Chapter 110
Mahesa Amping telah mampu mengendalikannya dengan kekuatan berlipat.
"Kurang ajar!" teriak Mahesa Rangga yang berusaha menarik kembali luncuran tendangannya lalu melompat menjauh. Ternyata, Mahesa Rangga telah merasakan hawa dingin yang kuat menusuk kakinya.
"Jangan berbangga hati," kata Mahesa Rangga sambil meningkatkan tataran ilmunya lebih tinggi lagi, lalu langsung menyerang Mahesa Amping dengan sebuah pukulan yang mengeluarkan angin panas.
Sekali lagi, Mahesa Amping dapat meredamnya sambil menghindar dan berbalik menyerangnya. Demikianlah pertempuran menjadi semakin seru dan jauh lebih dahsyat dibandingkan sebelumnya, ketika mereka masing-masing menggunakan senjata andalannya.
Sementara itu, pertempuran antara prajurit Singasari dan gerombolan Mahesa Rangga sepertinya sudah dapat ditentukan siapa yang menguasai medan. Terlihat gerombolan Mahesa Rangga semakin menyusut satu per satu; tinggal beberapa orang saja yang masih bertahan. Terlihat Raden Wijaya, Lawe, Sembaga, dan Wantilan telah menyebar membantu para prajurit Singasari. Mereka nampaknya menjadi penentu dalam setiap kelompoknya. Pertempuran menjadi semakin tidak berimbang. Satu per satu orang-orang gerombolan berguguran, tewas, atau tertawan.
Kembali ke pertempuran antara Mahesa Amping dan Mahesa Rangga yang sudah memasuki tataran ilmu puncak. Namun, Mahesa Amping adalah seorang ahli, bahkan dapat dikatakan sebagai seorang empu untuk bidang kanuragan. Sebagai seorang ahli, biasanya ia dapat dengan cepat menghafal dan merekam gerakan lawan. Mahesa Amping mengetahui dari setiap langkahnya bahwa Mahesa Rangga diam-diam telah merekam setiap gerakannya. Ternyata, permainan Mahesa Amping sudah tinggal menuai hasilnya karena selama pertempuran itu, ia telah mengubah beberapa unsur untuk mengelabui lawannya.
Dalam sebuah gebrakan, Mahesa Rangga berhasil ditipu oleh Mahesa Amping. Sebuah pukulan ke depan yang seharusnya disusul dengan tendangan melingkar tidak kunjung datang. Justru yang ada adalah sebuah pukulan ke depan yang dilanjutkan dengan bacokan tangan terbuka ke arah leher.
*Buk!*
Sebuah bacokan tangan terbuka mengenai batang leher Mahesa Rangga. Sebuah pukulan yang dilambari tenaga hawa inti es itu seketika membekukan urat leher Mahesa Rangga. Seketika itu juga Mahesa Rangga merasakan kegelapan, tubuhnya terlihat agak sempoyongan. Namun, kesempatan itu tidak dipergunakan oleh Mahesa Amping. Ia hanya berdiam diri menunggu Mahesa Rangga siap kembali.
"Apakah sudah siap untuk melanjutkan?" tanya Mahesa Amping kepada Mahesa Rangga yang dilihatnya sudah dapat berdiri tegak kembali.
"Kesombonganmu akan menjadi penyesalan seumur hidupmu," jawab Mahesa Rangga yang bukannya mengucapkan terima kasih, melainkan menyikapi perlakuan Mahesa Amping sebagai sebuah kesombongan.
Ternyata Mahesa Rangga masih punya ilmu simpanan. Seketika, sebuah kabut tebal menyelimuti seluruh tubuhnya dan melebar menutupi seluruh area tanah datar. Siapa pun tidak dapat lagi melihat keadaan sekitarnya. Namun, kali ini Mahesa Rangga salah perhitungan. Ia menganggap pemuda lawannya tidak dapat berbuat apa-apa.
Mahesa Rangga salah duga. Pemuda lawannya ternyata sudah mempunyai ilmu yang mumpuni; ketajaman matanya dapat melihat sampai ke tempat yang jauh, bahkan mampu melihat semut hitam di atas batu hitam pada saat malam yang gelap. Ketajaman mata Mahesa Amping mampu melihat kedua tangan Mahesa Rangga tengah memegang masing-masing sebuah paser yang siap dilemparkan.
Mahesa Rangga tidak menyangka sama sekali. Tiba-tiba saja, tangan kanannya merasakan sakit yang sangat seperti terbakar. Seketika itu juga tangannya terasa lumpuh dan paser di tangannya terjatuh. Mahesa Rangga juga tidak menyangka bahwa sebuah belati pendek telah menancap di lengan kirinya, membuat paser di tangan kirinya pun terjatuh.
Ternyata Mahesa Amping telah melakukan langkah yang tepat. Dari sinar matanya melesat sebuah cahaya yang menyambar dan membakar lengan kanan Mahesa Rangga, sementara sebuah belati yang disimpannya di balik kain dengan cepat meluncur tepat di pergelangan lengan kiri lawannya. Kabut di sekitar arena pertempuran perlahan menipis dan akhirnya hilang sama sekali karena sumber kabut itu sendiri telah terluka di kedua pergelangan tangannya.
Terlihat Mahesa Rangga berdiri tegak, sementara kedua tangannya terlihat layu kaku dan tidak mampu digerakkan.
