Chapter 65
"Menyingkirlah!" ucap Ragasuci penuh wibawa seorang Raja.
"Ternyata putra Darmasiksa tidak mengenal takut," sahut seorang yang tampaknya menjadi pemimpin kelompok itu sambil tertawa keras.
"Siapakah kalian?" tanya Ragasuci.
"Kami adalah orang-orang terbuang dari Pasir Muncang," jawab orang itu.
"Ternyata kalian adalah orang-orang yang tersesat itu," ujar Ragasuci.
Mereka adalah kelompok aliran sesat yang pernah dihancurkan oleh ayahnya, Gurusuci Darmasiksa, puluhan tahun silam karena kerap mencuri bayi-bayi tak berdosa untuk persembahan.
"Habisi semuanya!" perintah pemimpin itu sambil bersuit panjang sebagai tanda bagi pengikutnya untuk bergerak maju.
"Lindungi wanita sebagaimana pusaka," instruksi Ragasuci.
Mahesa Amping, Raden Wijaya, dan Lawe segera menangkap maksud Ragasuci. Dengan sigap, mereka membentuk lingkaran untuk melindungi Dara Puspa, Dara Petak, dan Dara Jingga. Maka, pertempuran pun pecah di tepi Hutan Cigugur.
Empat orang lelaki dikeroyok oleh puluhan orang dengan berbagai senjata. Ternyata, kelompok yang mengaku dari Pasir Muncang ini adalah pasukan yang sangat terlatih. Serangan mereka teratur dan berbahaya, bagaikan ombak yang menekan pertahanan Ragasuci dan kawan-kawan.
"Gila!" umpat pemimpin itu saat melihat kelompoknya seperti menghadapi batu karang; tidak satu pun serangan mampu menembus pertahanan lawan.
Namun, pemimpin kelompok Pasir Muncang itu bukan orang yang mudah menyerah. Sebagai praktisi ilmu bela diri tinggi, ia segera menilai kekuatan lawannya. Ia menyimpulkan bahwa orang terlemah di antara mereka adalah Lawe yang menggunakan dua belati. Dengan memberi isyarat, serangan pun difokuskan kepada Lawe.
Lawe tampak kewalahan menghadapi serangan bertubi-tubi yang tertuju padanya. Beruntung, Ragasuci sigap membaca situasi.
"Cakra berputar!" seru Ragasuci yang langsung dimengerti oleh Lawe, Mahesa Amping, dan Raden Wijaya.
Mereka bergerak searah putaran. Akibatnya luar biasa; siapa pun yang mendekat pasti terlempar dalam keadaan terluka. Lawe dengan dua belati andalannya berhasil melukai banyak lawan, sementara Mahesa Amping menggunakan belati pendeknya untuk menangkis senjata sekaligus merobohkan lawan dengan tangan dan kakinya. Meski hanya menggunakan tangan kosong, setiap pukulan Mahesa Amping mampu membuat lawannya terlempar pingsan. Hal serupa juga dilakukan oleh Raden Wijaya dan Ragasuci yang hanya menggunakan senjata untuk menangkis.
Di sisi lain, Dara Petak, Dara Jingga, dan Dara Puspa berpelukan dalam kecemasan. Pertempuran berlangsung lama dan banyak korban berjatuhan di pihak Pasir Muncang. Menyadari mereka akan kalah, sang pemimpin bersuit tiga kali sebagai tanda untuk mundur.
"Jangan kejar!" seru Ragasuci saat melihat Lawe hendak mengejar musuh yang lari menghilang di balik kerimbunan Hutan Cigugur. "Secepatnya kita tinggalkan tempat ini," lanjutnya, khawatir mereka akan kembali.
Perhatian utama Ragasuci adalah keselamatan ketiga wanita yang bersama mereka. Setelah mengambil kuda, mereka segera bergegas meninggalkan lokasi pertempuran, membiarkan para korban yang terluka tergeletak di jalan tanah.
Setelah dirasa cukup jauh dari Hutan Cigugur, mereka memperlambat derap kuda. Ragasuci pun berkisah tentang orang-orang Pasir Muncang. Puluhan tahun lalu, saat ayahnya, Darmasiksa, menjadi raja, ia memerintahkan penumpasan aliran sesat tersebut. Namun, pasukan prajurit bertindak melampaui batas; banyak wanita dan anak-anak tidak berdosa menjadi korban.
