Chapter 27
Sebuah serangan beruntun menerjang Mahesa Amping.
Hanya dengan kemampuan gerakannya yang cepat, Mahesa Amping masih dapat mengelak serangan demi serangan.
Mahesa Amping telah mengeluarkan belati pendeknya yang selalu dibawanya terselip tersembunyi di balik kainnya.
Mahesa Amping menyadari bahwa sangat berbahaya terus-menerus mengelak.
Empu Gelian, lawannya itu, ternyata begitu berpengalaman. Gerakannya begitu kaya dengan banyak tipuan yang membahayakan jiwa Mahesa Amping.
Akhirnya, Mahesa Amping terlihat tidak hanya mengelak, tetapi langsung membalas serangan berbahayanya.
Empu Gelian tidak kalah. Pertempuran pun menjadi semakin dahsyat dan seru.
Mahesa Amping dan Empu Gelian terus meningkatkan tataran ilmunya selapis demi selapis. Masing-masing masih mencoba menyelidiki dan menjajaki sejauh mana tingkat kemampuan ilmu lawannya.
Suara benturan dua senjata pun sering tidak dapat lagi dihindari.
Empu Gelian mendapat keuntungan dan kelebihan dengan dua senjata gelangnya.
Namun, Mahesa Amping mampu mengimbanginya dengan tidak hanya kecepatan geraknya, tetapi juga kemahirannya mengubah genggaman belati pendek di tangannya.
Kadang belati itu digenggam dalam gerak menikam, kadang belati pendek itu berubah dalam posisi genggaman tangan menusuk dan mengayun.
Pertempuran antara Mahesa Amping dan Empu Gelian menjadi semakin menakjubkan dan semakin cepat.
Menik Kaswari yang menyaksikan langsung pertempuran itu sepertinya hanya melihat dua bayangan hitam saling berkelebat.
Kadang terdengar suara dua senjata beradu, kadang hanya suara senjata membelah angin.
Wusss!
Berdebar-debar perasaan Menik Kaswari tidak karuan.
Menik Kaswari hanya berharap, semoga Mahesa Ampinglah yang keluar hidup-hidup dari pertempuran maha dahsyat yang baru pertama kalinya disaksikannya dengan mata dan kepalanya sendiri.
Sementara Lawe dan Raden Wijaya terus mengawasi dua orang di depannya, takut bila saja mereka bertindak pengecut membantu pertempuran itu.
Sambil mengawasi dua orang di depannya, Lawe menyaksikan pertempuran itu sebagai pertempuran yang mengagumkan.
Lawe tidak dapat langsung menilai, siapakah yang akan keluar sebagai pemenangnya.
Karena keduanya sama-sama sempurna menguasai senjatanya.
Sama-sama dapat bergerak dengan cepat.
Lawe hanya dapat berharap, Mahesa Amping dapat keluar mengakhiri pertempuran itu sebagai pemenang.
Hanya Raden Wijaya sepertinya yang dapat menyaksikan pertempuran dengan hati yang tenang.
“Mahesa Amping masih bermain-main,” kata Raden Wijaya kepada dirinya sendiri.
Meskipun ia sendiri melihat kekayaan pengalaman Empu Gelian dengan gerakannya yang penuh tipu daya membahayakan.
Namun, dirinya yakin Mahesa Amping dapat mengatasinya.
Dan Raden Wijaya memang melihat Mahesa Amping masih belum menunjukkan tataran ilmunya yang sebenarnya.
Sementara itu, Prastaka dan saudara seperguruannya berdebar-debar tidak menyangka ada yang dapat mengimbangi ilmu gurunya.
Dan orang itu masih begitu muda belia.
“Apakah anak muda itu juga berada di atas kapal kayu?” tanya saudara seperguruannya kepada Prastaka.
“Aku melihatnya ada bersama di kapal kayu, bahkan anak itu bermaksud mengejarku,” kata Prastaka kepada saudara seperguruannya.
“Dari padepokan mana mereka sesungguhnya?” kata saudara seperguruannya sambil matanya tidak lepas sedikit pun dari pertempuran di depan matanya yang sangat menggetarkan hatinya.
Sebagai murid tertua, baru pertama kali ini ia melihat gurunya bertempur begitu lama dan mendapatkan lawan yang seimbang.
Pertempuran masih berlangsung.
Dan memang, Mahesa Amping, sebagaimana yang dilihat Raden Wijaya, masih belum menuntaskan tataran ilmunya pada puncaknya.
Mahesa Amping hanya mengimbangi serangan-serangan Empu Gelian selapis lebih sedikit.
Begitulah mereka selapis demi selapis meningkatkan tataran ilmunya.
Empu Gelian telah mengeluarkan segenap kemampuannya.
Angin serangan senjatanya benar-benar mengerikan, hawa panas mampu merobek tubuh lawan meski senjata gelangnya belum dan masih jauh dari jangkauan.
Untungnya Mahesa Amping lebih dulu menyadarinya sebelum angin panas itu merobek perutnya.
Mahesa Amping telah melapisi dirinya dengan kekuatan hawa dingin yang mampu meredam dan menetralkan hawa panas dari angin senjata Empu Gelian.
Bukan main terkejutnya Empu Gelian, angin panasnya tidak berarti menghadapi Mahesa Amping.
Sementara itu, arena pertempuran terlihat seperti tanah terbongkar.
Semak-semak terlihat hangus terbakar terkena angin panas tersambar senjata gelang milik Empu Gelian.
Empu Gelian menjadi penasaran, sudah ratusan jurus masih juga belum dapat menundukkan lawannya yang masih muda belia ini.
Akhirnya, tanpa malu lagi, ia telah meningkatkan tataran ilmunya pada batas puncaknya.
Senjata gelangnya terlihat seperti bara merah menyala, sementara angin serangannya terlihat seperti api yang menyebar mengikuti ke mana pun Mahesa Amping bergerak.
Namun, angin hawa panas itu tidak juga mampu menembus tubuh Mahesa Amping.
Angin hawa panas itu sepertinya langsung menjadi dingin manakala masuk mendekati tubuh Mahesa Amping.
Sementara itu, serangan belati pendek Mahesa Amping menjadi sangat menyibukkan, yang kadang datang seperti ombak dan menggulung tidak putus. Dalam sebuah serangan yang dilakukan oleh Mahesa Amping, terlihat Empu Gelian melompat menjauh.
Empu Gelian memang sudah tidak sabar lagi, ingin selekasnya menyelesaikan pertempurannya.
Mahesa Amping menyadari, pasti Empu Gelian bermaksud mengeluarkan ilmu andalannya.
Dugaan Mahesa Amping ternyata tidak meleset jauh.
Terlihat Empu Gelian menambah senjata gelangnya yang tergantung di lehernya.
Empat buah gelang di tangan Empu Gelian menyala seperti bara.
Dan dengan kecepatan yang luar biasa, satu gelang meluncur menerjang Mahesa Amping yang langsung mengelak ke samping.
Belum lagi kaki Mahesa Amping jatuh di bumi, sebuah gelang yang lain kembali menerjang tubuh Mahesa Amping.
Begitulah Mahesa Amping diserang oleh Empu Gelian dengan gelang yang membara meluncur seperti bola api.
Anehnya, gelang itu dapat kembali sendiri ke tangan pemiliknya.
Bukan main sibuknya Mahesa Amping mengelak tanpa dapat menyerang kembali.
Mahesa Amping seperti barang mainan Empu Gelian, kadang harus berguling di tanah menghindar serangan gelang yang datang seperti bola api.
Akhirnya, Mahesa Amping tidak lagi mampu berpikir jernih.
Suatu waktu tenaganya akan terkuras.
Maka pada sebuah serangan, terlihat Mahesa Amping mengelak.
Namun, Mahesa Amping sudah dapat menghitung tempo serangan berikutnya.
Sebelum serangan itu datang, sebuah pandangan mata Mahesa Amping tepat menyentuh dada kiri Empu Gelian.
