Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 147

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 147

"Karena jati diri kami telah kalian ketahui, kami akan kembali ke Singasari untuk menyampaikan hasil pengamatan kami," ujar Empu Dangka.

"Bagaimana dengan para sisya di Pura Indrakila ini?" tanya Ki Arya Sidi.

"Aku terlanjur jatuh cinta pada tanah Bali, aku pasti akan datang kembali," ujar Mahesa Amping yang ditanggapi dengan rasa gembira oleh Ki Arya Sidi maupun Raja Indrakila.

Sementara itu, mentari di cakrawala langit telah bergeser turun ke barat, terhalang kerimbunan daun dan dahan pohon yang tumbuh di sekitar Bale Guru.

"Awalnya aku datang kemari untuk meminta pertimbangan kalian atas latihanku beberapa hari ini, tapi saat ini aku merasa malu meminta kepada orang-orang terdekat dari Raja Kertanegara," ujar Raja Indrakila kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka.

"Kami bukan siapa-siapa, kami masih siap melayani Tuan Baginda," jawab Mahesa Amping.

"Terima kasih, mudah-mudahan masih ada waktu sebelum kalian kembali ke Singasari," ujar Raja Indrakila sekalian menyampaikan maksudnya untuk kembali ke Puri Dalem Astana.

"Bukankah kita akan turun melihat para sisya berlatih?" kata Ki Arya Sidi ketika Raja Indrakila sudah tidak terlihat karena kembali ke kediamannya.

Ki Arya Sidi, Mahesa Amping, dan Empu Dangka pun mendatangi sanggar. Beberapa sisya tengah berlatih di sanggar terbuka, sebagian lagi berlatih di sanggar tertutup.

"Anak-anak muda yang penuh semangat," kata Empu Dangka gembira melihat para sisya berlatih dengan penuh semangat.

"Mereka adalah pemimpin Balidwipa di masa yang akan datang," ujar Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka.

Ketika senja sudah mulai turun menyelimuti bumi, para sisya telah kembali ke tempatnya. Mahesa Amping, Ki Arya Sidi, dan Empu Dangka pun kembali ke Bale Guru. Cahaya temaram menerangi Bale Guru lewat dua buah pelita yang berjajar di tiang pendapa. Angin semilir melepas redup cahaya dua pelita itu bergoyang. Hamparan rumput hijau di muka halaman Bale Guru sudah tidak terlihat jelas.

"Ternyata semua sudah kalian rencanakan," kata Ki Arya Sidi kepada Empu Dangka dan Mahesa Amping.

"Apa yang telah kami rencanakan?" tanya Mahesa Amping pura-pura tidak mengerti.

"Merencanakan agar aku akhirnya dapat diterima oleh para sisya di Pura Indrakila ini," kata Ki Arya Sidi sambil menuangkan air dari kendi ke dalam mangkuknya.

Mahesa Amping dan Empu Dangka tidak menanggapi, mereka hanya tersenyum dikulum.

"Kami hanya ingin mengembalikan Perguruan Panca Agni sebagaimana leluhur dari Ki Arya Sidi telah mencita-citakannya, sebagai candradimuka bagi semua calon penguasa pura di Balidwipa," kata Empu Dangka dengan penuh senyum.

"Bukankah cita-cita itu telah kembali terwujud? Hanya pindah tempat dari Bukit Gundul Pejeng ke Pura Indrakila," tambah Mahesa Amping.

"Sebenarnya aku masih memerlukan kehadiran kalian di sini," ujar Ki Arya Sidi setelah meletakkan kembali mangkuk minumannya yang masih tersisa.

"Aku pasti akan kembali, sebagaimana pernah kukatakan bahwa aku telah jatuh hati pada tanah Bali. Aku merasakan bahwa Balidwipa ini sebagai tanah kelahiranku kedua," kata Mahesa Amping.

Sementara itu, pelita di atas pendapa Bale Guru sudah menjadi begitu redup, mungkin Ki Made Rangu lupa mengisi minyak buah jarak di waktu sore. Angin malam semilir mengusap kulit. Lantai kayu sudah sedikit berembun.

"Mari kita beristirahat," ajak Empu Dangka kepada Ki Arya Sidi dan Mahesa Amping masuk ke biliknya masing-masing.

Pagi itu kabut turun menyelimuti Pura Indrakila begitu pekat bagai gerumbul kapas yang membalut dan membatasi jarak pandang penglihatan mata. Itulah tanda alam bahwa sepanjang hari udara di bumi Pura Indrakila akan dipayungi kecerahan.

"Hari ini aku berniat akan memilih beberapa sisya untuk ditingkatkan kemampuannya mengenal dasar pengungkapan tenaga yang ada di dalam diri," ujar Mahesa Amping di pagi itu kepada Ki Arya Sidi dan Empu Dangka ketika mereka bersama menikmati minuman hangat di atas pendapa Bale Guru.

