Chapter 164
Ada sedikit kelegaan dalam hatinya ketika dilihatnya istri dan kedua orang pembantunya masih dalam keadaan terikat tanpa cedera sedikit pun.
Sementara itu, di belakang Ki Buyut berturut-turut datang beberapa orang laki-laki warganya.
"Kamu tidak apa-apa, Nyi?" tanya Ki Buyut kepada istrinya sambil membuka tali yang mengikat tubuh istrinya.
"Mereka telah mengambil semua harta milik kita," kata istrinya yang masih belum hilang rasa gemetarnya.
"Kita telah diperdayai," kata Ki Buyut dengan wajah penuh kegeraman.
"Mari kita kejar, mereka pasti belum jauh," ajak salah seorang warganya kepada semua orang untuk mengejar para perampok.
"Tapi kita tidak tahu ke mana arah mereka," sahut seorang lagi yang sebenarnya pernyataan itu berawal dari rasa pengecut dalam menghadapi para perampok.
Namun, pernyataan itu telah menyiram semangat semua orang yang telah bersiap-siap untuk melakukan pengejaran. Terlihat beberapa orang mulai ragu, akhirnya semua mata tertuju kepada Ki Buyut.
"Bila kita berhasil mengejarnya, apakah kita mampu melawannya?" tanya Ki Buyut melemparkan keputusan kepada warganya.
Terlihat semua orang berpikir. Beberapa orang justru bertanya pada diri sendiri apa keuntungan mengejar para perampok; bukankah dirinya tidak mengalami kerugian apa pun? Ki Buyut dapat membaca keraguan warganya dan juga merasa sayang apabila ada korban nyawa dari peristiwa itu.
"Kita tidak tahu kekuatan mereka. Besok kita bicarakan bersama Ki Demang agar peristiwa ini tidak terulang kembali," kata Ki Buyut mengambil keputusan untuk tidak mengejar para perampok.
Sementara itu, para perampok sudah semakin jauh. Mereka tidak kembali ke persembunyian yang lama. Seperti gerombolan serigala yang mengembara, mereka terus melangkah di kegelapan malam dan akhirnya menemukan tempat persembunyian yang baru.
Demikianlah, seperti segerombolan serigala di padang perburuannya, mereka begitu ditakuti. Mereka datang dan pergi seperti angin, menghilang tanpa jejak. Beberapa padukuhan telah mendapatkan giliran keonaran mereka yang cukup meresahkan. Hingga begitu resahnya keadaan di Balidwipa saat itu, kelompok mereka disebut sebagai Barong Asu Ngelawang, sebuah nama yang sangat mudah diingat dan begitu menakutkan, terutama saat menjelang malam.
"Saatnya kita mencuci tangan," kata Kebo Arema kepada Mahesa Amping di sebuah persembunyian.
"Aku belum dapat menangkap apa yang Paman Kebo Arema maksudkan," ujar Mahesa Amping.
"Lakon Barong Asu Ngelawang harus diakhiri," kata Kebo Arema sambil memandang Mahesa Amping, menelisik apakah Mahesa Amping sudah dapat menangkap arah pembicaraannya.
"Siapakah yang dapat mengakhirinya?" tanya Mahesa Amping.
"Pasukan prajurit Singasari," kata Kebo Arema dengan suara mantap.
"Pasukan yang dipimpin Kakang Mahesa Bungalan datang dua hari lagi," kata Mahesa Amping.
"Kita memanfaatkan pasukan tidurmu yang berada di Tanah Melaya," kata Kebo Arema dengan wajah penuh kecerahan.
"Aku melihat di kepala Paman sudah terkumpul sebuah babad yang mengasyikkan," kata Mahesa Amping kepada Kebo Arema yang dipercaya sudah punya rencana cemerlang.
Maka, seperti yang diduga oleh Mahesa Amping, ternyata Kebo Arema sudah punya sebuah rencana. Dengan rinci, Kebo Arema menjabarkan apa yang harus dilakukan dalam rangka perang pencitraan itu.