"Sejak kejadian itu, ayahku lebih banyak mengasingkan diri karena merasa bersalah, hingga akhirnya memutuskan meninggalkan kerajaan dan menjadi Gurusuci di Puncak Galunggung," tutur Ragasuci.
Mahesa Amping terdiam merenung. Ia membatin, "Mana yang lebih tersesat: membunuh bayi untuk persembahan, atau membantai wanita dan anak-anak yang tidak mengerti apa pun?"
"Ternyata selama ini mereka bersembunyi dan menyusun kekuatan di Hutan Cigugur," ujar Ragasuci.
"Apa yang akan Paman lakukan terhadap orang-orang itu?" tanya Raden Wijaya.
"Mungkin aku akan menempatkan petugas untuk memantau kegiatan mereka," jawab Ragasuci.
"Semoga mereka tidak lagi melakukan persembahan bayi," sahut Mahesa Amping.
"Setidaknya hari ini pihak kerajaan harus waspada bahwa ada kekuatan tersembunyi di hutan tersebut," tambah Lawe.
Menjelang senja, mereka tiba di tepi hutan perburuan. Ragasuci menunjuk sebuah pondokan besar berbentuk rumah panggung.
"Selamat datang, Tuanku," sambut seorang pelayan tua bernama Ki Mantul yang bertugas melayani para bangsawan.
"Selamat bertemu kembali, Ki Mantul," sapa Ragasuci ramah.
"Apakah Tuanku akan berburu?" tanya Ki Mantul.
"Kami hanya singgah," jawab Ragasuci singkat sambil naik ke pendapa.
"Sudah dua hari ini hamba melihat banyak burung endonan berkeliaran di sekitar hutan," ujar Ki Mantul sambil menyiapkan hidangan.
Pernyataan itu merupakan sebuah isyarat. "Terima kasih, Ki Mantul," sahut Ragasuci yang memahami maksud tersebut.
"Setidaknya ada waktu untuk kita beristirahat sepanjang malam," timpal Mahesa Amping, yang juga menangkap makna di balik ucapan sang pelayan. Ki Mantul dan Ragasuci tersenyum, diam-diam mengagumi ketajaman batin Mahesa Amping.
Malam itu mereka beristirahat, namun Mahesa Amping meminta Lawe dan Raden Wijaya untuk tetap waspada dan berjaga bergantian. Malam berlalu tanpa gangguan, meski sesekali suara anjing hutan membuat suasana mencekam. Dara Puspa, Dara Petak, dan Dara Jingga tertidur nyenyak, merasa aman di bawah perlindungan empat pria berilmu tinggi tersebut.
Keesokan paginya, Ki Mantul telah menyiapkan sarapan. "Ki Mantul pandai mengolah masakan," puji Lawe sambil menikmati dendeng kijang.
"Hutan ini memberikan hidup dan kehidupan untuk dinikmati," jawab Ki Mantul.
Saat matahari mulai naik dan suasana hutan tampak cerah dengan kicauan burung, kedamaian itu mendadak pecah. Dari balik pepohonan, muncul beberapa orang berpakaian kasar dengan senjata terhunus.
"Semalam kami memberikan kalian istirahat yang cukup. Sayang jika hari ini adalah hari terakhir kalian menikmati cahaya matahari," ujar seseorang dari bawah pendapa sambil tertawa.
"Ki Mantul, aku tugaskan menjaga para wanita," perintah Ragasuci sebelum turun ke halaman diikuti oleh Mahesa Amping, Raden Wijaya, dan Lawe.
"Siapa kalian dan apa urusan kalian dengan kami?" tanya Ragasuci.
"Di tempat asalku di Gunung Pangrango, orang-orang memanggilku Bango Samparan," jawab pemimpin kelompok yang mengepung pondokan itu.
"Ternyata Bango Samparan yang terkenal itu kini hanya menjadi orang upahan untuk membuat kekacauan," sindir Ragasuci tenang.
"Aku kagum berhadapan dengan raja yang tidak mengenal takut. Sayang, tugasku kali ini hanya untuk membawa kepala raja tanpa tubuh yang utuh," ucap Bango Samparan sambil bertolak pinggang.
"Ternyata harga kepalaku cukup bernilai sampai kau jauh-jauh datang dari Gunung Pangrango," balas Ragasuci dengan senyum tipis.