"Kulihat memang sudah saatnya mereka ditingkatkan," kata Ki Arya Sidi menyetujui rencana Mahesa Amping.

"Saranku, sebaiknya dipilih perwakilan dari setiap pura agar tidak ada kecemburuan," ujar Empu Dangka memberikan saran.

"Saran Empu Dangka akan kuperhatikan," kata Mahesa Amping.

Demikianlah, pada hari itu Mahesa Amping memilih delapan orang sisya terbaik yang juga masing-masing merupakan perwakilan dari setiap pura di Balidwipa.

"Hari ini aku telah memilih kalian sebagai sisya yang sudah saatnya untuk ditingkatkan tatarannya untuk mengenal bagaimana menggunakan tenaga yang ada di dalam diri," ujar Mahesa Amping kepada delapan sisya yang dikumpulkannya di dalam sanggar tertutup.

Berdebar perasaan para sisya yang pernah mendengar tentang tenaga di dalam diri. Selama ini mereka sering mendengar tentang kekuatan yang dapat dilontarkan lewat tenaga tersembunyi di dalam setiap manusia yang sudah terlatih dan mampu mengungkapkan rahasianya. Mahesa Amping dapat merasakan debar perasaan para sisya tersebut, sebagaimana yang pernah dirasakannya ketika pertama kali diperkenalkan tentang tenaga dalam oleh gurunya, Mahesa Murti, di Padepokan Bajra Seta.

"Untuk dapat mengungkapkan kekuatan yang ada di dalam diri, kalian harus menjalani sebuah laku," kata Mahesa Amping.

Wajah para sisya terlihat begitu tegang.

"Aku yakin kalian dapat menjalaninya dengan baik," ujar Mahesa Amping.

Wajah beberapa sisya tampak mengendur, sementara yang lain masih merasakan ketegangan. Setelah menjelaskan persiapan yang harus dilakukan, Mahesa Amping menutup penjelasannya, "Kalian menjalani laku di sanggar tertutup ini selama tiga hari tiga malam. Besok setelah senja, kuharap kalian sudah mulai menjalaninya."

Pada hari itu, kedelapan sisya telah melakukan persiapan lahir dan batin sesuai petunjuk Mahesa Amping, termasuk mencari buah kelapa yang akan diolah secara khusus.

"Kakang akan melakukan sebuah laku?" tanya Made Dewa Akasa kepada kakaknya, Wayan Dewa Bayu.

"Aku akan menjalani sebuah laku selama tiga hari tiga malam," jawab Wayan Dewa Bayu.

"Aku berdoa semoga Kakang dapat menjalaninya dengan baik," ucap Made Dewa Akasa.

"Pada saatnya kamu juga akan menjalaninya," kata Wayan Dewa Bayu sambil tersenyum.

Hari yang mendebarkan itu akhirnya tiba. Senja di Pura Indrakila berlalu, malam menyelimuti bumi dengan kegelapannya. Kedelapan sisya yang terpilih telah berada di dalam sanggar tertutup yang gelap, tidak diterangi pelita. Setelah memastikan para sisya bersikap tubuh sesuai petunjuknya, Mahesa Amping meninggalkan sanggar.

Keesokan harinya, ketika cahaya matahari pagi menembus celah-celah bilik bambu, kedelapan sisya masih tidak bergerak dalam sikap lakunya.

"Semoga Sang Hyang Gusti Yang Maha Agung memberi jalan terang kepada mereka," doa Mahesa Amping dalam hati.

"Bagaimana menurutmu keadaan mereka?" tanya Ki Arya Sidi.

"Sampai saat ini mereka masih dapat menjalaninya dengan baik," jawab Mahesa Amping.

Pada hari kedua, para sisya masih dalam sikap lakunya. Wayan Dewa Bayu, yang pernah menerima berbagai laku selama di Bukit Pejeng, lebih dulu dapat menyesuaikan diri. Hal itu terlihat dari tarikan napasnya yang nyaris halus dan tidak terdengar.

"Anak ini sudah mulai menemukan jalan napasnya," kata Mahesa Amping.

"Baru Wayan Dewa Bayu saja yang kulihat telah menemui jalan napasnya, selebihnya masih dalam taraf penyesuaian," jelas Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi.

"Kita berdoa semoga Sang Hyang Jagad Yang Maha Agung memberi jalan terang kepada mereka," tambah Empu Dangka.

Hari yang dinantikan akhirnya tiba. Di pagi yang bening, diawali dengan suara ayam jantan dari kejauhan, Mahesa Amping perlahan membuka sanggar. Keremangan pagi itu tidak menghalangi ketajaman matanya melihat satu per satu sisya yang tengah menjalani laku.

"Mereka semua telah menemukan jalan napasnya," ucap Mahesa Amping dalam hati setelah memperhatikan bahwa tarikan napas kedelapan sisyanya tidak terdengar sama sekali.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment