Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 101

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 101

Namun, rumah banjar itu adalah milik orang banyak. Semua orang ikut merasa bangga dan merasa memilikinya.

"Kita harus menjaga agar pulau ini tidak kembali dikuasai oleh para bajak laut," ujar Kebo Arema kepada Mahesa Amping sambil memberikan pandangannya bahwa kedamaian di Pulau Wangi-wangi adalah kunci keamanan pelayaran armada besar Singasari di jalur perdagangan timur menuju Tanah Gurun.

Diam-diam Mahesa Amping mengakui keunggulan pemikiran Kebo Arema yang begitu jauh, penuh dengan berbagai perhitungan yang matang layaknya seorang panglima mengatur siasat peperangan.

"Saatnya kita membangun kekuatan di Pulau Wangi-wangi ini," kata Kebo Arema di suatu malam kepada Mahesa Amping di teras panggung pendapa rumah banjar.

Sebagaimana di Bandar Bacukiki, Kebo Arema telah mengumpulkan beberapa pemuda maupun orang dewasa yang masih memiliki semangat untuk menjadi pasukan pengawal Pulau Wangi-wangi. Untuk hal itu, Kebo Arema meminta Mahesa Amping melakukan tugasnya, yakni membangun dan membina kesatuan tersebut.

Hari demi hari, pasukan pengawal itu melakukan berbagai macam latihan, baik latihan ketahanan tubuh maupun latihan pertempuran, baik secara perorangan maupun berkelompok. Ternyata bukan hanya pemuda dan orang dewasa yang ditunjuk sebagai pasukan pengawal yang berlatih, beberapa penghuni pulau itu pun ikut berbondong-bondong meminta dilatih kanuragan. Kebo Arema menyambut baik semangat itu dan mengabulkan keinginan mereka. Maka, Kebo Arema bersama dua orang prajurit yang dianggap cakap turun membantu Mahesa Amping melatih para penghuni Pulau Wangi-wangi.

Tiga bulan telah berlalu, kemampuan pasukan pengawal Pulau Wangi-wangi sudah terlihat. Sementara itu, para lelaki penghuni pulau sudah dapat dipercaya untuk bersama pasukan pengawal menjaga pulau mereka dari berbagai ancaman yang mungkin terjadi, sebagaimana yang dialami generasi orang tua mereka beberapa tahun silam.

"Kalian harus berlatih setiap saat. Aku telah memberikan semua bahan dasar latihan, semua tergantung pada diri kalian masing-masing. Siapa yang rajin berlatih akan menuai hasilnya sendiri," ujar Mahesa Amping ketika mengakhiri sebuah latihan di ujung senja.

"Pilihlah senjata yang kalian sukai," kata Kebo Arema suatu hari saat membagikan berbagai macam senjata kepada para penghuni Pulau Wangi-wangi. Bukan main senangnya mereka menerima hadiah itu.

"Setiap senjata mempunyai sifat dan keistimewaannya masing-masing. Kalian harus memahami senjata yang kalian miliki, mengenal, dan merasakannya sebagaimana anggota tubuh kalian sendiri, sebagai kesatuan yang tidak dapat dipisahkan," ucap Mahesa Amping memberikan pemahaman dasar-dasar penggunaan senjata.

"Musim panas akan segera berakhir, waktu pelayaran kita sangat terbatas," kata Kebo Arema kepada Mahesa Amping, memberikan beberapa kemungkinan yang harus mereka jalani sehubungan dengan tugas merintis jalur perdagangan di daerah timur, terutama dengan mendekatnya musim penghujan dan musim pasang laut.

"Ada dua pilihan: menyeberangi perairan Laut Jawa sebelum datangnya musim pasang, atau tertahan di daerah timur ini menantikan musim berlayar tiba kembali," tutur Kebo Arema.

"Aku memilih kita kembali ke Tanah Singasari sebelum tiba musim pasang. Pelayaran yang panjang mungkin akan membuat para prajurit jenuh," jawab Mahesa Amping.

"Apakah kamu tidak memperhitungkan diriku sebagai penguasa Pulau Wangi-wangi ini?" tanya Kebo Arema dengan senyum dikulum.

"Untuk hal itu aku tidak memperhitungkannya. Yang kutahu Paman Kebo Arema tidak pernah bermimpi menjadi seorang penguasa di mana pun," jawab Mahesa Amping.

"Ternyata pemikiran kita tidak jauh berbeda. Kecintaan kita kepada dunia akan membutakan mata hati kita terhadap kecintaan yang hakiki, kecintaan atas karunia dari Yang Maha Pencipta, yang harus dipuja dan disembah setiap saat dalam keadaan apa pun. Itulah kebahagiaan sejati karunia dari pemilik alam semesta ini, Gusti Yang Maha Hidup, Gusti Yang Maha Tunggal, Gusti yang selalu menjaga," ujar Kebo Arema.

"Dan sang penguasa Pulau Wangi-wangi harus rela meninggalkan kekuasaannya," sahut Mahesa Amping.

"Kekuasaan hanyalah sementara, sebuah titipan," jawab Kebo Arema penuh senyum.

Demikianlah, mereka sepakat untuk secepatnya kembali ke tanah Singasari sebelum musim pasang laut tiba. Keputusan itu disampaikan kepada beberapa wakil pimpinan Pulau Wangi-wangi. Semula mereka merasa keberatan, namun dengan sedikit pengertian, akhirnya mereka tidak dapat menahan Kebo Arema.