"Kita harus bergerak cepat sebelum penguasa Pura Besakih dapat berpikir jernih," kata Kebo Arema mengakhiri penjelasannya.
"Hari ini aku akan berangkat ke Tanah Melaya membawa pasukanku," kata Mahesa Amping kepada Kebo Arema.
Demikianlah, pada hari itu juga Mahesa Amping telah bersiap-siap untuk berangkat ke Tanah Melaya. Terlihat seorang penunggang kuda telah keluar dari sebuah hutan menyusuri bulakan panjang dan seperti terbang menghentakkan kudanya, berlari kencang membelah padang ilalang, menyusuri lembah gunung dan ngarai. Penunggang kuda itu ternyata adalah Mahesa Amping yang telah banyak mengenal setiap tempat di Balidwipa ketika bersama Empu Dangka sering melakukan pengembaraan dan nganglang ke berbagai tempat.
Mahesa Amping dalam perjalanannya terlihat menghindari beberapa padukuhan dengan sangat terpaksa harus jalan melingkar agar tidak memasuki padukuhan. Mahesa Amping sepertinya mengejar waktu, namun di beberapa tempat sempat beristirahat untuk menyegarkan kembali kudanya. Ia terus melakukan perjalanan meski langit di atasnya telah berganti malam.
"Sebentar lagi kita akan sampai," kata Mahesa Amping sambil mengusap perut kudanya saat berhenti di sebuah bukit kecil dalam keremangan pagi menjelang. Terlihat Mahesa Amping mengikat tali kudanya di sebuah batang kayu apok. Di atas rerumputan yang masih basah berembun, Mahesa Amping perlahan merebahkan tubuhnya bersandar di sebuah batu besar.
Perlahan cahaya matahari di atas bukit kecil itu menghangatkan rerumputan dan batu yang basah. Pemandangan pagi hari di bukit kecil yang hijau itu begitu cerah.
"Kuda yang kuat," kata Mahesa Amping kepada dirinya sendiri sambil membiarkan kudanya yang terlihat tengah mengunyah rumput hijau di bawah pohon apok.
"Mari kita melanjutkan perjalanan," kata Mahesa Amping sambil menghentakkan perut kudanya dengan kakinya. Terlihat Mahesa Amping tengah menuruni bukit kecil yang hijau itu, yang banyak ditumbuhi rerumputan dan batu berlumut kehijauan, diteduhi banyak pohon besar yang rindang.
"Kukira kamu masih lama baru datang kembali," kata Mahesa Semu yang menyambut kedatangan Mahesa Amping di hutan kecil di Tanah Melaya.
"Kemarin kami menerima lima puluh ekor kuda," kata Wantilan menceritakan bahwa beberapa orang telah membawa lima puluh ekor kuda untuk mereka.
"Ternyata Ki Jaran Waha dapat diandalkan," kata Mahesa Amping tentang salah satu sahabatnya di Balidwipa.
Akhirnya, setelah beristirahat yang cukup, Mahesa Amping bercerita dan menjelaskan beberapa hal tentang rencananya bersama Kebo Arema melakukan perang pembukaan yang disebutnya sebagai perang pencitraan.
"Akan menjadi lakon yang sangat seru, sepasukan prajurit Singasari menghentikan gerombolan Barong Asu Ngelawang," kata Wantilan menyukai rencana itu.
"Paman Kebo Arema berbakat menjadi seorang dalang," kata Sembaga ikut mengomentari.
Demikianlah, pada hari itu sekelompok pasukan kecil prajurit Singasari berkuda telah keluar dari sebuah hutan. Panas matahari yang terik mengiringi perjalanan mereka menyusuri lembah dan ngarai, mendaki perbukitan, dan berlari kencang membelah padang ilalang. Di beberapa tempat, mereka berhenti sebentar untuk memberi kesempatan kuda-kuda mereka beristirahat, setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan. Sengaja mereka melewati jalan-jalan sepi yang tidak pernah dilewati oleh orang pada umumnya. Kadang mereka harus jalan melingkar menghindari sebuah padukuhan.