"Apakah pertempuran ini masih harus dilanjutkan?" tanya Mahesa Amping.
"Terima kasih, kamu telah memberi kesempatan hidup untukku," ujar Mahesa Rangga dengan bulu kuduk meremang. Ia membayangkan jika sinar panas atau belati itu tertuju pada jantungnya, mungkin ia tidak akan sempat lagi mengucapkan kata-kata apa pun.
"Apakah Paman sudah menyerah?" tanya Mahesa Amping menegaskan.
"Aku menyerah kalah," kata Mahesa Rangga terunduk lesu. Ia tidak dapat berbuat apa-apa, terutama saat melihat belati yang menancap sampai tembus dan darah segar menetes dari luka itu.
"Aku akan merawat luka Paman," kata Mahesa Amping mendekati Mahesa Rangga. Dengan sigap, ia mencabut belati dari tangan Mahesa Rangga, lalu menutup kedua luka di lengan kiri lawannya dengan ramuan bubuk yang selalu dibawanya. Ramuan itu pun memampatkan darah yang mengalir. Mahesa Amping merobek sebagian kainnya dan membalut luka di pergelangan tangan kiri Mahesa Rangga.
"Terima kasih, ternyata kamu bukan orang yang sombong. Hatimu begitu bersih, Anak Muda," ucap Mahesa Rangga yang merasa terharu atas sikap Mahesa Amping yang tidak menampakkan sikap permusuhan sedikit pun.
Mahesa Rangga sepertinya melihat ke dalam dirinya; melihat jauh ke rongga hatinya yang begitu keruh, sikap diri yang begitu angkuh, serta kebiasaannya merendahkan orang-orang lemah karena merasa berkuasa dengan ketinggian ilmunya.
"Maafkan aku, kedua tangan Paman mungkin akan lumpuh seumur hidup," sesal Mahesa Amping.
"Kelumpuhan kedua tangan ini tidak berarti dibandingkan kelumpuhan mata hatiku selama ini," jawab Mahesa Rangga dengan mata bersinar, seolah telah menemukan sesuatu yang selama ini tidak ditemuinya. "Kelumpuhan kedua tangan ini telah meruntuhkan kesombonganku, membunuh keangkuhanku. Hari ini aku mendapatkan penguasa yang sebenarnya atas jiwa ini," sambungnya dengan wajah pasrah.
"Paman telah tersasar di rimba Tattwa. Hari ini, Paman telah ditunjukkan jalan yang sebenarnya, yaitu jalan menuju mata Siwa," ujar Mahesa Amping, seolah dapat membaca apa yang dirasakan oleh Mahesa Rangga.
"Kamu telah menemukan jalan-Nya, Anakku," tiba-tiba seorang tua muncul entah dari mana.
"Maafkan atas apa yang telah aku lakukan selama ini, wahai Guruku," kata Mahesa Rangga kepada orang tua itu yang tidak lain adalah Empu Nada.
Sementara itu, langit di atas tanah datar hutan Gunung Jati sudah terang. Sang pagi telah datang bersama mentari yang menyibak cahayanya menembus sela-sela dahan dan daun pepohonan yang pepat. Api yang membakar gubuk gerombolan Mahesa Rangga sudah padam, menyisakan abu dan puing-puing kayu yang gosong.
Pagi itu, beberapa prajurit Singasari sangat sibuk. Mereka memisahkan mayat-mayat yang terbunuh serta mengobati para korban yang terluka parah, termasuk kawan mereka sendiri. Namun, para prajurit tidak membedakan lawan dan kawan; semua dirawat sebatas kemampuan mereka. Beberapa orang dari gerombolan yang tersisa, baik yang luka ringan maupun tidak terluka, telah dipisahkan. Untuk menjaga keamanan, kaki dan tangan mereka terpaksa diikat dengan erat.
"Kita akan membawa mereka ke Kotaraja. Biarlah pihak istana yang menentukan hukuman apa yang pantas untuk mereka," kata Raden Wijaya dari bawah pepohonan yang rindang kepada Mahesa Amping yang sedang melepas lelah setelah bertempur sepanjang malam.
"Mungkin besok kita baru dapat berangkat karena ada beberapa orang yang masih memerlukan perawatan," usul Mahesa Amping.
"Kamu benar, sekalian memulihkan tenaga kita," jawab Raden Wijaya menerima usulan tersebut.
Demikianlah, hari itu mereka beristirahat di tanah datar hutan Gunung Jati. Baru keesokan harinya, saat hari menjelang pagi, mereka semua keluar dari hutan. Iring-iringan itu berjalan lambat karena harus membawa beberapa tawanan yang terluka menggunakan tandu. Setelah menempuh perjalanan panjang dan bermalam di beberapa tempat, akhirnya pada sore hari, mereka memasuki pintu gerbang Kotaraja.
Karena pasukan Raden Wijaya tidak mendapat tugas langsung dari Sri Baginda Maharaja Singasari, maka pasukan itu tidak perlu menunggu upacara penyambutan. Mereka langsung diperintahkan beristirahat di tempat yang telah disiapkan, sementara para tawanan dibawa ke tempat khusus untuk diawasi oleh prajurit agar tidak melarikan diri.
"Kamu datang layaknya seorang panglima perang," sambut Ratu Anggabhaya saat menerima kedatangan Raden Wijaya bersama Lawe, Mahesa Amping, Sembaga, dan Wantilan di Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.