Chapter 137
"Bunting padi itu sebentar lagi akan menguning," ujar Empu Dangka ketika mereka tengah melewati beberapa hamparan sawah.
"Kebahagiaan yang tidak dapat dibeli oleh apa pun bagi seorang petani saat melihat padi menguning," sahut Mahesa Amping sambil menyapu pandangannya pada hamparan sawah yang tumbuh menghijau.
Akhirnya, mereka telah mendaki jalan ke Bukit Pejeng Gundul. Matahari telah mulai condong ke barat manakala langkah kaki mereka sampai di muka regol pintu gerbang Padepokan Panca Agni.
"Selamat datang kembali di Padepokan Panca Agni," sambut Ki Nyoman.
"Para sisya pasti masih tengah berlatih," ujar Ki Arya Sidi yang dijawab dengan senyum dan anggukan kepala oleh Ki Nyoman.
Setelah membersihkan diri, Mahesa Amping dan Empu Dangka duduk di pendapa, sementara Ki Arya Sidi pergi ke sanggar untuk menemui para sisyanya. Menjelang senja, Ki Arya Sidi bergabung dan bercerita tentang perkembangan para sisya yang tampak sangat menggembirakan hatinya.
Sementara itu, jauh dari Padepokan Panca Agni, di sebuah pura besar, tepatnya di Puri Dalem Besakih, dua orang terlihat tengah berbicara. Salah seorang dari mereka adalah Dewa Palaguna, sementara yang lainnya, dengan wajah dan pembawaan yang penuh wibawa, tidak lain adalah Raja penguasa Pura Besakih.
"Aku curiga bahwa anak muda itu sejatinya adalah utusan Singasari yang sengaja didatangkan untuk membuat kerusuhan di Balidwipa ini," kata Dewa Palaguna.
"Anak muda itu telah mengalahkan Dewa Bakula," ujar Raja Pura Besakih dengan wajah muram.
"Adikku, Dewa Bakula, memang terlalu bodoh dengan mempertaruhkan jabatan guru di Pura Indrakila kepada anak muda itu," ucap Dewa Palaguna dengan geram.
"Kita masih punya sedikit waktu menjelang purnama untuk melenyapkan anak muda itu," kata Raja Pura Besakih kepada Dewa Palaguna yang tengah berpikir keras merancang sebuah muslihat besar.
"Aku sudah menyiapkan sebuah perangkap untuk anak muda itu," ujar Dewa Palaguna penuh semangat.
Sementara itu di tempat yang berbeda, di sebuah hutan lebat di dalam sebuah gua yang cukup luas, Raja Leak tengah bersama dengan beberapa pengikut setianya.
"Mulai besok, kalian harus sudah menyebar untuk mengintai setiap gerakan yang bersumber dari Pura Besakih," perintah Raja Leak, yang tidak lain adalah Ki Jaran Waha, kepada pengikutnya.
"Kami penuhi perintah Paduka," jawab salah seorang pengikutnya mewakili kawan-kawannya.
Demikianlah suasana menjelang purnama di Pura Indrakila. Dewa Palaguna telah mempersiapkan segalanya, namun ia tidak menyadari bahwa segala kegiatannya telah dibayangi oleh para manusia Leak yang terus mengintai di sekitar Pura Besakih.
Suasana yang semakin menghangat itu tidak terlihat di permukaan. Para saudagar masih berjalan seperti biasa dengan gerobak dagang mereka menyusuri jalur perdagangan. Para petani pun masih berjaga sepanjang hari menjelang panen agar padi mereka tidak dimakan burung. Sementara itu, kehidupan di Padepokan Panca Agni masih seperti sediakala; para sisya penuh semangat berlatih di bawah bimbingan Ki Arya Sidi dengan sepenuh hati, terkadang Mahesa Amping ikut memberikan petunjuk tambahan.
"Semoga perjalanan Tuan selalu diberikan naungan keselamatan dari Sang Hyang Widi," ucap Ki Nyoman mewakili para sisya saat melepas kepergian Ki Arya Sidi bersama Mahesa Amping dan Empu Dangka yang akan berangkat ke Pura Indrakila.
"Berlatihlah terus, kalian adalah tumpuan kelanggengan Pura Pusering Jagad," pesan Ki Arya Sidi kepada keempat sisya yang merupakan para pangeran dari Pura Pusering Jagad.
Angin pagi bertiup dingin mengiringi perjalanan mereka saat menuruni Bukit Pejeng Gundul.
"Apa yang dikhawatirkan oleh Ki Jaran Waha tentang Dewa Palaguna mungkin saja terjadi," ujar Ki Arya Sidi.
"Kita memang perlu berhati-hati, tapi tidak perlu membuat perjalanan kita menjadi susah," jawab Empu Dangka sambil tersenyum.
Ki Arya Sidi menarik napas panjang. Ia baru sadar bahwa kedua kawannya ini adalah orang-orang yang mumpuni dan sakti mandraguna. Jangankan sekumpulan gerombolan perampok, sepapan laskar prajurit pun tidak akan mudah mengalahkan mereka.