"Apakah perjalanan kita masih panjang?" tanya Wantilan kepada Mahesa Amping ketika mereka tengah menyusuri sebuah lembah di kaki bukit pada malam hari.
"Menjelang dini hari kita akan sampai," kata Mahesa Amping.
Demikianlah, mereka terus berjalan melewati malam di atas punggung kuda menyusuri jalan-jalan yang sepi. Akhirnya, sebagaimana yang dikatakan oleh Mahesa Amping, menjelang dini hari mereka telah sampai di muka hutan tempat gerombolan Kebo Arema menyembunyikan diri.
"Kamu tiba tepat waktu," kata Kebo Arema menyambut Mahesa Amping dan kawan-kawannya yang baru tiba.
"Sepanjang malam kuda-kuda ini berjalan tanpa istirahat," kata Mahesa Amping sambil melompat turun dari kudanya.
"Beristirahatlah, masih ada waktu menjelang tengah malam," kata Kebo Arema kepada Mahesa Amping. Terlihat rombongan yang baru datang itu telah berpencar mencari beberapa tempat di hutan itu untuk sekadar beristirahat. Sementara beberapa anak buah Badrun tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi agar dapat juga dinikmati oleh rombongan yang baru tiba itu.
"Malam ini di Kademangan Padang Bulia akan ada panggung seni gambang, mereka sudah membangun tajuk besar di rumah Ki Demang," kata Kebo Arema kepada Mahesa Amping yang sudah tampak segar setelah cukup beristirahat.
"Jadi, pagelaran kita ikut meramaikan hiburan di rumah Ki Demang?" tanya Mahesa Amping kepada Kebo Arema.
Sementara itu, sebagaimana yang dikatakan oleh Kebo Arema, di halaman muka rumah Ki Demang telah berdiri sebuah tajuk besar. Malam itu akan ada hiburan kesenian gambang yang selalu digelar menjelang pertengahan tahun, bersamaan dengan usainya pelaksanaan upacara Odalan. Senja yang bening pun akhirnya pudar perlahan meninggalkan wajah bumi berganti menjadi kekelaman malam.
Terlihat oncor berbaris sepanjang jalan padukuhan induk menuju kediaman Ki Demang, tempat keramaian akan berlangsung. Beberapa orang sudah banyak berkumpul di banjar desa meski pertunjukan masih lama lagi. Kegembiraan terlihat pada wajah-wajah mereka. Semakin malam, keramaian semakin bergeser ke kediaman Ki Demang, di mana seperangkat gamelan gambang sudah siap di atas panggung.
Terlihat berduyun-duyun orang mulai berdatangan, baik dari padukuhan terdekat maupun dari padukuhan terjauh. Sepertinya semua orang di Kademangan Padang Bulia tidak akan melewatkan hiburan ini, mendengarkan suara pusaka gamelan gambang Ki Seruduk yang hanya dibunyikan saat usai upacara Odalan. Pada malam itu juga, Ki Demang telah mengundang Ki Jero Pitutur, seorang dalang dari Balidwipa yang sudah kondang namanya.
Demikianlah, menjelang malam hiburan itu diawali sambutan sepatah dua patah kata dari Ki Demang, yang dilanjutkan dengan pembacaan mantra-mantra suci membuka kain tabir pusaka gamelan Ki Seruduk. Bersoraklah semua warga ketika terdengar iringan suara gamelan gambang saling bersambut satu dengan yang lainnya sebagai irama pembuka. Sorak-sorai pun bertambah meriah manakala sang dalang kondang, Ki Jero Pitutur, menyampaikan sekapur sirih bahwa lakon malam ini berjudul Alap-alapan Sukesi.