jauh di kegelapan malam.
Seorang penjaga dari panggungan Padepokan Alasjati telah melihatnya, matanya yang sudah terkantuk berat sepertinya hilang seketika.
Dengan sigap, ia langsung memukul kentongan kayu tanda bahaya.
Seluruh penghuni Padepokan Alasjati pun geger melihat puluhan obor musuh telah siap di depan Padepokan.
Semua telah mempersiapkan diri menghadapi apa pun yang terjadi.
Bersamaan dengan itu, tiga sosok tubuh telah menyelinap masuk lewat pintu dapur yang tidak terkunci.
Terus masuk ke ruangan tengah.
Mereka adalah Mahesa Amping, Raden Wijaya, dan Lawe yang telah ditugaskan menyelinap dari dalam Padepokan Alasjati untuk menyelamatkan Menik Kaswari.
Ternyata Datuk Alasjati adalah orang yang selalu waspada.
Di tengah kegemparan akan datangnya musuh, ia masih sempat memerintahkan tiga orang anak buahnya untuk menjaga Menik Kaswari di dalam gandok tengah.
Seperti seekor harimau yang mengunci langkah buruannya.
Mahesa Amping, Raden Wijaya, dan Lawe telah membagi lawannya masing-masing.
Dengan gerakan yang begitu cepat dan mendadak, mereka telah melompat berdiri di depan tiga orang penjaga yang kaget tidak menduga musuh sudah ada di depannya.
Keterkejutan inilah yang digunakan Mahesa Amping, Raden Wijaya, dan Lawe untuk melakukan sebuah serangan mematikan.
Mahesa Amping dengan kecepatan yang luar biasa menyerang seorang penjaga yang telah dipilihnya.
Nahas nasib penjaga itu, tanpa sempat melihat dari mana datangnya sebuah tamparan tangan yang keras menghantam tepat di urat tengkuknya, penjaga itu langsung roboh lemas dan pingsan.
Raden Wijaya telah berbuat yang sama; seorang penjaga tiba-tiba saja telah merasakan samping tengkorak kepalanya dihantam oleh tangan yang bertenaga.
Seketika penjaga itu seperti mendengar suara mendenging di telinganya, pandangannya menjadi kabur.
Dan penjaga itu pun roboh ketika sebuah pukulan tepat mengenai urat mematikan di tengkuknya.
Pada saat yang bersamaan pula, Lawe telah menyerang seorang penjaga yang sudah dipilihnya.
Sambil melompat, Lawe menerkam lawannya dengan gerakan tangan membacok ke arah tengkuk kanannya.
Seperti naluri yang sudah mendarah daging, penjaga itu bukan orang yang lemah dalam kanuragan.
Maka tangan kanannya langsung bergerak menangkis serangan itu.
Tetapi gerakan Lawe ternyata sebuah tipuan; sebelum tangan lawannya menyentuh bacokan tangan kosongnya, sebuah belati di tangan Lawe telah menyelinap langsung menembus jantung lawannya.
Penjaga itu pun roboh dengan mata melotot tanpa berkedip.
Mahesa Amping yang sempat melihat bagaimana Lawe merobohkan lawannya, sekejap merasa terkejut.
Ia sepertinya tidak menyangka Lawe yang dikenalnya begitu santun dan lemah lembut telah melakukan kekerasan, membunuh lawan tanpa berkedip.
Tetapi Mahesa Amping hanya menyimpan perasaan itu dalam hati, merasa maklum bahwa inilah sebuah peperangan.
Membunuh atau dibunuh.
Mahesa Amping segera mengubur perasaannya, langsung membuka selarak palang pintu yang sengaja dibuat di luar.
"Ikutlah kami, Mbakyu Menik, kita harus secepatnya keluar dari sini," kata Mahesa Amping kepada Menik Kaswari yang memang sudah tidak tidur lagi ketika mendengar suara kentongan tanda bahaya berbunyi berkali-kali.
"Kamu pengantar hidangan tadi siang itu?" kata Menik Kaswari, memperhatikan wajah Mahesa Amping yang terlihat jelas dari cahaya klenting minyak jarak di pojok kamar yang mulai redup.
"Benar, mari segera kita keluar dari tempat ini," kata Mahesa Amping, mengajak Menik Kaswari keluar bersamanya.
Tanpa rintangan yang berarti, Mahesa Amping bersama Menik Kaswari, Raden Wijaya, dan Lawe keluar dari bangunan utama Padepokan Alasjati lewat pintu dapur.
Mereka langsung menyelinap menuju pintu belakang Padepokan Alasjati.
Terlihat mereka tengah menyeberangi sungai kecil.
Ternyata Raden Wijaya dan Lawe telah sengaja mempersiapkan empat ekor kuda tidak begitu jauh dari sungai kecil.
Dengan empat ekor kuda itu, mereka telah menyelinap menghilang di kegelapan.
Sebelum jauh dari Padepokan Alasjati, Lawe masih ingat tugas yang harus dilaksanakannya, yaitu melepas panah api sanderan.
Panah api sanderan itu memang sudah ditunggu-tunggu.
Sebagai tanda bahwa sandera telah keluar dari kurungan.
Panah api sanderan itu juga sebagai tanda bahwa serangan fajar akan segera dimulai.
Puluhan cahaya obor masih terlihat berdiri dari jauh sebagai pasukan yang tengah bersiap.
Puluhan obor itu memang tidak bergerak karena menancap dan berdiri di tanah.
Yang bergerak adalah orang-orang yang tidak lagi memegang obor.
Mereka bergerak dengan cepat menuju pintu gerbang Padepokan Alasjati.
Sepuluh orang dengan cepat telah menyelinap di kegelapan malam dan semak-semak yang tinggi sudah merapat di dinding pagar Padepokan mendekati pintu gerbang.
Dari tempat yang tak terlihat, Kertanegara telah mengerahkan pukulan jarak jauhnya.
Dari tangannya meluncur kilatan api menerjang pintu gerbang yang kokoh, terbuat dari batang kayu yang tebal.
Tiba-tiba saja terdengar suara yang keras.
Pintu gerbang seperti didorong oleh benda yang ratusan kati beratnya langsung terbuka terbelah dua.
Pada kesempatan itulah, sepuluh orang telah masuk ke dalam Padepokan Alasjati.
"Bunuh mereka semua!" kata Datuk Alasjati ketika melihat hanya sepuluh orang yang masuk.
Tetapi kesepuluh orang yang telah masuk ke dalam Padepokan Alasjati bukan orang sembarangan.
Mereka adalah tiga orang cantrik utama dari Padepokan Bajra Seta, dua orang pelaut ulung, Kebo Arema dan Bhaya, bersama Ki Gede Banyak Wedi dan Ki Rangga Bangkalan yang dibantu oleh tiga orang prajurit Singasari yang berpengalaman, membuat para penghuni Padepokan Alasjati seperti kumpulan semut yang kedatangan bola api.
Siapa pun yang berani mendekat terlempar jatuh.
Belum lagi kegentaran mereka mereda, tiba-tiba saja datang tiga belas orang langsung masuk dari pintu gerbang yang sudah terbuka terpecah dua.
Kertanegara bersama dua belas orang di belakangnya langsung datang menyerang.
Para penghuni Padepokan yang berada di posisi membelakangi pintu gerbang nasibnya memang jelek, mereka seperti terjepit oleh dua bola api yang tidak bisa lagi dielakkan.