Ketika matahari mulai menyengat di puncak cakrawala, mereka telah sampai di sebuah padukuhan di bawah bukit tempat Pura Indrakila berdiri. Saat melewati regol gerbang padukuhan, mereka mendengar kentongan dengan nada titir berbunyi sebagai tanda agar semua penduduk segera berkumpul karena situasi gawat darurat.
"Aku tidak melihat ada kebakaran di padukuhan ini," ujar Ki Arya Sidi heran.
"Berhenti!" tiba-tiba puluhan lelaki menghadang di depan mereka.
"Apa salah kami?" tanya Empu Dangka dengan tenang.
"Kalian penganut ilmu hitam yang kami cari," seru salah seorang yang terlihat sebagai pemimpin.
"Kami tidak mengerti apa yang kalian katakan," balas Empu Dangka tetap tenang.
"Kalian telah menyebar wabah ulat bulu ganas di sawah ladang kami. Tampaknya kalian ingin melihat dari dekat hasil kerja kotor kalian," ujar pemimpin itu lagi.
"Kalian pasti salah orang. Hari ini kami baru datang di padukuhan ini," sanggah Empu Dangka.
"Dukun Made Jakut tidak pernah berbohong!" sahut pemimpin mereka.
"Siapa pun nama yang baru saja Kisanak sebut, pasti salah orang," kata Empu Dangka.
"Aku Made Jakut, tidak pernah salah orang," ujar seseorang berwajah hitam dan berbadan tegap yang tiba-tiba muncul dari kerumunan.
"Apa yang dapat Kisanak buktikan bahwa kamilah orangnya?" tanya Empu Dangka yang mulai mencurigai adanya sesuatu yang terselubung.
"Aku sudah mengatakan kepada para penduduk di padukuhan ini bahwa tiga orang penyebar wabah itu akan datang saat menjelang purnama," kata orang yang mengaku bernama Made Jakut itu.
Mahesa Amping, Empu Dangka, dan Ki Arya Sidi menarik napas panjang. Mereka yakin ada pihak yang mencoba memfitnah mereka.
"Pasti ini ulah Dewa Palaguna," bisik Arya Sidi kepada Mahesa Amping.
"Begitu liciknya Dewa Palaguna yang sengaja mengadu domba kita dengan para penduduk," sahut Mahesa Amping.
Ki Arya Sidi membenarkan ucapan tersebut. Seandainya ada prajurit segelar sepapan di hadapan kedua sahabatnya ini, mungkin tidak ada keraguan dalam bertindak. Namun, yang mereka hadapi adalah penduduk yang sedang marah karena terhasut fitnah.
"Apa yang ingin kalian lakukan atas kami?" tanya Empu Dangka.
"Kami akan mengikat dan membakar kalian sebagai tumbal pengusir wabah!" teriak Dukun Made Jakut.
"Bakar! Bakar!" teriak sebagian penduduk sambil mengacungkan berbagai senjata.
Di saat kebuntuan dan teriakan penduduk yang sulit dikendalikan itu, tiba-tiba terdengar suara tawa panjang yang bergema dari segala penjuru.
"Akulah lelembut penguasa bumi ini," suara itu terdengar keras dan menggema. Para penduduk seketika terdiam dengan wajah pucat penuh ketakutan.
"Wahai para penduduk bumiku, dukun palsu itulah yang telah menyebarkan wabah kepada kalian!"
"Tunjukkan dirimu, aku tidak takut!" teriak Dukun Made Jakut dengan suara gemetar, berusaha mengangkat dada meski dihantui rasa takut.
Namun, upaya Made Jakut sia-sia. Tiba-tiba, sebuah batu kecil melesat dengan kecepatan luar biasa dan menghantam tepat di urat lehernya. Ia hanya mengeluarkan suara napas tertahan sebelum tubuhnya jatuh lemas.
"Pergilah ke rumah dukun palsu ini. Di rumahnya masih banyak tersimpan bibit ulat bulu beracun yang siap ditebarkan di sawah ladang kalian," suara misterius itu kembali menggema.
"Mari kita periksa rumah Dukun Made Jakut!" seru pemimpin mereka. Penduduk pun berbondong-bondong pergi menuju rumah sang dukun.
Mahesa Amping, Empu Dangka, dan Ki Arya Sidi tetap di tempat. "He-he-heh," terdengar suara dari semak belukar di sekitar pohon suren. Sesosok badan tinggi besar dengan rambut terurai muncul.
"Sudah kuduga, pasti ulah Si Raja Leak," ujar Mahesa Amping tersenyum.
"Jarang-jarang lelembut keluar di siang bolong," sapa Ki Arya Sidi kepada Ki Jaran Waha yang baru saja muncul.
"Yang jelas para penduduk mempercayainya," kata Ki Jaran Waha sambil tersenyum.
"Dukun palsu ini pasti orangnya Dewa Palaguna," ujar Empu Dangka sambil menunjuk ke arah Dukun Made Jakut yang masih pingsan.
Ketika mereka tengah mempercakapkan langkah selanjutnya, terdengar suara langkah kaki banyak orang menuju ke arah mereka.