Jantung Empu Gelian langsung hangus terbakar ditambah sebuah gelang yang tidak sempat ditangkap menembus perutnya.
Dengan mata terbelalak, Empu Gelian jatuh ke bumi terlentang, masih menggenggam tiga buah gelang miliknya.
Jiwanya sudah melayang.
Mahesa Amping masih berdiri menegang, termangu melihat hasil serangannya di luar pikiran jernihnya.
“Harusnya aku tidak membunuhnya,” kata Mahesa Amping kepada dirinya sendiri, sepertinya telah menyesali dirinya yang tidak dapat berpikir jernih, memutuskan sesuatu tanpa pertimbangan panjang.
Sementara itu, Prastaka dan saudara seperguruannya seperti tidak percaya dengan penglihatan mereka sendiri.
Gurunya yang dianggapnya telah mempunyai ilmu setinggi gunung telah tergeletak di tanah tak bernyawa.
Mereka berdua menatap Mahesa Amping dengan pandangan penuh kebencian, namun juga ada perasaan gentar.
Namun Prastaka dan saudara seperguruannya ternyata adalah orang yang cerdas, dapat berhitung panjang; selain Mahesa Amping yang telah mengalahkan gurunya,
Masih ada Lawe yang pernah dihadapinya dan mengimbangi ilmu Prastaka.
Dan di samping Lawe, ada seorang lagi yang telah melumpuhkan Prastawa dengan mudah.
Akhirnya, sebelum berlanjut dalam kesulitan yang lain, Prastaka dan saudara seperguruannya telah membawa mayat gurunya.
Ketika agak jauh berjalan beberapa langkah, Prastaka berbalik badan.
“Aku akan kembali mencari kalian, membayar utang nyawa guruku,” kata Prastaka, langsung berbalik badan kembali mengikuti saudara seperguruannya yang tengah membawa mayat gurunya.
“Datanglah dengan seluruh orang Gelang-gelang, aku tidak takut!” teriak Lawe yang merasa tertantang dengan ucapan Prastaka yang pernah bertempur dengannya tetapi belum tuntas, belum ada yang kalah dan menang.
Sementara itu, matahari di atas hutan Mading sudah bergeser turun dari puncaknya.
Cahayanya sudah tidak lagi menyengat kulit, telah menjadi teduh terhalang cabang daun pepohonan hutan yang lebat.
“Mari kita lanjutkan perjalanan kita,” kata Mahesa Amping yang telah berada di atas kudanya.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanannya yang tertunda, meninggalkan arena sisa pertempuran yang seperti tanah lapang terkoyak hangus terbakar.
Kini kita kembali ke Padepokan Alasjati.
Terlihat beberapa orang yang terluka tengah diberikan pengobatan.
Beberapa mayat telah dikumpulkan.
Orang-orang penghuni Padepokan Alasjati yang telah menjadi tawanan telah diberikan kebebasan sementara untuk membantu mengubur mayat-mayat kawan mereka sendiri yang terbunuh dalam pertempuran.
“Apa yang harus kita lakukan dengan para tawanan itu?” tanya Kertanegara kepada Ki Gede Banyak Wedi di pendapa utama Padepokan Alasjati.
“Untuk jangka panjangnya belum dapat kupikirkan, kita lihat perkembangannya. Yang harus segera kita dapatkan adalah membuka mulut mereka, siapa dalang di balik semua ini,” kata Ki Gede kepada Kertanegara.
Akhirnya mereka sepakat untuk mencoba mencari keterangan dari para tawanan, siapa yang telah membayar begitu mahal untuk kepala seorang Putra Mahkota.
Kertanegara dan Ki Gede memanggil satu per satu tawanan.
Menanyakan beberapa hal.
Hingga akhirnya Datuk Alasjati sendiri telah dipanggil menghadap mereka.
“Datuk Alasjati,” kata Kertanegara kepada Datuk Alasjati yang sudah datang menghadap sebagai seorang tawanan.
“Beberapa tawanan sudah kami tanyakan, tentunya mereka juga telah bercerita kepadamu apa saja yang telah kami tanyakan.