"Ada tugas yang tengah aku emban, yakni membangun jalur perdagangan yang cukup luas, dari ujung timur Tanah Gurun sampai ke ujung Malaka. Masih banyak tempat yang harus kami singgahi, seperti pesisir Tanjungpura sampai ke ujung Campa. Kemajuan perdagangan Singasari berdampak juga bagi kemakmuran Pulau Wangi-wangi ini. Izinkan dan doakan agar aku dapat mengemban tugas besar ini," kata Kebo Arema kepada para wakilnya.

Hari itu, senja telah turun menyelimuti pantai Pulau Wangi-wangi. Terlihat sepuluh jung terakhir yang akan membawa para prajurit ke tengah laut, tempat bahtera besar Singasari menambatkan sauhnya. Mereka akan melakukan pelayaran kembali setelah lama tertunda menuju Tanah Gurun.

Bulan bulat di atas langit sepertinya tidak pernah bergeser, mengiringi sebuah bahtera yang terapung di atas laut malam. Tujuh layar terkembang penuh ditiup angin menuju timur laut. Bahtera itu masih terapung di hamparan laut luas yang tidak bertepi, terlihat seperti tidak bergerak mengejar tepi laut yang terus berlari menjauh. Sementara itu, malam diam-diam telah meninggalkan lengkung langit, memberi kesempatan pagi memulai melukis cakrawala.

Semburat merah menyala menyembul di ujung timur, sementara sinar lentera bahtera masih terlihat bergelantungan di ujung anjungan dan buritan, bergoyang mengikuti gerak bahtera yang terapung. Akhirnya, semburat warna merah itu telah merata mengisi lengkung langit, mewarnai kehadiran sang dewi pagi di tengah hamparan permadani laut biru. Perlahan tapi pasti, sang surya mulai menampakkan setengah wajahnya di ujung timur dengan senyum menawan.

"Jaga arah kemudi, kita berlayar ke arah timur matahari," perintah Kebo Arema kepada juru mudi.

"Daratan!" teriak seorang prajurit yang melihat sekumpulan burung manyar karang beterbangan di atas air laut, sepertinya sedang berpesta berburu ikan kecil.

"Putar kemudi ke kiri, jauhkan arah bahtera dari kumpulan burung manyar karang itu!" teriak Kebo Arema. Dua juru mudi terkejut, namun masih sempat mencerna perintah tersebut. Dengan cekatan kemudi kembar berputar ke kiri dan bahtera bergeser arah.

"Kita telah terhindar dari kehancuran. Di bawah burung camar karang itu bukan laut dalam, melainkan sebuah gunung karang yang bersembunyi," jelas Kebo Arema kepada para prajurit yang tidak mengerti mengapa arah bahtera harus tiba-tiba diubah. "Di atas gunung karang itu adalah air laut dangkal tempat ikan-ikan kecil bermain. Itulah bahasa alam yang memberi petunjuk, burung manyar karang setiap pagi datang mencari makan."

"Pesanku, jangan coba-coba memasuki Laut Banda di malam hari. Bahtera kita akan tersesat dan berlabuh di tempat yang salah, tergerus hancur di atas gunung karang itu," tegas Kebo Arema.

"Aku pernah mendengar cerita ini dari seorang pelaut di Bandar Sebukit, gunung karang yang bersembunyi itu mereka namakan laut gosong," timpal Mahesa Amping.

"Pelaut itu benar, gunung karang bersembunyi itu disebut juga dengan nama laut gosong," Kebo Arema membenarkan.

Sementara itu, warna pagi menjadi lebih terang. Di ujung timur, sang surya telah menampakkan seluruh wajahnya yang menawan, bulat kuning terang dan tidak menyilaukan mata.

"Lihatlah, sebuah daratan telah muncul di ujung timur," seru salah seorang prajurit saat melihat titik hitam muncul dari arah timur matahari. Seperti berjalan di atas bola besar, titik hitam di atas lengkung laut biru itu terus berubah menjadi bayangan yang semakin jelas.

"Para pelaut Mandar merahasiakan jalur perjalanan ini, dan kita adalah orang pertama yang menemukan jalan rahasia ini, jalan menuju tempat tumbuhnya pohon emas, cengkeh, dan pala," kata Kebo Arema penuh kegembiraan.

"Kita bersandar di tepi pulau yang terbesar," kata Kebo Arema ketika mereka melewati pulau-pulau kecil.

Akhirnya, bahtera besar itu telah berlabuh di sebuah dermaga. Beberapa orang terlihat berdiri di sepanjang dermaga, menyaksikan untuk pertama kalinya sebuah bahtera yang besar dan indah.

"Kami dari Tanah Singasari, dapatkah kalian mengantar kami kepada penguasa pulau ini?" tanya Kebo Arema kepada salah seorang pria yang berbadan tegap, berkulit legam, dan berambut keriting ikal. Hampir semua orang yang ditemui di Tanah Gurun ini memiliki kulit yang hitam legam.

"Mari kuantar kalian kepada pimpinan kami," jawab orang itu sambil menampakkan senyum dengan deretan gigi putih bersih.

Kebo Arema bersama Mahesa Amping diajak ke sebuah perkampungan besar. Terlihat rumah-rumah sederhana berbentuk lingkaran dengan dinding kayu dan atap setengah lingkaran yang terbuat dari daun enau.

"Tunggulah di sini, aku akan menemuinya," kata orang itu ketika mereka berada di rumah yang paling besar di perkampungan tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment